23 Desember 2015

Kuwalaya (Bagian 10)

“Suara siapa itu?” tanya Felisa lirih.

Indra tidak menjawab, matanya awas melihat sekeliling. Tapi percuma saja, tak ada yang bisa ia lihat selain pohon-pohon. Mereka mungkin memang tidak sendirian di hutan itu, tapi Indra tak bisa melihat makhluk hidup lain selain mereka.

“Apa kau dengar? dia merintih kesakitan!” Ruci tertawa, berusaha menjadikannya terdengar jahat tapi suaranya malah terdengar menyedihkan. Lagipula sama sekali tidak ada suara rintihan Bara yang ia maksud.

Felisa turun dari kuda dan menghampiri pohon beringin itu, ia lalu mendekatkan kepalanya ke sana. “Aku rasa suaranya dari sini” dia meraba-raba bagian bawah pohon itu dan meraakan sesuatu yang lengket menyentuh tangannya. Saat ia mengeluarkan tangannya, dia melihat tangannya dilumuri cairan hitam yang menetes-netes. Felisa bergidik dan mencoba membersihkan tangannya dengan panik.

“Kenapa?” Indra akhirnya buka suara, ia mendekat mengarahkan obor ke Felisa.

“Entahlah, ada yang aneh” Felisa berusaha melihat bawah pohon itu lebih jelas, tapi ia tidak perlu berusaha. Cairan hitam yang sama dengan yang di tangannya merembes keluar. Dan ketika menyentuh kakinya, ia bisa merasakan dirinya mulai tenggelam.

“Benda ini menyedotku” kata Felisa, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

Indra refleks menjatuhkan obornya dan berusaha menarik Felisa. Felisa sendiri mencoba mendorong dirinya tapi dia tidak bisa merasakan dasar kolam itu. Usahanya malah membuatnya semakin tenggelam.

Indra berbalik berusaha mengambil tali dari kantung yang ada di pelana kuda. Tapi kuda itu malah meringkik marah. Seluruh binatang berpihak pada Pargata, apalagi binatang keturunan Pargata.

“Uh, Indra ...” seru Felisa ragu-ragu.

Tubuh Felisa sudah tinggal sepinggang, dan raut wajah Indra mulai panik. Ia berusaha sekuat tenaga menarik Felisa, tapi usahanya tidak membuahkan hasil samasekali.

Tidak apa-apa” gumam Felisa “Lepaskan aku. Aku bisa merasakan kakiku kering. Aku rasa ini portal yang sama ketika kami berakhir di laut”

“Maksudmu Marga?” Indra menatap pasrah ketika yang bisa ia lihat hanya kepala Felisa.

“Aku akan menemukan Ba—” suaranya menghilang dengan letupan gelembung kecil.

“Hei! Kau baik?” Indra berteriak.

Hening beberapa saat, hingga akhirnya ia mendengar jawaban dari Felisa. “Kemarilah! Tempat ini luar biasa!”

Indra mundur beberapa langkah, ia menoleh ke arah kuda-kuda dan nyaris tersentak ketika melihat mereka tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya yang besar. Hewan-hewan sedang menggila, katanya dalam hati. Lalu berlari untuk melompat kedalam kolam hitam itu. Berbeda dengan Felisa yang jatuh perlahan-lahan, dia masuk dengan cepat. Aku bisa mendengar bunyi gedebuk dari kolam itu.

***

Sulit mencari rerimbunan pohon sebagai tempat persembunyian di sini. Jadi aku memutuskan untuk berpura-pura sebagai merpati biasa di antara kawanan merpati lain yang sedang bertengger di pinggir reruntuhan bangunan.

Tempat itu bisa dikatakan amat luar biasa dalam arti mengerikan.

Reruntuhan bangunan apapun yang sedang aku injak sekarang, pasti dulunya adalah bangunan yang besar dan kuat. Sebuah peradaban maju megalitik dengan teknologi yang tak dapat dipercaya oleh manusia Lotama. Tapi melihat keadaannya sekarang, aku tak bisa membayangkan kekuatan apa yang menghancurkan tempat ini.

“Tempat apa ini?” tanya Felisa seraya membersihkan badannya dari debu.

“Terlihat seperti bekas medan perang” jawab Indra, “hei, bisa bantu aku?”

Felisa menghampirinya dan membantunya berdiri. “Aku bisa melihatnya” kata Felisa “tapi itu tidak menjelaskan apapun. Dan di mana orang menyebalkan yang menahan Bara?”

“Aku sama tidak taunya denganmu, nona” kata Indra “daripada itu, sebaiknya kita cari tempat istirahat untuk malam ini”

“Benar” gumam Felisa.

Mereka berjalan cukup jauh untuk sampai akhirnya menemukan bangunan yang lebih layak di antara yang lainnya. Bangunan itu berbentuk lingkaran dan atapnya terdiri dari daun-daun yang disusun melingkar. Dindingnya dari batu yang di pahat dan jendelanya adalah lubang kecil di dindingnya itu. Bangunan itu hanya terdiri dari satu ruangan dan sama sekali tak ada penerangan. Atapnya memang berlubang di beberapa tempat dan banyak sampah kayu di dalamnya. Meski begitu, dindingnya masih kokoh dan itu lebih dari cukup untuk melindungi mereka dari udara dingin.

“Hei tangkap ini!” Felisa melempar sebuah apel pada Indra.

Mereka baru saja memasuki bangunan itu. Dan saat itu, ketika suasana menjadi lebih hening dan bahkan deru nafas mereka bergema. Felisa mendengar suara perut Indra yang keroncongan. Bagaimanapun, sejak siang mereka di Hutan Utara, dan belum memakan apa pun, kecuali Felisa dan apel-apelnya.

Indra menata apel itu sebentar, lalu melemparnya kembali pada Felisa “simpan untuk temanmu”.

Indra memimpin dalam menggeledah rumah itu, dia menyingkirkan sampah-sampah kayu dengan kakinya. Sayang sekali kayu-kayu itu basah sehingga dia tidak bisa membuat obor darinya. Dan mereka terpaksa mengandalkan cahaya bulan yang menysup lewat celah-celah atap sebagai penerangan.

“Yang jelas ini bukan istana, nona” kata Indra “Lihat ini, kursi panjang dari batu, dan aku menemukan kain tebal ini. Kau bisa tidur di sini kalau mau”

“Aku bukan perengek, santai saja” kata Felisa “bagaimana denganmu?”

“Aku akan berjaga di luar” kata Indra

Aku tau apa yang sedang di lakukan Indra. Dasar tukang pamer. Dia sengaja menunjukan superioritasnya sebagai panglima perang Apsara di depan Felisa. Tapi tentu saja dia tidak terpengaruh, ia cukup pandai untuk mengerti bahwa dia terjebak dalam situasi ini dan pantas menerima setiap perhatian dari Apsara.

Tapi setidaknya Indra tidak lalu tidur di luar. Dia benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Ia duduk di luar dan memandangi langit berbintang, memikirkan apa yang akan mereka lakukan besok.

Sementara itu aku menjauh dari tempat itu dan mencoba berkeliling. Aku dikejutkan oleh hembusan angin yang tiba-tiba melewati tengukku. Dan saat aku menoleh, aku menemukan dua pasang mata dari balik kegelapan sedang menatapku.

‘Ruci?’ tanyaku

Sosok itu tidak bergerak, tapi angin kencang menerjangku.

‘Tidak lucu, Ruci!’ aku memperkuat cengkeramanku pada bongkahan kayu tempatku berpijak.

‘Aku memang bukan pelawak, Mar’ Ia tertawa ‘Apa yang kau lakukan di sini?’

Kau di mana? Ini tidak adil, aku tak bisa melihatmu’

‘Kau bersama mereka, bukan? Berarti saat ini kau musuhku, aku takkan memberitahumu’

‘Aku membuka pikiranku padamu, Ruci’ kataku malas, aku tidak mengerti ketika manusia Lotama berkata kalau kancil itu cerdik.

‘Oh, benar. Jadi apa tujuanmu di sini? Di wilayahku?’

‘Apa itu masalah bagimu?’

‘Sebenarnya tidak jika aku tidak sedang bertugas. Kita tidak akan mendebat hal ini sampai pagi, kan? Jawab saja’ nada bicara suara Ruci mulai meninggi, aku mengerti kalau dia mulai tidak sabar. Aku sudah mau menjawab ketika Ruci lagi-lagi bertanya dalam benaknya ‘Apa ini ada hubungannya dengan kata-kata anak itu yang bilang bahwa kau ini merpati terkutuk?

‘Jadi kau benar-benar menahan Bara?’

‘Begitulah. Tapi dia aneh kan, dia terus-menerus berkata ingin ke Lotama, sama sekali tidak berhasrat pada Kuwalaya’

Aku tidak menjawabnya.

‘Mar, apa kau melakukan kesalahan kali ini? Mereka tidak mungkin bisa mendapatkan Kuwalaya’

‘Mereka bisa, aku tau mereka bisa. Mereka harus bisa’

‘Kau salah pilih Yodha, Mar. Kau—’

‘Aku tidak—’

‘Dengarkan aku dulu!’ Ruci keluar dari persembunyiannya. Empat tahun tidak banyak merubahnya, dia masih sama seperti dulu. Kancil bertubuh kecil dengan garis putih di kepalanya. ‘Mereka tak akan bertahan. Kau mungkin tak merasakannya, tapi Rodra mulai bangkit, Buana Larang mulai terbuka. Hematala akan jadi yang pertama hancur, bahkan sebelum mereka mencapai Kuwalaya’


Aku meringis, menutup benakku dari Ruci dan mengumpat dalam hati. Kau tak tau apa-apa, Ruci.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^