29 Juli 2015

Tujuh Detik Menghilangnya Aku (Our Problem #1.5) - Bagian 4

Bagian 1
Bagian 3

Aku rasa sudah waktunya aku bertindak. Jika seseorang ingin aku mati. Aku pastikan dia harus kesulitan. Pertama-tama aku harus mencari sekutu. Sebaik-baiknya orang dewasa, kalau bisa yang sedikit tidak waras supaya dia percaya padaku. Tapi, kalau kupikir, memangnya apa yang bisa kulakukan? Berjalan sedikit saja kakiku langsung sakit. Bukan hanya karena kecelakaan beruntun beberapa hari ini. Tapi, kakiku juga terasa panas, setiap menginjak lantai seperti luka bakar menyentuh duri.

Tangan kananku juga, seperti ada yang menarik kuat-kuat, membuat bahuku pegal saja. Telinga dan hidungku juga jadi bermasalah. Hidungku terus menerus mencium bau benda terbakar—mungkin dari kakiku? Yang benar saja. Dan aku seolah mendengar suara orang memanggilku. Kalau mau menghubungkannya dengan hantu ini memang menyeramkan.

Ah, hantu! Benar juga! Siapapun dia, pembunuh itu pasti mengira aku sudah mati sekarang, setelah memakan sup itu. Apa hal itu bisa kumanfaatkan?

Jadi, saat aku mendengar seseorang mengetuk pintu. Aku cepat-cepat mencari tali,  tapi tidak kutemukan, jadi kugunakan jam tanganku. Aku memasangnya sekencang mungkin di bagian lengan kanan atas, dan menutupinya dengan pakaianku. Sedangkan lengan kiriku aku letakkan di belakang punggung. Dan mangkuk sup itu aku taruh di atas pahaku, dengan dramatis aku memposisikan tangan kananku seolah menjatuhkan sendok ke lantai.

Aku berbaring sambil menahan nafas.

Sylvia masuk. Dia pasti kaget melihatku, karena aku bisa mendengar nafasnya tercekat. Dia memanggil-manggil namaku, lalu dengan gemetar tangannya menyentuh kebagian bawah hidungku. Aku tidak tau apa yang terjadi berikutnya, tapi aku mendengar barang-barang jatuh dan dia berteriak-teriak.

“Dokter Snyder!” katanya.

Aku menghirup nafas banyak-banyak setelah Sylvia pergi.

Aku mendengar langkah kaki, jadi sekali lagi aku menahan nafas kuat-kuat.

Kakek Jason datang bersama Sylvia. Dia langsung memeriksa denyut nadiku. Untungnya, dia tidak memaksa mengeluarkan tangan kiriku dari balik punggung.

“Dia sudah meninggal” kata Kakek Jason. Aku ingin tertawa, tapi mana mungkin?

Aku mendengar suara nafas Sylvia yang tercekat. “Bagaimana bisa?”

“Dia habis makan apa?” tanya Kakek Jason.

“Sup, ubi kayu, aku sendiri yang memasaknya” jawab Sylvia.

“Dia memakannya sampai habis” kata Kakek Jason. “Kau memasaknya sampai matang kan?”

“Ya—tidak—setengah matang. Calvin bilang ...” Sylvia menghentikan ucapannya, aku tidak tau kenapa. Mungkin karena Kakek Jason kemudian berkata.

“Kau tau ubi kayu mentah itu beracun?”

Nafas Sylvia tercekat lagi, “Aku ... aku tidak—” dia menangis.

Kakek Jason menutup wajahku dengan selimut, setelah membetulkan posisi tanganku.

Aku mendengar Kakek Jason mencoba menenangkan Sylvia, aku rasa mereka mengobrol sambil berjalan pergi, suara mereka makin lama semakin kecil, pintu ditutup tapi aku masih mendengar suara mereka. Kakek Jason berkata itu kecelakaan tapi harus tetap memanggil polisi, Sylvia memekik dan berkata tidak boleh ada polisi di Hotel Swan, Kakek Jason bertanya kalau Sylvia tau keluargaku, Sylvia diam, mungkin dia menggeleng.

Akhirnya aku bisa bernafas lagi.

Sekarang tinggal menunggu. Sylvia pasti memberitahu Calvin soal ini. Aku penasaran apa reaksinya.

Sekarang aku sudah bisa bertingkah seperti hantu. Aku sebenarnya bingung harus melakukan apa, rencanaku untuk mencari sekutu jelas harus dibatalkan karena aku tidak bisa melaksanakannya sekarang.

Aku tadinya mau pergi ke kamar Nyonya Christie untuk memeriksa keadaannya, tapi sepertinya dia baik-baik saja. Aku membayangkan kalau Agatha Christie tewas, itu artinya dimasa depan aku tidak akan membaca karya-karyannya, mungkin aku tidak akan datang di hari ke dua ke rumah Dokter Owl untuk meminjam buku-bukunya. Lalu aku tidak akan masuk ke mesin waktu, dan aku tidak akan ada di sini. Tapi, bukan berarti aku menginginkan kematiannya.

***

Pukul lima pagi, aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar Nyonya Christie. Aku memakai seragam sekolahku, juga mengembalikan posisi jam tanganku ketempat semula. Perasaanku tidak enak. Aku sendiri tidak tau apakah aku merasa tidak enak sehingga aku pergi kesana, atau aku pergi kesana dan merasa tidak enak. Aku merasa harus kesana.

Aku juga agak terkejut karena ternyata pintunya tidak dikunci. Nyonya Christie ada disana, duduk menghadap jendela dengan pandangan muram. Aku kasihan sekali melihatnya, dia pasti depresi sekali karena suami dan ibunya. Dia bahkan tidak ingat namanya sendiri. Saat aku masuk, pintu itu tertutup. Rupanya ada Kakek Jason di balik pintu.

“Kau cerdik sekali” kata Kakek Jason.

Aku tersipu, sudah kukira aku tidak mungkin bisa menipu seorang dokter. Aku sendiri heran kenapa dia bisa bilang aku tewas. “Terima kasih” sepertinya aku harus bersekutu dengan Kakek Jason.

“Kau mau ambil bukumu? Sudah ditandatangani. Pegawai hotel kebingungan sekali menemukan buku ini, apalagi mereka tidak mengerti bahasa didalamnya”

Ragu-ragu aku mengambil buku itu, benar, ditandatangani.

“Kakek Jason,” kataku “Kita harus menangkap Calvin, sebelum dia membunuh kami”

“Ah, tidak usah repot-repot” kata Kakek Jason, sambil mengunci pintu, lalu kuncinya sendiri ia kantongi. “Calvin bukan orang jahat”

“Tapi, dia—”

“Ssssh” Kakek Jason menghentikan ucapanku. “Perlu kau ketahui, kamar ini mirip dengan kamarku. Jadi percuma saja kalau kau mau meminta tolong”

Dia benar dinding-dinding kamar itu dilapisi karpet. Tapi, apa? Kenapa aku harus meminta tolong?

“Untuk seseorang yang suka membaca buku, pikiranmu lamban sekali” kata Kakek Jason, yang kulihat tersenyum melihat wajah bingungku. Aku melangkah mundur ... senyum itu bukan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan padaku, senyum itu mengerikan.

“Kau suka apa? Coklat? Susu? Atau seperti ibuku, jus jeruk?” Dia mengeluarkan tiga gelas minuman dari lemari es.

“Kita akan buat ini mudah, kau minum, dan tidur selamanya. Tidak akan terasa sakit”

Nafasku tercekat, dia melanjutkan.

“Dan Nyonya Christie juga akan meminumnya. Tapi setelah kau”

Nyonya Christie menoleh kearahnya, lalu dia mengangguk. Aku tidak mengerti.

“Kasihan sekali, seorang gadis kecil kebingungan dan akan mati” kata Kakek Jason. Aku memandangnya takut.

“Aku rasa tidak apa kalau aku berbaik hati menceritakan semuanya sebelum kau tiada, setidaknya itu akan membuatmu tenang di alam sana”

Di maju kearahku, aku mundur. Lalu dia tertawa, tawa yang menyebalkan. Ia tampak berpikir lalu mulai berpidato:

“Kau tentu sudah tau kalau aku datang dari masa depan? Aku juga sebenarnya sudah tau, aku agak kaget melihat kau datang mengantar sarapan pagi itu. Tapi aku sadar kalau memang tidak aneh kau ada di sini. Oh, secara teknis kau lebih tua dariku. Aku dilahirkan sepuluh tahun dari masamu, lalu di usiaku yang ke enam puluh, aku menciptakan mesin waktu. Untuk menyempurnakan takdirku dan takdirmu”

“Takdir?”

“Aku hanya akan dilahirkan jika kau mati sebelum detik ke tujuh”

“Apa?”

“Aku hanya akan—”

“Aku mendengarnya!” sentakku. Kakek Jason terkejut, lalu berpikir sebentar.

“Inilah yang harus terjadi. Satu hari di sini sama dengan satu detik di sana. Tapi, meski semua kesadaranmu ada disini. Sebagian ragamu masih disana. Di sana mesin itu tidak terlalu bekerja dengan baik. Di detik kedua, mesinnya memanas secara tidak normal, di detik keenam tepatnya pagi ini ia mengeluarkan asap.

“Ayah dan Ibuku berusaha menarikmu keluar tapi kau tetapi kakimu seolah memaku. Di detik ke tujuh alias besok pagi tepatnya di jam yang sama saat kau baru tiba, mereka berhasil menarikmu tapi kau sekarat dan tewas.”

“Ayah? Ibu?” tanyaku.

“Aku anak Fauzi dan Fira”

Aku jatuh terduduk. Dia anak Fira? Aku melihatnya, matanya memang besar sekali.

“Yang kau tidak tau adalah ibuku sedang memutuskan sesuatu saat mencoba mengorbankanmu ke mesin itu. Dia ingin memastikan kutukan, sebelum bisa dengan tenang pergi dari kota itu selama-lamanya. Begitu melihatmu tewas, dia sadar kutukan itu memang benar, dan akhirnya merasa khawatir terhadap teman-temannya. Dia memutuskan untuk tidak jadi pergi.

“Fauzi dan Fira menikah dan dia melahirkan seorang putra. Mereka memberinya nama Jason, nama yang aneh didaerahku. Tapi ibu selalu menyemangatiku bercerita tentang seorang ilmuan besar bernama Jason Snyder yang bisa membuat mesin waktu. Dia tidak salah, karena itu memang aku.
“Aku banyak belajar dari Profesor Owl. Mesin waktunya aku sempurnakan—lagi, Ibu selalu berkata untuk berhati-hati, dia bercerita tentangmu. Dan saat itu aku tau, sudah jadi tugasku untuk membunuhmu.

“Bagaimana kalau aku tidak mati?”
“Kalau kau tidak mati, ibuku akan pergi dari kota selama-lamanya. Ayah dan ibuku tidak akan pernah menikah, aku tidak akan pernah dilahirkan.” Ia terkekeh “Kau HARUS mati, mengerti? Ini takdir, tidak perlu menghindar”

Aku menarik-narik rambut kepalaku sendiri. Benarkah itu? aku harus mati?

“Bagaimana dengan Nyonya Christie?”

“Ayah dan Ibuku adalah sahabat sejak kecil. Dan sebagaimana hubungan kisah cinta antar sahabat lainnya, hubungan pernikahan mereka tidak bertahan lama. Ayahku jatuh cinta pada wanita lain, seseorang yang dikenalnya di dunia maya. Mereka terhubung oleh buku, terutama buku-bukunya” Kakek Jason menunjuk Nyonya Christie.

“Tapi kalau kau membunuhnya, aku—”

“Aku tau, paradoks waktu memang menyebalkan. Makanya kubilang kau harus mati lebih dulu. Aku juga tidak tau bagaimana nantinya, mungkin akan tercipta dunia paralel. Siapa tau? Anggap saja ini sebuah eksperimen. Apa salahnya mengorbankan satu diantara milyaran manusia?”

Aku mendekati Nyonya Christie, mengguncang-guncangkan tubuhnya, kenapa dia tidak sadar kalau dia baru saja mengangguk untuk kematiannya?

“Aku menghipnotisnya” kata Jason.

Aku menoleh kearahnya, jadi dia itu apa? Dokter sekaligus penemu gila dan ahli hipnotis juga?

“Kondisi mentalnya sudah sangat buruk saat pertama kali dia datang kesini. Dia bahkan mau bunuh diri ke danau, aku memang menyelamatkannya, tapi itu karena aku tidak mau dia mati dengan cara begitu. Aku menghipnotisnya. Kau pikir bagaimana caranya dia hampir meminum arsenik dan nyaris menabrakmu? Kau pikir bagaimana caranya Anna mengundangmu ke Penny Pot Lane, membuat sandwich beracun, mendorongmu ke lembah Oak Beck? Kau pikir bagaimana caranya Calvin menawarimu ubi kayu mentah?”

“Kau ... benar-benar menyedihkan”

“Kalau menjadi menyedihkan membuatku tetap hidup, aku rasa itu tidak masalah” kata Jason “Kau tidak mau minum ini? aku tidak keberatan memakai kekerasan. Sebenarnya, aku tidak sejahat itu”
Dia mengeluarkan sebuah belati dari laci. Dia sungguhan mau membunuhku?

Aku terus menerus mundur, tapi lama-kelamaan aku semakin terpojok. Nyonya Christie tetap diam. Adegan yang kualami persis seperti cerita dalam salah satu bukunya. Aku rasa sebenarnya Jason juga mendapat banyak ide dari buku-buku Agatha Christie.

Ini bukan saatnya memikirkan itu, aku harus menyelamatkan diri. Tapi, apa aku harus? Aku sendiri agak ragu. Aku pikir, dia mungkin benar. Dengan berdirinya dia disini, berarti aku mati. Apa kalau aku selamat itu artinya aku mengubah sejarah? Aku tidak mau mengubah sejarah.

Belati itu sudah sangat dekat dengan tubuhku saat kami mendengar suara kaca pecah. Ada yang melempar batu ke jendela. Bukan hanya sekali, berkali-kali hal itu dilakukan bukan hanya batu, tapi juga bola-bola salju.

“Fatiah!” itu suara Anna.

Lalu kami mendengar suara pintu di dobrak—walau tidak bisa terbuka. Itu pasti Calvin, atau entah siapa saja. Jason tampaknya kesal jadi dia langsung melempar belati itu padaku, aku refleks menutupi wajahku dengan tangan. Walau sama saja, kalau belati itu mengenai tanganku.

Belati itu memang mengenai tanganku, tepatnya tangan kiriku. Tepat mengenai jam tanganku. Alih-alih pecah, jam tanganku malah berkedip-kedip dan mengeluarkan kacang polong yang mengenai tepat ke mata Jason. Seandainya keadaannya tidak semenegangkan ini aku pasti tertawa.

Jason mengumpat sambil memegangi matanya.

“Aku melupakan jam sialan itu”

Aku sendiri heran, tadinya aku mau bertanya, tapi tidak sempat.

Dia sudah siap menyerangku lagi. Aku menekan tombol jam itu lagi, kacang polong berhamburan keluar. Tapi Jason tidak menyerah. Aku sudah memutuskan, aku tidak mau mati. Tidak sekarang, karena dibunuh kakek tua.

“Fira tidak akan bangga kalau kau membunuhku” kataku.

“Ia mengorbankanmu! Dia sudah siap kalau kau mati!”

“Tidak!” teriakku. Selain menolak gagasannya tentang Fira—meski menyebalkan Fira bukan orang jahat, dia hanya ingin kepastian tentang keselamatan teman-temannya. Aku bisa mengerti jika mengingat kejadian sumbu lambat semester lalu—juga karena kacang polongnya habis.

“Naif sekali”

Jason sudah siap menusukku, dia akan berhasil kalau saja sebuah kursi tidak menghalangi aku dan dia. Nyonya Christie yang melemparnya.  Dia terlihat gugup sekali ketika kami melihatnya.

“Kau! Diam saja disitu!”

“Jangan!”

“Aku tidak mau!”

Bagus, sepertinya Nyonya Christie sudah sadar. Jason berjalan kearahnya, ia menggenggam bahu wanita itu kuat-kuat, memaksanya menatap matanya. Dia bodoh atau apa? Sementara dia sibuk aku mengambil pecahan kaca dan merobek tirai kamar itu. Lalu menangkapnya dari belakang.

Sayangnya dia masih memegang belati itu, jadi mudah saja baginya untuk meloloskan diri.

“Ide bagus” katanya. Lalu ia membalik keadaan, ia mengikatku dengan tirai itu. Menjambak rambutku dan memaksaku meminum jus jeruk. Aku menahannya didalam mulutku, aku tidak mau mati. Kalau kematianku akan menyebabkan pembunuh gila seperti dia, aku tidak mau mati. Aku tidak mau mati sekarang.

“Cepat telan!” katanya.

Aku menggeleng, malah memuntahkan jus jeruk itu. Jam ku berkedip lagi, aku tidak tau apa yang terjadi, mungkin kacang polongnya terisi lagi atau apa. Tapi percuma, tanganku terikat. Terlebih lagi Jason mengambilnya, lalu melemparnya entah kemana dan menimbulkan bunyi gedebuk yang keras.
Jason mengambil minuman lagi, susu. Kali ini dia menutup hidungku. Memastikan kalau aku menelan susu itu.

“Aku sudah sangat baik, kau tau?” katanya.

Aku berusaha keras untuk tidak menelannya, walau tenggorokanku terasa sakit dan aku ingin menangis. Aku menatap Nyonya Christie, aku lebih sedih melihatnya. Di masa sulitnya kini, dia malah hendak diperdaya oleh orang ini. Tidak, tidak ada dalam sejarah Agatha Christie ditemukan tewas bersama seorang pelayan yang datang dari antah berantah.

Aku menatap Jason, wajahnya terlihat kesal. Walau wajahnya itu penuh keriput tapi gaya cemberutnya seperti anak kecil. Dia memang bertingkah seperti anak kecil apalagi kalau mengingat kejadian akhir-akhir ini, benar-benar memaksa.

Jason sama kekanakkannya dengan empat anak menyebalkan itu. Apa saat ini aku juga harus memperlakukannya seperti anak-anak?

Aku memuntahkan susu itu.

“Fira tidak akan bangga kalau kau membunuh karena—umm—keegoisan”

Lucu sekali aku bicara soal keegoisan. Jason mengangkat sebelah alisnya. Aku melanjutkan:

“Apa kematianku saja tidak cukup?”

“Jangan melawan” kata Jason.

“Jangan bunuh dia”

“Permintaan terakhir diterima”

Dia meminumkan gelas terakhir, coklat, aku suka coklat.

Aku baru ingat, tadi, saat Jason hendak menghipnotis Nyonya Christie, aku keburu menangkapnya. Sepertinya, dia belum sepenuhnya tidak sadar lagi. Makanya aku tidak heran saat dia melempar jam tanganku ke arah Jason. Dan tepat mengenai kepalanya, ia jatuh terjengkang. Coklat itu jatuh sebelum sempat masuk ke mulutku.

Nyonya Christie, membebaskanku. Sedangkan Jason pingsan. Aku bergidik, teringat bunyi gedebuk saat Jason melemparkannya. Itu pasti sakit sekali. Nyonya Christie langsung merogoh saku mencari kunci untuk kami keluar.

Begitu sampai diluar, rupanya sudah banyak orang. Eliza, Sylvia, Calvin, bahkan Anna juga ada disana. Mereka sudah hampir memaksa masuk kedalam, tapi aku segera merebut kunci dari Nyonya Neele dan mengunci pintu itu.

“Jangan masuk” kataku.

“Fatiah!” kata Anna “Kupikir kau ... kupukir kau sudah ... kau sudah” Anna menangis, aku memeluknya. Sudah selesai, semuanya sudah selesai.

“Bagaimana kalian tau kami di dalam?”

Sylvia menjawab, “Calvin melihatmu dan si Jason tua masuk kedalam—padahal kami sudah mengurungnya di gudang. Dia mengatakannya padaku, tapi aku bilang kau sudah—kau tau kan?—tapi, dia tidak percaya pada hantu. Lalu Anna datang pagi-pagi sekali bilang dia sudah mengingat semuanya. Lalu kami menemukan sup ubi kayu itu di selokan. Jadi, Anna dan Calvin pikir kau masih hidup, tapi nyaris mati—lagi”

“Kenapa kita tidak masuk dan menangkapnya?” tanya Calvin

“Tidak usah” kataku.

“Kenapa? Dia bisa saja buronan yang dicari—” Calvin berhenti lalu memelankan suaranya “Polisi” tapi itu tidak cukup pelan.

“Polisi?!” kataku, mendramtisir keadaaan. Orang-orang disekitar kami kaget. Calvin mendengus, sepertinya dia juga muak denga phobia polisi ini.

“Lebih baik kita cari kamar baru untuk Nyonya Chris—maksudku Nyonya Neele”
“Ah, benar, dia” kata Calvin. Dia menyipitkan matanya. Memandang curiga, aku rasa sikapnya selama ini sebenarnya hanya karena dia mengira Nyonya Neele adalah Agatha Christie, dan sebenarnya memang begitu.

“Fat,” kata Anna “siapa sebenarnya, Jason Snyder itu?”

“Dia penjelajah waktu, dia datang untuk sebuah misi.” Kataku, mengutip kalimat Fira “Ngomong-ngomong aku lapar”

“Kau terlambat. Ini memang masih pagi, tapi jam sarapan sudah lewat. Yang ada, piring-piring yang harus segera dibersihkan” kata Sylvia. Seolah aku pernah mendengar kata-kata itu.

***

15:07:56

Bau asap dimana-mana. Kakiku terasa hampir melepuh. Fauzi dan Fira menarikku, kami lalu melompat melewati tumpukan kardus. Tepat ketika kami sampai, bagian bawah mesin itu meletup. Asap bergumul dari arah bawah mesin itu yang disambut oleh putaran baling-baling diatasnya, menyebabkan asap itu menyebar ke seluruh halaman.

Fira mengusap keringat di dahinya. “Untung hanya ledakan kecil, tidak masuk kategori hal buruk, sepertinya” katanya.

“Profesor hampir selalu meledakkan sesuatu. Aku rasa ... yang ini juga tidak apa-apa” kata Fauzi, sepertinya ia mencoba menjelaskan karena melihat wajah horror ku.

“Novelmu mana, Fat?” tanya Fauzi. Oh, tadi aku melepaskannya saat ditarik mereka. Aku berdiri, menghampiri reruntuhan mesin itu, ya novelku ada di sana, tertimbun jelaga hitam.

“Ya ampun, aku minta maaf. Mau ku ganti?” tanya Fauzi.

“Tidak usah” kataku, yaah, sepertinya aku tidak akan pernah menyelesaikan kisah yang satu ini. Aku membuka halaman pertamanya. Semuanya tertutup abu, walau aku juga tidak yakin ada tanda tangan di sana.

“Eureka!—aku menemukan!” sahut Fira lagi. “Aku—bukan—kita berhasil membuktikannya!”
“Membuktikan apa?” tanyaku

“Bahwa kutukan dan mesin waktu itu omong kosong. Sayang Aldo tidak ada disini”
Aku baru ingat, kutukannya, kutukan terlibat hal buruk. Sepertinya aku lebih baik tidak menceritakan apa yang terjadi tujuh hari—bukan—detik tadi pada Fira. Mungkin Fira nanti khawatir, dan si Jason itu akan terlahir.

“Bagaimana dengan Jason Snyder?” tanyaku.

“Eh?” Fira malah memandangiku bingung “Siapa itu Jason Snyder?”

Eh? Apakah Jason jadi hilang dari sejarah karena aku? Kalau begitu apa yang aku lakukan selama di Harrogate?

Aku benci paradoks.

Aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkan kejadian itu. Ada empat buku yang harus kulahap dalam kurang dari dua hari. Karena saat aku bilang akan mengembalikannya hari Jum’at. Itu berarti aku harus selesai membaca semuanya hari Kamis, dan aku gagal. Aku jadi murung sepanjang Jum’at itu.

Tanpa kuduga keenam orang itu datang ke bandara di hari Sabtu, melepas kepergianku. Aku mengembalikan jam tanganku pada Dokter Owl, kemudian kulihat Kak Lily dan Fira memelototi Dokter Owl—dan Dokter Owl memelototi Aldo.

Tidak ada yang istimewa, selain Fauzi memberiku beberapa koleksi bukunya. Aku memang tidak bertahan sampai sepuluh detik, tapi dia merasa bersalah karena bukuku terbakar. Padahal bukan salahnya juga.

Kudengar Fira pergi setelah kenaikan kelas. Ia pergi ke rumah neneknya di Padang dan melanjutkan sekolah di sana. Aku juga mendengar kalau seorang anak perempuan pemain biola menjadi penggantinya di empat sekawan itu. Aku mencoba untuk tidak peduli, tapi kali ini aku jadi penasaran sekali.

Meski sudah mengalaminya sendiri. Aku tetap tidak percaya pada kutukan dan mesin waktu. Bagiku hal yang kualami kemarin bukan kutukan, aku mengalaminya karena memang harus mengalaminya. Selalu ada pelajaran yang bisa di ambil. Dan pelajaran yang bisa ku ambil adalah—umm—apa sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari nyaris tewas berkali-kali?

Oh, dan juga mesin waktu, sebaiknya benda itu tidak pernah ada. Kalaupun berhasil dibuat, lebih baik dihancurkan saja. Eh, tapi kalau mesin waktu benar-benar tidak ada mungkin aku tidak akan mengerti apa itu paradoks waktu, mungkin aku akan menginginkan ada mesin waktu, lalu aku sendiri yang membuatnya, lalu aku ... Ah, aku benci paradoks.


Fin.

25 Juli 2015

Tujuh Detik Menghilangnya Aku (Our Problem #1.5) - Bagian 3

Bagian 1
Bagian 2

Kalau kuhitung pagi berikutnya sudah hari ke-empat aku di sini. Keinginan untuk pulang mulai memudar, karena aku sadar itu terlalu tidak mungkin. Hari ini aku dan Anna berencana berkeliling Harrogate lagi, tapi kami baru boleh pergi setelah istirahat siang. Aku tidak diizinkan mengantar troli karena jalanku pincang. Padahal aku ingin sekali bertemu wanita itu juga kakek itu.

Anna mengajakku pergi ke hutan yang ia sebutkan kemarin. Aneh sekali? Dia kan takut ke hutan, apalagi sekarang kan sudah sore. Dia juga bilang akan pergi piknik. Apanya yang piknik? Dia tidak  ingat kemarin melempar salju ke wajahku?

Tapi Anna memang agak aneh akhir-akhir ini, umm aku tidak tau juga sih, aku baru mengenalnya. Mungkin dia memang begitu. Aku menunggu di dapur, sedangkan Anna pergi pulang untuk menyiapkan keranjang piknik—dia diantar Calvin.

Karena bosan aku memutuskan untuk berkeliling hotel. Maksudku memutarinya. Rasanya tidak sedingin saat pertama aku kemari. Apalagi karena kakiku terasa semakin hangat selama aku di sini. Saat sudah sampai di depan hotel, aku melihat mereka, tamu nomor 64 dan 111. Mereka ternyata cukup akrab, mereka menoleh ke arahku, lalu tamu nomor 64 tersenyum dan melambaikan tangan padaku.

Aneh rasanya, tidak banyak orang yang mudah mengingat wajahku. Karena terlalu senang aku menghampiri mereka.

“Anda baik-baik saja, Nyonya?” wanita itu tersenyum, lalu mengagguk.

“Kalian mau piknik ya?” tanya si kakek. Aku memandangnya heran, lalu dia menyahut lagi “Anna bercerita padaku” katanya. Eh?

“Tuan mau ikut?” tanyaku

Si kakek tampak berpikir sebentar lalu menggeleng, aku mengerti, pasti dia masih waras.

“Mungkin Nyonya Neele mau” kata si kakek.

Lupakan, tidak ada yang waras di sini.

Anna datang kearahku, sambil berlari dan membawa keranjang piknik. Dia memanggilku, lalu saat aku menoleh dia terantuk akar pohon dan jatuh ke salju. Kami bertiga tertawa melihatnya.

“Kalau begitu aku permisi, Nyonya Neele, Fatiah” kata si kakek. Dia bahkan tau namaku?

Aku segera menghampiri Anna dan membantunya bangun, sambil melihat kepergian si kakek, dia berkata:

“Kita tidak usah ke Oak Beck ya?” katanya. Memangnya siapa yang mau ke Oak Beck? Apa pula Oak Beck itu?

“Kita piknik di sini saja, tidak usah ke hutan”

Aku mengangguk. Terserah dia saja lah.

Anna menyiapkan pikniknya. Dia menggelar quilt dari kain perca dan mulai menyiapkan makanan. Aku tidak terlalu memperhatikannya, karena pandanganku terfokus pada Calvin yang mengintip dari balik bangunan hotel. Jelas dia sedang memperhatikan kami.

“Anna, kita main perang bola salju yuk?” ajakku. Sebenarnya, aku mau mendekati si pemuda itu.
“Eh?” dia malah bingung.

“Biar aku yang menyiapkan sandwich-nya” kata Nyonya Neele.

Kami berdua berterimakasih dan meninggalkannya.

Sepertinya sasaran Calvin bukan aku dan Anna, karena pandangannya terus menatap Nyonya Neele.
Aku melihatnya sendiri, Calvin seperti tidak sabar melihat Nyonya Neele untuk makan. Bagiku adegan itu seperti di film ketika si penjahat akan meracuni korbannya. Jarakku masih belum terlalu jauh dari Nyonya Neele, jadi dengan kurang ajar aku melempar bola salju ke arah sandwichnya. Semua orang kaget, aku yakin itu. Tapi aku tidak melihat ekspresi Anna ataupun Nyonya Neele, aku melihat Calvin. Dia mencari-cari arah datangnya bola salju itu, dan melihatku dengan bingung. Lalu dia pergi.

“Fatiah!” kata Anna “Apa yang kau lakukan?” nada suaranya marah, tapi wajahnya terlihat sedih. Aku baru tersadar atas apa yang telah aku lakukan.

“Aku ... aku minta maaf” kataku.

“Tidak apa, kita bisa membuatnya lagi” kata Nyonya Neele.

“Tidak usah” Anna mengambil keranjang pikniknya, lalu pergi sambil menangis.

Eh, aku kan sudah minta maaf. Lagipula, aku hanya merusak satu sandwichnya. Kenapa sih dia sensitif sekali? Karena bingung, aku mengambil sandwich yang tergeletak di atas salju. Permukaannya jadi putih. Tapi, apa masuk akal kalau seledrinya juga? Bau almond, sianida? aku tidak percaya pada diriku sendiri, aku pasti terlalu banyak membaca cerita detektif. Tapi kalau benar, ini pasti kebetulan yang—sangat—luar biasa.

***

Malamnya aku mengantar troli lagi. Tapi kali ini aku tidak ke kamar Nyonya Neele, sepertinya dia memutuskan untuk makan malam di bawah, baguslah. Lalu Calvin sepertinya mengatakan pada Sylvia untuk tidak membuatkan makan malam untuknya, aku penasaran, apa saja yang dia lakukan sepanjang malam hingga tidak sempat makan.

Sekali lagi aku ke kamar 64. Si kakek yang belum aku tau namanya itu di sana. Tersenyum ramah kepadaku. Sepertinya tidak ada salahnya kalau aku bertanya namanya, toh dia juga tau namaku.
“Snyder, Jason Snyder. Kau bisa memanggilku kakek Jason kalau mau”

Aku kaget bukan main. Dia Jason Snyder? Penjelajah waktu yang disebutkan Fira? Jangan-jangan pelayan yang diceritakan itu ... aku? Pantas saja dia dengan bodoh percaya, maksudku aku.

Kakek Jason kelihatannya senang melihat kebingunganku. Dia lalu bertanya.

“Namamu aneh, ya? Tidak terdengar seperti orang Inggris”

“Aku memang bukan orang sini”

“Begitu,” katanya, mengangkat sebelah alisnya. “Kalau begitu dari mana?”

Aku menyebutkan nama tempat asalku. Tanpa kuduga Kakek Jason menjawab.

“Aku juga pernah kesana”

“Apa?”

“Tetap saja, namamu cenderung asing”

Mau tak mau akhirnya aku membalas. “Namaku nama dari masa depan” aku tidak terlalu memikirkan apa reaksinya. Atau resikonya, memang ada resikonya? Kalau seandainya dia benar-benar penjelajah waktu, mungkin dia bisa membawaku pulang.

“Jadi, kau penjelajah waktu?” tanyanya

Aku memutuskan untuk tertawa, seolah itu ide konyol. Pembicaraan ini seperti antar orang yang-tahu-sama-tahu saja.

“Permisi, Kakek Jason” kataku sambil meninggalkan kamar itu.

***

Lagi-lagi aku terbangun dengan Anna sudah ada disampingku. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi sepertinya itu karena dia masih marah padaku.

“Ayo kita ke Oak Beck” katanya.

“Apa itu Oak Beck?”

“Hutan itu, dasar konyol” ia lalu pergi. Mengisyaratkan agar aku bersiap.

Aku tidak suka Anna yang seperti itu, mengingatkanku pada seseorang saja. Kenapa dia tidak mencoba membuatku nyaman sebagai penduduk baru di sini, eh?

“Kita libur lagi atau bagaimana?” tanyaku pada Anna.

“Kau, ya. Aku, tidak”

“Kau bolos?”

“Tidak. Aku sudah berhenti jadi pelayan pengganti”

Aku menggumamkan oh sebentar.

“Apa kita bisa naik bus ke Oak Beck?”

“Tidak”

“Lalu?”

Anna tidak menjawab. Gesturnya seperti menyuruhku diam.

Kami baru saja turun dari loteng dan menyusur lorong untuk sampai ke lift. Lalu aku melihat Calvin lagi, sedang mengintip ke lubang pintu kamar 111. Aku ingin menghampirinya, dan memarahinya. Tapi Anna menarik tanganku, menyuruhku untuk buru-buru.

Perasaanku tidak enak. Padahal Anna menarik tangan kiriku, tapi rasanya tangan kananku ada yang menggenggam juga. Lalu, aku merasa khawatir pada Nyonya Neele. Rasanya, aku harus menjaganya. Rasanya? Bagaimana caranya merasakan peristiwa? Aku konyol sekali dan terdengar seperti Fauzi.
Semoga dia baik-baik saja. Semoga Nyonya Neele baik-baik saja.

Di bawah, ternyata Kakek Jason sudah menungguku dengan Anna. Dia berbaik hati memberi kami tumpangan ke Oak Beck. Sepertinya mereka sudah kenal sejak lama. Aneh juga, karena seingatku Jum’at kemarin itu Anna baru pertama kali jadi pelayan pengganti.

Sudahlah.

Kami tiba di Oak Beck hanya sekitar sepuluh menit. Padahal jaraknya cukup jauh. Jalanan memang sepi, sih.

Sesampai disana, aku bingung harus apa. Lalu mendapatkan lemparan bola salju dari Anna. Akhirnya kami bermain perang bola salju. Tidak apalah, mungkin dengan begini dia bisa memaafkanku. Kakek Jason bahkan ikut bermain, aku tidak menyangka dia masih kuat berlari. Melihat keriput di wajahnya, orang seumuran dia sewajarnya tidak bisa banyak bergerak.

Lama-kelamaan, perang antara tiga orang itu jadi hanya antara Anna dan Kakek Jason saja. Yaah, aku sudah terbiasa diabaikan. Malah seringkali aku sendiri yang minta diabaikan, apalagi kalau sudah mendapat tatapan aneh dari orang-orang karena aku berbicara secara menggebu-gebu tentang buku-buku yang kubaca.

Aku menengok ke arah ‘hutan’ yang ada di dekat kami. Satu-satunya hutan yang pernah kulihat adalah yang ada di dekat rumah Dokter Owl, itupun hanya melihatnya saja. Aku tidak pernah mencoba masuk, karena hutan itu terlihat sangat gelap dan lebat. Aneh juga kenapa Dokter Owl mau tinggal di dekat sana.

Tapi hutan ini berbeda, pohon-pohonnya jarang-jarang lagipula tidak ada yang berdaun. Aku rasa aku tidak akan tersesat kalau masuk kesana.

Aku memutuskan untuk berjalan lurus saja, dan menyeret-nyeret kakiku, jadi Anna dan Kakek Jason bisa menemukan jejakku. Atau aku bisa kembali dengan mengikuti jejak itu. Hutan itu sepi sekali, meski terang benderang. Aneh, sama sekali tidak ada hewan yang muncul disana.

“Mungkin mereka bermigrasi” pikirku.

Aku akhirnya sampai di pinggir sebuah lembah. Ada sungai membeku di bawahnya. Ada jembatan juga. Tadinya aku mau menyebrangi jembatan itu, tapi kupikir aku sudah terlalu jauh. Aku diam saja di bibir lembah itu. Memandang ke bawah. Pemandangan yang indah sebenarnya, walau menyeramkan di saat yang sama.

Ada deru nafas di belakangku. Aneh tadi aku tidak merasa ada yang mengikutiku. Saat aku hendak menoleh ... orang itu mendorongku.

Aku jatuh ke lembah itu. Berguling-guling menelusuri salju. Batu dan perdu tidak bisa menahanku untuk berhenti, yang ada malah membuat badanku sakit. Tapi, tadi itu ... Anna kan?

Aku baru berhenti berguling saat sampai di dasar lembah, dengan posisi telungkup. Badanku sakit semua, kesadaranku hampir hilang. Aku tidak bisa bergerak. Apalagi setelah guguran salju menutupi seluruh tubuhku. Aku akan mati.

Aku pernah membacanya, orang yang berkepribadian lemah biasanya akan sangat berbahaya jika marah. Mungkin Anna juga begitu. Dia akhirnya sadar aku mempermainkannya, dan ... tapi itu tidak masuk akal. Hanya karena aku menyakiti hatinya, bukan berarti di boleh mencoba membunuhku. Tidak, membunuh memang tidak boleh.

Nyatanya aku tidak mati, belum. Aku pasti mati suatu saat, tapi bukan karena jatuh terguling dan dikubur oleh salju.

Seseorang menemukanku, tepatnya kakiku. Kakiku yang selama ini merasa hangat, mencairkan timbunan saljunya. Konyol. Benar-benar tidak ada logikanya. Aku kira aku hanya merasa kakiku hangat saja, bukannya kakiku benar-benar hangat. Bagaimana caranya kakiku bisa hangat, sedangkan anggota tubuhku yang lain tidak? Dan bagaimana kakiku bisa tetap hangat di dalam tumpukan salju?

Sudahlah, aku bisa berada di masa lalu saja sudah sangat aneh.

Dan tebak siapa yang menyelamatkanku? Willis Santos, suami Victoria Santos, Orang tua Annabeth Santos.

Jangan menatapku begitu.

***

Aku kembali ke hotel besoknya, setelah dirawat semalaman oleh mereka. Anna bertingkah aneh, mungkin dia pikir aku tidak melihatnya saat dia mendorongku jatuh ke lembah itu. Dia berkata:

“Oh, Fatiah. Aku mencarimu kemana-mana. Tapi aku tidak menemukanmu, jadi aku dan Kakek Jason kembali ke hotel. Aku kira kau di sana. Kau baik-baik saja kan? Kami kira kau mati”

Itu sih maumu.

Menjijikan. Dia kembali bertingkah seperti seorang penggugup yang tidak bersalah. Catat ini, aku akan memperhatikan dia seumur hidupku, aku pernah membacanya, orang yang pernah membunuh bisa membunuh lagi.

Sayangnya aku tidak bisa memperhatikannya lagi. Seperti katanya, dia sudah tidak jadi pelayan pengganti. Tenang saja, Anna, kalau suatu hari ada kasus pembunuhan. Kau orang pertama yang aku curigai.

Agak aneh karena aku sudah sangat merasa sehat hari itu. Aku bahkan merasa bisa kembali bekerja. Sepertinya ibunya Anna itu peracik obat herbal paling manjur di Harrogate, walau aneh juga kenapa bisa ada peracik obat herbal di Inggris?

Meski begitu, Eliza tidak menyuruhku bekerja. Jadi kupikir untuk mengawasi Calvin yang terus mengawasi Nyonya Neele. Ada apa dengan mereka berdua? Lama sekali aku mengawasi dia, dan tidak terjadi apa-apa. Aku bosan, jadi aku pergi ke dapur dan membawa troli, pura-pura mengantar makan siang.

Sambil membawa troli itu masuk aku memandangi Calvin di tempat persembunyiannya di balik pot bunga raksasa dengan tatapan ‘aku bisa melihat apa yang kau lakukan disana’

Tapi kemudian aku juga bingung harus apa di dalam. Nyonya Neele sedang berbaring sambil membaca buku. Dia bingung karena dia tidak memesan makan siang. Tapi dia mengizinkanku tetap tinggal di sana.

Mungkin aku bisa memergoki Calvin kalau dia berbuat macam-macam.

“Anda kenal Calvin, Nyonya? Calvin Frank dari kamar 89”

Nyonya Neele menerawang. Lalu menggeleng.

Lalu aku mengelilingi ruangan itu. Tidak sengaja kulihat ada sebuah kertas disana. Aku tau ini tidak sopan, tapi aku membacanya.

Archibald Christie

Nama itu sama sekali tidak asing bagiku. Pikiranku melayang ke pembicaraan antara aku, Dokter Owl, Fira dan Aldo. Beberapa hari yang lalu. Ya ampun.

Fira, apa dia sengaja membawaku kemari? Jadi wanita ini benar-benar ...

“Nyonya, boleh aku bertanya beberapa hal?”

Nyonya Neele melepaskan pandangan dari buku. Dia tersenyum, baginya pasti aku hanya anak kecil yang banyak ingin tau.

“Hari ini tanggal berapa” aku menanyakan pertanyaan yang paling menakutkan bagiku enam hari ini. Sambil mengingat informasi yang aku ketahui dari berbagai blog misteri.

“Tanggal delapan”

“Secara lengkap”

“Rabu, delapan desember sembilan belas dua puluh enam”

Sejak tanggal 3 Desember, Agatha seolah hilang ditelan bumi hingga akhirnya ia ditemukan pada tanggal 14 Desember

“Nyonya, dimana tepatnya Harrogate di Inggris?”

“Yorkshire utara”

di sebuah hotel di Yorkshire. Tepatnya di Hotel Swan Hydropathic, Harrogate

“Nyonya, siapa nama lengkap anda”

“Teresa Neele”

dengan nama samaran Mrs Teresa Neele. Nama yang memiliki nama belakang sama dengan selingkuhan suaminya, Nancy Neele.

“Nyonya, siapa Archibald Christie bagi anda?”

“Dia saudara saya”

Ketika melihat suaminya, kalimat pertama yang keluar dari mulut Christie adalah 'Fancy, my brother has just arrived'.

“Nyonya,” kataku, aku menarik nafas. Semua pernyataan itu sudah cukup menjadi bukti sebenarnya. “Apa anda Agatha Christie?”

Nyonya Neele tertawa, dia menganggapku bercanda, lalu berkata bahwa banyak orang berkata begitu.

Beberapa tamu mengenalinya sebagai Agatha Christie dari foto yang terpampang di surat kabar. Namun ketika ditanya, ia hanya tertawa.

Ini terlalu ... luar biasa. Aku bingung harus apa. Agatha Christie seharusnya tidak terbongkar identitasnya sampai hari kesebelas. Apa yang harus kulakukan? Aku harusnya melapor, karena seluruh Inggris mencari wanita ini. Tapi, dia harus muncul di hari kesebelas.

Tidak, aku tidak boleh mengubah sejarah. Tapi tidak apa-apa kan aku bersikap sedikit egois?

Aku berlari ke loteng. Mencari novelku. Ah ini dia, aku berusaha cepat kembali, tapi kakiku belum sembuh benar. Siapa peduli, aku harus kembali meski terjatuh dari tangga dan berjalan terseok-seok.

Tapi saat kembali pintu kamar itu terkunci. Dan ada kain basah di bawah pintu. Pelayan bodoh mana yang meninggalkannya di sini?

Untungnya aku membawa kunci cadangan, yaah, kau pikir bagaimana caranya aku masuk sambil membawa troli?

Aku masuk sambil menutup hidungku, bau gas darimana ini? Oh dari pemanasnya. Aku tidak mengerti, sepertinya bocor atau bagaimana. Nyonya Neele terbaring diranjangnya, ia nampak terlelap. Dia—kami—harus keluar dari sini. Seseorang harus memperbaiki pipa itu. Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya, tapi dia tidak bangun. Sebaliknya, pintu kamar itu terbanting, dan aku mendengarnya di kunci.

Oh, bodohnya! Aku meninggalkan kuncinya tergantung diluar. Aku melihat jendela, tapi jendela itu juga tidak mau terbuka. Aku melihat kisi-kisi udara juga ditutup supaya ... kami tidak bisa bernafas? Aku tidak bisa meraihnya, terlalu tinggi.

Aku mencoba membangunkannya, Nyonya Neele, maksudku Nyonya Christie. Dia harus bangun untuk menandatangani bukuku—bodoh, yang penting keluar dulu. Mungkin dia punya kuncinya. Aku merogoh saku-sakunya, tidak ada. Aku memeriksa laci-laci, nihil. Aku membuka lemarinya, kosong. Kopernya, aku bahkan tidak bisa membukanya.

Aku mengetuk-ngetuk pintu. Meminta tolong, berharap ada pelayan yang lewat atau apa saja. Tapi suaraku mulai habis. Aku sudah tidak bisa bernafas lagi.

Oh, kenapa aku harus nyaris mati setiap hari?

Benar, nyaris mati. Nyaris, kalau saja pintu itu tidak didobrak ... oleh Calvin.

***

Aku mulai benci ini. Lagi-lagi harus terbaring dikasurku dengan badan terasa sakit. Mereka tidak membawaku ke rumah sakit. Karena ternyata Kakek Jason adalah dokter. Yaah, kalau kupikir, sepertinya tidak ada yang mau menanggung biaya rumah sakit untukku. Hanya saja kejadian akhir-akhir ini membuatku takut. Aku hampir tertabrak mobil, hampir memakan sandwich beracun—aku yakin itu beracun, malah mungkin Anna marah karena rencananya gagal—, hampir tewas di lembah Oak Beck, hampir mati di kamar gas.

Aku merasa ini bukan kebetulan. Aku tidak mau mati muda. Juga mengenai Nyonya Christie, rasa-rasanya dia tidak meninggal di tahun 1926. Tidak, menurut sejarah dia masih akan hidup sekitar limapuluh tahun lagi.

Yang nyaris mati itu bukan hanya aku, tapi beliau juga. Siapa yang ingin seorang Agatha Christie mati? Aku berpikir, mungkin suaminya, tapi aku tidak melihatnya selama ini, lagipula seingatku dia seharusnya diawasi selama menghilangnya Agatha Christie.

Saingannya? Penulis detektif lain? Sir Arthur Conan Doyle? Aku menghilangkan pikiran itu, beliau bahkan mendatangi peramal untuk menemukan Nyonya Christie.

Siapa yang ingin seorang Agatha Christie tewas? Tidak ada kurasa. Tapi, setelah aku pikir-pikir aku sebenarnya tidak tau apa-apa. Tidak ada yang tau apa yang terjadi selama sebelas hari menghilangnya Agatha Christie, mungkin aku akan tau.

Lalu sebuah pertanyaan muncul di benakku. Siapa yang ingin aku mati? Tidak ada untungnya membunuhku kan? kecuali orang itu punya dendam kesumat terhadapku. Aku teringat Anna. Tapi kami bahkan baru mengenal selama beberapa hari, dia tidak mungkin ... ah, aku lupa dia mendorongku ke lembah di Oak Beck.

Pokoknya aku yakin ada yang ingin membunuhku, dan juga Nyonya Christie. Dan dia ingin kami tewas dalam kurun waktu sebelas hari ini. Sayang sekali, kami selalu lolos dari kematian, aku rasa hanya takdir yang bisa menolong kami.

Aku semakin yakin ketika Sylvia membawakanku makan malam. Sup ubi kayu—sejak kapan ubi kayu dijadikan sup?

Aku tadinya hendak langsung makan saja. Aku bahkan belum tau itu ubi kayu. Tapi saat aku mengendusnya, aku bertanya.

“Apa ini, Sylvia?”

“Itu ubi kayu, seseorang menyarankanku memberikannya padamu” jawabnya.

Aku memandang sup itu, apa di Inggris memang ada ubi kayu? Lagipula ini musim dingin. Dan rasanya ubi kayu ini terlihat familiar. Maksudku, kalau di Inggris memang ada ubi kayu, kurasa seharusnya bentuknya agak berbeda dari yang sering aku lihat di rumahku.

“Itu dari Asia” kata Sylvia. Kalimat selanjutnya membuatku kaget “dan dimasak setengah matang”
“Siapa yang memberitahumu untuk memberikanku ini?”

“Calvin, aku bilang padanya kau dari Asia. Jadi aku ingin memasakkanku makanan daerah asalmu. Dia lalu bilang seseorang pernah mengatakan padanya orang Asia suka ubi kayu mentah, dan itu baik untuk kesehatan. Tapi aku rasa itu aneh jadi kumasak saja setengah matang”

“Oh” kataku memandang sedih sup itu. “Dimana Calvin?”

“Tadi dia berdiri terus di depan kamar 65—kamar baru Nyonya Neele. Tapi kurasa sekarang dia ada di ruang makan. Kau tau kan, dia pemain banjo. Dia bermain bersama bandnya sepanjang malam”

Pemain banjo? Aku baru tau itu. Aku kira alat musik dikamarnya itu gitar, tapi bentuknya memang agak aneh.

“Kau merasa sakit sekali ya? Kau seperti mau menangis” kata Sylvia

“Aku tidak apa-apa”

“Kau belum memakan supmu”

“Aku akan memakannya nanti. Sylvia, maaf, maukah kau pergi? Aku mau sendirian”

Sylvia mengangguk. Lalu meninggalkanku. Aku berdiri, membawa sup itu. membuangnya lewat saluran dekat jendela.


Ubi kayu mentah memang baik sekali bagi kesehatan. Ia bisa menghilangkan semua penyakit, dengan nyawa orangnya sekalian.

Bersambung ...