29 Agustus 2015

Wattpad

Wattpad adalah sebuah komunitas menulis di mana pengguna dapat mengirim artikel, cerita, fan fiksi, dan puisi, baik secara online atau melalui aplikasi mobile. (wikipedia)

Saya sudah tau wattpad sejak lama, kalau tidak salah sejak akhir tahun 2013, tapi waktu itu saya cuma tau sekedar nama doang. Namun, akhir-akhir ini wattpad kayaknya lagi booming, sempat terpikir untuk memindahkan cerita-cerita di sini ke sana, tapi setelah dipikir-pikir nanti blog ini jadi sia-sia, dan saya gak bisa bikin cover.**update26092015, Kuwalaya saya upload di wattpad :p

Meski begitu, saya tetep baca wattpad. Beruntung kalau baca lewat ponsel butut gak butuh pake akun, so I’m free. *tapi tetep bikin akunnya sih, soalnya pernah mau buka lewat laptop.

Nah, yang saya ingin bagikan adalah cerita-cerita wattpad yang menurut saya wajib kalian baca. Rekomendasi? Resensi? Terserah kalian mau sebut apa.

Lonely Ghost

Lonely Ghost merupakan salah satu cerita yang pertama kali saya baca di wattpad. Waktu itu, cerita ini berada di urutan pertama dalam cerita science-fiction. (saya juga gak tau kenapa begitu buka wattpad pertama kali langsung ke section ini)

Ditulis oleh akun bernama SufiAl, menceritakan seorang hantu kecil yang hilang ingatan dan mengikuti seorang pemuda anti-sosial yang gak percaya hal mistis. Inti ceritanya adalah, mengembalikan ingatan si hantu yang menurut si pemuda ganggu abis supaya hantu itu bisa pergi darinya, tapi akhirnya menjadikan kehidupan si pemuda berubah selamanya.

Ending cerita ini keren parah. Oke, mungkin kalian bisa tebak akhirnya. Tapi, ada sebuah detail yang amat mengejutkan, sebuah fakta kecil yang rupanya menjadi pandangan kita pada keseluruhan cerita berubah, membuat kita bertanya-tanya lebih banyak tentang hal itu. Sayangnya, saat itu ceritanya berakhir, dan kita tidak pernah tau apa yang terjadi.

Pierrot

Saya bukan tipe orang yang suka mencoba hal baru. Dan lebih suka cari aman. Maka, begitu sadar sudah suka banget dengan Lonely Ghost, saya coba baca cerita SufiAl yang lain. Pierrot menarik perhatian saya karena, judulnya seperti mirip dengan nama ‘Poirot’, detetif fiksi paling terkenal kedua setelah Holmes.

Ceritanya belum selesai, jadi saya gak tau harus ngomong apa. Tapi sepanjang yang saya sudah baca, Pierrot ini sepertinya akan menjadi romance-action, tentang seorang gadis berambut biru yang amat benci Pierrot tapi karena ingin menghabisi mereka semua meminta seorang pemuda yang tanpa diketahuinya adalah Pierrot untuk melatihnya bertarung, pemuda ini pernah kehilangan seorang gadis berambut biru.

 Perfect Weapon

Saya sebenarnya gak inget apa saya baca Perfect Weapon dulu atau Pierrot. Tapi yang pasti, kedua cerita ini sama-sama belum selesai dan sama-sama mengambil setting epic-fantasy. Bedanya, kalau Pierrot terkesan anime sekali, Perfect Weapon agak medieval (kayak yang ngerti aja).

Bercerita tentang tiga orang anak manusia yang berusaha mencari senjata dalam legenda, Perfect Weapon. Demi memperbaiki kehidupan mereka yang semakin memburuk setelah perang.

Yang menarik dalam cerita ini adalah penokohannya, seorang tokoh bernama Akira benar-benar misterius. Kadang agak bingung untuk memahami apa yang dilakukannya, atau apa sebenarnya tujuannya, saya hampir-hampir berpikir dia itu jahat, duuh.

Ikeh Ikeh Kimochi

Woo woo woo, santai, santai, ini bukan cerita cabul, meski judulnya emang rada absurd. Saya juga bacanya bukan gara-gara judulnya kok, ini masih cerita SufiAl, jadi saya yakin ceritanya gak bakal aneh-aneh.

Cerita ini genrenya comedy-romance atau mungkin lebih tepat disebut comedy aja. Bercerita tentang Bintang, siswa paling sempurna yang pernah ada di muka bumi, yang ditantang seorang misterius bernama Tian untuk bisa memacari Erina dalam tiga bulan, ah kecil, kata Bintang. Segalanya tentu akan mudah kalau Erina adalah gadis pada umumnya, sayangnya tidak. Karena jangankan mengidolakan Bintang seperti yang lain, dia kenal saja tidak.

Ceritanya belum tamat, tapi sedang seru-serunya.

Nagaraga

Saya mencomot judul ini sembarang dari daftar pengguna wattpad di Grup PNFI. Umm, gak sembarang juga sih, nama Mas Haditha memang menarik perhatian saya karena beliau pernah memposting beberapa gambar ilustrasi mengenai bukunya, Remy Yorke. Sekarang bukunya sudah ada di google play, dan konon akan dicetak juga.

Oh, ya. Nagaraga. Apa ya? Cerita ini antara sudah dan belum tamat. Penulis menuliskan, akhir dari babak awal, yang berarti akan ada babak baru suatuhari nanti. Dan inti ceritanya adalah ... umm ... saya bingung menjelaskannya. Soalnya Nagaraga ini benar-benar epic. Saya belum baca Game of Thrones (meski ada bukunya di rumah) tapi mungkin Nagaraga seperti itu.

Zodiaque Academy

Ditulis oleh seseorang berakun FeylieFey. Meski jujur gaya berceritanya terkesan kekanak-kanakan dan terlalu banyak tokoh dan saya bingung siapa tokoh utamanya. Ide asrama zodiak ini menarik sekali, mengingatkan tentang Harry Potter, tapi beda.



Segitu dulu aja deh, lain kali mungkin saya akan posting tentang webcomic. Btw, apa kamu pembaca wattpad? Apa cerita favoritmu?

26 Agustus 2015

Kuwalaya (Bagian 3)

Hari ini hari Rabu. Aku tidak mengikuti Bara pergi ke sekolahnya karena hari ini aku harus menemani Tirta pergi ke perpustakaan kota. Lagipula, sepertinya hari ini kelas akan sangat ramai mengingat hari ini adalah hari yang spesial.

Ohya, aku mengantar Tirta ke perpustakaan. Sudah empat tahun sejak aku mengembangkan kemampuan Tirta, sudah empat tahun pula ia berhenti sekolah. Setiap hari Rabu, dimana perpustakaan selalu mengalami waktu paling sepi, Tirta pergi kesana, belajar.

“Mungkin kau bisa tinggal di rumah saja dan menyuruh Bara untuk meminjam buku” aku pernah mengusulkan.

“Kau pasti bercanda, Mar”

Aku sekali lagi merasa kasihan pada Tirta. Tirta tidak banyak bicara, ia memang pendiam. Dan menjadi lebih pendiam lagi sejak empat tahun lalu. Ia bilang, bicara itu membuang waktu, lebih baik lakukan apa yang harus dilakukan. Aku bisa saja setuju, kalau saja itu bukanlah ungkapan kekesalannya karena aku tidak segera membawanya ke Apsara.

Yaah, itu tidak terlalu penting kurasa. Yang terpenting adalah ketika aku pulang sore harinya, aku benar-benar terkejut melihat pemandangan di halaman belakang rumah kami. Ada sekitar dua puluh lima orang lebih di sana, makan.

Aku menatap Tirta tidak percaya, ia balas menatapku, lalu tersenyum.

“Mereka!” sahutku.

“Bara sudah izin pada ibu” kata Tirta datar. “Mendadak rupanya”

Aku terdiam.

Mereka teman-teman Bara. Merayakan ulang tahun Bara dengan makan-makan di halaman belakang kami. Acara penuh omong kosong, manusia seharusnya merayakan ulang tahun dengan penuh duka, mengingat mereka semakin dekat dengan kematian. Bukannya, dengan hura-hura tidak berarti. Aku sendiri tidak ingat kapan hari lahirku, supaya aku tidak perlu bersedih dengan kenyataan aku semakin tua.

Di sana juga ada Felisa yang jelas sekali sedang menjaga jarak dengan Rini. Rini bahkan membawa Ciko—pilihan buruk mengingat ada dua ekor kucing tak kenal kenyang di rumah ini.

“Kau tak pernah bercerita punya halaman seluas ini?” celetuk seseorang.

“Pasti cocok sekali kalau latihan untuk praktik senam disini, tempat ini seluas gedung olahraga sekolah” kata yang lain.

Mereka tertawa.

Aku heran, kenapa mereka mau membuat acara ini, maksudku, demi Bara? Aku lebih heran lagi dengan kenyataan aku hanya samar-samar mengetahui kehadiran mereka di rumah. Maksudku, bagaimana caranya aku tidak tau? Aku ini Pargata! Penjaga hubungan baik antara manusia dan alam, aku bukan burung merpati biasa!

Sama sekali tidak terdengar suara serangga hari ini, hewan-hewan terdiam, angin bertiup sepoi-sepoi. Langit cerah, tapi udara sama sekali tidak panas.

“Sabtu nanti, kita latihan di rumah Bara saja!” Felisa berseru.

Aku menengok ke arahnya, Sabtu?

“Tidak mau!” seru Bara “di kelompok kita, hanya aku saja yang laki-laki, itu artinya akan ada tujuh orang anak perempuan yang akan datang ke rumah ini”

“Ayolah Bara, kau benar-benar kekanakkan, sabtu nanti itu giliranmu”

“Siapa yang menetukan urutannya?” Bara memicingkan matanya.

“Urutan absen!”

Bara terhenyak, tapi, lalu ia berkata

“Aku tidak mau!”

“Kau harus, Bara” Rini tiba-tiba saja bersuara, lalu terdiam, seolah menentukan kalimat yang tepat “itu peraturannya”

“Sejak kapan itu jadi aturan?”

“Baru saja, aku kan ketua kelompoknya” Rini lalu berdiri. “Di mana kamar mandinya? Aku mau cuci tangan”

“Pintu sebelah kanan” Ia lalu meringis.

Terlihat beberapa anak menahan tawa.

Sabtu?

***

“Selama tujuh hari, alam akan seolah bersahabat dengan manusia. Dimulai dan berakhir saat Dua Yodha menemui rasi bintang pertama mereka kembali ketempatnya, dan hari keempat, adalah saat purnama raksasa” aku mengingat apa yang pernah diajarkan Pargata sebelumnya padaku. Aku ingat dengan jelas, aku dan Zar masih sangat kecil, belum berwujud. Aku selalu jadi pemerhati yang antusias, sedangkan Zar dengan kurang ajar malah bertanya.

“Untuk apa menunggu bulan purnama raksasa untuk membuka Marga? Tidak ada pengaruhnya kan? Lagipula, untuk apa pula kami harus membuka Marga?”

Pargata sebelum kami, yang saat itu adalah seekor kura-kura betina bernama Balinda menjawab dengan senyuman seorang ibu “Memang tidak nak, tapi purnama raksasa, bagaimanapun adalah pertanda hari besar—meski artinya bisa baik atau buruk. Selain itu membuka Marga, menutupnya, menjaga hubungan baik antara manusia dan alam, serta menjaga Welas, sudah jadi kewajiban kita”

“Kami juga harus menjaga Welas?”

“Untungnya tidak, kalian Pargata Janari hanya akan dibebankan tiga tugas pertama, dan kamilah, yang akan menjaga Welas, memberikannya pada yang berhak, dan kemudian mati”

Aku bergidik ngeri. Kami para Pargata hanya bertugas untuk melayani manusia, inilah yang membuat Zar kesal. Ia tidak terlalu suka diperintah, mungkin hal itu yang membuatnya dilahirkan sebagai burung gagak. Balinda mencoba menghiburnya dengan mengatakan kalau itu adalah cerminan kecerdasannya, yang benar saja!

“Satu hal yang perlu diperhatikan” Balinda melanjutkan “Hal ini memang jarang terjadi, hampir tidak pernah malah. Seperti yang ku bilang, saat itu alam akan seolah bersahabat pada manusia. Termasuk kita, para Pargata. Di suatu tempat yang  stabil, kita akan menjadi seharfiah wujud kita”

***

Aku menelan ludah.

Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan ini sebelumnya. Tentu saja, dunia ini adalah dunia paling nyata, maksudku dunia dimana hal yang sebenarnya terjadi, bukan hanya kemungkinan yang tidak dipilih. Di dunia ini tidak ada Pargata, atau Welas, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk menstabilkan dunia ini. Dunia ini sudah sempurna.

Dan aku, aku seekor burung merpati. Di dunia ini, burung merpati tidak bisa membaca pikiran. Aku mulai seharfiah wujudku.

Tapi ini aneh, empat tahun lalu aku kemari dibawah bulan purnama, tapi tak ada yang terjadi.

Aku terbang ke kamar Tirta menceritakan apa yang baru aku sadari dengan menggebu-gebu.

Tirta yang sedang membaca hanya tersenyum, lalu berkata “Baguslah, itu berarti waktunya sudah dekat”

Aku termenung. Benar juga, itu berarti misiku hampir selesai.

“Kalau begitu lebih baik kita bersiap, sebelum kau benar-benar tidak bisa berpikir” katanya lagi.

“Tapi aku tidak tau kapan tepatnya purnama raksasa akan terjadi”

“Hari keempat, Mar, kau baru saja mengatakannya”

“Tapi kapan? Aku tidak pasti kapan hari pertama dimulai” aku tidak sabar, antara marah dan antusias di saat yang sama.

“Siapa peduli, kita akan tau kapan purnama raksasa terjadi saat melihat bulan. Jangan buat hidupmu rumit, Mar”

Aku menatap Tirta sebal. Tapi sekali lagi ia benar.

22 Agustus 2015

Analogi Dalam Analogi

Aku bermimpi aneh malam ini. Aneh, karena aku bisa mengingat mimpi itu dengan jelas, detailnya, rasanya, mimpi itu begitu terang, begitu nyata.

Aku berdiri di tepi jurang, tepatnya jurang yang kusebut Jurang Bhadra. Di sebrang, di tepi jurang lain, berdiri Wekatama yang menatap lamat-lamat ke bawah. Aku mengikuti arah pandangnya, tidak mendapati apapun selain kegelapan yang memesona, seolah memanggil untuk bergabung.

Tanpa sadar kakiku bergerak mundur, dari sudut mata, aku bisa melihat Wekatama juga melakukannya. Aku masih belum berhenti mundur ketika Wekatama mulai berlari maju, tapi aku juga ikut berlari ketika ia menjatuhkan diri ke dalam jurang.

Kami berdua akan bersatu dengan Jurang Bhadra, tapi bukan hanya itu yang membuat kami tersenyum, kami berdua juga akan berpisah selama-lamanya, karena kami tau di dasar jurang ada kematian yang menjanjikan. Lucu sekali, kami sama-sama ingin menyatu dengan kegelapan itu, tapi tidak ingin bersama. Perbedaan prinsip, aku yakin itu sebabnya. Tepat kemarin, aku baru mendengar kisah masa lalu Wekatama, yang membuatku tak ragu untuk merasa jijik.

Hal ini membuatku khawatir karena di masa ketiga ini, Bhadra masuk divisi penyerang. Tapi sekaligus tenang, karena ada kemungkinan Wekatama akan bersikap manis lagi. Aku tidak tau mana yang lebih buruk.

Satu-satunya yang wajar dalam mimpi itu adalah keadaan yang berubah tanpa kusadari, jurang itu tidak lagi memanggil, semua kesan ingin tenang dalam kematian menghilang. Aku malah menggapai-gapai udara mencoba menyelamatkan diri, saat sadar, tangan kiriku terasa sakit karena menggenggam batang mawar liar.

Aku membalik tubuh ke atas, melihat ceruk kasar di dinding tebing aku menarik mawar liar itu. Aku meneruskan pandangan jauh keatas, orang-orang bergerumul menatapku jatuh, aku bisa melihat ekspresi wajah mereka dengan jelas.

Mereka yang kuingat pernah tertawa denganku menatapku dengan kaku. Mereka yang tidak pernah tersenyum padaku hanya mendelik dan berlalu pergi. Ada satu orang yang memegang tali dengan wajah takut.

Perhatianku tertuju pada tiga orang dari masing-masing kategori itu. Soraba Sudana, yang pertama kali pergi, kami memang tidak pernah bicara, yang ada dia sepertinya selalu ingin membunuhku setiap latihan, tapi aku tidak pernah bisa marah akan hal itu. Melihatnya pergi, malah membuat hatiku sakit.

Lalu, Pandyawira Sudana, kembaran Soraba. Aneh kenapa dia ada di sana juga—menatapku dengan kaku—seingatku dia sudah pergi ke ... entah kemana, setelah dibubarkannya Adibrata. Dulu aku mengagguminya, sebelum semua rasa kagum itu jatuh pada adiknya.

Kemudian, Ekabhanu Baswara, satu-satunya yang matanya berair ketakutan. Ia memegang tali.


Ketika seseorang melemparmu dengan bongkahan emas sampai pingsan, lalu emas itu menggelinding ke sungai, kemudian kau sadar jirah yang kau idamkan tapi tak bisa kau beli semakin mahal harganya, dan kau terbangun di rumah seorang pengemis bau, yang selama ini selalu kau sapa karena kasihan. Apa yang kau rasakan?

19 Agustus 2015

Kuwalaya (Bagian 2)

Keringat dingin membasahi tubuh Felisa, ia baru saja kembali dari toilet ketika menemukan toples itu kosong. Tidak benar-benar kosong memang, ada sedikit serbuk kayu dan kacang-kacangan di dalamnya. Namun, toples itu kosong karena tak ada makhluk hidup yang memakan kacang-kacangan di sana.

Felisa lalu berjongkok, mencari-cari di antara meja dan kursi. Ia amat menyesal pergi ke luar tadi, bagaimanapun menjaga Ciko adalah tugasnya dan tidak seharusnya ia pergi begitu saja.

“Ciko, Ciko!” panggilnya pelan, ia tak mau kalau siswa lain mengetahui hamster itu hilang. Tapi, tentu saja hal itu tidak mungkin. Perilaku anehnya yang berjalan sambil berjongkok jelas mengundang perhatian


“Kau mencari sesuatu?”

Felisa memutar kepalanya, melihat siapa yang baru saja datang, Bara. Gawat, pikirnya. “Tidak, tidak, semuanya baik-baik saja” Ia lantas lekas berdiri dan duduk di kursinya.

“Mana Ciko?” Bara menatap heran toples Ciko yang kosong.

Felisa menghela nafas, lalu memasang senyum tanpa dosa dan berkata “Hilang”

“Hi ... hilang?” Bara memelototinya. “bagaimana bisa hilang?”

“Bukan salahku! Sungguh! Dia jatuh, aku rasa”

“Kau! Kau memang tidak bertanggung jawab!”

“Hei! Tak perlu marah, apa urusanmu?”

Tiga siswa lain, yang sedang bergosip di ujung kelas hanya menggelengkan kepala, pemandangan ini memang biasa bagi mereka. Adapun sejumlah murid malah asyik tidur dan melewatkan pertunjukan ini. Suasana kelas memang sedang sepi. Sebagian besar siswa sedang berada di Lab. Komputer mengerjakan tugas praktik TIK mereka yang belum selesai.

Ngomong-ngomong soal Ciko, seperti yang kukatakan sebelumnya, ia seekor hamster. Pagi ini Haris membawakannya untuk Rini, dan semua orang sangat gemas dengannya. Jarang-jarang ada hewan pengerat lucu di kelas ini. Tapi, ya, Rini tidak mungkin membawa Ciko ke Lab, maka ia menitipkannya pada Felisa, yang menurut sepengetahuannya cukup sayang pada binatang.

Wajah Felisa dan Bara sama-sama merah padam. Keduanya kesal pada satu sama lain. Bara, ya dia memang mudah marah, apalagi jika meihat sesuatu tidak pada tempatnya sedangkan Felisa adalah jenis orang yang berantakan. Jadi, bisa kaubayangkan betapa ‘cocoknya’ mereka.

“Kau tahu? Daripada memarahiku terus lebih baik membantuku” kata Felisa, ia kembali berjongkok dan memanggil-manggil Ciko.

“Memangnya aku yang salah?” Bara lantas pergi kembali ke kursinya. Kalau dipikir-pikir, kadang aku setuju kalau dia memang menyebalkan.

Sayangnya, saat itu bel istirahat sudah berbunyi. Pelajaran TIK sudah selesai, Rini akan kembali. Felisa mencoba meyakinkan diri bahwa ia akan menemukan Ciko sebelum Rini sampai. Mengingat bahwa jarak dari lab komputer dan kelasnya cukup jauh. Rini harus menuruni tangga, menyebrangi lapangan dan naik lagi ke lantai dua, Felisa bahkan menambahkan kemungkinan bahwa Rini akan pergi ke kantin dulu.

“Ciko! Ciko!” ia terus memanggil

Tapi, harapan hanya tinggal harapan. Semua orang sangat terhibur dengan kehadiran Ciko dan berusaha mencapai kelas secepat mungkin. Suara tawa dan langkah kaki di lorong membuat Felisa makin panik, ia tidak bisa berpikir. Namun, justru itulah kelebihannya—aku rasa. Disaat paling mendesak seperti itu, dengan perasaan campur aduk, Felisa berjalan mantap menuju salah satu tas yang tergeletak di lantai dan mengeluarkan Ciko dari sana dengan hati-hati.

Ia memang agak berbeda.

***

Aku suka Felisa.

Ia baik pada semua makhluk hidup, sehingga alam menganugerahkannya insting yang tajam. Memang banyak manusia yang punya insting yang tajam, dan banyak pula manusia yang baik pada makhluk hidup, jadi mungkin alasan aku menyukainya kurang kuat. Pokoknya aku suka Felisa, aku rasa aku mulai menyukainya karena kejadian dua tahun yang lalu.

Bara sakit dan aku diminta Tirta untuk mengantarkan surat izin kesekolahnya. Baiklah, aku memang burung merpati tapi aku tidak suka kalau disuruh mengantar surat. Aku juga tahu kalau merpati jaman dahulu bertugas mengantar surat, tapi aku kan berbeda. Aku adalah jenis merpati yang punya harga diri.

Aku sudah mengutarakan hal ini pada Tirta, tapi ia malah berkata akan mengurangi jatah makanku. Rasanya aku ingin mengadu pada Acarya Darma atas apa yang telah cucunya lakukan padaku.

Maka aku pergi ke sekolah Bara. Kalau merpati jaman dahulu membawa surat dengan mengikat gulungan kertas di kakinya. Tirta, dengan tega menyuruhku membawa surat dalam amplop yang harus kugigit dengan paruhku. Rasanya aku ingin menangis—seandainya aku bisa.

Aku bersyukur karna hari itu meja piket sedang sepi karena sebagian besar guru sedang mengikuti kegiatan upacara bendera, sehingga tidak ada manusia yang menatap heran pada merpati yang bisa membawa surat dan menaruhnya di atas meja.

Aku sudah siap untuk pulang saat itu, dan melintasi pohon mangga dengan anggun. Tapi aku bukan satu-satunya burung yang terbang melintasi puncak pohon mangga. Seekor burung layang-layang ceroboh dan tidak tahu diri menabrakku, jika membandingkan ukuran kami, memang seharusnya ia yang jatuh. Tapi, aku ini burung merpati yang sensitif. Tidak, aku tidak lemah, aku hanya ... baiklah kau benar, aku memang tidak terbiasa terbang ke luar rumah.

Aku terjun bebas ke pohon mangga, ranting-rantingnya melukaiku. Bulu-buluku koyak, tubuhku berdarah. Untungnya, saat itu ada Felisa. Alih-alih berdiri tegak saat upacara, ia malah sedang duduk-duduk santai di bawah pohon mangga. Ia melihatku, lalu bergegas menuju ruang UKS. Tapi, saat itu ruang UKS sudah penuh dengan siswa-siswa yang hampir pingsan. Maka, ia pergi ke kelasnya. Walau kelihatannya bingung, ia mecoba mengobati luka-luka ku dengan peralatan P3K di kelasnya. Kemudian, ketika pulang sekolah, ia membawaku ke rumahnya.

Rupanya ayahnya dokter hewan, tapi meskipun begitu, ia bersikeras merawatku sendiri. Ia bahkan memotong uang jajannya untukku, lantas bagaimana aku tidak jatuh cinta? Bercanda, kami kan beda spesies.

Sejak saat itu, aku selalu ikut Bara pergi sekolah, untuk melihat apa Felisa baik-baik saja, dan menunggu saat dimana aku bisa balas budi. Walau rasanya aku tidak akan dapat kesempatan itu, ia terlalu mengaggumkan untuk mendapat bantuan. Apa aku berlebihan?

Rini berdecak saat melihat Felisa memegangi Ciko, dalam pikirannya ia mengaggap Felisa telah bermain dengannya sepanjang hari.

“Bawa saja pulang kalau kau amat menyukainya”  katanya ketus.

“Eh? Kau berlebihan, ini aku kembalikan” ia tersenyum lebar “bagaimana tadi? Berhasil?” tanyanya lagi

“Tolong  jangan bahas itu” Rini mengibaskan tangannya,

“Ya, wi-fi sekolah kita memang senang bercanda”

“Dan menurutku itu tidak lucu”

“Ada apa sih?”

“Apa yang apa?”

“Biar ku tebak—umm—dia?”

“Kau bicara apa sih? Aku mau tidur, bangunkan aku saat jam istirahat selesai”

Bahkan, meski tidak diberitahu, Felisa tau apa yang terjadi pada Rini. Dia sedang kesal akan sesuatu hal, mungkin seorang anak laki-laki yang disukainya. Ah, kisah cinta remaja, aku sama sekali tidak peduli.

Felisa memandangi Rini yang pura-pura tertidur, berpikir mengapa sulit sekali bagi temannya ini untuk bercerita? Lagipula, sebesar apa masalah yang ia hadapi sehingga sekesal ini?

“Rini,” bisikknya “kau benci padaku, ya?”

Rini terdiam, mungkin ia benar-benar tertidur. Felisa menghela nafas, ini membosankan. Lalu ia memutuskan untuk pergi, mencari rombongan siswi lain yang bisa ia ajak bicara. Ada satu rombongan di ujung lain kelas, ada perasaan tidak enak saat ia hendak ke sana. Perasaan tidak enak berarti hal buruk, hal buruk berarti masalah dan masalah lebih bak dari pada mati bosan.

Benar saja, mereka rupanya sedang membicarakan Rini, dan kedatangan Felisa tentu dianggap sebagai narasumber terbaik saat itu.

“Kau tau siapa orangnya Felisa?” tanya mereka.

Ya, mungkin kalian tau, Felisa memang seorang sahabat yang baik tapi jika sahabatnya sendiri enggan bercerita rahasia padanya, kita bisa tau bahwa dia bukan jenis orang yang pandai menjaga rahasia. Masalahnya, Felisa adalah detektif ulung dan kadang tak bisa membedakan mana yang bisa dipublikasikan dan mana yang tidak.

“Aku tau” katanya bangga “Tapi tak akan kuberi tau”

“Oh, ayolah Felisa!” mereka memelas.

“Baiklah, aku akan memberi kalian petunjuk” Felisa menggosok hidungnya
Orang bilang nama adalah harapan.
Kau akan setuju pada terang,
tapi tidak pada tenang. 
Meski begitu kau tetap memilih tipuan.

“Aku rasa aku tau siapa mereka!”


"Dua orang! benar?

“Siapa, siapa?!"

“Dia benar-benar ... menyebalkan”

Felisa sadar bahwa ia memberi petunjuk yang terlalu mudah, di kelas ini hanya ada delapan orang siswa putra, mereka pasti dengan mudah menebak salah satunya atau mungkin keduanya.

“Tentu saja aku bercanda, aku sama sekali tidak tau” Ia lantas langsung pergi berharap berhasil meyakinkan mereka. Perlu kukatakan, hal itu amat diragukan.

Felisa menatap Rini, merasa bersalah. Berkali-kali ia mengutuk diri, seharusnya tadi ia tidak ke sana. Sekarang, ia tak berani duduk di samping Rini. Felisa menatap berkeliling, adakah orang lain yang bisa ia ajak bicara? Ada gerombolan yang sedang bernyanyi di luar, ada yang sedang mencoreti papan tulis bersama-sama, ada yang sedang menikmati angin dekat jendela. Tapi semuanya menimbulkan perasaan tidak enak pada Felisa. Ia memilih untuk menurut kali ini, dan melihat Bara yang sedang membaca buku.

“Bara! Sisa kelas hari ini, aku duduk disini ya? Aku dalam masalah”

Bara melihat Felisa sebentar, lalu membaca bukunya lagi.

“Bara! Tolong! Berhentilah bersikap menyebalkan!”

Bara menutup bukunya, ia melihat ke arah Rini “Kau memang biang masalah”

“Bara!”

“Jangan tanya aku, aku bukan pemilik kursi yang akan kau duduki”

“Kau benar! Mana Haris?”

“Mungkin di kantin? mungkin sedang di perjalanan ke kantin? Mungkin di perjalanan dari kantin?”

“Bara! Aku serius”

“Apa aku kelihatan bercanda?”

“Ya!” ia lalu mengambil tas Haris, berjalan ke tempat duduknya dan menukar dengan tasnya. “Rini! Aku akan duduk di depan, Bara akan mengajariku matematika”

Rini mengangkat kepalanya “Hari ini tidak ada pelajaran matematika”

“Oh, tidak perlu khawatir, ia membawa bukunya. Kau tau kan? Ia selalu membawanya”

Rini membaringkan kepalanya lagi, Felisa bergegas pergi dari sana

“Felisa” Rini tiba-tiba berucap, masih dalam posisinya

“Ya?”

“Kau benar, aku memang membencimu”

***

Felisa mematut-matutkan kepalanya ke meja. Ia merasa bodoh.

“Bisakah kau berhenti? Kau menggangguku, tau?”

Felisa menengok, namun ia tak menghiraukannya, lalu melakukan hal itu lagi. “Aku dalam masalah”

“Aku tidak peduli” Bara lalu mengubah posisinya. Ia berbalik agar bisa membaca bukunya di atas meja di belakangnya.

“Masalahku sangat besar”

“Teruslah bicara, dan aku akan mengusirmu”

“Aku rasa aku akan duduk disini sepanjang semester”

Bara berhenti membaca. “Kau tak bisa lakukan itu!”

“Aku bisa, aku sedang melakukannya. Lagipula, kau bukan pemilik kursi yang kududuki”

“Felisa!”

“Diamlah Bara! Siapa juga yang mau menghabiskan sisa semester bersamamu?” kata Felisa “Semuanya akan berakhir, semua ini akan berlalu”

“Lihatlah siapa yang sejak tadi bicara”

Bel berbunyi, namun guru belum memasuki kelas. Felisa menatap Rini yang masih membenamkan kepalanya, apakah tadi ia tak salah dengar? Ia berharap dirinya salah dengar. Rini tak mungkin benar-benar membencinya kan? Ia berharap ...  tapi berharap saja tidak akan menyelesaikan masalah. Ia memutuskan untuk meletakkan masalah itu sebentar, lalu mengeluarkan buku bahasa di depan mejanya, mulai mengerjakan beberapa soal.

Sudah sepuluh menit, dan guru bahasa belum juga datang. Bara memerintahkan seksi humas untuk menjemput beliau, tapi rupanya, Pak Banu memang tidak ada di tempat.  Beberapa siswa tersenyum mendengar kabar itu, kecuali Bara dan Felisa sepertinya. Felisa suka pelajaran bahasa, jadi kau bisa mengerti kenapa. Sedangkan Bara tidak suka dengan ketidakhadiran Pak Banu, tidak ada alasan khusus, ia hanya beranggapan bahwa beliau harusnya datang.

“Jangan ribut” ucap Bara, tapi percuma, siapa yang bisa tidak ribut ketika tidak ada guru, dan tak ada tugas? Bahkan untuk kelas dengan standar tinggi seperti kelas ini, sulit untuk menyanggah bahwa mereka merasa tertekan saat belajar.

Bara mengikuti jejak Felisa yang mengerjakan soal-soal bahasa, tapi bagaimana bisa ia berkonsentrasi jika kelasnya berisik bukan main, apalagi yang ia kerjakan adalah soal bahasa. Maka ia berjalan ke depan kelas, berdiri di sana dan memandang seluruh kelas dengan wajah garang. Ia tak bicara apapun, tapi justru kebisuan Bara yang lebih menakutkan dari amukannya. Tak lama, seluruh siswa menyadari sikap aneh ketua kelasnya, dan mereka bukan hanya menjadi diam, beberapa tertunduk malu, beberapa mengumpat dalam hati dan ada pula yang mencoba menantang diri untuk bertahan memandangi mata Bara.

Kesunyian kelas mulai terasa aneh, dan mereka mulai gelisah. Untungnya Bara kemudian angkat suara, dengan nada dingin yang acuh ia berkata “Kenapa kalian diam?”. Tak ada yang menjawab. “Rapat kelas, se-ka-rang” katanya lagi.

Suara mendesah dari berbagai arah. Rapat kelas tidak pernah menyenangkan. Ini adalah saat dimana Bara mengecek kinerja bawahannya, dan kebanyakan diselingi marah-marah. Meja-meja digeser ke depan, agar memberi cukup ruang untuk membuat lingkaran di belakang kelas.

“Sudah berapa kali kubilang, kita ini kelas unggulan ...” Bara memulai pidatonya. Seandainya aku bisa menutup telingaku.

***

Bara langsung pergi ke kamarnya begitu sampai di rumah, sedangkan aku terbang ke halaman belakang, menemui Tirta. Tirta sedang memberi makan kelinci saat aku datang. Begitu aku hinggap di pundaknya ia langsung bertanya padaku.

“Apa sih yang begitu menarik dari Bara, Mar?”

Aku menahan tawa, selama ini yang Tirta tau adalah aku pergi untuk mengikuti Bara ke sekolah, itu saja. Andai dia tau apa sebenarnya tujuanku mengikuti Bara ke sekolah. Lagipula, memang tak ada yang menarik dari Bara.

Sudah empat tahun sejak kejadian mengerikan itu. Aku akhirnya tau kalau Tirta adalah anak yang aku dan Acarya Darma cari. Sayang sekali waktu itu kami tidak bisa membawanya langsung ke Apsara. Tak apa, aku  masih bisa melatihya di sini, walau memang terbatas sekali. Aku juga agak kasihan padanya, perkembangan kemampuannya yang begitu cepat membuatnya jadi sulit menyesuaikan diri. Ia jadi mirip sekali dengan Braja.

Tirta kini berjalan masuk ke dalam rumah dan menghampiri kandang ikan. Rasa-rasanya, di rumah ini memang agak terlalu banyak hewan peliharaan. Lima ekor kelinci di halaman belakang, satu aquarium berisi banyak jenis ikan di ruang tamu, seekor anjing penjaga di depan rumah, juga ada dua ekor kucing sombong yang senang sekali berkeliling.

Bara keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum, ia berpapasan dengan Tirta. Mereka saling memandang, Tirta tersenyum pada kakaknya dan Bara memalingkan wajahnya.

15 Agustus 2015

Random (3)

imgsrc
Postingan random, isinya random, waktu postingnya juga random.

***

Kamis, 6 Agustus 2015


Gak nyangka bakal secepet ini, makasih buat The Monogram Murders--lagi halaman 102--dan maaf lupa bawa Bulan, enjoy The Silkworm sama The Night Gardener-nya ya :D.


***


imgsrc

Tentang Grahita Antargata

'Aku' dalam Grahita Antargata adalah seorang bernama Ekabhanu Purantara. Mengambil setting tempat yang sama dengan Kuwalaya--bab enam--yakni kerajaan Apsara di Nusa Witana--tapi setting waktu jauh di masa depan. Ekabhanu sendiri adalah mantan didikan pengkhianat kerajaan sewaktu ia masih di Wacana Satu dan Dua (saat ia berusia 5-15 tahun) sehingga jalan pikirannya agak manipulatif.


***


Turn On the Music!

Man On a Wire


Man On a Wire adalah single ke-3 dalam album No Sound Without Silence yang dibawakan oleh band rock pop Irlandia, The Script, yang dirilis Maret lalu.

Lagu ini lagi happening banget di sekolah, yaaa, gak booming banget sih, tapi teman-teman saya berkali-kali nanya apa saya punya liriknya.

Selain judulnya yang saya anggap lucu, nada-nadanya juga catchy, bahkan liriknya juga menarik untuk dipikirkan. Dengan kata lain, cocok untuk orang bahagia dan galau. Lebih menarik lagi, setelah saya lihat video klipnya, saya melihat video behind the scene pembuatan video klipnya yang rupanya benar-benar dilakukan di atas tali! omaygad omaygad omaygad!

 

I Knew You Were Trouble

Lagu Taylor Swift ini di-cover oleh Rixton, band yang terkenal dengan single Me and My Broken Heart dengan cara yang unik. We are never, ever, ever ...


***
That's all, see you in next random time!

12 Agustus 2015

Kuwalaya (Bagian 1)

Ditulis penuh kerinduan pada The Charming & @republik9K.
Tidak ada dendam, Mar memang gitu 'orang'nya


Malam itu sebenarnya adalah malam yang menyenangkan dan tidak perlu terjadi tragedi. Kalau saja pria paruh baya itu tidak memberontak, tidak akan terjadi pertumpahan darah. Kedua anaknya sudah tidur, dan kami hanya tinggal membawa salah satunya diam-diam. Aku tidak menyalahkan Acarya, tapi kalau saja ia menerima nasihatku dan tidak meminta izin dulu pada ayah anak itu, tentu segalanya akan lebih mudah.

8 Agustus 2015

Bukan dikekang

Bukan dikekang. Tapi dijaga
Omong kosong, kau bilang?
Tunggu, kalimatku belum selesai
Juga dilatih, dipersiapkan.

Memang mau apa kuda pincang di alam liar?
Disuruh berlatih mengelilingi padang rumput saja mengerang.
Merintih kesakitan, mengeluh kakinya pincang?

Memang mau apa kuda pincang pemalas di alam liar?
Disuruh menarik kereta sayur ke pasar saja mendengus keras.
Bilang itu tidak masuk akal, sombong menganggap diri tuan

Memang mau apa kuda pincang pemalas penggerutu di alam liar?
Jadi santapan sukarela hewan buas?
Apa? Menjadi bagian hewan buas? Kau gila, nak?

Apa enaknya jadi hewan buas? Hilang akal dan kesadaran?
Apa enaknya jadi hewan buas? Dikecam semua orang?
Apa enaknya jadi hewan buas? Kebebasan?

Apa itu kebebasan? Ketika kau tak punya pilihan selain yang lemah?
Apa itu kebebasan? Ketika harus menghapus harga diri demi yang tidak kau inginkan?
Apa itu kebebasan? Ketika balasannya adalah siksa?

Kau tidak tau apa-apa tentang kebebasan.
Kau belum paham nikmatnya diterpa angin kala berlari di padang luas.
Kau belum paham leganya melihat senyum pengemis tua mendapat sayuran.
Kau belum paham, sampai saat itu, jangan dulu ke alam liar.

Kau akan ke alam liar, kupastikan itu, nak.
Tapi saat kau paham, pebuatan baik adalah mutlak.
Seingin apapun kau berbuat jahat.
Kau akan selalu mengingat apa yang selama ini sudah kuberikan.

Kau bisa ke alam liar, kujanjikan itu, nak.
Saat itu, kau sedang menolong pangeran dari kejaran pengkhianatan.
Atau mengejar pengkhianat sampai ke ujung rawa.
Lebih baik lagi, menemukan kuda pincang yang tersesat dan mendidiknya tentang kearifan.