30 September 2015

Kuwalaya (Bagian 8)

Bertemu dengan Zar, adalah hal pertama yang aku pikirkan ketika mendengar kata-kata gila Garbada kemarin. Ia mulai melanggar aturan, dan aku merasa ia benar-benar harus di beri pelajaran.

Mudah sekali bagiku untuk menemukannya. Ia selalu disana, di pohon beringin favoritnya di tepi hutan utara Apsara. Menatap para hewan dengan mata hitamnya, mengawasi mereka, seolah mengerjakan tugasnya dengan baik.

Begitu aku terbang dan bertengger di pohon di depannya, hewan-hewan lain langsung pergi menghindar. Sepertinya ia sengaja menimbulkan aura tak nyaman disekitar kami.

“Kau melanggar aturan, Zar!” kataku tanpa basa-basi.

“Lucu sekali, Mar, setahuku kau lah yang melakukannya sejak dulu”

“Berhenti bercanda!”

“Canda, serius, apa bedanya? Hidup kita ini kan lelucon saja. Kau sudah membuktikannya, datang ke Lotama, melayani manusia, benar-benar rendah”

“Aku peringatkan kau, sekali lagi kau dekati keluarga kerajaan. Aku buat kau bungkam selama-lamanya!” siulanku menambah suram keadaan disekitar kami.

“Keluarga kerajaan! Kau jelas-jelas tau, aku ini agak kolot” katanya, ia mengembangkan sayap. Aku tak tau apa yang akan dia lakukan, tapi aku harus waspada. “Tapi kita ini saudara, jadi aku akan menghargai permintaanmu. Dan, ngomong-ngomong soal aturan, lebih baik aku pergi. Kita tidak boleh terlalu sering bertemu” lantas terbang menjauh.

“Aku tak akan peduli aturan lagi Zar, jika kau berani-berani”

“Coba saja!” ia berbalik, mengibaskan sayapnya. Memotong dahan tempat aku bertengger. Aku bersyukur, aku seekor merpati. Sayangnya, sebelum aku sempat membalas serangan itu, Zar sudah menghilang.

Sial, kenapa dia cepat sekali perginya? Aku bahkan belum melakukan sesuatu padanya. Sudahlah, setidaknya ia tidak tau aku sudah tidak menyimpan kristal Pargata.

“Chiko!”

Aku menoleh. Baru saja hendak pergi dari pohon beringin saat mendengar bisikan itu. Tapi tak ada apa-apa, sama sekali tidak ada. Ini agak menyeramkan, begitu memikirkan tentang kristal Pargata aku malah berhalusinasi. Lebih baik aku cepat-cepat pergi dari sini.

***

Aku tak bisa mempercayai mataku ketika melihat Tirta di istana. Ia memakai pakaian yang berbeda daripada saat kami kemari. Sayang itu bukan pakaian yang ingin dikenakannya. Meski sudah repot mempersiapkan segalanya dari rumah, isi tasnya pasti basah semua, jadilah aku melihatnya dalam busana khas Apsara. Balutan kain sutra bercorak Sidomukti di kakinya, dan kebaya berkilau.

Tidak ada waktu untuk melepas rindu berlebihan, aku langsung bertengger di bahunya dengan hati-hati. Dengan pengawalan seketat ini—tiga dayang dan enam penjaga—aku tak heran mengetahui ia akan dibawa ke ruang bawah tanah.

“Mana Braja dan Arsa? Kau sudah bertemu dengan mereka?”

Tirta mengangguk, lalu menjawab dalam hatinya. “Mereka tidak tinggal di puri keputren, Mar”

“Benar, bagaimana menurutmu? Mereka?”

“Arsa sepertinya anak yang menyenangkan. Braja, dia agak kebingungan”

“Maksudmu?”

“Ia sebenarnya pemalu, tapi kau dengar guntur kemarin pagi? Arsa bilang ia memang agak aneh akhir-akhir ini”

“Aku tidak mendengarnya, aku masih di pantai kemarin pagi. Apa maksudmu ‘Arsa bilang?’”

“Dia menjadi kelinci, jika kau mengerti maksudku”

“Aku sangat mengerti. Pintar juga dia!”

“Orang-orang membicarakan tentang Yodha, apa maksudnya”

“Kau tidak tau? itu serial tivi yang sedang terkenal”

“Mar...”

“Ah, kita sudah sampai!”

Akhirnya, pembicaraan itu selesai dengan mengabaikan pikiran-pikiran kurang ajar para dayang yang bertanya-tanya kenapa aku bicara sendiri. Aku menyuruh mereka pergi, dan memasuki ruangan itu dengan Tirta.

Semua orang ada di sana. Braja, Arsa, Felisa, Bara, Indra dan Garbada. Duduk mengelilingi meja batu dalam suasana remang diterangi obor. Tempat ini biasanya digunakan untuk membicarakan strategi perang.

“Baiklah semuanya sudah berkumpul!” seru Garbada, setelah Tirta duduk dan aku bertengger dengan nyaman. “Aku diberi wewenang untuk memimpin rapat ini. Jadi langsung saja, kita akan membicarakan mengenai Yodha Kuwalaya”

“Kami menolak!” kata Felisa secepat mungkin. Ia langsung mendapat tatapan heran dari semua orang, kita baru mulai, bung!

“Maaf, Nona. Tapi mungkin sebaiknya kita membahas dulu hal-hal mendasar mengenai Proyek Triraksa sebelum mengambil suara” Indra menengahi.

“Tak perlu, tanpa tahu pun, aku yakin ini hal buruk, jadi aku menolak”

“Bagaimana bisa dia yakin tanpa tau apa-apa?” Arsa berbisik pada Braja. Braja mengedikkan bahu, tatapannya lurus pada Bara yang menutup wajah malu.

“Kita akan membahasnya dulu, silakan Pangeran,” kata Indra lagi.

“Mar! Kau bilang hari ini kami akan pulang hari ini! Besok hari senin! Kami harus sekolah!” Seru Bara

“Uh, dia cerewet sekali” keluh Arsa, aku menahan tawa melihat ekspresi tak percaya Braja. “Sst! Lakukan sesuatu!”

“Felisa! Bantu aku, kita tidak bisa diam saja menghadapi ketidakadilan ini! Ingat kita tidak boleh ketinggalan pelajaran satu hari pun! Bayangkan apa yang akan Bu Raquel katakan. Kita ini kelas ung—” kata-kata berikutnya hanya erangan, karena sebuah sulur kayu muncul dari tempat Bara berpijak, berputar-putar melilitnya supaya dia duduk tenang dan yang terpenting, diam.

“Baiklah, kita benar-benar bisa mulai sekarang” kata Garbada, dan tak lupa ia menambahkan “Terimakasih Braja"

"Karena ada tiga orang baru dalam proyek ini, jadi—seperti kata Indra—ada baiknya kami menjelaskan semuanya” kata Garbada. “Ahem. Berpuluh-puluh tahun lalu, jauh sebelum kalian di lahirkan, jauh sebelum Apsara menganut Monarki, Apsara memiliki tiga Raksa. Yakni, penjaga hubungan baik antara manusia dan alam dari pihak manusia.

“Tiga Raksa, adalah orang-orang bijak dari tiga penjuru Apsara. Tiap penjuru masing-masing dipimpin oleh beberapa pemuda berjiwa suci yang direkomendasi Raksa. Apsara, selalu dalam masa damai sejak saat itu.

“Suatu masa, untuk alasan yang masih belum jelas terjadi perang besar antara tiga daerah besar lain, yaitu Darani, Dagdha dan Antari. Daerah utara Apsara, mengalami porak poranda karena perang ini. Warga dari penjuru Utara itu lari ke selatan, menghindari perang. Tapi, kerusakan yang mereka buat mulai mengkhawatirkan dengan hampir hancurnya Gunung Hematala. Maka, Tiga Raksa dikirimkan untuk melindungi tempat tinggal para Pargata itu.

“Namun, Raksa sekalipun tidak mampu bertahan lama. Meski mereka mempunyai kekuatan magis, orang-orang Darani, Dagdha dan Antari terlanjur menganggap mereka lebih dari sekedar melindungi Gunung Hematala. Ratusan pasukan dari masing-masing wilayah menyerang Tiga Raksa, dan mereka tewas.

“Setelah perang berakhir, mereka baru menyadari siapa yang mereka bunuh dan meminta maaf pada penduduk Apsara. Tapi hal itu tidak mengubah apapun, hilangnya Raksa di muka Apsara membuat banyak krisis sosial, tak ada lagi kedamaian, semua orang tak percaya satu sama lain, dan para pemimpin kebingungan.

“Ditengah krisis itu, seorang Tamu dari Lotama datang, mengaku namanya Dharma. Ia menyarankan banyak hal, dan meski tidak memiliki kekuatan magis, bertindak seperti Raksa. Terpikir oleh orang-orang untuk mengirimnya bertapa di Gunung Hematala, agar ia bisa menjadi Raksa yang sesungguhnya. Maka, ia pun pergi, dua tahun ia mengasingkan diri di Gunung Hematala, dan kembali menjadi seorang Acarya.

“Ide-idenya semakin brilian, orang-orang tidak kecewa meski ia bukan Raksa, karena Acarya Darma lebih baik dari itu. Salah satunya, mengangkat seorang pemimpin tertinggi dari mereka, membuat mereka tidak kehilangan arah, Apsara mulai menganut monarki, dan ini lebih baik karena satu kepala membuat satu ide, dan satu ide lebih cepat daripada harus berdiskusi lama.

“Tak sampai disitu, Acarya Darma paham, cepat atau lambat, ia akan pergi, dan Apsara akan benar-benar butuh Raksa. Disinilah ia memulai project Triraksa, membangkitkan Raksa dari generasi masa kini. Ia menggali kuburan para Raksa terdahulu, dengan cara yang tak aku pahami membuat berbagai percobaan untuk memanipulasi ‘DNA’nya. Setelah sebelas tahun, ‘serum’ itu siap dan ia menyuntikkannya pada orang-orang terbaik di Apsara. Seorang adalah muridnya di pusat penelitian yang terletak di Jumi Dwipa itu, seorang adalah putra dari salah satu pemimpin tiga penjuru masa lampau, dan seorang lagi adalah putranya sendiri.

“Tapi, ‘serum’ itu tak bekerja secara langsung. Ia hanya menyisipkan materi gentik yang baru akan berefek pada keturunannya. Tiga pemuda ini, menikah, dan anak-anak merekalah yang merupakan Raksa. Arsa putra murid Acarya Darma, mewakili Raksa penjuru Selatan, atau sekarang kami menyebutnya Raksa Kusara. Braja, mewakili Raksa penjuru Tenggara, Raksa Kumuda. Dan Tirta, Raksa penjuru Utara, Raksa Kuwalaya.

“Tapi itu belum cukup. Prinsip satu kepala lebih baik dari tiga yang berdebat, menimbulkan ide untuk menyatukan para Raksa. Tapi, tentu beresiko jika harus menyatukan kekuatan para Raksa, jadi kami memilih untuk menyatukan ketiga Welas yang masing-masing di jaga oleh para Pargata dari tiga penjuru.

“Welas sudah ada sejak manusia tidak bisa mengingat, ia adalah penyeimbang dunia kami yang tidak penting ini. Apsara bersyukur mempunyai tiga Welas di daerahnya, jika kalian bertanya kenapa para Pargata menjaga ketat Gunung Hematala, karena disanalah Welas Kuwalaya di simpan. Welas juga ada di  Gunung Mandara, yakni Welas Kusara; dan di Gunung Siladri, Welas Kumuda.

“Pengambilan tiga Welas bukan hal mudah, karena hanya bisa diambil oleh orang-orang yang berhak. Dalam hal ini, adalah orang-orang yang memiliki semangat juang tinggi, orang-orang yang rela berkorban demi menyelamatkan Raksa. Merekalah Yodha.

“Yodha Kusara, adalah orang-orang dari Jumi Dwipa, mereka pergi ke Gunung Mandara beberapa tahun lalu. Sayang, karena gempa dahsyat, daerah tempat Gunung Mandara yang disebut Witana itu terpisah satu sama lain, dan menjadi kepulauan yang kami sebut Nusawitana. Dua Yodha itu tewas, dalam upaya melarikan diri. Untungnya, Welas Kusara sudah berhasil mereka ambil, dan Welas, seperti magnet setelah dipindahkan, ia datang menghampiri Raksanya.

“Yodha Kumuda, adalah orang tua Braja. Mereka pergi ke Tanjung Weni yang penuh padang rumput, menuju Gunung Siladri, perjalanan mereka tidak sulit, tapi lagi-lagi bencana terjadi. Gunung Siladri meletus, dan menyebabkan kekeringan di seluruh wilayah Tanjung Siladri. Orang tua Braja tidak selamat, dengan cara yang tragis, tenggelam dalam lautan lahar. Lagi-lagi, kami bersyukur karena saat itu terjadi, Welas Kumuda sudah di ambil dan datang dengan selamat.”

Garbada menghela nafas.

“Nah, yang tersisa adalah Welas Kuwalaya, yang terletak di Gunung Hematala. Aku harap, wahai kalian dua tamu Lotama yang terhormat, bersedia untuk menjadi Yodha Kuwalaya dan mengambilnya dari sana.”

Felisa terpaku ngeri.

Peta lainnya,
Sebenarnya, saya gak peduli sama kerajaan yang lain :p

26 September 2015

Cita-Cita

Bukan, ini bukan postingan serius tentang passion atau tujuan hidup dan semacamnya. Simply, tentang diri saya sendiri, dan mengingat sebagian orang tidak terlalu suka orang lain membicarakan diri sendiri, saya benar-benar merasa harus minta maaf karena bersikap egois (lagi) kali ini.

Sejak kapan sebenarnya saya ingin jadi penulis, saya tidak ingat, tapi sekarang perasaan itu makin kuat. Dan saya masih ingat alasan konyol apa yang membuat saya memutuskan ingin menulis, yaitu: bagi saya, hobi adalah hal yang penting, dan tidak lucu jika hobi saya adalah belajar. Saya hobi membaca tapi itu tidak menguntungkan (what?). Maksud saya, pasti keren sekali kalau kita bisa mendapatkan sesuatu dari hobi kita, dari hal yang kita sukai.

Musik? Ah, saya sama sekali tidak punya bakat untuk itu. Olahraga? Tidak, tidak, saya benci berkeringat. Grafis? Gak bisa gambar.

Menulis adalah hal pertama yang terlintas dalam benak, hei, mengarang kan gampang. Itu seperti berbohong kan? Apa susahnya berbohong? Apalagi berbohong untuk hal-hal yang tak terbatas. Itu motivasi pertama saya untuk menulis, ‘karena gampang’, which is the most stupid reason ever. Dan hey! ada perbedaan besar antara kebohongan dan dongeng.

imgsrc, edited by me.

Menulis itu susah, terutama tekanannya. Di Indonesia tidak terlalu banyak orang yang suka membaca, dan banyak orang yang mungkin punya pendapat seperti saya yang lugu itu, menulis itu gampang. Bhahahaha! Tapi saya sudah terlanjur memilih ini, dan rasanya sudah terlambat untuk memilih musik, olahraga dan grafis. Oke, mari menulis, toh konon menulis itu gak perlu bakat, tapi latihan dan banyak membaca.

Dan juga, hampir tidak ada orang yang tau kalau saya mau jadi penulis (awalnya, saya juga gak niat bangeet jadi penulis). Wajar saja sih, misal waktu SD saya tidak terlalu sesering ini menulis. Meski begitu, saya pernah membuat project novel waktu SD, idenya childish banget. Terinspirasi dari anime Mew Mew StrawberryMagical Doremi dan komik The Adventure of Frutillo Magic. Saya berniat membuat tokoh superhero wanita sendiri. Mereka bertujuh, dan seorang laki-laki menjadi tekhnisi mereka. Nama mereka adalah Mejikuhibiniupu (silly. i knew it). Saya gak akan nutup-nutupin, itu terinspirasi dari--umm--geng SD saya, The Rainbow.

Mew Mew Strawberry. imgsrc

Magical Doremi. imgsrc
Frutillo Magic. imgsrc

Lalu, karena sesuatu hal, saya berhenti. Mengakui kalau ide itu sampah. Waktu SD saya memang cengeng, terlalu serius dan benci candaan kasar, mungkin mudah putus asa juga. Duuh, menyedihkan sekali.

Setelah membanting keras ide itu, saya memungutnya lagi dan menyusutkannya jadi tiga orang tokoh utama. Saya buat peta kota mereka, saya buat ide tentang musuh abadi mereka, saya buat kekuatan mereka, saya menggambar mereka. Tapi.... tidak pernah menuliskan kisahnya, au ah, saya semakin dewasa dan sadar ide itu klise dan kekanakkan sekali. (Walau begitu tetap saja, obsesi saya pada cerita anak-anak berkekuatan super tidak padam :D )

Perjuangan menulis saya sewaktu SMP lebih baik. Suatu hari, Galuh membuat fanfic (boyband) SM*SH, Tentang Kamu. Saya tertarik untuk buat juga, dan lahirlah cerbung romance picisan Diary Biru. Karena yang lain, (Mila, Fira, dan Hania) juga ikut menulis, saya semakin semangat. Saya membuat cerita Our Problem, sebagai rasa bosan terhadap romance. Anak Panah, adalah wujud kecintaan saya pada thriller detektif, ditulis berbulan-bulan dan sembunyi-sembunyi serta hati-hati.

Yaah, dalam cita-cita menjadi penulis yang  tulus (bleh) ini saya ingin berterimakasih pada: Pak Hendri, wali kelas sewaktu saya kelas empat dan lima, yang merupakan orang pertama yang berkata saya punya bakat dalam dunia tulis-menulis (setelah beliau membaca cerpen yang pernah saya tulis sewaktu kelas tiga dan saya tulis ulang sebagai tugas membuat cerpen di kelas empat/lima). Intan, yang merupakan orang pertama yang berdoa semoga saya bisa jadi penulis sukses (dan berbaik hati memperingatkan saya kalau-kalau saya tidak sanggup). The Charming, yang tanpa kalian mungkin saya gak akan pernah nulis lagi.

Tapi perjalanan untuk menjadi penulis ini masih puaaaaaanjang, dan semakin terjal. Mungkin terlalu cepat untuk berterimakasih, karena saya bahkan belum menelurkan karya cetak satu pun. Bodo ah, apa salahnya berterimakasih?

Menulis tidak mudah, itulah yang saya dapatkan setelah sekian lama memutuskan untuk menggelutinya. Meski begitu tetap menyenangkan. Dan ketika suatu hal yang sulit menimbulkan kebahagiaan, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya (ciyeeee, duo, tigo, (antiklimaks (bodo)))

Hei! bagaimana dengan cita-citamu?

23 September 2015

Kuwalaya (Bagian 7)

Indra tidak bercanda. Detik itu juga Felisa dan Bara digiring paksa masuk ke dalam kereta terbuka para prajurit dengan tangan diikat. Mereka bahkan menyiapkan Kuda Buraksa untuk mengangkut ‘tahanan’ secepatnya. Ya ampun! Dan apa maksudnya dengan mengatakan ‘Raja’ Garbada? Terakhir kali aku ingat, anak itu masih tertatih-tatih merangkak setelah jatuh dari pelana berkali-kali.

“Penobatannya tinggal beberapa hari lagi” kata Indra, ini adalah salah satu hal yang membuatku benci padanya. Ia selalu berhasil untuk ‘tidak berpikir apapun’, aku hampir kesulitan untuk membuatnya menghormatiku.

“Aku tau” kataku kesal, berbeda dengan Felisa dan Bara, aku ditempatkan di kereta yang sedikit lebih nyaman untuk manusia. Setidaknya di sini ada kursi yang dilapisi kulit, aku sendiri bertengger di atas logam perak yang khusus disiapkan untukku.

Indra tersenyum mengejek “Aku masih hebat dalam menghadapimu kan?”

“Diam”

“Gadis itu, kau tega sekali”

“Ia tak akan mati, bodoh”

“Yakin?”

“Aku seratus persen yakin kau bodoh”

Indra tertawa.

Seperti yang kukatakan, Indra adalah satu dari sekian orang yang membenci Acarya Darma. Kebanyakan dari mereka cemburu pada Acarya karena posisi yang bisa dicapai Acarya hanya karena kecerdasannya. Tapi itu kan wajar saja, meski sama seperti Bara dan Felisa, Acarya Darma dulu dianggap penyusup dari Lotama, namun ia selalu memberikan kontribusi hebat bagi kerajaan. Entah dalam tekhnologi, politik maupun ekonomi. Acarya bahkan dengan baik hati memastikan kami tidak terjebak dalam tekhnologi yang terlalu maju sampai merusak yang terjadi di Lotama.

Meski begitu, alasan kenapa Indra membenci Acarya Darma, aku masih belum tau. Emosinya mungkin menguar dari sikapnya, tapi seperti kataku pikiran Indra samar saja. Dan bagiku, orang yang pikirannya samar bukan orang biasa, entah baik entah buruk. Tapi, karena aku punya hutang pada Acarya Darma, aku anggap dia baik, dan karena Indra membenci Acarya, aku anggap dia jahat. Bisa saja pikiran samar Indra itu karena ilmu hitam kan? Kalau Acarya tidak, dia bersemedi selama dua tahun di Gunung Hematala, aku yakin dia bertemu Balinda dan mendapat anugrah itu.

Tiga jam setelah kami mulai berangkat, kami sampai di depan Istana. Ini, adalah keistimewaan Kuda Buraksa. Perjalanan dengan kuda biasa pasti akan menghabiskan satu hari penuh, itu pun dengan kecepatan maksimal tanpa istirahat. Perjalanan dengan jalan kaki bisa menghabiskan waktu satu minggu.

Kuda Buraksa adalah salah satu spesies endemik dari Gunung Mandara di barat daya Apsara. Beberapa tahun lalu, Gunung Mandara mengalami guncangan hebat, sedikit demi sedikit memisahkan diri dari daratan luas Dalu Dwipa, dan menjadi kepulauan kecil Nusa Witana. Dalam keadaan panik itu, banyak hewan mati, namun tak sedikit yang berhasil menyelamatkan diri lari ke Apsara.

Salah satunya, Kuda Buraksa, meskipun hewan ini awalnya bersikap sombong (Buraksa, nama seekor Pargata berwujud kuda. Kuda-kuda Buraksa adalah keturunannya). Namun, setelah kudesak, mereka akhirnya mau jadi tunggangan. Toh, itu satu-satunya cara mereka diperboleh kan hidup berdampingan dengan manusia. Kecuali mereka mau berenang-renang kembali ke Mandara.

Bara dan Felisa diturunkan dengan kasar dari kereta. Didorong-dorong dengan tongkat tumpul agar mereka terus bergerak, terus, terus menyusuri jalan-jalan setapak menuju balairung. Setelah melewati benteng lapis kedua, penjagaan diperketat, pengawal yang mengiringi mereka bertambah dua orang. Dan akhirnya tibalah mereka di depan singgasana, dengan satu dorongan, mereka jatuh berlutut menghadap Raja Manda.

Di samping kanan Raja Manda, di kursi yang lebih rendah, duduk pemuda itu, orang yang mengakui dirinya sebagai Raja Garbada. Padahal, ia masih yuwaraja—pangeran mahkota—sombong benar. Sementara di samping kiri Raja Manda, Acarya Darma yang semakin tua berdiri dengan wajah terkejut, mungkin kaget melihat cucunya diperlakukan seperti penjahat.

Aku ingin sekali, langsung melesat ke pundaknya, menumpahkan seluruh kerinduanku setelah perpisahan empat tahun. Tapi aku masih tidak tega meninggalkan Bara dan Felisa yang tertunduk meringis menahan malu dengan belasan pasang mata—pejabat istana—menatap mereka marah dengan tuduhan-tuduhan palsu. Garbada! Apa yang kau lakukan?!

“Jadi ini, penyusupnya”

“Benar, yang mulia” Indra berdiri dari barisan pejabat, entah sejak kapan dia di sana.

“Tingkat?”

“Kupu-kupu”

“Apa? Separah itu?”

“Mereka dari Lotama, yang mulia”

“Oh”

Sunyi sejenak, suara nafas tertahan di mana-mana. Lotama, daerah sakral yang tak pernah sekalipun dilihat oleh pejabat-pejabat ini, bahkan Raja sekalipun. Kedatangan manusia dari Lotama bisa berarti apa saja, belum purnama raksasa semalam. Asumsi mereka, jika Tirta pertanda baik, maka Bara dan Felisa mungkin sebaliknya.

“Jadi” kata Raja Manda “anak-anak, aku harap kalian tidak menahan tawa mendengar bahwa kalian adalah penjahat tingkat kupu-kupu”

Bara dan Felisa tidak menjawab. Dua penjaga di samping mereka memukul punggung Bara keras.

“Tidak, yang mulia” seru Bara, kemudian.

“Langsung saja, kalian tau apa kesalahan kalian”

Tidak mau kena pukul lagi, Bara langsung berseru.

“Tidak, yang mulia”

Tapi nyatanya, ia justru mendapat pukulan lagi, bahkan lebih keras, dan langsung tersungkur. Si penjaga menarik pundaknya kasar, agar ia berlutut dengan tegap lagi.

“Aneh,” gumam Raja Manda “Indra, apa alasan penangkapan mereka?”

“Penyusupan, yang mulia, atas rekomendasi yuwaraja Garbada”

“Garbada?” Raja Manda menoleh ke anaknya, menautkan kedua alisnya.

“Aku merasa hal itu cukup masuk akal, ayah. Mereka datang tanpa alasan, bisa saja, mereka membawa petaka bagi kita. Lagipula, Pargata Zar juga sependapat denganku”

“ZAR?!” Aku tak tahan lagi, keluar dari tempat persembunyianku diantara merpati normal di pohon beringin. Aku berseru nyaring. “Maafkan aku menyela yang mulia, tapi Zar, sudah lama sekali tidak melakukan tugasnya sebagai Pargata yang baik”

“Mar! Senang sekali melihatmu, setelah sekian lama” seru Garbada “Sayang sekali, yang terjadi justru sebaliknya, kau lah yang tidak melakukan tugasmu selama empat tahun ini”

“Maaf menyela, yang mulia” kata Acarya Darma akhirnya “Hamba rasa, itu tidak adil. Mar telah berbakti bahkan sejak aku datang kemari. Itu artinya, pengabdian lebih dari dua puluh tahun. Dan empat tahun ini, dia bahkan melakukan tugasnya dengan teramat baik. Melatih Raksa secara intensif, yang mulia bahkan mendengar sendiri dari Arsa dan Braja, aura Tirta sebesar tiga orang Raksa”

“Kau benar, Darma. Dan, Garbada, aku harap kau berhenti mengambil keputusan seenaknya, atau penobatanmu terpaksa aku tunda, lagi”

“Maaf, ayah” kata Garbada.

“Meski begitu, Garbada masih mengungkap kebenaran. Kalian memang datang tanpa alasan benar?”

Felisa berinisiatif untuk menjawab. “Izinkan hamba menjelaskan apa yang terjadi, yang mulia”

Si penjaga hampir memukul Felisa, untungnya Raja Manda mengangkat tangannya dan mengangguk.

“Dan hamba hanya akan menjelaskan jika yang mulia berkenan menitah penjaga melepas ikatan kami”

“Lancang!” seru seorang pejabat.

“Tenang” kata Raja Manda “Dan kenapa aku harus melakukan itu?”

“Karena, yang mulia. Setelah aku mendengar bahwa kalian amat mengaggungkan Tirta, maka aku akan mengatakan bahwa, temanku yang sudah kalian pukuli sejak dalam kereta kemari, yang sudah klian tatap dengan pandangan penghinaan selama sidang—betulkah ini sidang?—ini berlangsung, yang sudah ...”

“Langsung saja, Felisa” kata Bara geram.

“Temanku ini, adalah kakak dari Tirta. Dan mungkin punya hubungan darah dengan seorang kakek disana, melihat ukuran telinga mereka”


Suara nafas tertahan lagi. Jelas mereka terkejut mendengar pernyataan Felisa barusan. Aku tidak tau dari mana Felisa tau hal ini akan berhasil. Pandai sekali dia membaca situasi. Jika ia mengatakan hal itu empat puluh tahun lalu, ia pasti akan ditertawakan. Tapi karena sistem revolusioner dari Acarya Darma, segalanya jadi mungkin.

"Penjaga, lepaskan mereka" Raja Manda menjaga ekspresi wajahnya dan nada suaranya agar tetap tenang. Bagaimanapun, dia tidak boleh membiarkan siapapun merasa menang.

Ikatan Bara dan Felisa dilepas. Felisa sudah hendak berdiri dan menjelaskan, tapi ditahan oleh Bara. Dasar, pendramatisir. Ia menatapku penuh kebencian dan menunjukku tanpa tahu malu.

"Dia yang mulia!" kata Bara penuh emosi "Menculik kami dari Lotama"

Hei, kalau bukan karnaku, kau sudah digantung!

"Mar?" Raja Manda bertanya padaku.

"Insting seekor Pargata, yang mulia" kataku.

"Kau bisa saja bergantung pada instingmu yang jarang-jarang muncul itu, Mar. Tapi, kami, manusia, butuh alasan"

Aku tidak tau, kata-kataku berikutnya meluncur begitu saja dari mulutku. Ada dorongan yang sama ketika aku menjegat Felisa dan Bara dipintu.

"Yodha, mereka adalah Yodha" kataku

Dan Raja Manda gagal untuk mempertahankan wajah tenangnya.

“Jangan bercanda, Mar!” seru Indra “Setelah tiga anak itu, kau juga mau mengorbankan dua anak ini?!”

“Tidak ada yang akan mati, Indra” kataku.

“Kau kira aku bodoh? Setelah yang terjadi pada Yodha Kusara dan Yodha Kumuda, kau ... kau ... busuk, Mar!”

“Indra! Jangan menghina sidang ini dengan kata-katamu!” Raja Manda akhirnya menengahi kami. “Tapi, ia benar Mar, kau pasti bercanda”

“Hamba tidak berani, yang mulia”

Setelah helaan nafas panjang. Dan kebisingan penuh tanya di kepala Felisa dan Bara. Raja Manda akhirnya mengakhiri sidang itu.


“Kita akan bahas ini nanti. Dan tolong urus mereka” katanya “Maksudku, dengan hormat”

Gambaran (ekstra) kasar kerajaan besar Apsara.

19 September 2015

Pengejaran Sia-Sia

“Di ... dia kabur!” seru Eva, menatap nanar pada pintu mobil yang berayun oleh angin malam.

George di sampingku jelas tekesiap, ia kaget bukan main. Sedangkan aku sendiri hanya menghela nafas, sudah kuduga ini akan terjadi, walau agak menyesal kenapa harus terulang lagi. Kami hanya meninggalkannya minum kopi di kafe kecil di pinggir jalan ini. Seharusnya aku tahu ini tidak mudah, kilasan percakapanku dengan atasanku lewat begitu saja

***

“Jika kau berhasil, kau akan naik pangkat” katanya.

Aku menarik nafas, hidungku kembang kempis antara bangga dan ragu. Hidupku sudah cukup baik akhir-akhir ini, apa aku harus terima kasus ini? tapi apa salahnya? Memang tidak boleh dapat untung berlipat-lipat?

“Lawanmu adalah Herman”

“Apa?”

“Ia mencuri sesuatu, kau diminta secara langsung oleh TC Enterprise untuk menangkapnya”

“TC?”

“Kenapa? Kau terkejut?”

“Tidak, aku hanya heran bagaimana perusahaan sebesar itu bisa kemalingan, dan mengenai Herman,”

“Kalian pernah menyelidiki Kasus Museum Damar sama-sama. Sebelum ia menuding kambing hitam keluarga TC, padahal ia sendiri yang mencuri prasasti itu, jadi kupikir ini akan menarik”

***

 “Ayo,” kataku “Kita harus menangkapnya lagi, kan?”

Eva dan George mengangguk. Lantas cepat-cepat masuk ke dalam mobil.

“George, arah?” tanyaku, sambil memegang kemudi.

“Sulit dipercaya, ia sudah lumayan jauh” katanya menatap I-pad yang amat dicintainya.

“Apa itu?” Eva malah bertanya. Melongokkan kepalanya dari kursi belakang.

“Kami menyisipkan alat pelacak di giginya saat ia pingsan, ini ide Fathur. Brilian kan?”

“George, arah!”

Setelah obrolan tidak penting itu, akhirnya ia menjawab dengan kalut “Tenggara, 3 km. Ia masuk hutan!”

Sambil mendengus, kuputar kemudi, menyusuri jalur yang di tunjuk George, tekhnisi  baru di divisi kami ini, menganggap segalanya hanya main-main. Dia pikir siapa yang lepas kali ini? Nenek tua? Dia Herman bung! Herman! Pencuri kelas kakap merangkap mantan polisi yang menurut Eva cukup diikat dengan tali tambang saja. Kenapa pula aku dipekerjakan dengan orang-orang ini?

Baiklah, kuakui aku agak heran kenapa Eva bertingkah seperti orang bodoh begitu. Ia kenal baik Herman, dan reputasinya dikepolisian sama sekali tidak buruk, sebaliknya, banyak prestasi yang telah capainya.

Hutan yang dimaksud George sudah di depan mata, hutan ini terlalu lebat, jadi kami terpaksa turun dari mobil.

“Kau yakin, dia kemari?” tanya Eva

“Seratus persen” kata George, membetulkan letak kacamatanya.

Aku membungkuk, berusaha melihat lumpur di bawah kami. Jelek, sangat jelek, itu jenis jejak yang kau buat jika kau bermaksud sengaja membuatnya. Aku tidak tau apa artinya ini. Jebakan? Yang benar saja.

Setelah perdebatan sengit antara aku dan dua orang temanku itu--Eva: tak ada senter, bahaya; George: aku benci nyamuk--, kami akhirnya memasuki hutan itu. Dengan kabut yang baru turun, Herman seharusnya masih belum jauh, mengingat kami juga kesulitan melihat jalan yang benar. Beberapa kali Eva terperosok dalam lumpur, atau George mengeluhkan dinginnya udara, mereka berdua benar-benar memperlambat diriku saja.

“Kalian ini tidak becus!” kataku akhirnya, hilang sudah semua kesabaranku menghadapi mereka. Mereka berdua hanya menunduk. “Lihat, ulah kebodohan kalian! Kita terjebak di hutan bau ini!”

“Secara teknis ... selama Ipad ini menyala—”

“Diam!"

Mereka menurut, keheningan itu memberi kesempatakn bagiku untuk mendengar bunyi gemerisik semak diantara nyanyian serangga,

“Itu pasti dia! Cepat!" kataku riang

“Kenapa sih, kau begitu terobsesi dengannya, Fathur?” Eva dengan bodoh bertanya.

“Kenapa kau bilang? Dia itu Herman! Aku tak perlu memberitahumu atas dasar apa kita menangkapnya kali ini bukan? Pencurian permata Kusuma jelas bukan hal kecil, apalagi ini bukan satu-satunya yang dia lakukan. Ingat kasus Museum Damar? Pencurian prasasti yang tak ternilai harganya? Aku harap kau cukup pandai untuk paham hal ini, Eva”

“Maaf saja, Fathur, tapi aku merasa ada hal lain yang kau—”

“Ssst. Diam, dengar”

Tak ada suara. Tapi itu justru masalahnya. Keheningan ini agak ganjil, kami ada di hutan kan? Kabut semakin pekat, hidungku sampai tidak bisa mencium apa-apa lagi, kecuali bahaya.

"Aaakh!" pekikan George seolah mencoba memperjelas hal itu.

“George?” tak ada jawaban. “Eva”, sunyi. Aku tidak suka ini,

Dari arah atas sebuah jaring jatuh menimpaku. Jaring tambang yang basah, mau tak mau aku terjatuh memeluk tanah.

“Jangan bergerak!” suara serentak itu diiringi derap kaki mendekat. Pistol-pistol dituding ke arahku, Eva salah satu diantara mereka, dan ... oh! Herman!

“Apa-apaan ini, Eva? Kau pengkhianat!”

“Sebaliknya, Fathur” katanya, sambil merogoh saku celanaku. “Kau harusnya heran aku tidak terkejut kau menyebut-nyebut permata Kusuma”

George menatapku tak percaya ketika benda berkilau itu berpindah ke tangan Eva dari sakuku.

Uh! Permataku yang berharga!

Ditulis dalam rangka Tugas B. Indonesia Selasa, 1 September 2015 : Memproduksi Cerpen. 'Pengkhianatan' selalu jadi tema yang menarik bagi saya. Pemanfaatan kepercayaan yang mahal, dijamin jadi twist tak terduga. Tapi ini mulai membosankan.

16 September 2015

Kuwalaya (Bagian 6)

Kami berempat diselamatkan. Samar-samar aku bisa melihat Acarya Darma di antara tim evakuasi. Pertengkaran tadi mengacaukan lokasi keluarnya Marga sehingga kami muncul di tengah-tengah laut. Itu bukan pengalaman yang menyenangkan.

Aku terbangun di salah satu rumah penduduk. Didalam sangkar kecil—kalau Acarya Darma ingin aku dalam sangkar, maka aku akan dalam sangkar—di sudut ruangan. Ya, harus kuakui aku merasa sedikit sakit hati. Aku kira Acarya Darma akan membawaku bersama Tirta. Tapi, aku mengerti bahwa seseorang harus menjelaskan sesuatu pada Bara dan Felisa. Lagipula, ini salahku sehingga mereka terbawa kesini. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku membawa mereka.

Mereka masih pingsan, aku melihat wajah pucat mereka dari atas sini. Bara bergerak-gerak cemas dalam tidurnya, ia ketakutan, karena tidak bisa berenang. Sedangkan Felisa, raut wajahnya kebingungan, ia bingung mengenai merpati yang bisa bicara—mengenai aku—.

Dari jendela kamar itu, seseorang datang. Sebenarnya, seekor burung gagak datang.

“Jadi, sebentar lagi kalian berhasil?”

Aku hanya menatapnya sinis, ia bukan orang yang menyenangkan.

“Nah, kau masih saja bertindak bodoh. Semua yang kau lakukan akan sia-sia” katanya lagi dengan nada amat meremehkan.

“Kau tak bisa menghasutku, Zar. Kau tau itu” kataku.

“Yaah, aku juga tak mau repot-repot, dan sebenarnya aku kemari hanya ingin menyapa—hai!—sudah hampir empat tahun sejak kau pergi”

“Hai juga, bisa kau pergi. Kau juga tau kita harusnya tak sering bertemu”

“Ah benar juga. Ngomong-ngomong, empat tahun ini aku sering sekali menemui Braja, anak itu bodoh!” Ia lalu pergi sambil tergelak. Aku jadi khawatir. Aku sama sekali tidak khawatir dengan Arsa, ia pasti baik-baik saja. Braja ... pantas saja cuaca hari ini mendung. Jangan-jangan sudah empat tahun matahari tidak muncul, gawat.

Felisa terbangun, wajahnya masih pucat dan bingung. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, melirik sekitar, masih terbaring.

“Halo!” aku menyapanya.

Felisa memiringkan kepalanya supaya bisa melihat kearahku. Ia lalu mengerutkan kening. “Merpati seharusnya tidak bisa bicara” katanya, ia terdengar seperti Bara “apa yang baru saja terjadi, dimana ini?”

“Kita tunggu Bara bangun dulu”

Felisa masih kaget melihatku, ia rupanya agak takut. Yaah, aku harap itu tak akan lama. Bara bangun dengan cara yang lebih dramatis, ia langsung membelalakan matanya dan suaranya tercekat. Felisa yang sejak tadi sudah duduk, menertawakannya.

“Pantas saja kau tidak pernah ikut tes renang” katanya.

Setelah Bara berhasil menenangkan dirinya, aku sebenarnya agak ragu apa aku harus keluar sangkar atau tidak. Tapi, aku harus tetap di sini sepertinya. Ya, jika Acarya Darma berpikir seperti itu. Meski ini amat mengganggu sebenarnya

“Nah, sebelumnya, aku ucapkan selamat datang di Apsara!”

“Merpati seharusnya tidak bisa bicara” kata Bara

“Oh ya, aku tau. Ah tapi ini kan duniaku, bukan duniamu. Jadi Sekarang aku bisa berhenti menuruti aturanmu”

“Kau mengenalnya, Bara?” tanya Felisa.

Bara tidak menjawab, solah malu untuk mangakui kenyataan itu.

“Kami lebih dari sekedar kenal Felisa. Kami tinggal bersama”

“Kau mengenalku?”

“Kau pernah menyelamatku, tentu saja aku mengenalmu”

“Merpati seharusnya tidak bisa bicara” gerutu Bara.

“Baiklah, bisa kita mulai?”

“Mulai apa?” tanya Felisa, wajahnya linglung.

Aku menghela nafas, tidak kusangka akan sesulit ini. Baiklah, aku harus menjelaskan dengan cara yang paling sederhana

“Kalian baru saja melewati Marga, dimensi antar dunia”

“Omong kosong!” Bara menggerutu.

“Aku rasa ayahmu tidak mengajarkanmu untuk berkata kasar, Bara”

“Diam kau! Merpati konyol!”

“Sebenarnya tidak terlalu banyak yang diceritakan, kalian Sekarang berada di dunia paralel, itu saja”

Felisa menatapku tak percaya. Oke aku mengerti aku tidak bisa menjelaskannya semudah itu.

“Kalian berada di dunia paralel” aku mengulangi ucapanku.

“Dunia ... apa?” Mata Felisa membulat.

“Para—” aku menghentikan ucapanku, ada kesunyian yang aneh diantara kami. “Aku tidak berharap kalian untuk percaya—aku tau kalian tidak percaya. Tapi, lihat aku! Aku merpati yang bisa bicara!”

Hening. Bara menghela nafasnya, frustasi dengan hal yang tidak bisa diterima akalnya. Sedangkan Felisa, ada yang berbeda.

“WAAA!” teriak Felisa “Kau percaya itu, Bara? Kita di dunia paralel!”

Bara menutup wajahnya dengan kedua tangan. ‘Kenapa aku harus terjebak bersamanya?’

“Bara!” teriaknya lagi “Kita di dunia paralel!”

Bara menoleh ke arah Felisa, wajahnya sedih, hampir putus asa.

“Dunia paraleeel” ia membuat wajah lucu sambil mengucapkan kata itu. Ya, setidaknya ada seseorang yang senang di sini

“Felisa, kukira tadi kau bilang kita tidak boleh ke sini?”

“Oh, ya. Aku tidak tau kita akan ke dunia paralel. Perasaanku tidak enak, memang, tapi siapa peduli? Berapa banyak orang yang pernah ke dunia paralel?” pandangan Felisa lalu kembali ke arahku “Jadi, kenapa kau membawa kami ke sini?” tanya Felisa. Sudah kuduga pertanyaan ini pasti keluar, ya, kenapa aku membawa mereka kemari?

“Felisa,” seru Bara. “Kau sungguh percaya kita di dunia paralel?”

Felisa memiringkan kepalanya. “Bara, dia burung merpati yang bisa bicara. Kau bahkan tinggal serumah dengannya!”

“Bisa saja ini tipuan” kata Bara “Bisa saja ini mimpi”

Felisa terkekeh, “Lalu dimana dunia nyata bagimu? Tempat kau tenggelam dalam mimpi tadi?”

“Aku ... aku hanya tidak percaya”

“Lihat sekelilingmu Bara! Ruangan ini, misalnya. Di mana lagi di dunia kita ada bangunan dari bilik bambu? Lihat pakaianmu—mereka pasti mengganti pakaian kita karena kebasahan—pakaian ini jelas bukan pakaian yang lazim dipakai oleh orang di dunia kita. Lihat bangunan diluar sana, kuno sekali kan? Maaf, bukan mengejek”

“Tak apa” kataku

“Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau bawa kami kemari?’

 “Aku ... aku tidak tau” kataku

Mereka memandangku tak percaya. Aku memang bodoh.

“Aku tau aku salah, aku akan memulangkan kalian. Tapi sebelumnya aku harus menunggu Acarya Darma membetulkannya. Itu salah kalian, merusak batu itu” Yah, membela diri sepertinya tidak salah.

“Kau serius?” tanya Bara “Kau menyalahkan kami? Kau menghalangi kami keluar saat itu!”

“Ya, kau benar. Kau tau kan? Bagaimanapun juga aku ini binatang”

“Karena itu jadilah binatang! Jangan bertingkah seolah kau ini manusia!”

Aku tidak tahan, Bara memang sejak dulu menyebalkan, tapi aku tidak bisa terima dia merendahkanku.

“Tenang, Bara” kata Felisa “Sejauh yang aku ketahui hanya dia yang bisa memulangkan kita”

“Benar” aku membusungkan dada “Kalian seharusnya memohon padaku”

“Kau lihat tingkahnya?!” Bara mengadu pada Felisa.

“Jadi kapan kami berdua bisa pulang? Senin kami harus sekolah”

“Acarya Darma itu jenius, besok pagi mungkin”

“Ya, baguslah” ia berhenti sebentar. “Bagaimana kalau kita berkeliling?”

Benar juga, lama sudah aku tak kemari, duniaku, tanah airku. Tempat yang sebenarnya sama sekali tidak berarti bagi manusia Lotama. Jika diibaratkan hanya rajutan benang sisa dari rajutan kain yang sesungguhnya, bentuknya tidak karuan tapi ada dan bisa digunakan. Tapi ini tetap tempat tinggalku.

Namun, aku tiba-tiba mendengar derap langkah dari luar. Seseorang diantaranya amat aku kenal, sebagai satu dari banyak yang membenci Acarya Darma. Mau apa dia kemari?

Pintu dibuka, benar saja. Indra, Panglima kesayangan Raja itu masuk dengan wajah sekeras batu. Menatap kami bertiga seolah jijik.

“Kalian berdua ditahan atas perintah Raja Garbada”

Tunggu, Apa?