Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2015

Empat Ujian

Gambar
Aku sama sekali tidak ingat bagaimana akhirnya aku bisa berada di sini.
Baiklah, saat ini aku memang berada di kamarku, tapi rasanya ada yang aneh. Kamarku remang dengan kesan merah menyeramkan, dan dari pintu terdengar suara ketukan kasar yang bertubi-tubi. Aku yakin sekali itu pasti itu ibuku, tapi aku tidak mau membukakan pintu.
“Buka!” Pintu kamarku kini diketuk lebih keras, lebih seperti dipukul.
Aku justru menahan pintu, berusaha agar ibuku yang sepertinya menyeramkan tidak bisa masuk. Tapi, semakin aku berusaha menahannya justru sepertinya pintu itu semakin medesak untuk terbuka.

Gajelas -_-

Gambar
Gadis itu menghempaskan tubuhnya di kasur di kamarnya. Membuka wajahnya yang tadi ia tutup dengan tangan. Menghela nafas panjang, lalu tersenyum lebar. Ia hampir tertawa, lalu tanpa sadar berguling-guling tidak jelas.
Saat ia berhenti, raut wajahnya segera berubah. Murung lalu kesal, hampir saja menjadi benci. Kalau saja ia tidak cepat-cepat sadar dan perasaannya berubah marah pada dirinya sendiri.
Ia mengambil ponselnya, menekan beberapa tombol dan sampai di folder gambar. Ia menatap sebuah foto, lagi-lagi tersenyum sendiri, namun kembali murung begitu berganti ke foto selanjutnya, dan lagi-lagi marah pada dirinya sendiri ketika menatap foto selanjutnya. Ia membanting ponselnya ke samping, sisi lain kasur besarnya.
Aku benar-benar sudah gila pikirnya datar. karena cinta lanjutnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lalu berguling-guling lagi. Ia akhirnya berhenti karena kelelahan, menatap kedua tangannya. Yang kanan berwarna kemerahan sedang tangan kirinya seperti biasa, …

Bunuh Aku Saja!

Gambar
Rana mendekap kakinya lebih erat. Menarik dirinya lebih dalam ke sudut ruangan itu. Membenamkan wajahnya dalam-dalam ke pelukannya sendiri. Suara pintu berderit terdengar mengganggunya, sosok pria memasuki ruangan itu. Menghampiri Rana dan menepuk kepalanya.
“Kau baik sekali, Rana” katanya. “Aku bersyukur sekali tidak mengabulkan keinginanmu waktu itu, siapa sangka kau jadi begitu berguna?”
Rana diam, ia sudah terlalu lelah untuk marah dan menangis.
“Jadi, apa kau sudah memutuskan? Menuruti egomu atau membantuku? Menyakiti diri sendiri atau orang lain? Terpenjara atau bebas?”