15 April 2015

Benar atau Salah?

imgsrc
Saya pernah membahas ini bersama teman-teman beberapa waktu lalu, tapi sepertinya cukup bagus kalau saya sampaikan di sini juga.

Sejak dulu, saya ini Anak Mama (iyalah masa anak kudanil). Hal yang paling terasa adalah saat memilih sekolah, saya selalu menurut apa kata Mama. Sekeras apapun saya mencoba memutuskan sendiri, apa gunanya gunnya kalau tidak direstui orang tua? Saya selalu percaya dengan pepatah khas dari Mother Gothel dari Rapunzel ‘Mother Know Best’.

11 April 2015

Perang Krim Kue

Saya berangkat jam 10, dan dengan drama nyasar dulu sampai ke elos akhirnya tiba di GOR Srikandi sekitar jam setengah 12. Bukannya untuk olahraga atau sebagainya, saya menemani Wanti yang saat itu sedang tes bulutangkis yang tidak ia hadiri minggu lalu. Kami baru selesai jam setengah satu, dan segera pergi ke rumah Nadia.

Hari itu, rencananya X-3 akan mengadakan acara botram di rumah Hilal, sekaligus merayakan hari ulang tahunnya.

Acara ini sebenarnya (menurut berbagai sumber) sudah direncanakan oleh kelompok anak laki-laki sejak lama sekali. Tapi perang dingin antara dua kelompok besar anak perempuan mempersulit segalanya. Maka jadilah, acara botram dengan tema 'No Racist Vrooh'


Meski begitu, rasanya saya tetap malas. Yaah, tapi sepertinya kelompok seperti akan terus ada seumur hidup saya, jadi daripada menghindarinya terus-menerus lebih baik menghadapinya, ya kan?

Sampai di pertigaan Caringin (atau Citapen?) saya mengirim pesan pada Nadia untuk keluar. dan lalu Afivah agar kami dijemput karena saya tidak tau di mana rumah Hilal. Lama tidak dibalas, saya memutuskan menelepon Opie dan barulah kami dipedulikan.

Tak lama, Neo datang. Saya sempat tidak mengenalinya karena ia mengenakan kacamata. Karena baik Nadia maupun Wanti tidak mau dibonceng Neo akhirnya saya memutuskan untuk mewujudkan tema botram kita hari itu *yeah!* . Itu pertama kalinya saya dibonceng Neo, dan semoga juga yang terakhir kalinya.


Sudah banyak yang ada di rumah (?) Hilal saat saya sampai, semua orang menanyakan Wanti, Cicih, Adam F dan yang lainnya, dan saya jawab mereka semua ada di belakang saya. Nadia dan Wanti akhirnya sampai, sambil menunggu yang lainnya kami menghabiskannya dengan mengobrol dan makan buah yang ada di meja.

Setelah semua orang datang, acara makan-makan pun di mulai. Saya makan dengan tenang, dan sepertinya bagian ini tidak perlu dideskripsikan.

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, hari ini juga kami merayakan ulang tahun Hilal. Apa artinya ulang tahun? Kue. Masalahnya, Hilal rupanya di belikan Kue yang penuh dengan Krim. Tebak apa yang terjadi berikutnya? Perang Krim!

Saya hampir selamat karena orang-orang tidak meyerang orang yang berhijab. Sampai Egha menyerang Wanti, and everybody loses their mind. O.O . Untuk menyelamatkan diri, saya kabur ke sisi lain rumah. Meski Bela sempat terkejar dan disiram tepung oleh Dini di dekat situ. dan sepertinya Neza yang sedang membersihkan rambutnya juga tidak berniat menyerang saya. Singkatnya, saya menjadi orang paling bersih saat itu.


Acara dilanjutkan dengan foto-foto, dengan wajah belepotan krim kue. Untungnya, mereka tidak dendam karena saya masih bersih. Mungkin ini faktor beungeut nu geus jore, jadi mereka kasihan. Yang penting saya bersih, dan saya bangga.

Acara foto-foto itu berlangsung lama sekali, saya sampai capek, dan memutuskan tidak mengikuti sesi foto terakhir. Setelah foto-foto, tentu kami harus bersih-bersih. Apalagi banyak ranjau di lantai, krim-krim kue itu berwarna kecoklatan dan bergeletak di lantai, dan lembek, dan baunya memualkan.

Kami seharusnya pulang begitu selesai bersih-bersih. Tapi memutuskan untuk mengobrol sambil menunggu hujan reda. Saya sendiri, memilih memisahkan diri dan mengobrol dan bercanda  bersama Wanti, Nadia, Refa, Jessy, dan Cicih. Adam juga kadang-kadang ikut bergabung, menjadi bahan 'bullying' karena pakaian yang ia kenakan begitu ketat dan menjijikan, dan berkali-kali ia meminta agar saya tidak bilang pada Hania betapa konyolnya perbuatannya saat itu.

Lalu kami pulang.

Hari ini, begitu mengesankan. Walau memang agak kurang karena beberapa orang tidak bisa hadir, seperti Rivan, Nisa, Murni, Muti, Tian, Dini A, Santi, Rifal, dan yang lainnya

Banyak hal mengesankan juga yang lupa saya sampaikan disini, antara lupa dan terlalu tidak penting untuk dituliskan. Tapi, (meski yakin perang dingin belum akan berakhir,) saya senang sekali bisa berkumpul dengan teman sekelas.

8 April 2015

Random (2)

I thought I’m too young.
Jadi, kemarin saya melihat postingan interview BBI. Ternyata yang diwawancara adalah anggota termuda BBI, usianya tiga belas tahun. Saya kepoin kan ya, dan desain blognya keren banget, reviewnya juga bagus (maksudnya cara reviewnya). Terus di kolom komentar postingan interview itu juga ada yang ngaku kalo dia juga tiga belas tahun. Saya kepoin juga, dan masa dia udah jadi host penerbit haru!


Pertama kali buat blog buku, saya umur 14 tahun, itu pun ragu-ragu karena saya pikir saya masih kecil, mau ngapain? Apalagi liat anggota BBI yang lain (khususnya yang aktif) rata-rata usianya jauh di atas saya.

Di satu sisi saya malu, di sisi lain bangga. Tapi kadang usia malah saya jadikan pembenaran atas usaha saya yang belum maksimal. Akhirnya saya terpukul melihat dua blogger tersebut.

Akhirnya, usia memang bukan lah tanda kedewasaan seseorang. Pemikiran, ucapan, dan tindakan itulah yang sebenarnya menunjukkan siapa orang tersebut.

URL Blog

Saya ganti url blog, lagi. Yaah, sepertinya saya memang tidak lebih dari remaja labil saja. sebenarmya ini karena saya menemukan ada situs dengan domain berbayar yang urlnya hampir sama dengan saya. Saya gak enak, takut dikira plagiat atau sebagainya.

Nyontek

Saat saya menuliskan ini, masih seminggu yang lalu UTS dilaksanakan. Tentu saja, hal yang biasa terlihat adalah mencontek.

Saya adalah salah satu pihak yang paling menyesali kegiatan mencontek ini. Apalagi, sepertinya kelas saya menjadi yang paling parah untuk urusan ini. Mungkin hanya sekitar 10% saja di kelas saya yang tidak mencontek dalam ulangan apapun.

Saya tidak akan membahas mengenai pelaku, karena hal itu akan menjadi pembahasan yang panjang. Malah saya akan membahas mengenai yang bukan pelaku. Bukannya sok tau, atau sok pinter atau apalah, saya Cuma mau berbagi apa yang saya yakini.

Mencontek, sama-sama kita tau adalah perbuatan buruk, curang, dan berdosa. Itulah kenapa kita tidak mencontek kan? Kita sama-sama mengerti bahwa mencontek adalah kegiatan orang malas, yang tidak mau belajar, setidaknya itu menurut kita, entah bai ornag-orang yang menganggap itu justru setia kawan atau menjadi keren.

Dan semoga kita juga tau apa itu artinya ujian, ulangan, atau tes kan? Kegiatan yang sepertinya tidak berguna ini adalah untuk mengetahui sampai mana kemampuan kita, pengetahuan kita, serta usaha kita dalam belajar. Kita juga tau hal itu akan percuma saja jika kita mencontek, karena kita justru tidak mencapai apa yang tes itu harapkan, mengetahui kemampuan kita.

Belajar, mungkin hal ini banyak yang lupa atau malah tidak tau. Belajar, bukanlah mengerjakan tugas, memperhatikan guru, membaca buku atau sekedar datang ke sekolah. Belajar adalah kegiatan agar kita mendapat ilmu, hal baru, yang semoga bisa berguna di masa yang akan datang.

Mungkin kita memang sombong, menganggap kita adalah golongan orang-orang yang mengerti denagn sistem pendidikan kita.  Maka dari itu, berhentilah marah pada yang suka mencontek. Hah? Yang benar saja!

Tentu saja, karena berdasarkan hal-hal diatas tentu kita mengerti kalau mencontek jelas perbuatan yang amat merugikan. Bagi diri, teman juga masa depan. Apa pantas mereka yang mencontek dibenci? Tidakkah mereka patut dikasihani? Kasarnya, kebodohan mereka membuat mereka semakin bodoh.

Kalau kalian tidak bisa mengajak mereka untuk menjadi lebih baik. Lebih baik hentikan membenci, mendengki ketika mereka mendapat lebih karena curang. Itu juga dosa. Lagipula, kita tau kalau sebenarnya mereka tidak mendapatkan apa-apa, nol besar saja.

Lebih baik, urusi diri sendiri, pahami hakikat belajar. Semoga saja, kita akan lebih baik dari mereka dalam arti yang sebenar-benarnya.

4 April 2015

Pengumuman - Hiatus

imgsrc
Saya baru saja membaca ulang Anak Panah, lalu berencana untuk mencetak kisah itu. Saat memindahkannya ke Word, saya heran sendiri karena Status Bar menunjukkan jumlah kata dalam kisah ini mendekati sepuluh ribu kata. Padahal Anak Panah hanya terdiri lima bagian saja.

Saat membuat Anak Panah, saya masih menggunakan Memo Blackberry untuk mengetiknya, dengan patokan satu bagian terdiri dari empat puluh kali scroll.