30 Desember 2015

Halo lagi, Yogya

Minggu, 20 Desember 2015

Bangun pukul tiga pagi, apa salahnya? Apalagi kalau sudah tidak bisa tidur nyenyak sejak jam 11? Minggu, 20 Desember 2015 menjadi tanggal keberangkatan widyawisata tahun ini, saya tidak bisa tidur sejak malam sebelumnya saking tegangnya. Tapi itu tidak penting, karena toh saya bisa sampai di halaman masjid Amaliah tepat waktu.

Ketika tiba di sana, bis sudah siap menunggu dan itu membuat saya agak parno sekaligus bangga menyadari kalau bisnya tidak terlambat seperti biasanya. Hanya saja, seperti biasa, meski berangkat tepat setelah solat subuh dari rumah saya pasti bukan yang pertama kali datang. Dan hal ini selalu membuat saya kesulitan mendapatkan tempat duduk. Harapan saya tertumpu pada Mutiara (Mbip) yang sejak berhari-hari lalu berkata kalau kami akan duduk bersama, dan dia rumahnya juga dekat dengan Amaliah. Tapi rupanya saya hanya lupa orang seperti apa itu Mbip.

Untungnya, Iis dan Muthia (Muthew) berbaik hati memberikan saya tempat duduk. Mereka memang masih duduk berdua di kursi yang untuk bertiga. Mbip sendiri akhirnya duduk bertiga dengan Holisoh dan Sindy yang dipisahkan satu bangku dengan kami. Trio Indri-Lydia-Nadia ada di depan saya dan di belakang Mbip.


     


Perjalanan dilanjutkan satu jam lebih telat dari yang di jadwal, kami lewat jalur tol Gadog. Perjalanan selanjutnya tidak terlalu berkesan, kecuali kenyataan tempat duduk Muthew yang berada di pinggir kejatuhan air dari atap bis sehingga dia harus pindah ke tempat duduk Imam yang harus pindah ke ... entah ke mana. Seorang guru bilang itu hanya untuk sementara—jadi saya tidak perlu khawatir Muthew harus terus-menerus duduk bersama laki-laki (walau sepertinya dia malah senang karena bisa duduk dekat dengan Reza dan Abdul Manan)—. Sisanya benar-benar biasa seperti mengobrol satu sama lain, pemutaran musik jadul, bongkar cemilan orang-orang.

Sekitar pukul dua siang, kalau tidak salah, kami sampai di RM Haur Koneng Rajapolah. Semua orang turun untuk makan setelah seharian mengeluh kelaparan. Dan begitulah.

Hari sudah malam ketika kami akhirnya tiba di Pangandaran. Sampai di Sinar Rahayu 3. Tempat yang sama yang saya datangi dua tahun lalu dalam rangka widyawisata ke Pangandaran. Bedanya kali ini kami tidak menginap, hanya transit untuk ishoma di sana. Mengetahui akan datang kesana saya sudah menyiapkan baju tersendiri selama berada di sana, selama berkeliling menikmati suasana malam pangandaran. Baju seragam widyawisata dua tahun lalu. I tried to make an irony, but nobody cares -_-

Kegiatan berikutnya adalah berkeliling di sekitar sana. Mbip mengajak saya mencari kerudung hitam untuk dia pakai esok hari. Rencananya besoknya (21/12) kami akan mengenakan sweater kelas dan kerudung hitam, Mbip sempat kesal karena saya tidak memberi tahunya. Yaah, mana saya tau dia tidak punya pulsa dan kuota untuk bertanya ataupun tau dengan sendirinya? Saya sendiri tidak ada yang memberi tahu harus pakai kerudung hitam, seandainya tidak bertanya dan untungnya di jawab.

Kami tidak menemukan kerudung hitam dan saya memaksa Mbip untuk kembali ke hotel. Kaki saya sakit dan saya malas berkeliling, saya sudah melihat arah pantainya dan kegelapan dan gemuruh suaranya cukup untuk membuat saya enggan ke sana. Mbip bertemu Yulia dan mereka pergi bersama. Sementara itu, kembali untuk berdiam di hotel rupanya bukan ide bagus. Awalnya memang ada beberapa orang, tapi kemudian mereka pergi dan saya tinggal sendirian; dan cuacanya panas sekali. Saya memutuskan untuk pergi lagi setelah menaruh tas soren dan melonggarkan sendal.

Ketika mengunci pintu seseorang meminta saya berhenti. Mereka anak kelas XI-1, Zerlin dan Nengmay, sepertinya ada yang tertinggal. Pokoknya kemudian kami pergi bersama. Kami agak ragu ketika tiba di tempat penyewaan sepeda. Tidak ada satupun dari kami yang bisa dibilang cukup percaya diri untuk mengendarainya. Tapi sayang kalau ke pangandaran tanpa berkeliling dengan sepeda, kan? Jadi kami menyewa sepeda untuk tiga orang. Zerlin yang memimpin, Nengmay di tengah, dan saya di belakang.

Keadaannya tidak belangsung baik, kami hanya maju beberapa meter dan itu nyaris tanpa mengayuh kemudian rok Nengmay tersangkut rantai sepeda dan kemudian rantainya lepas. Seseorang menyarankan kami untuk mengganti sepeda di tempat peminjaman sepeda daripada mencoba membetulkannya sendiri, jadi kami menuruti sarannya (saya lupa dia siapa). Mengingat keadaan yang tak baik dengan satu sepeda, kami berniat untuk mengendarai sepeda sendiri-sendiri saja. Nengmay berhasil dapat satu, saya dan Zerlin tidak, jadi kmi naik sepeda untuk dua orang (dan lagi-lagi rantainya lepas dan kami harus menggantinya lagi). Kami bertiga mulai berkeliling, tapi hanya sampai ujung pasar yang berbatasan dengan pantai, saya memaksanya untuk kembali. Sepeda yang saya dan Zerlin naikki sama sekali tidak nyaman, kebetulan saya duduk di depan, dan jarak antara jok dan stang belakang terlalu dekat dan jok yang saya naiki juga sudah hampir rusak.


Tapi ketika kami sadar, Nengmay sudah tidak ada di belakang kami. Kami buru-buru mengembalikan sepeda dan pergi mencarinya. Saya menduga ketika seharusnya berbelok di SD Pangandaran dia malah lurus, jadi kami mencarinya ke sana, tapi dia sudah tidak ada. Saya bertemu dengan Sayyidah dan teman-temannya yang mengendarai kereta tapi tak satupun yang mengaku melihat Nengmay.

Saya teringat, tadi Nengmay menitipkan ponsel dan dompetnya pada saya tapi kemudian jatuh dan saya mengembalikannya. Saya mengusulkan untuk menghubunginya, tapi Zerlin tidak membawa ponsel dan saya tidak punya nomor Nengmay. Kami memutuskan untuk menyusuri jalur bersepeda kami tadi, tapi hasilnya nihil. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel kalau-kalau Nengmay sudah ada di sana, toh kunci kamar hotel ada pada saya. Kami juga sempat bertanya pada penjaga penyewaan sepeda apa Nengmay sudah kembali, tapi dia jawab belum.

Ketika sampai, Zerlin langsung menuju ke kamar khusu putri XI-1 dan mencari ponselnya. Benar, ada SMS dari Nengmay di sana, dia bilang dia bersama Elisa. Kami menghela nafas lega, setidaknya dia baik-baik saja. Tak lama Nengmay kembali, dengan suara seperti hampir menangis dia bercerita bahwa tahu-tahu dia menemukan kami sudah tidak ada di mana-mana dan dia melihat keadaan jalan jadi lebih sepi (rupanya dia benar-benar lurus bukan belok) kemudian dia bertanya pada semua orang dimana dia harus mengembalikan sepeda tapi orang-orang juga tidak tau karena mereka tidak tau di mana Nengmay dapat sepeda, lalu dia bertemu dengan Elisa dan kawan kawan yang mengendarai kereta dan ikut jalan-jalan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Rena dan Daffa  yang mengantarnya sampai hotel (sebelumnya saya juga bertemu dengan mereka di pertigaan SD Pangandaran, tapi saya tidak menyapa mereka).

Saya tidak ingat kapan, entah ketika saya masih berdua dengan Zerlin atau bertiga dengan Nengmay dia ruang utama kamar itu. Ada guru yang sakit dan bertanya jika ada kasur yang bisa di tempati. Kamar putri XI-4 di kunci dan kamar putri XI-3 yang ‘di isi dua puluh enam manusia’ terlalu mengenaskan. Jadi kami menawarkan kamar putri kelas XI-1.

Semakin larut keadaan semakin ramai, dan tiba waktu kami harus melanjutkan perjalanan. Malam itu terasa semakin panjang karena suhu udara yang amat sagat dingin. AC sampai berembun dan menetes-netes sepanjang malam. Itu malam yang menyiksa.

***

Senin, 21 Desember 2015

Ngaret. Kata itu yang pertama kali terlintas ketika saya melihat jam digital bis menunjukkan waktu jam setengah lima. Kami seharusnya sudah sampai sejak sejam yang lalu, saya teringat di sela-sela tidur tadi saya mendapati bis sedang berhenti di pinggir jalan. Tapi yasudahlah, yang jelas kami harus segera bangun dan bergegas mandi.

Masjid Agung Purworejo seharusnya menjadi objek wisata kami berikutnya saat itu, tapi kami hanya bisa mampir sebentar untuk solat dan mulai berkeliling mencari WC umum untuk mandi. Dengan kaki yang lecet saya berkali-kali merutuk dalam hati dengan ketidaktepatan jadwal dengan keadaan.

Dan itu tidak terjadi saat itu saja. Ada kejadian fatal lagi yang selanjutnya menjadi image tersendiri untuk bis tiga—bis terakhir.

Kami seharusnya sarapan di rumah makan Orang Utan sekitar setengah tujuh. Tapi dalam sela-sela melanjutkan tidur, saya menyadari jam sudah menunjukkan lewat ari itu dan seorang guru berteriak di telepon. Intinya kami tersesat, dan menyebabkan ... ketika bisa lain sudah siap untuk melanjutkan perjalanan, kami malah baru tiba. Konyol.
     



Selanjutnya, kami pergi ke Candi Borobudur. Setelah menunggu lama di depan pintu tiket, saya terpisah dengan Mbip dan yang lainnya ketika akhirnya masuk. Dan memutuskan untuk bersama-sama dengan Yulia, yang saya temukan sedang sendirian.

     

     

     


Perasaan saya ketika kemari tidak seantusias tiga tahun lalu. Mungkin itu karena saya sudah pernah kesini tiga tahun lalu. Cuacanya juga sangat panas, padahal ini bulan Desember. Saya sedikit berharap akan turun hujan, tapi rupanya tidak. Apalagi karena saya mengenakan sweater dan kerudung hitam. Uh. Karena dua faktor itu, saya juga tidak terlalu bersemangat untuk naik sampai ke puncak candi. Saya dan Yulia memutuskan untuk berfoto-foto di sekitaran daerah Candi yang sepi dan menghindari orang-orang.
     

     

     

     

Tidak lupa memotret beberapa papan info kalau-kalau ada informasi yang kami butuhkan untuk laporan widyawisata kami, padahal saya dan Yulia beda kelompok.

Hal yang saya syukuri pada hari itu adalah: Saya tidak perlu pakai sepatu sendal yang membuat kaki saya lecet karena bagasi di buka ketika masih di Masjid Agung Purworejo dan bahwa kami langsung pergi ke hotel setelah dari Borobudur—seharusnya kami ke keraton dulu—.

Sayangnya kabar kedua itu memberikan kabar buruk lain. Alasan kami tidak pergi ke keraton adalah karena kami akan pergi ke keraton besok. Dan alasan kenapa kami bisa pergi ke keraton besok adalah karena kami tidak jadi ke AAU. Kecewa? Jelas.

***

Kamar 218 Hotel Agung Mas harusnya diisi sepuluh orang. Jadi wajar saja kalau kamarnya besar, dan hal itu semakin terasa karena kami hanya mengisinya dengan tujuh orang. Sebenarnya, kami bukannya sengaja licikkan mendapatkan kamar ini. ketika pertama kali memberikan data untuk kamar, guru yang menerimanya tidak menyimpan datanya. Sehingga kami kehabisan kamar untuk tujuh orang dan kebagian yang ini.

Saya sekamar dengan anak-anak XI-1, yaitu Hania, Elisa, Rena, Aisyah, dan Mutia serta salah satu anak kelas XI-3, Mbip. Kalau ditanya kenapa saya tidak sekamar dengan anak-anak kelas XI-3, mungkin akan terdengar agak melodramatis, jadi lebih baik tidak usah diceritakan.

Setelah melakukan perbenahan dan mandi bergiliran dan lain-lain. Kami bersiap turun untuk makan malam. Saya sangat sadar bahwa kami sudah sampai di hotel pukul dua dan baru turun ketika hampir magrib dan saya tidak akan bohong kalau saya tidak khawatir dengan urutan mandi besok pagi.



Pokoknya setelah menghabikan dengan mengantri dan makan malam, kami langsung pergi ke Malioboro. Kalau lihat dari peta, jarak dari hotel ke Malioboro kelihatannya dekat, tinggal jalan lurus ke utara lalu di persimpangan belok ke barat dan terus lurus sampai melewati jembatan dan dua persimpangan lain. Lagipula, guru-guru juga memperingatkan mengenai bahaya becak. Jadilah kami berjalan kaki. Padahal peta kan punya skala, ya?



Dan saya berakhir tepar duluan ketika sampai di Malioboro. Apalagi teman-teman lain ingin berkeliling Malioboro dari ujung ke ujung, seolah energi mereka belum habis sehabis berjalan sejauh itu. Saya mah boro-boro, kesenggol dikit aja udah mau jatoh, belanja juga udah males dan berakibat males juga nawarnya, makin malem makin lemes dan rasanya mau muntah. Parah banget, pokoknya.

Akhirnya setelah berjam-jam, kami berhasil mendapatkan taksi dan pulang.

Tapi penderitaan belum berakhir. Teman-teman saya tidak terbiasa tidur dalam gelap, dan mereka cukup lelah untuk tidur dengan ponsel yang terus menerus berdering.

***

Selasa, 22 Desember 2015

Alarm setiap satu jam sekali sejak jam sebelas. Sejujurnya saya benar-benar heran kenapa hanya saya yang merasa terganggu. Tapi yasudahlah. Jam menunjukkan jam empat dan seseorang harus mau mandi duluan, bahkan meski itu artinya mandi dalam gelap karena lampu kamar mandi kamar kami tiba-tiba rusak K.

Rena dan Hania bangun kemudian, Hania menawarkan ponselnya untuk menjadi senter di kamar mandi, dan masalah terpecahkan untuk sementara. Yang lain bangun satu persatu. Dan kami baru benar-benar siap ketika langit sudah terang.

    
     


Objek wisata yang harus kami observasi selanjutnya adalah Keraton Yogyakarta. Setelah memarkirkan bis di Ngabean, kami (lagi-lagi) berjalan kaki menuju ke Keraton. Saya sadar rupanya jalur yang kami lewati agak berbeda dengan yang kami lewati tiga tahun lalu. Lebih jauh.

Kami menunggu cukup lama di depan keraton sebelum akhirnya di perkenankan masuk, dan berkeliling, melihat abdi dalem sedang bekerja, mengeliling museum-museum, mendengarkan pemandu sekuat tenaga, ya begitulah. Satu hal yang perlu digarisbawahi mungkin keberuntungan saya yang kehilangan rombongan berkali-kali dan terpaksa bergabung ke rombongan lain berkali-kali pula. Apalagi ketika saya keluar dan berniat beli Es Dawet, saya tidak bisa menemukan dompet saya. Orang-orang mengelilingi saya dengan wajah panik sementara saya malah tidak merasa apa-apa. Barulah ketika sadar bahwa dompet saya keselip, saya baru merasa ingin menangis, dan orang-orang bubar. Konyol.

    

     




Perjalanan di lanjutkan dan kami pergi ke Candi Prambanan. Perasaan yang sama ketika di Candi Borobudur kembali menghinggapi saya. Malah lebih parah, mungkin ini gra-gara rasa iri ketika melihat anak-anak kelas lain berfoto dengan wali kelasnya sedangkan walikelas saya pergi entah kemana.

     

    


Meski begitu banyak kejadian aneh yang terjadi. Yulia berkali-kali berkata bahwa ada suasana berbeda di dalam candi, dari caranya mengatakannya pasti suasana klenik macam itu. Kemudian seorang guru bercandan mengenai ‘penampakkan’ di sekitar area candi, saya udah parno duluan waktu Yulia bilang kalau saya dan dia sudah melihat dua dengan wajah serius. Padahal yang dia maksud bikin saya harus nahan ketawa supaya teman-teman yang lain (yang tidak mengerti) sama parnonya dengan saya tadi. Kejadian anehnya adalah: saya tidak mengerti kenapa pihak pengelola area candi prambanan atau apalah namanya, melakukan perbaikkan jalan di siang hari di musim liburan seperti ini. Bukannya malah gampang rusak lagi? Dan malah bikin suasana horror ketika Indri dan Nadia menginjak jalan yang baru di aspal dengan sendal baru mereka dan mereka marah-marah gak jelas karena mengira seseorang menginjak sendal mereka padahal aspalnya nempel. XD

    

     

     


Hari itu akan menjadi hari paling pada seandainya saya mengikuti teman-teman yang lain untuk kembali berbelanja di Malioboro. Awalnya saya memang tertarik untuk pergi ke Alun-alun. Tapi ketika mereka berkata akan ke Malioboro dengan berjalan kaki lagi, saya hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan. Untungnya Rena juga tidak pergi. Dan kami sama-sama heran ketika mereka pulang nyaris ketika tengah malam hampir tanpa wajah lelah.

***

Rabu, 23 Desember 2015



Nyaris semua orang menganggap hari keempat sebagai hari pulang, dan tidak ada yang terlalu memedulikannya. Mungkin memang begitu. Semua orang juga mengeluh ingin segera pulang. Saya tidak tau apa pendapat guru-guru tentang homesick ini. Tapi bagi saya sendiri itu jadi tolak ukur tingkat kesenangan anak-anak terhadap perjalanan ini. Maafkan saya yang berkali-kali membandingkan study tour ini dengan study tour SMP, tapi hal itu tidak bisa disangkal kan? Teman-teman SMP saya selalu mengatakan ‘kangen bis’ sebagai ungkapan betapa menyenangkannya study tour itu. Tapi kata-kata yang tenar dalam study tour kali ini adalah ‘gakobe’ dan ‘rusuh ih, kayak the jek’. Padahal saya mengira masa kelas dua SMA harusnya sama menyenangkannya dengan kelas dua SMP.

Selain itu, hari keempat mungkin memang tidak berkesan. Selain kami membeli oleh-oleh dan saking kehabisan cemilan di bis memakan oleh-oleh tersebut; kami ke Goa Jatijajar, tapi rasanya hanya sekilas saja; beberapa dari kami membeli CD film supaya tidak bosan di bis; Mbip yang berkoar-koar bagaimana dia tidak terima dianggap hantu oleh Alief karena ketika malam sebelumnya ia berjalan pada pukul dua pagi; dan yang paling heboh: Imam yang tidurnya luar biasanya nyenyak, dan bikin panik semua anak perempuan XI-3. Saya gak akan ambil pusing kalau bukan karena dia tidur di sebelah saya dan menghalangi jalan keluar ketika saya kebelet buang air.

     


Tapi yang paling menyebalkan adalah kenyataan bahwa kami tidak jadi pulang lewat puncak. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena itu semua disebabkan oleh alam. Lalu kami juga tidak jadi pulang lewat tol Ciawi dan berakhir harus turun di Limas, Tajur.

"Yang rumahnya di Cisarua tidur aja di Limas, gak apa-apa”

Itu kata-kata seorang guru. Dan seperti seharusnya, tidak ada yang tertawa.

Saya menghabiskan waktu tiga jam di angkot yang nyaris tidak bergerak di Ciawi. Untuk sampai di rumah pada jam satu siang tanggal 24 Desember. Empat belas jam terlambat jika melihat selebaran jadwal yang saya pegang. Beruntung, ayah membatalkan rencana pergi ke Bekasi siang itu. Tapi saya tetep harus berkemas lagi untuk pergi ke Bekasi besoknya.

Gila.

26 Desember 2015

Eureka!

imgsrc
Besok adalah hari yang spesial. Walau Mar mungkin tidak menganggapnya begitu. Ah, tapi siapalah saya ini selain manusia Lotama yang suka membanggakan hal-hal kecil. Termasuk membanggakan diri mengenai hal-hal yang saya sadari di usia akhir remaja ini.

Usia 17-18 tahun, selalu digadang-gadang sebagai masa yang penting. Masa dimana kita sebentar lagi dianggap dewasa, ketika kita harus menentukan hidup. Sayangnya, dan anehnya, saya merasa saya malah semakin labil di usia ini. Saya tidak menyesal mengatakan bahwa merasa kalau saya di SMP mungkin lebih dewasa daripada saya di SMA.

Tapi itu mungkin wajar saja, saya di SMA jelas mengalami masalah yang lebih berat daripada saya di SMP, dan saya yakin kalian juga begitu. Permasalahan ini menunjukkan sedewasa apa kita bersikap, dan dengan keadaannya sekarang saya berkesimpulan saya sama sekali belum dewasa dan hanya terjebak pada zona nyaman ketika merasa dewasa.

“If at first we don't succeed, we'll try two more times. So our failure's a statistically significant try”

 
Itu adalah salah satu baris dalam lagu The Science Love Song yang dipopulerkan A.S.A.P Science. Meski tidak disinggung secara langsung dalam pelajaran IPA di sekolah, saya akhirnya memahami kalau untuk menarik kesimpulan dalam suatu eksperimen diperlukan tiga kali eksperimen, dan itulah yang saya ‘lakukan’. Dan hasilnya, dua dari tiga lingkungan yang saya hadapi bukan lingkungan yang nyaman. Dan saya yakin ini adalah cerminan dari masyarakat yang sesungguhnya.

Kita, tidak bisa memilih lingkungan yang membuat kita nyaman, atau mengubah lingkungan kita. Kita hanya bisa menyesuaikan diri dan berhenti merasa muak pada dunia. Lakukan yang benar, jauhi yang buruk, tak peduli apa kata orang.

Sayangnya tidak semudah itu. Egoisme tumbuh seiring usia. Saya sadar saya benar-benar naif dulu menganggap bisa menghadapi dunia sendirian. Tapi rupanya tidak, saya tidak sanggup. Lemah, pengecut, omdo. Itu sudah saya ucapkan berkali-kali pada diri sendiri dan karena tidak bisa membenci diri sendiri dengan bodoh saya membenci dunia.

Tapi, masih banyak orang baik disekitar saya. Saya selalu heran kenapa mereka bisa sesabar itu. Dengan perasaan sombong bertanya dalam hati, apa mereka tidak muak dengan orang-orang? Tidakkah standar baik-buruk kita sama? Bagaimana kalian selalu bisa tersenyum?

Akhir-akhir ini saya menemukan jawabannya. Mereka jauh lebih kuat, mereka jauh lebih paham mengenai prinsip yang saya agungkan itu. Hidup memang sulit, tapi mereka bisa mengarunginya.

Hanya pembohong yang bisa mengenali dan mencibir pembohong. Hanya orang-orang menjijikan yang jijik pada orang-orang menjijikan. Hanya orang-orang sombong yang kesal pada orang-orang sombong. Hanya orang-orang egois yang menganggap orang lain egois.

Selama kita benci seseorang karena perbuatan buruknya, dan bukannya mendoakan mereka terlepas dari perbuatan buruknya, selama itu pula kita—saya—tidak akan menjadi dewasa, dan siap menghadapi dunia. Apalagi, sehebat tokoh-tokoh fiksi menghadapi dunia.

Di buku-buku, para remaja mengalami konflik yang hebat dan menegangkan, membuat pembaca terkagum-kagum dan jatuh cinta pada mereka. Tentu saya tidak bilang cerita-cerita fiksi itu berlebihan. Karena nyatanya beberapa orang yang lebih muda bisa mengalami kejadian yang lebih naas dari fiksi, lebih naas karena yang mereka alami itu nyata.

Karenanya pula terkadang saya tidak tau harus bersyukur atau mengeluh dengan kehidupan remaja saya yang biasa-biasa saja. Bersyukur mungkin akan membuat saya terdengar pengecut, tapi mengeluh jelas bukan hal baik. Namun, mengeluh tentang kenyamanan tidakkah membuat kita jadi lebih baik daripada ‘owoh kahayang’? Jadi apa salahnya?

Keluhan ini semakin menjadi ketika melihat berbagai jenis orang di usia saya mengalami hal-hal hebat, melakukan hal-hal hebat, dan membuat saya bertanya-tanya kenapa saya tidak? Bodohnya, saya malah membandingkan hal itu dengan lingkungan saya yang juga sama-sama biasa-biasa saja. Ini tidak benar, tentu saja, tidak benar berleha-leha pada pencapaian prestasi. Ingin hal besar, tapi tidak ingin usaha besar, bodoh. Saya masih terus berusaha untuk memperbaiki hal ini.

Dan, maukah kau ikut aku? dengan tidak terfokus hanya pada mengejar nilai untuk mendapat pekerjaan dengan penghasilan layak dan hanya terselingi oleh air mata patah hati karna cinta monyet? Dunia menawarkan banyak hal, dan kenapa kau hanya membuang-buang waktumu?

23 Desember 2015

Kuwalaya (Bagian 10)

“Suara siapa itu?” tanya Felisa lirih.

Indra tidak menjawab, matanya awas melihat sekeliling. Tapi percuma saja, tak ada yang bisa ia lihat selain pohon-pohon. Mereka mungkin memang tidak sendirian di hutan itu, tapi Indra tak bisa melihat makhluk hidup lain selain mereka.

“Apa kau dengar? dia merintih kesakitan!” Ruci tertawa, berusaha menjadikannya terdengar jahat tapi suaranya malah terdengar menyedihkan. Lagipula sama sekali tidak ada suara rintihan Bara yang ia maksud.

Felisa turun dari kuda dan menghampiri pohon beringin itu, ia lalu mendekatkan kepalanya ke sana. “Aku rasa suaranya dari sini” dia meraba-raba bagian bawah pohon itu dan meraakan sesuatu yang lengket menyentuh tangannya. Saat ia mengeluarkan tangannya, dia melihat tangannya dilumuri cairan hitam yang menetes-netes. Felisa bergidik dan mencoba membersihkan tangannya dengan panik.

“Kenapa?” Indra akhirnya buka suara, ia mendekat mengarahkan obor ke Felisa.

“Entahlah, ada yang aneh” Felisa berusaha melihat bawah pohon itu lebih jelas, tapi ia tidak perlu berusaha. Cairan hitam yang sama dengan yang di tangannya merembes keluar. Dan ketika menyentuh kakinya, ia bisa merasakan dirinya mulai tenggelam.

“Benda ini menyedotku” kata Felisa, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

Indra refleks menjatuhkan obornya dan berusaha menarik Felisa. Felisa sendiri mencoba mendorong dirinya tapi dia tidak bisa merasakan dasar kolam itu. Usahanya malah membuatnya semakin tenggelam.

Indra berbalik berusaha mengambil tali dari kantung yang ada di pelana kuda. Tapi kuda itu malah meringkik marah. Seluruh binatang berpihak pada Pargata, apalagi binatang keturunan Pargata.

“Uh, Indra ...” seru Felisa ragu-ragu.

Tubuh Felisa sudah tinggal sepinggang, dan raut wajah Indra mulai panik. Ia berusaha sekuat tenaga menarik Felisa, tapi usahanya tidak membuahkan hasil samasekali.

Tidak apa-apa” gumam Felisa “Lepaskan aku. Aku bisa merasakan kakiku kering. Aku rasa ini portal yang sama ketika kami berakhir di laut”

“Maksudmu Marga?” Indra menatap pasrah ketika yang bisa ia lihat hanya kepala Felisa.

“Aku akan menemukan Ba—” suaranya menghilang dengan letupan gelembung kecil.

“Hei! Kau baik?” Indra berteriak.

Hening beberapa saat, hingga akhirnya ia mendengar jawaban dari Felisa. “Kemarilah! Tempat ini luar biasa!”

Indra mundur beberapa langkah, ia menoleh ke arah kuda-kuda dan nyaris tersentak ketika melihat mereka tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya yang besar. Hewan-hewan sedang menggila, katanya dalam hati. Lalu berlari untuk melompat kedalam kolam hitam itu. Berbeda dengan Felisa yang jatuh perlahan-lahan, dia masuk dengan cepat. Aku bisa mendengar bunyi gedebuk dari kolam itu.

***

Sulit mencari rerimbunan pohon sebagai tempat persembunyian di sini. Jadi aku memutuskan untuk berpura-pura sebagai merpati biasa di antara kawanan merpati lain yang sedang bertengger di pinggir reruntuhan bangunan.

Tempat itu bisa dikatakan amat luar biasa dalam arti mengerikan.

Reruntuhan bangunan apapun yang sedang aku injak sekarang, pasti dulunya adalah bangunan yang besar dan kuat. Sebuah peradaban maju megalitik dengan teknologi yang tak dapat dipercaya oleh manusia Lotama. Tapi melihat keadaannya sekarang, aku tak bisa membayangkan kekuatan apa yang menghancurkan tempat ini.

“Tempat apa ini?” tanya Felisa seraya membersihkan badannya dari debu.

“Terlihat seperti bekas medan perang” jawab Indra, “hei, bisa bantu aku?”

Felisa menghampirinya dan membantunya berdiri. “Aku bisa melihatnya” kata Felisa “tapi itu tidak menjelaskan apapun. Dan di mana orang menyebalkan yang menahan Bara?”

“Aku sama tidak taunya denganmu, nona” kata Indra “daripada itu, sebaiknya kita cari tempat istirahat untuk malam ini”

“Benar” gumam Felisa.

Mereka berjalan cukup jauh untuk sampai akhirnya menemukan bangunan yang lebih layak di antara yang lainnya. Bangunan itu berbentuk lingkaran dan atapnya terdiri dari daun-daun yang disusun melingkar. Dindingnya dari batu yang di pahat dan jendelanya adalah lubang kecil di dindingnya itu. Bangunan itu hanya terdiri dari satu ruangan dan sama sekali tak ada penerangan. Atapnya memang berlubang di beberapa tempat dan banyak sampah kayu di dalamnya. Meski begitu, dindingnya masih kokoh dan itu lebih dari cukup untuk melindungi mereka dari udara dingin.

“Hei tangkap ini!” Felisa melempar sebuah apel pada Indra.

Mereka baru saja memasuki bangunan itu. Dan saat itu, ketika suasana menjadi lebih hening dan bahkan deru nafas mereka bergema. Felisa mendengar suara perut Indra yang keroncongan. Bagaimanapun, sejak siang mereka di Hutan Utara, dan belum memakan apa pun, kecuali Felisa dan apel-apelnya.

Indra menata apel itu sebentar, lalu melemparnya kembali pada Felisa “simpan untuk temanmu”.

Indra memimpin dalam menggeledah rumah itu, dia menyingkirkan sampah-sampah kayu dengan kakinya. Sayang sekali kayu-kayu itu basah sehingga dia tidak bisa membuat obor darinya. Dan mereka terpaksa mengandalkan cahaya bulan yang menysup lewat celah-celah atap sebagai penerangan.

“Yang jelas ini bukan istana, nona” kata Indra “Lihat ini, kursi panjang dari batu, dan aku menemukan kain tebal ini. Kau bisa tidur di sini kalau mau”

“Aku bukan perengek, santai saja” kata Felisa “bagaimana denganmu?”

“Aku akan berjaga di luar” kata Indra

Aku tau apa yang sedang di lakukan Indra. Dasar tukang pamer. Dia sengaja menunjukan superioritasnya sebagai panglima perang Apsara di depan Felisa. Tapi tentu saja dia tidak terpengaruh, ia cukup pandai untuk mengerti bahwa dia terjebak dalam situasi ini dan pantas menerima setiap perhatian dari Apsara.

Tapi setidaknya Indra tidak lalu tidur di luar. Dia benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Ia duduk di luar dan memandangi langit berbintang, memikirkan apa yang akan mereka lakukan besok.

Sementara itu aku menjauh dari tempat itu dan mencoba berkeliling. Aku dikejutkan oleh hembusan angin yang tiba-tiba melewati tengukku. Dan saat aku menoleh, aku menemukan dua pasang mata dari balik kegelapan sedang menatapku.

‘Ruci?’ tanyaku

Sosok itu tidak bergerak, tapi angin kencang menerjangku.

‘Tidak lucu, Ruci!’ aku memperkuat cengkeramanku pada bongkahan kayu tempatku berpijak.

‘Aku memang bukan pelawak, Mar’ Ia tertawa ‘Apa yang kau lakukan di sini?’

Kau di mana? Ini tidak adil, aku tak bisa melihatmu’

‘Kau bersama mereka, bukan? Berarti saat ini kau musuhku, aku takkan memberitahumu’

‘Aku membuka pikiranku padamu, Ruci’ kataku malas, aku tidak mengerti ketika manusia Lotama berkata kalau kancil itu cerdik.

‘Oh, benar. Jadi apa tujuanmu di sini? Di wilayahku?’

‘Apa itu masalah bagimu?’

‘Sebenarnya tidak jika aku tidak sedang bertugas. Kita tidak akan mendebat hal ini sampai pagi, kan? Jawab saja’ nada bicara suara Ruci mulai meninggi, aku mengerti kalau dia mulai tidak sabar. Aku sudah mau menjawab ketika Ruci lagi-lagi bertanya dalam benaknya ‘Apa ini ada hubungannya dengan kata-kata anak itu yang bilang bahwa kau ini merpati terkutuk?

‘Jadi kau benar-benar menahan Bara?’

‘Begitulah. Tapi dia aneh kan, dia terus-menerus berkata ingin ke Lotama, sama sekali tidak berhasrat pada Kuwalaya’

Aku tidak menjawabnya.

‘Mar, apa kau melakukan kesalahan kali ini? Mereka tidak mungkin bisa mendapatkan Kuwalaya’

‘Mereka bisa, aku tau mereka bisa. Mereka harus bisa’

‘Kau salah pilih Yodha, Mar. Kau—’

‘Aku tidak—’

‘Dengarkan aku dulu!’ Ruci keluar dari persembunyiannya. Empat tahun tidak banyak merubahnya, dia masih sama seperti dulu. Kancil bertubuh kecil dengan garis putih di kepalanya. ‘Mereka tak akan bertahan. Kau mungkin tak merasakannya, tapi Rodra mulai bangkit, Buana Larang mulai terbuka. Hematala akan jadi yang pertama hancur, bahkan sebelum mereka mencapai Kuwalaya’


Aku meringis, menutup benakku dari Ruci dan mengumpat dalam hati. Kau tak tau apa-apa, Ruci.

9 Desember 2015

Yang menyebalkan dari ujian.

(Ini postingan marah-marah *duniaharustau)

imgsrc
Saat saya menuliskan ini, ujian baru saja dimulai. Meski begitu auranya sudah terasa. Kondisi tubuh yang tidak fit dan mendadak saya kesal pada semua orang. Bagi saya, hal yang paling membuat frustasi saat ujian bukanlah ujian itu sendiri. Perasaan stress karena ujian sih cukup mudah untuk di hilangkan, toh perasaan itu dipicu dari diri sendiri dan bisa hilang atas kehendak diri sendiri pula.

Tapi ada pengaruh dari luar yang membuat saya benci pada ujian.

Apalagi yang lebih menyakitkan dari pada melihat orang yang kalian kira teman melakukan sesuatu yang selalu kalian kutuk? Oke, mungkin hal itu tergantung pada masing-masing orang dan merupakan ‘hak’ setiap orang. Tapi hak mana yang membolehkan seseorang melanggar peraturan?

Mungkin memang benar masalahnya ada pada diri saya sendiri yang terlalu kaku, seorang teman berkata saya terlalu kolot, yang lain bilang saya terlalu serius, tapi apa itu salah? Apalagi menyangkut hal ini. Bukankah mereka sama bencinya dengan koruptor? Nah, apa ludah sendiri itu enak?

Oke, straight to the point, I hate those people who cheating and proudly say they’re cheating (especially in exam)

Simple, karena orang yang mencontek itu tidak jujur pada diri sendiri, orang lain, guru, dan orang tua. Jadi apa jaminan mereka bisa dipercaya?

Dan apa yang mereka harapkan dari perbuatan itu? Nilai besar yang sama sekali tidak menunjukkan isi otak mereka? Jika ditanya memilih mana antara kejujuran yang pahit atau kebohongan yang manis, mereka dengan munafik pasti memilih pilihan pertama, tapi kenyataannya?

Lebih menyakitkan ketika yang melakukannya adalah teman sendiri. Dan ini membuat saya membangun benteng besar tak terlihat dengan mereka. Dan ketika sadar bahwa benteng itu pada akhirnya malah mengurung diri sendiri, apalagi yang membuat lebih stress daripada itu?


Kalau kamu teman sekolah saya dan baca ini, jangan norak ngegodain saya tentang betapa lebaynya postingan ini. Saya gak suci, tapi karena itu saya berusaha gak ngotorin diri lebih parah. Dan itu tanda kamu gak dewasa dengan menghargai pendapat orang lain.

Oke, maaf kalau ada yang tersinggung. Kalo bisa jangan tersinggung doang, yuk berubah :)

***

"Sal, tadi pengawasnya bisa nyontek gak?" (cheater)
"Ngapain nyontek?" (Salsabila)
(7-12-2015)
Salsa, you're the real MVP (y)