28 Maret 2015

Pencuri di Asrama (Part 4)

Ashley kebingungan sekarang. Ia menatap jam itu lekat-lekat, ia bisa saja meminta Maurice mengembalikannya, tapi entah sejak kapan dinding permusuhan itu seolah sudah berdiri kokoh di antara mereka. Sementara itu ia juga tidak ingin menahan jam itu terlalu lama, ia tidak mau disebut pencuri seperti apa yang Norma katakan. Apalagi ia pernah berteman dengan seseorang bernama Maurice.

Lalu tiba-tiba seseorang menggebrak mejanya “Di sini kau rupanya!”. Itu Jenny, Jennifer Waddock. “Di mana Maurice? Apa saja yang ia lakukan?”

“Entahlah” Ashley menjawab malas.

“Apa maksudmu? Bukankah kalian selalu bersama? Seperti terkena lem?”

Ashley mendelikkan matanya.

“Aku serius, bagaimana perkembangan kasusku—kau tau kan?—Kalungku itu bukan kalung murah, tau?”

“Jangan tanya aku”

“Bukankah cincinmu juga hilang? Kau terlihat hampir menangis saat itu, tidakkah kau ingin itu kembali?” kata Jenny “Kudengar ada siswa yang kehilangan barang lagi, seorang senior”

Ashley cepat-cepat mengantungi tangannya, perasaannya tidak enak tentang hal ini.

“Yasudahlah, kabari aku jika kau tau perkembangan kasus ini ya” Jenny bersiap pergi

“Sebenarnya, Waddock” kata Ashley “Kemarin Sprig bilang Maurice tidak mau ikut campur lagi”

Jenny menatapnya, wajahnya seperti terkejut. Lalu ia pergi tanpa mengucapkan apapun.


“Maurice!”  Ini kedua kalinya pintu itu dibanting hari ini. “Aku dengar dari Ashley, dia bilang, dia bilang ...”

“Jenny?” kata Maurice “Apa yang kau lakukan disini? Di kamarku?” Maurice heran menatap orang di depannya, Jenny bukanlah salah satu orang yang akrab dengannya, dan untuk apa ia kemari?

“Kau tau, kau tau apa yang kubicarakan. Iya kan? Ayolah kau tau aku  sama sekali tidak percaya dengan Sprig”

“Lalu kenapa kau meminta bantuannya?”

“Ayolah Maurice! Aku tau kau mengerti maksudku”

Maurice mengangkat alis. Lalu berkata “Kau tidak menganggapku penyihir kan? Kita sudah jauh melewati abad pertengahan”

“Maurice!” kata Jenny “Kau tidak bisa melakukan ini padaku!”

“Memangnya apa yang aku lakukan padamu?”

“Itu dia, kau tidak melakukan apapun” Jenny yang sudah terlalu marah lalu pergi meninggalkan kamarnya.

Satu orang lagi yang ditinggal kebingungan saat itu. Saat itulah Ashley datang.

“Ada apa dengannya?” Ashley bertanya pada Maurice.

Maurice hanya mengangkat bahu. Ashley baru sadar dengan apa yang dilakukannya, untungnya Maurice kemudian menghilangkan rasa canggung itu.

“Aku minta maaf atas kelakuanku tadi pagi” katanya

Ashley tersenyum, ia hampir berpikir mereka akan bermusuhan sampai akhir tahun nanti. “Jadi, kau sudah kembali?”

“Ya, begitulah” Maurice balas tersenyum

“dan bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Kau orang ketiga hari ini yang bertanya tentang hal itu” jawab Maurice. “yaah, seperti yang selalu dikatakan detektif-detektif fiksi itu. ‘aku punya cara sendiri’” ia tersenyum.

“Ngomong-ngomong, Maurice, aku menemukan jam kakakmu” ia memberikan jam itu. “aku harap kau tidak menganggapku mencurinya, sungguh, aku tidak ...”

“Tentu saja Ashley, kau memang tidak mencurinya. Akan kukembalikan pada kakakku nanti”

“Kau sedang membuat banyak catatan ya?”

“Ini puzzleku”

Ashley terkejut. Ia tak menyangka kalau Maurice benar-benar menyelesaikan kasus ini.

“Masih berupa kerangka, aku butuh banyak pengakuan kebohongan” katanya lagi

“Aku jadi teringat kata-kata si Stitchwort, ‘kalau semua penjahat berhenti saat kau suruh, dunia pasti lebih tentram’. Bagaimana caranya membuat pembohong mengakui perbuatannya”

“Para pembohong selalu mengakuinya, Ashley, selalu. Entah bagaimana caranya, tidak ada orang yang tahan berlama-lama berbohong. Untuk itu, aku butuh sesuatu, hal yang bisa membuatku bicara dengan mereka” kata Maurice “Ashley, apa kau tau suatu cara, agar kita bisa berkumpul, hanya dengan anak-anak blok D8”

Ashley berpikir, sebenarnya mudah saja, anak-anak Blok D8 selalu bersama karena mereka di jadikan teman satu blok karena jadwal pelajaran mereka sama. Tapi Ashley mengerti maksud Maurice, bukan hanya pada saat jam pelajaran.

“Lady Hayley” katanya. Meski dengan sedikit khawatir, kalau nama itu akan menganggu pikiran Maurice. “Ia selalu membawa beberapa anak ke puri nya”

“Bagus, dan bagaimana kita ikut kesana?”

“Mendaftar, tentu saja. dan berharap kalau kita terpilih”

“Tidak adakah cara yang lebih meyakinkan? Maksudku bagaimana kalau sebagian dari kita terpilih dan yang lain tidak?”

“Tidak, bukan begitu caranya, Maurice” kata Ashley “kita mendaftar dalam grup. Aku hanya berharap mereka tak akan marah seandainya kita terpilih nanti”

“Memang, kenapa?”

“Di sana, kita akan mendapat pendidikan keputrian selama seminggu. Kita akan diperlakukan seperti putri dari abad Victoria”

“Tidak terdengar buruk”

“Tidak Maurice, itu buruk sekali”
Bersambung~
saya labil, emang

25 Maret 2015

Kamis, 12 Maret 2015

Bangun pukul empat pagi sudah menjadi kesepekatan teman-teman saya sejak sehari sebelumnya. Saya mandi paling pertama saat itu, bukan pengalaman yang menyenangkan karena semua orang tau betapa dinginnya Bandung, dan mungkin beberapa orang juga tau jam-jam di mana bumi mengalami suhu terdinginnya.

Kami berlima sudah siap. Siap untuk apa? Itulah pertanyaannya, kami sudah siap tapi tak ada yang harus kami lakukan. Berdiam diri di kamar hanya membuat mengantuk. Kami memutuskan berkeliling kamar teman-teman kami yang lain. Beberapa ada yang sudah sama siapnya ada juga yang masih berjuang ‘mengumpulkan nyawa’.

21 Maret 2015

Rabu, 11 Maret 2015

Saya bangun jam empat pagi. Meski dengan perasaan lelah karena semalam tak bisa tidur saking tegangnya. Untungnya, saya sudah menyiapkan tas sehari sebelumnya jadi saat itu sudahtidak repot lagi dan tinggal mandi dan berangkat.

Rencana awalnya, saya akan diantar ayah saya sampai depan gang, tapi akhirnya ayah mengantar sampai masjid amaliah juga. Tidak seperti biasanya, kali ini saya sampai di amaliah lebih awal dari jadwal. Mungkin ini pengaruh karna ayah yang mengantar, bukan mamah. Ayah juga tidak repot menunggu sampai saya pergi berangkat dengan bis. Beliau langsung pergi begitu saya menemukan teman saya.

Meski para siswa dihimbau agar sudah berkumpul pukul setengan enam. Tetap saja, bus dan para guru tidak datang tepat waktu. Tapi, memang jika dibandingkan dengan widyawisata ketika SMP, bus kali ini datang lebih cepat, dan rasa-rasanya segalanya serba praktis dalam perjalanan kali ini.

Saya memang membawa tiga tas, tapi tas pertama sama sekali tidak berat, dan itupun dimasukkan ke bagasi. Tas kedua berisi baju ganti untuk tengah hari nanti, juga sedikit camilan dan tas ketiga berisi barang-barang elektronik. Yah, saya sebenarnya merasa khawatir dengan ini.

Kami memulai perjalanan pukul delapan-an. Bis 2 berisi 43 siswa, merupakan gabungan dari dua kelas: X3 dan X2. Mayoritas anak X3 duduk di depan dan sisanya di belakang. Sebenarnya Bis 2 harusnya memiliki 44 orang. Hanya saja benar-benar sangat disayangkan ada seorang siswa yang tidak bisa hadir karena sakit.

Perjalanan dimulai. Untuk pertama kalinya, kami lewat puncak, saya sangat bersemangat untuk menunjukkan betapa jauhnya rumah kami (orang puncak) yang disambut dengan ungkapan ‘lebay banget’ sama bu Yayuk. Meski begitu, ternyata tidak banyak yang mendengarkan, akhirnya saya hanya bungkam sepanjang perjalanan.


Disaat yang lain bernyanyi, saya mendengarkan musik, sedang teman sebangku saya tertidur. Hari itu terasa sekali hal yang disebut ‘kesepian dalam ramai’. Ada yang hilang, lenyap. Saya tidak akan sadar kalau saja Adam tidak berulang kali berkata “Yaah, biasanya sama The Charming”. Ya, awalnya saya anggap itu ejekan. Apalagi Hania tidak sebis, sekamar bahkan sekelompok dengan saya. Saya pikir widyawisata kali ini akan jadi sangat membosankan.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Barli. Suatu tempat kesenian, awalnya saya kira kami akan melakukan kunjungan layaknya museum, ternyata tidak. Kegiatan pertama yang kami lakukan di sana adalah bermain angklung. Saya sangat senang dan belaga sok pinter main angklung (jangan ditiru kawan). Kami memainkan empat lagu, Kartini, Terimakasihku, I Have a Dream, dan Cucak Rowo. Agak berbeda karna kali ini kami bermain melodi bukannya akor, tapi ya menyenangkan. Sang MC juga sangat menyenangkan.


Setelah itu kami melukis keramik. Tepatnya mewarnai sih, ada piring gerabah yang sudah ada pola gambarnya dan kami tinggal mewarnainya dengan cat. Lalu piring itu di vernis dan dibungkus dengan plastik dan dibawa pulang, yeee. Sayangnya waktunya teralu sedikit sehingga gambar saya jadi berantakan.


Setelah selesai, kami langsung pergi ke Floating Market. Ya, sebenernya sempat dimarahi karena beberapa dari kami terlalu lama berganti baju. Memang sebagus apa sih floating market itu?

Sayangnya, saat kami sampai di sana hujan mulai turun. Kami jadi tidak bisa naik perahu disekitar danau di sana. Akhirnya, untuk sampai di pasar makanan kami harus memutar. Untungnya, sepanjang perjalanan itu kami melewati tempat-tempat keren untuk berfoto :p. Oh ya saat kami masuk pertama kali, sebenarnya sudah banyak toko-toko souvenir. Hanya saja, selain tidak menarik (bagi saya) harganya juga mahal-mahal.


Dan akhirnya kami sampai di pasar jajanan floating market dan tempat itu memang wah! Jajanan berderet sepanjang danau. Meski begitu, makanan di sana memang mahal. Sebagai informasi, kami diberi bekal koin senilai Rp.30.000, dan makanan di sana rata-rata seharga Rp.20.000 s/d Rp. 30.000.


Untuk mengakali hal ini, saya dan teman-teman saya (saat itu saya bersama Endang, Tian, Murni dan Nisa) memutuskan agar kami membeli jajanan dari makanan yang berbeda-beda. Jadi, kami bisa mencicipi semuanya, huahaha. Saya sendiri membeli Durian bakar (Durian dalam alumunium di bakar. Ditambah ketan dan buah-buahan), Nisa beli Mi kocok baso, Tian beli es pisang ijo original dan durian sedangkan Murni dan Endang beli pempek, juga beberapa teman-baru-saya yang membeli tutut, kentang goreng.


Akhirnya, kami berakhir dengan kekenyangan. Koin kami juga habis, meski begitu masih tersisa beberapa makanan  yang rasanya tidak begitu enak. Sedangkan masih beberapa jam sebelum akhirnya jadwal untuk pergi dari floating market. Hujan mulai turun, dan lengkap sudah. Bukan hanya kenyang dan bosan, kami juga kedinginan.

Definisi foto bagus:
objek fokus, latar blur, meh -_-
Saat itu, kami masih memiliki tiket untuk ditukar dengan minuman. Karna suasanan dingin, saya memutuskan untuk menukarkan tiket-tiket kami dengan susu hangat. Saya yang sudah terbiasa dengan kopi tentu menyeruput susu itu dengan mudah. Lalu kemudian teman saya marah-arah karena susunya terlalu panas.

“Si Fatiah minumnya kayak biasa aja”

-_-


Untungnya, begitu hujan reda, kami langsung dipersilakan untuk naik bis dan menuju hotel.

Hotel bumi makmur indah, sama sekali tidak buruk. Kasurnya empuk, lemarinya besar, ada televisi dan kamar mandinya luas. Rasanya nyaman sekali berlama-lama mengobrol disini. Jika digambarkan, jelas hotel ini mempunyai kondisi yang lebih baik daripada yang saya tempati saat di pangandaran, walau hostel di Jogja masih lebih baik lagi.

Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam dan kami diminta untuk untuk berkumpul di aula untuk pensi. Kelas kami menampilkan dua pertunjukkan, pertama Adit dan Fikri yang bernyanyi lagu yang saya tidak tau. Lalu yang kedua, Rohmat, Adam, Rizky, Adit, Fikri, Lala, Endang, dan Bela yang menyanyikan lagu Ska (saya juga lupa judulnya apa) yang diikuti aksi gajelas dai sekumpulan AGB yang menari-nari didepan panggung.


Ada pula penampilan lainnya dari kelas lain. Yang terbaik sepertinya ketika Salma—atau Salsa?—menyanyikan lagu Ayat-Ayat Cinta.

Saya mulai bosan ketika lagu-lagu yang dibawakan semakin tidak dapat saya pahami lagi, dan mengajak teman-teman saya yang lain untuk keluar dan berjalan-jalan.

Saya kira, jalan-jalan ini akan sama seperti di Pangandaran dimana kami bisa membeli oleh-oleh. Tapi tenyata tidak, wilayah itu sama sekali tidak menarik. Kami hanya berjalan beberapa puluh meter lalu memutuskan kembali dan ngerumpi di kamar.


Selain membicarakan betapa menyenangkannya saat kami di floating market, kami juga membicarakan banyak hal termasuk membicarakan masalah-masalah yang kami dapatkan hari ini. diantaranya:
·         Fish eye Endang hilang
·         Baju yang kami letakkan dalam bagasi bisa basah semua
·         Hair dryer Bela yang kami pinjam hampir rusak
·         Remote tivi hotel hilang (ketemu lagi)
·         Kami salah mengerti petunjuk kiblat
·         Susu yang kami bawa dari ruang makan tumpah dan mengenai tembok

Tak heran widyawista ini kami sebut juga sebagai widyawisata yang paling menyialkan yang pernah kami alami.

Termasuk masalah ketika teman-teman saya takut pada saya ketika saya menggerai rambut saya ._.

18 Maret 2015

Pencuri di Asrama (Part 3)

Ashley masuk ke kelas sosiologinya. Ia terlambat, ketiduran tadi pagi karna semalaman ia begadang. Maurice disana, membaca buku antropologinya dengan serius sementara Sprig di ujung lain membuat pesawat terbang.

“Anda terlambat Ms. Fondella” kata Mr. Donovan

Ashley diam, tentu saja dia terlambat.

“Temui saya di ruang guru jam istirahat nanti”

Ia hanya mengagguk, lantas bergegas menuju kursinya.

“Kau tidak membangunkanku?” tanyanya pada Maurice

“Ya,” jawabnya singkat


Meski Maurice tidak mengatakan apa-apa juga tidak menunjukkan apa-apa juga bersikap seolah semua baik-baik saja dan ia sudah kembali. Ashley tau ada sesuatu, sayangnya ia tak tau apa itu. Ia benci perasaan ini, seperti tidak dianggap dan seluruh hidupnya sama sekali tak berguna. Jujur saja, kadang ia kasihan sekaligus cemburu pada Maurice. Di usianya yang amat muda, Maurice memiliki kepandaian yang amat mengesankan. Ia mewarisi bakat ayahnya yang peka pada lingkungan sosial, dan sedikit dari ibunya yang memiliki rasa ingin thu yang tinggi. Meski Maurice tidak seperiang ibunya.

Sayangnya, sulit bagi Maurice untuk menunjukan bahwa ia bangga akan hal itu. Ashley tidak tahu, Maurice tidak pernah bercerita dan sepertinya kedatangan Lady Hayley membangkitkan lagi perasaan itu lagi pada dirinya.

Ashley menghela nafas, dan saat itulah ia berhenti berjalan dan menabrak seseorang. Tubuh orang itu sangat besar. Seandainya saja tubuh Ashley selemah Emma Armstrong, sudah pasti ia akan pingsan.

“Maafkan aku” kata orang itu “Aku buru-buru, kau bisa bangun sendiri?”

Ashley yang terduduk jatuh dilantai mengangguk pelan, dan orang itu lekas berlalu pergi. Meski sudah mengangguk, Ashley tetap terperangah mengetahui kalau orang itu sama sekali tidak membantunya. Ia melihat jamnya yang lepas tadi, lalu lebih terperangah lagi.

“Waktu istirahat hampir selesai, aku harus cepat!”


Sekali lagi Ashley menghela nafas. Ini pertama kalinya ia dipanggil karena datang terlambat. Benar, ia tak pernah terlambat, sekalipun, sama sekali. Hal ini agak menyakitkan sebenarnya, ketika kesedihan Maurice membuatnya hanya peduli pada dirinya sendiri. Baiklah, kalau itu maumu. Aku juga bukan anak manja. Karena Sprig bukan pilihan yang baik untuk diajak bicara, mungkin sebaiknya ia memilih yang lain. Tapi ia tak mau bertemu dengan si Gebron, ia terlalu, yaah sempurna. Armstrong juga bukan teman yang menyenangkan. Mungkin sebaiknya ia bertemu dengan Jean atau Joan, setidaknya selalu lucu untuk mendengar mereka bicara.

“Aduh,” Ashley tiba-tiba saja terjatuh. Semua orang memperhatikannya dan wajahnya memerah. Apa itu tadi? Ada sesuatu yang menjegal kakinya dan ada suara tawa. Ia bangkit dan memandang sekitarnya, dari balik lorong. “Hei tunggu!” seru Ashley saat melihat seorang siswa berlari sambil menutup mulutnya.

“Kau bodoh Fondella!” katanya tanpa berhenti berlari “Jika semua penjahat berhenti saat kau teriaki ‘tunggu’, tentu dunia akan terlalu tentram”

“Stitchwort?” Ashley mengenali suara itu. Ia lantas berhenti. Tak ada gunanya mengejar seorang Norma Stitchwort.

Jika ada seorang Sprig yang memiliki rasa fanatik akan kebenaran. Maka Norma merasa harus ada penjahat sebagai penyeimbangnya. Lucunya, kedua orang ini mempunyai sifat yang hampir sama, sama-sama menyebalkannya. ‘Kejahatan’ yang dibuat Norma biasanya tidak berat, hanya jahil pada beberapa siswa, dan karena itu Tim Penyidik Asrama biasanya tidak menanggapinya. Kecuali beberapa divisi yang bosan  karena tak ada kasus yang harus ditangani. Selanjutnya, yaah semua sama-sama senang. Norma senang karena mendapat perhatian begitupun tim penyidik yang mendapat kebanggaan karena pekerjaannya. Simbiosis yang aneh.

Ashley mendelikkan matanya, lantas berbalik pergi. Seperti katanya tadi tak ada gunanya mengejar seorang Norma Stitchwor, yang ia inginkan hanya perhatian. Norma tidak lebih dari anak kecil yang selalu menganggap dirinya penting. Tanpa diduga seseorang merangkul pundaknya.

“Ayolah Fondella, jangan marah” kata Norma

“Aku tak marah” jawabnya “Itu kan maumu”

Norma tertawa, mengelak kalau Ashley benar.“Kulihat kau tadi bertemu dengan si Differ”

Ashley mengangkat alisnya, ia bercanda kan? “Tentu saja, sekarang siapa yang bersikap bodoh?”

“Nah, bagaimana menurutmu? Dia tampan? Sayangnya agak tidak bertanggung jawab ya?” Norma mengerlingkan matanya.

Kini Ashley mengerutkan dahi. “Maurice tampan? Tidak bertanggung jawab?”

“Wo wo wo, bukan dia yang ku maksud kawan” kata Norma “Robert. Robert Differ, jangan bilang kau tidak mengenalinya”

Ashley agak kaget “Ya, aku memang baru pertama kali bertemu dengannya”

Norma menggeleng-gelengkan kepalanya “Aku harusnya berguru padamu, Ashley—tak keberatan kupanggil begitu?—kau cerdik sekali”

“Apa maksudmu?”

“Tak perlu mengelak, tapi kau memang tak perlu mengakuinya. Orang-orang seperti kita memang seharusnya tidak mengaku, ya kan?” Norma lantas pergi. Meninggalkan Ashley yang kebingungan.

Dasar aneh.

“Robbie?” gumamnya. Jadi dia yang namanya Robbie? Sepertinya tidak terlihat dari apa yang didengarnya selama ini dari Differ. “Ia mirip ibuku” Ashley mengingat apa yang dikatakan Maurice soal kakaknya. Tapi, ia tidak terlihat mirip seperti seorang ibu. Sebenarnya ini juga salah Ashley yang nyata-nyatanya juga tidak mengenal ibu Maurice.

Ashley mengangkat bahu, Robbie bukan jenis orang penting yang harus ia pikirkan. Mengingat justru selama ini ia membenci sosoknya yang menurut Ashley materialistis dan ia kini mengerti kenapa Sprig bisa takut pada Robbie. Dengan badan sebesar itu, Robbie lebih mirip tukang jagal daripada sekadar pelajar bongsor.

Ashley melihat jamnya. Waktu istirahat hampir habis, jika ia tidak cepat, ia akan terlambat lagi. Tapi bukan itu yang menganggu Ashley, jam yang ia kenakan bukanlah miliknya.

Bersambung~

Cuma mau ngasih tau. Setelah dipikir-pikir entah kenapa saya heran sendiri kenapa progress novel saya gak maju-maju. Padahal konsep dasar dan plot sudah saya buat sejak tahun lalu. Meski saya mencoba untuk mengakalinya dengan memulai dari bab yang paling saya sukai, tetap saja, saya malah bingung sendiri. Karena itu! saya memutuskan untuk menghentikan perbuatan sia-sia yang ujung-ujungnya malah jadi alasan saya untuk semakin tidak produktif. Saya akan berhenti merasa tertekan mengenai iming-iming ‘novel’ pada kisah dengan konsep kebanggaan saya itu. Saya memutuskan untuk memposting kisah itu di blog ini saja sebagai cerita bersambung.Tapi tentu saja kisah saya itu harus mengantri. Setelah Pencuri di Asrama ini tamat, saya akan melanjutkannya dengan Our Problem 3, baru setelah itu dilanjutkan dengan Garde (judulnya mungkin bisa berubah)Karena project novel sudah tidak bisa diandalkan lagi. Maka mulai saat ini saya berjanji pada diri sendiri membuat post di blog ini sekurang-kurangnya dua post perbulan, syukur-syukur kalau bisa dua post perminggu. Doakan saja :D