Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Pencuri di Asrama (Part 4)

Ashley kebingungan sekarang. Ia menatap jam itu lekat-lekat, ia bisa saja meminta Maurice mengembalikannya, tapi entah sejak kapan dinding permusuhan itu seolah sudah berdiri kokoh di antara mereka. Sementara itu ia juga tidak ingin menahan jam itu terlalu lama, ia tidak mau disebut pencuri seperti apa yang Norma katakan. Apalagi ia pernah berteman dengan seseorang bernama Maurice.
Lalu tiba-tiba seseorang menggebrak mejanya “Di sini kau rupanya!”. Itu Jenny, Jennifer Waddock. “Di mana Maurice? Apa saja yang ia lakukan?”
“Entahlah” Ashley menjawab malas.
“Apa maksudmu? Bukankah kalian selalu bersama? Seperti terkena lem?”
Ashley mendelikkan matanya.
“Aku serius, bagaimana perkembangan kasusku—kau tau kan?—Kalungku itu bukan kalung murah, tau?”
“Jangan tanya aku”
“Bukankah cincinmu juga hilang? Kau terlihat hampir menangis saat itu, tidakkah kau ingin itu kembali?” kata Jenny “Kudengar ada siswa yang kehilangan barang lagi, seorang senior”
Ashley cepat-cepat mengantungi tangannya, per…

Kamis, 12 Maret 2015

Gambar
Bangun pukul empat pagi sudah menjadi kesepekatan teman-teman saya sejak sehari sebelumnya. Saya mandi paling pertama saat itu, bukan pengalaman yang menyenangkan karena semua orang tau betapa dinginnya Bandung, dan mungkin beberapa orang juga tau jam-jam di mana bumi mengalami suhu terdinginnya.
Kami berlima sudah siap. Siap untuk apa? Itulah pertanyaannya, kami sudah siap tapi tak ada yang harus kami lakukan. Berdiam diri di kamar hanya membuat mengantuk. Kami memutuskan berkeliling kamar teman-teman kami yang lain. Beberapa ada yang sudah sama siapnya ada juga yang masih berjuang ‘mengumpulkan nyawa’.

Rabu, 11 Maret 2015

Gambar
Saya bangun jam empat pagi. Meski dengan perasaan lelah karena semalam tak bisa tidur saking tegangnya. Untungnya, saya sudah menyiapkan tas sehari sebelumnya jadi saat itu sudahtidak repot lagi dan tinggal mandi dan berangkat.
Rencana awalnya, saya akan diantar ayah saya sampai depan gang, tapi akhirnya ayah mengantar sampai masjid amaliah juga. Tidak seperti biasanya, kali ini saya sampai di amaliah lebih awal dari jadwal. Mungkin ini pengaruh karna ayah yang mengantar, bukan mamah. Ayah juga tidak repot menunggu sampai saya pergi berangkat dengan bis. Beliau langsung pergi begitu saya menemukan teman saya.
Meski para siswa dihimbau agar sudah berkumpul pukul setengan enam. Tetap saja, bus dan para guru tidak datang tepat waktu. Tapi, memang jika dibandingkan dengan widyawisata ketika SMP, bus kali ini datang lebih cepat, dan rasa-rasanya segalanya serba praktis dalam perjalanan kali ini.
Saya memang membawa tiga tas, tapi tas pertama sama sekali tidak berat, dan itupun dimasukkan …

Pencuri di Asrama (Part 3)

Ashley masuk ke kelas sosiologinya. Ia terlambat, ketiduran tadi pagi karna semalaman ia begadang. Maurice disana, membaca buku antropologinya dengan serius sementara Sprig di ujung lain membuat pesawat terbang.
“Anda terlambat Ms. Fondella” kata Mr. Donovan
Ashley diam, tentu saja dia terlambat.
“Temui saya di ruang guru jam istirahat nanti”
Ia hanya mengagguk, lantas bergegas menuju kursinya.
“Kau tidak membangunkanku?” tanyanya pada Maurice
“Ya,” jawabnya singkat

Meski Maurice tidak mengatakan apa-apa juga tidak menunjukkan apa-apa juga bersikap seolah semua baik-baik saja dan ia sudah kembali. Ashley tau ada sesuatu, sayangnya ia tak tau apa itu. Ia benci perasaan ini, seperti tidak dianggap dan seluruh hidupnya sama sekali tak berguna. Jujur saja, kadang ia kasihan sekaligus cemburu pada Maurice. Di usianya yang amat muda, Maurice memiliki kepandaian yang amat mengesankan. Ia mewarisi bakat ayahnya yang peka pada lingkungan sosial, dan sedikit dari ibunya yang memiliki rasa ingi…