Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Kuwalaya (Bagian 8)

Gambar
Bertemu dengan Zar, adalah hal pertama yang aku pikirkan ketika mendengar kata-kata gila Garbada kemarin. Ia mulai melanggar aturan, dan aku merasa ia benar-benar harus di beri pelajaran.
Mudah sekali bagiku untuk menemukannya. Ia selalu disana, di pohon beringin favoritnya di tepi hutan utara Apsara. Menatap para hewan dengan mata hitamnya, mengawasi mereka, seolah mengerjakan tugasnya dengan baik.
Begitu aku terbang dan bertengger di pohon di depannya, hewan-hewan lain langsung pergi menghindar. Sepertinya ia sengaja menimbulkan aura tak nyaman disekitar kami.
“Kau melanggar aturan, Zar!” kataku tanpa basa-basi.
“Lucu sekali, Mar, setahuku kau lah yang melakukannya sejak dulu”
“Berhenti bercanda!”
“Canda, serius, apa bedanya? Hidup kita ini kan lelucon saja. Kau sudah membuktikannya, datang ke Lotama, melayani manusia, benar-benar rendah”
“Aku peringatkan kau, sekali lagi kau dekati keluarga kerajaan. Aku buat kau bungkam selama-lamanya!” siulanku menambah suram keadaan disekitar k…

Cita-Cita

Gambar
Bukan, ini bukan postingan serius tentang passion atau tujuan hidup dan semacamnya. Simply, tentang diri saya sendiri, dan mengingat sebagian orang tidak terlalu suka orang lain membicarakan diri sendiri, saya benar-benar merasa harus minta maaf karena bersikap egois (lagi) kali ini.

Sejak kapan sebenarnya saya ingin jadi penulis, saya tidak ingat, tapi sekarang perasaan itu makin kuat. Dan saya masih ingat alasan konyol apa yang membuat saya memutuskan ingin menulis, yaitu: bagi saya, hobi adalah hal yang penting, dan tidak lucu jika hobi saya adalah belajar. Saya hobi membaca tapi itu tidak menguntungkan (what?). Maksud saya, pasti keren sekali kalau kita bisa mendapatkan sesuatu dari hobi kita, dari hal yang kita sukai.
Musik? Ah, saya sama sekali tidak punya bakat untuk itu. Olahraga? Tidak, tidak, saya benci berkeringat. Grafis? Gak bisa gambar.
Menulis adalah hal pertama yang terlintas dalam benak, hei, mengarang kan gampang. Itu seperti berbohong kan? Apa susahnya berbohong? Ap…

Kuwalaya (Bagian 7)

Gambar
Indra tidak bercanda. Detik itu juga Felisa dan Bara digiring paksa masuk ke dalam kereta terbuka para prajurit dengan tangan diikat. Mereka bahkan menyiapkan Kuda Buraksa untuk mengangkut ‘tahanan’ secepatnya. Ya ampun! Dan apa maksudnya dengan mengatakan ‘Raja’ Garbada? Terakhir kali aku ingat, anak itu masih tertatih-tatih merangkak setelah jatuh dari pelana berkali-kali.
“Penobatannya tinggal beberapa hari lagi” kata Indra, ini adalah salah satu hal yang membuatku benci padanya. Ia selalu berhasil untuk ‘tidak berpikir apapun’, aku hampir kesulitan untuk membuatnya menghormatiku.
“Aku tau” kataku kesal, berbeda dengan Felisa dan Bara, aku ditempatkan di kereta yang sedikit lebih nyaman untuk manusia. Setidaknya di sini ada kursi yang dilapisi kulit, aku sendiri bertengger di atas logam perak yang khusus disiapkan untukku.
Indra tersenyum mengejek “Aku masih hebat dalam menghadapimu kan?”
“Diam”
“Gadis itu, kau tega sekali”
“Ia tak akan mati, bodoh”
“Yakin?”
“Aku seratus persen ya…

Pengejaran Sia-Sia

Gambar
“Di ... dia kabur!” seru Eva, menatap nanar pada pintu mobil yang berayun oleh angin malam.
George di sampingku jelas tekesiap, ia kaget bukan main. Sedangkan aku sendiri hanya menghela nafas, sudah kuduga ini akan terjadi, walau agak menyesal kenapa harus terulang lagi. Kami hanya meninggalkannya minum kopi di kafe kecil di pinggir jalan ini. Seharusnya aku tahu ini tidak mudah, kilasan percakapanku dengan atasanku lewat begitu saja
***
“Jika kau berhasil, kau akan naik pangkat” katanya.
Aku menarik nafas, hidungku kembang kempis antara bangga dan ragu. Hidupku sudah cukup baik akhir-akhir ini, apa aku harus terima kasus ini? tapi apa salahnya? Memang tidak boleh dapat untung berlipat-lipat?
“Lawanmu adalah Herman”
“Apa?”
“Ia mencuri sesuatu, kau diminta secara langsung oleh TC Enterprise untuk menangkapnya”
“TC?”
“Kenapa? Kau terkejut?”
“Tidak, aku hanya heran bagaimana perusahaan sebesar itu bisa kemalingan, dan mengenai Herman,”
“Kalian pernah menyelidiki Kasus Museum Damar sama-…

Kuwalaya (Bagian 6)

Kami berempat diselamatkan. Samar-samar aku bisa melihat Acarya Darma di antara tim evakuasi. Pertengkaran tadi mengacaukan lokasi keluarnya Marga sehingga kami muncul di tengah-tengah laut. Itu bukan pengalaman yang menyenangkan.
Aku terbangun di salah satu rumah penduduk. Didalam sangkar kecil—kalau Acarya Darma ingin aku dalam sangkar, maka aku akan dalam sangkar—di sudut ruangan. Ya, harus kuakui aku merasa sedikit sakit hati. Aku kira Acarya Darma akan membawaku bersama Tirta. Tapi, aku mengerti bahwa seseorang harus menjelaskan sesuatu pada Bara dan Felisa. Lagipula, ini salahku sehingga mereka terbawa kesini. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku membawa mereka.
Mereka masih pingsan, aku melihat wajah pucat mereka dari atas sini. Bara bergerak-gerak cemas dalam tidurnya, ia ketakutan, karena tidak bisa berenang. Sedangkan Felisa, raut wajahnya kebingungan, ia bingung mengenai merpati yang bisa bicara—mengenai aku—.
Dari jendela kamar itu, seseorang datang. Sebenarnya, seekor b…