26 Desember 2015

Eureka!

imgsrc
Besok adalah hari yang spesial. Walau Mar mungkin tidak menganggapnya begitu. Ah, tapi siapalah saya ini selain manusia Lotama yang suka membanggakan hal-hal kecil. Termasuk membanggakan diri mengenai hal-hal yang saya sadari di usia akhir remaja ini.

Usia 17-18 tahun, selalu digadang-gadang sebagai masa yang penting. Masa dimana kita sebentar lagi dianggap dewasa, ketika kita harus menentukan hidup. Sayangnya, dan anehnya, saya merasa saya malah semakin labil di usia ini. Saya tidak menyesal mengatakan bahwa merasa kalau saya di SMP mungkin lebih dewasa daripada saya di SMA.

Tapi itu mungkin wajar saja, saya di SMA jelas mengalami masalah yang lebih berat daripada saya di SMP, dan saya yakin kalian juga begitu. Permasalahan ini menunjukkan sedewasa apa kita bersikap, dan dengan keadaannya sekarang saya berkesimpulan saya sama sekali belum dewasa dan hanya terjebak pada zona nyaman ketika merasa dewasa.

“If at first we don't succeed, we'll try two more times. So our failure's a statistically significant try”

 
Itu adalah salah satu baris dalam lagu The Science Love Song yang dipopulerkan A.S.A.P Science. Meski tidak disinggung secara langsung dalam pelajaran IPA di sekolah, saya akhirnya memahami kalau untuk menarik kesimpulan dalam suatu eksperimen diperlukan tiga kali eksperimen, dan itulah yang saya ‘lakukan’. Dan hasilnya, dua dari tiga lingkungan yang saya hadapi bukan lingkungan yang nyaman. Dan saya yakin ini adalah cerminan dari masyarakat yang sesungguhnya.

Kita, tidak bisa memilih lingkungan yang membuat kita nyaman, atau mengubah lingkungan kita. Kita hanya bisa menyesuaikan diri dan berhenti merasa muak pada dunia. Lakukan yang benar, jauhi yang buruk, tak peduli apa kata orang.

Sayangnya tidak semudah itu. Egoisme tumbuh seiring usia. Saya sadar saya benar-benar naif dulu menganggap bisa menghadapi dunia sendirian. Tapi rupanya tidak, saya tidak sanggup. Lemah, pengecut, omdo. Itu sudah saya ucapkan berkali-kali pada diri sendiri dan karena tidak bisa membenci diri sendiri dengan bodoh saya membenci dunia.

Tapi, masih banyak orang baik disekitar saya. Saya selalu heran kenapa mereka bisa sesabar itu. Dengan perasaan sombong bertanya dalam hati, apa mereka tidak muak dengan orang-orang? Tidakkah standar baik-buruk kita sama? Bagaimana kalian selalu bisa tersenyum?

Akhir-akhir ini saya menemukan jawabannya. Mereka jauh lebih kuat, mereka jauh lebih paham mengenai prinsip yang saya agungkan itu. Hidup memang sulit, tapi mereka bisa mengarunginya.

Hanya pembohong yang bisa mengenali dan mencibir pembohong. Hanya orang-orang menjijikan yang jijik pada orang-orang menjijikan. Hanya orang-orang sombong yang kesal pada orang-orang sombong. Hanya orang-orang egois yang menganggap orang lain egois.

Selama kita benci seseorang karena perbuatan buruknya, dan bukannya mendoakan mereka terlepas dari perbuatan buruknya, selama itu pula kita—saya—tidak akan menjadi dewasa, dan siap menghadapi dunia. Apalagi, sehebat tokoh-tokoh fiksi menghadapi dunia.

Di buku-buku, para remaja mengalami konflik yang hebat dan menegangkan, membuat pembaca terkagum-kagum dan jatuh cinta pada mereka. Tentu saya tidak bilang cerita-cerita fiksi itu berlebihan. Karena nyatanya beberapa orang yang lebih muda bisa mengalami kejadian yang lebih naas dari fiksi, lebih naas karena yang mereka alami itu nyata.

Karenanya pula terkadang saya tidak tau harus bersyukur atau mengeluh dengan kehidupan remaja saya yang biasa-biasa saja. Bersyukur mungkin akan membuat saya terdengar pengecut, tapi mengeluh jelas bukan hal baik. Namun, mengeluh tentang kenyamanan tidakkah membuat kita jadi lebih baik daripada ‘owoh kahayang’? Jadi apa salahnya?

Keluhan ini semakin menjadi ketika melihat berbagai jenis orang di usia saya mengalami hal-hal hebat, melakukan hal-hal hebat, dan membuat saya bertanya-tanya kenapa saya tidak? Bodohnya, saya malah membandingkan hal itu dengan lingkungan saya yang juga sama-sama biasa-biasa saja. Ini tidak benar, tentu saja, tidak benar berleha-leha pada pencapaian prestasi. Ingin hal besar, tapi tidak ingin usaha besar, bodoh. Saya masih terus berusaha untuk memperbaiki hal ini.

Dan, maukah kau ikut aku? dengan tidak terfokus hanya pada mengejar nilai untuk mendapat pekerjaan dengan penghasilan layak dan hanya terselingi oleh air mata patah hati karna cinta monyet? Dunia menawarkan banyak hal, dan kenapa kau hanya membuang-buang waktumu?

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^