28 Oktober 2015

Kuwalaya (Bagian 9)

Mar, Zar, Mar
Tutup mulut, cukup dengar

Bangkitkan kekuatan, kumpulkan daya
Entitas jahat akan berjaya
Jangan takut jangan tegang
Siapkan bala, panggil pejuang

Zar, Mar, Zar
Memang satu penjaga ingkar
Sila anggap diri terbenar

Itu adalah pesan Balinda yang selama ini selalu kurahasiakan dari manusia. Pesannya jelas, membuat Triraksa adalah kewajiban. Jadi aku tak punya pilihan untuk menghentikan proyek Triraksa.

Tapi, rapat itu berlangsung alot, benar-benar tidak sesuai harapanku. Felisa dan Bara jelas menolak, Indra terus-menerus menganggapku tidak waras, dan para Raksa juga tidak membantu dengan mental siap mati mereka. (Arsa bahkan mengusulkan Felisa dan Bara bisa pulang tanpa melakukan apapun, konyol)

Pada akhirnya aku dihadapkan dua pilihan, membiarkan Tirta, Arsa, dan Braja mati atau menempatkan Bara dan Felisa dalam situasi yang berbahaya. Hanya saja pilihan pertama itu sangat tidak masuk akal, berpuluh-puluh tahun Acarya Darma mencoba menciptakan Raksa, masa aku mau memusnahkannya begitu saja. Lagipula situasi berbahaya itu belum tentu mengakibatkan kematian kan?

Aku terpaksa melakukan ini, meminta Tirta untuk mengendalikan pikiran mereka sesaat. Sampai mereka terbangun di hutan Utara Apsara dan mau tidak mau meneruskan perjalanan sampai ke Hematala. Toh, ini juga untuk menyelamatkan nyawa Tirta.

Tapi Raja Manda tetap khawatir, jadi dia meminta Indra ikut. Dan sebagai hukuman karena aku meminta Tirta melakukan hal jahat, aku juga harus ikut, namun karena alasan yang sama juga, aku tidak boleh melakukan apapun. Ini membosankan.

“Hh?”

Bara akhirnya membuka matanya, meski kebingungan melihat matahari bersinar, ia masih mengingat jelas ruangan remang yang terakhir kali ia lihat. Ia merenggangkan badannya, sekali lagi bingung mencari sulur yang mengikatnya. Dilihatnya tempat sekitar ia tadi terbaring. Pohon dimana-mana, dan salah satunya terikat tiga ekor kuda yang besar-besar.

“Oh, kau sudah bangun?”

Bara menoleh, melihat Indra yang berjalan kearahnya sambil memanggul kayu bakar.

“Tidak, aku masih tertidur, lelap sekali” jawab Bara sinis.

Indra mengangkat sebelah alisnya, lalu menjatuhkan kayu-kayu bakarnya.

“Kau tau cara membuat api? Aku akan pergi mencari makanan”

Bara tidak menjawab, masih mencoba memahami apa saja yang baru terjadi padanya.

“Baiklah, kuanggap itu ‘ya’”

Terserahlah! Bara mengurut keningnya sambil memejamkan mata, sepetik kalimat terbesit di kepalanya “Tak ada cara lain,”

Tak lama kemudian, Felisa datang sambil melompat dan bersenandung, ia membawa banyak buah-buahan dan kaget melihat Bara sudah bangun.

“Oh!” katanya “Kukira kau akan tidur sampai bes—!”

“Apa-apaan!” teriaknya Bara tiba-tiba, dia mengingat semuanya. “Mar! Burung brengsek!”

“Oh itu” kata Felisa, “Sudahlah, sudah terlanjur”

“Sial! Besok hari senin! Astaga! Di mana dia?! Akan kupatahkan sayap-sayapnya”

“Hei!”

“Diam Felisa! Kita tidak bisa diperlakukan seperti ini! ini melanggar hak asas—”

Felisa tak pernah gagal membuatku kagum, dengan cermat dia sumpal mulut Bara dengan buah yang dibawanya.

“Tenanglah, kita tak bisa berbuat apa-apa” katanya, “lagipula, ini pasti seru!”

“Seru?” kata Bara setelah susah payah mengeluarkan buah itu, ia terkekeh sebentar, “Seru kepalamu?!” dia melempar buah itu dengan kasar, lalu memandang langit sebentar, matahari sudah condong ke barat. “Aku mau pulang!” katanya sambil berlari ke selatan.

“Bara!” teriak Felisa, tapi dia tidak mengejarnya.

Aku juga tidak mengikuti Bara, aku lebih suka melihat Felisa dari rerimbunan pohon ini. Dia sedang membuat api. Matahari memang sudah hampir terbenam, jadi aku rasa memang sudah sepatutnya mereka menyiapkan kemah.

Apinya sudah menyala, dan Felisa hanya duduk-duduk saja di sana. Barulah beberapa saat kemudian Indra datang. Ia mengerutkan kebing kebingungan melihat Felisa sendirian, maka ia pun bertanya.

“Mana anak laki-laki itu?”

Felisa tidak menoleh, hanya mengangkat bahu. Ada banyak hal yang lebih baik dilakukan daripada membicarakan Bara.

“Dia tidak kembali ke selatan, kan?”

Felisa terdiam.

“Jangan bilang dia ke selatan!” Suara Indra bergetar ketika mengucapkannya, seolah hal itu adala sesuatu yan buruk.

“Kalau begitu aku harus bilang apa?” sahut Felisa heran.

“Astaga!” kata Indra, kaget bukan main “Kita harus mengejarnya!”

“Memang kenapa? Bara akan baik-baik saja, kok” kini Felisa benar-benar heran, raut wajahnya sama sekali berkebalikan dengan Indra yang ketakutan.

“Kau mau diam saja di sana? hari sudah hampir gelap dan anak itu sendirian saja di hutan!”

Oh benar, pikir Felisa, seolah fakta itu tidak pernah terpikir seumur hidupnya. Tapi ketika Indra hendak melepas kuda-kuda, Felisa kembali berseru.

“Kita tidak butuh mereka,” kata Felisa “Bara pasti belum jauh, dia pasti baik-baik saja. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyusuri jalan setapak ke selatan”

“Kau pikir kita di mana? Jalan setapak apanya?” Indra memelototi Felisa, matanya seolah nyaris keluar.

“Kalau begitu dia benar-benar belum jauh” Felisa berbalik, memandang langit, berjalan santai ke selatan.

Indra ingin sekali mengacuhkan pendapat gadis itu, tapi meninggalkannya dengan menunggang kuda sama saja meminta kepalanya dipenggal dua kali.

“Kita naik kuda” kata Indra, keras kepala.

Tapi Felisa lebih keras kepala, tak berbalik dan terus berjalan. Tak ingin kehilangan gadis itu lebih jauh lagi, Indra mengejar Felisa, dan ketika berhasil dia mengenggam tangannya kuat-kuat.

“Jangan buat keadaannya sulit, nona” bisiknya “Tugasku adalah memastikan kallian berhasil mencapai Hematala, dan sejak awal aku tidak ingin siapapun terluka. Tapi jika kalian terus-menerus membuatku kesal, dengan satu kaki, kalian masih bisa mencapai Hematala”

Felisa menatap lurus ke mata besar Indra. “Sebaliknya, aku hanya ingin membuat segalanya mudah” kata Felisa tenang “Kau bisa menyarungkan lagi pedang tulang itu, seorang gadis hanya perlu kata-kata sopan sebagai permohonan” dia mengatakan itu sambil menghempaskan tangannya. Mereka lalu berbalik dan menunggangi kuda-kuda itu. “Aku sungguh tidak mengerti kenapa kau ingin kita naik kuda” gumamnya, memandangi pohon-pohon rapat dihadapannya.

Cahaya matahari benar-benar sudah tak ada lagi ketika mereka mulai mencari Bara. Indra merasa semakin khawatir ketika melihat langit berawan dan dia tidak tau lagi di mana selatan, dan merasa pasrah ketika Felisa memimpin jalan dengan lentera seadanya. Ini baru hari pertama perjalanan mereka dan Indra sama sekali tidak mengharapkan kekacauan karena perasaan labil remaja-remaja ini.

Sejak Felisa sadar, dia sudah berada di tengah hutan, jadi sebenarnya tidak tepat kalau Felisa mengira hutannya semakin lebat karena dia bergerak semakin ke selatan, alias semakin ke tepi hutan. Aku tidak heran melihatnya tetap percaya diri menganggap dirinya benar-benar ke selatan ketika sebenarnya dia bergerak ke tenggara, dan bahkan meskipun begitu, sebenarnya memang jalur inilah yang di tempuh Bara.

Batang hidung Bara masih belum terlihat, bahkan setelah dua jam pencarian itu dilakukan. Bara benar-benar menghilang, ini benar-benar merepotkan.

Baru setelah mereka dihadang oleh pohon beringin yang tumbang, mereka mulai mendapat petunjuk. Dibawahnya, terselip selembar kain. Indra menariknya paksa dan membuatnya sedikit robek. Dengan bantuan lentera mereka, ia berusaha melihat apa itu, dan lagi-lagi wajahnya menjadi pucat.

Kaus putih itu kotor karena tanah dan lumut-lumut dari pohon itu. Tapi gambar dua sayap berwarna biru di bagian belakang dan tulisan ‘kebebasan’nya masih terlihat samar-samar. Itu adalah kaus yang sama dengan yang dipakai Felisa saat ini, dan tepatnya adalah kau yang tadi di pakai Bara.

Tidak adanya noda darah di kaus itu tidak membuat Indra merasa lebih baik, pun kenyataan kaus itu utuh. Bara tetap menghilang. Bahkan jika keadaannya masih ‘utuh’, kaus ini menjadi pertanda, sayangnya bukan hal baik, semacam undangan sebuah tantangan. Indra bukan seorang pengecut, tapi dia tidak menolak kalau perjalanan ini berlalu tanpa hambatan.

Dan hal yang ditakutkannya adalah kenyataan.

“Jadi, kalian pikir kalian cukup pantas menerima Kuwalaya?”

Suara itu menggema entah dari mana. Kuda-kuda Buraksa meringkik kegirangan, mendengar paman mereka berseru dari kegelapan malam. Bukan, bukan aku, aku bukan satu-satunya Pargata yang bisa bicara.

“Benar, kekasihmu bersamaku sekarang. Dan antara putra atau calon suamimu kira-kira mana yang lebih kau sayangi?” suara itu terkekeh.

Ada banyak gosip bertebaran dikalangan Pargata mengenai para Yodha setelah Welas Kumuda dan Kusara di ambil. Diantaranya, bahwa Arsa dan Braja adalah laki-laki (jadi Pargata yang satu ini juga mengira Raksa Kuwalaya, Tirta, juga ‘putra’); bahwa Yodha Kumuda dan Yodha Kusara masing-masing adalah pasangan suami istri, dan mereka memenuhi kewajiban mereka demi harga diri dan kasih sayang.

Tapi tetap saja, ia mestinya lebih pandai untuk tidak mengatakan ‘calon suami’ dan ‘putra’. Ia boleh saja mengira Bara memang terlalu kecil untuk menikah, tapi tidakkah dia berpikir anak itu bahkan terlalu menyebalkan untuk punya kekasih? Dan bagaimana bisa punya anak tanpa menikah? Dia kira aku memilih Yodha yang senista itu?

Ruci, kawanku yang satu ini memang tidak pernah berubah.

21 Oktober 2015

Mengutip Diri Sendiri

imgsrc
Selamat pagi, tidak terasa sudah hari Rabu lagi ya? (pasang wajah tanpa dosa). Ada yang like halaman facebook Catatan Bulbul? Saya sudah bilang, kalau saya stuck di Kuwalaya. Sebenarnya, bagian berikutnya dari Kuwalaya sudah masuk bagian petualangan, bisa dibilang delapan bagian kemarin itu ‘bagian-awal’ saja. Kalo dipikir-pikir emang terlalu pendek sih, kebiasaan jelek dari dulu alur selalu kecepetan. Jadi, mari kita jeda dulu untuk Kuwalaya bagian tengahnya, lagi proses kok. Dan kabar baik (atau buruk) lagi, saya jadi pengen lanjutin Our Problem! Abis baca komik thriller dan liat pembangunan instalasi pengolahan limbah deket rumah jadi kepikiran, hmmm.

Nah, karena postingan terakhir itu biasa banget (postingannya, bukan videonya) jadi saya mau membahas sesuatu yang lebih—err—berbobot? Eh? Gak yakin juga sih.


Jadi beberapa bulan lalu, saya sedang memikirkan tagline untuk blog buku saya, MewriMembaca. Berhubung ‘Mewri’ sendiri adalah nama kucing peliharaan saya, jadi saya mencoba memikirkan hal yang berhubungan dengan kucing dan buku. Tapi, yaah, dasar gak kreatif saya tersandung juga ke google dan menemukan kutipan ini: “Books, Cats, Life is good”

Waah, keren nih, pakek ah. Usut punya usut rupanya kutipan tersebut di cetuskan oleh Edward Gorey, saya gak tau siapa itu Edward Gorey, atau buku yang ditulisnya, yang pasti dia keren karena berpikir seperti itu. Tapi ... kenapa kalimat tersebut harus di atas namakan namanya?

Saya ngerti kok, kalo seandainya dia orang terkenal, dan mungkin menulis buku, toh saya dapet info ini dari goodreads. Tapi, kenapa? Kutipan itu bukan, yaah, katakanlah bukan kalimat yang ‘hebat’, meski jika diperhatikan menjelaskan betapa sederhananya kebahagian jika kita mensyukuri apa saja yang ada. Baiklah, itu terdengar hebat sekarang. Tapi akhirnya saya bertanya, sampai mana batas suatu kutipan bisa di atas namakan?

Karena saya kenal beberapa orang, yang di akun sosial medianya, apabila mereka menuliskan sesuatu yang hebat, mereka akan menuliskan nama mereka di belakangnya. Beberapa dari mereka memang penulis, dan saya mengerti jika mereka juga mencantumkan tanggal, apalagi jika isi tulisannya tentang sastra. Tapi yang saya maksud adalah tulisan tentang prinsip hidup.

Saya gak bilang mereka salah, malah menurut saya itu keren. Berani mengungkapkan pendapat dan berani untuk bertanggung jawab atas pendapat itu. Dan sebenarnya sayalah yang pengecut, yang tidak berani melakukan hal yang sama dan ketika saya sangat bisa melakukannya.

Saya benci pengeluh—meski saya sendiri seorang pengeluh—beberapa teman saya sering mengeluhkan betapa sempit waktu libur mereka sehingga butuh waktu lama bagi mereka untuk memnyelesaikan novel yang saya pinjamkan. “Aku tuh mikirin PR” kata mereka, ya, saya balas saja “PR tuh dikerjain, jangan dipikirin doang” saya tidak pernah anggap hal itu keren, karena kalimat itu keluar begitu saja sebagai kebiasaan saya menyindir orang.

Tapi kemudian, teman saya itu menuliskan kalimat ‘saya’ itu di postingan statusnya. Memang sih, dia tidak mengaku-ngaku itu ‘kalimatnya’ tapi lucu saja. Saya juga gak tau kesambet apa, ngerasa harus ngerespon.


Balasannya itu wajar banget, malah saya juga pernah bilang begitu beberapa waktu sebelumnya untuk menenangkan seseorang yang mungkin tersinggung ketika saya bilang kata-kata dalam karyanya mirip dengan kata-kata dalam karya orang lain.

Tapi kalau begitu, apa gunanya mengatasnamakan sebuah kutipan? Tentu berbeda kalau sebuah karya sastra umum seperti novel, cerpen atau puisi (eh, puisi lama, pantun, sifatnya malah anonim, kan?). Mungkinkah ini semacam meniru bagaimana cara mengutip perkataan Tuhan, atau sabda Rasul? Hmm, kalau begitu bukankah ini berarti semacam mempertanggungjawabkan suatu ide? Benar?

Tapi kok, saya malah mendapat kesan pengatasnamaan kutipan manusia modern lebih ke “ini ideku, ciptaanku” (itu mah kamu, Fat) daripada “saya yakin ini benar”. Kalau hadist, semakin banyak yang meriwayatkan, semakin shahih, tapi kalau kutipan biasa, hanya spesial jika hanya satu orang yang mengatakannya. Eh, iya gak sih?

Kalau maksudnya untuk ‘hak cipta’ suatu ide, ini juga kurang efektif. Karena, yaah, saya sering melihat inti kutipan yang sama dikatakan banyak orang. Mungkin tujuannya untuk sensasi? Melihat banyaknya foto-foto berisi kutipan-kutipan dan nama-nama orang yang belum tentu juga orang itu mengatakan hal itu, well, ini internet, bung.

imgsrc | get it? get it?

Kita sampai dipenghujung tulisan, dan lihat, saya bahkan tidak tau harus menyimpulkan ini bagaimana. Yang pasti sih, hal ini tergantung pendapat masing-masing orang, dan benar-benar gak bisa dipukul rata begini atau begitu. Lagian gak penting juga sih buat dibahas, so congratulation! you've wasted your time!

Hei, bagaimana pendapatmu dengan pengatasnamaan kutipan ini?

3 Oktober 2015