Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

Halo lagi, Yogya

Gambar
Minggu, 20 Desember 2015
Bangun pukul tiga pagi, apa salahnya? Apalagi kalau sudah tidak bisa tidur nyenyak sejak jam 11? Minggu, 20 Desember 2015 menjadi tanggal keberangkatan widyawisata tahun ini, saya tidak bisa tidur sejak malam sebelumnya saking tegangnya. Tapi itu tidak penting, karena toh saya bisa sampai di halaman masjid Amaliah tepat waktu.
Ketika tiba di sana, bis sudah siap menunggu dan itu membuat saya agak parno sekaligus bangga menyadari kalau bisnya tidak terlambat seperti biasanya. Hanya saja, seperti biasa, meski berangkat tepat setelah solat subuh dari rumah saya pasti bukan yang pertama kali datang. Dan hal ini selalu membuat saya kesulitan mendapatkan tempat duduk. Harapan saya tertumpu pada Mutiara (Mbip) yang sejak berhari-hari lalu berkata kalau kami akan duduk bersama, dan dia rumahnya juga dekat dengan Amaliah. Tapi rupanya saya hanya lupa orang seperti apa itu Mbip.
Untungnya, Iis dan Muthia (Muthew) berbaik hati memberikan saya tempat duduk. Mereka memang…

Eureka!

Gambar
Besok adalah hari yang spesial. Walau Mar mungkin tidak menganggapnya begitu. Ah, tapi siapalah saya ini selain manusia Lotama yang suka membanggakan hal-hal kecil. Termasuk membanggakan diri mengenai hal-hal yang saya sadari di usia akhir remaja ini.
Usia 17-18 tahun, selalu digadang-gadang sebagai masa yang penting. Masa dimana kita sebentar lagi dianggap dewasa, ketika kita harus menentukan hidup. Sayangnya, dan anehnya, saya merasa saya malah semakin labil di usia ini. Saya tidak menyesal mengatakan bahwa merasa kalau saya di SMP mungkin lebih dewasa daripada saya di SMA.
Tapi itu mungkin wajar saja, saya di SMA jelas mengalami masalah yang lebih berat daripada saya di SMP, dan saya yakin kalian juga begitu. Permasalahan ini menunjukkan sedewasa apa kita bersikap, dan dengan keadaannya sekarang saya berkesimpulan saya sama sekali belum dewasa dan hanya terjebak pada zona nyaman ketika merasa dewasa.
“If at first we don't succeed, we'll try two more times. So our failure…

Kuwalaya (Bagian 10)

Gambar
“Suara siapa itu?” tanya Felisa lirih.
Indra tidak menjawab, matanya awas melihat sekeliling. Tapi percuma saja, tak ada yang bisa ia lihat selain pohon-pohon. Mereka mungkin memang tidak sendirian di hutan itu, tapi Indra tak bisa melihat makhluk hidup lain selain mereka.
“Apa kau dengar? dia merintih kesakitan!” Ruci tertawa, berusaha menjadikannya terdengar jahat tapi suaranya malah terdengar menyedihkan. Lagipula sama sekali tidak ada suara rintihan Bara yang ia maksud.
Felisa turun dari kuda dan menghampiri pohon beringin itu, ia lalu mendekatkan kepalanya ke sana. “Aku rasa suaranya dari sini” dia meraba-raba bagian bawah pohon itu dan meraakan sesuatu yang lengket menyentuh tangannya. Saat ia mengeluarkan tangannya, dia melihat tangannya dilumuri cairan hitam yang menetes-netes. Felisa bergidik dan mencoba membersihkan tangannya dengan panik.
“Kenapa?” Indra akhirnya buka suara, ia mendekat mengarahkan obor ke Felisa.
“Entahlah, ada yang aneh” Felisa berusaha melihat bawah poh…

Yang menyebalkan dari ujian.

Gambar
(Ini postingan marah-marah *duniaharustau)
Saat saya menuliskan ini, ujian baru saja dimulai. Meski begitu auranya sudah terasa. Kondisi tubuh yang tidak fit dan mendadak saya kesal pada semua orang. Bagi saya, hal yang paling membuat frustasi saat ujian bukanlah ujian itu sendiri. Perasaan stress karena ujian sih cukup mudah untuk di hilangkan, toh perasaan itu dipicu dari diri sendiri dan bisa hilang atas kehendak diri sendiri pula.
Tapi ada pengaruh dari luar yang membuat saya benci pada ujian.
Apalagi yang lebih menyakitkan dari pada melihat orang yang kalian kira teman melakukan sesuatu yang selalu kalian kutuk? Oke, mungkin hal itu tergantung pada masing-masing orang dan merupakan ‘hak’ setiap orang. Tapi hak mana yang membolehkan seseorang melanggar peraturan?
Mungkin memang benar masalahnya ada pada diri saya sendiri yang terlalu kaku, seorang teman berkata saya terlalu kolot, yang lain bilang saya terlalu serius, tapi apa itu salah? Apalagi menyangkut hal ini. Bukankah merek…