25 November 2015

SMAN1C ikut Angklung's Day 2015

imgsrc

Persiapan

Angklung’s Day 2015 menjadi acara yang memiliki arti tersendiri bagi Ekstrakulikuler Musik Tradisional SMA Negeri 01 Ciawi. Apalagi ketika Angklung’s Day tahun kemarin kami tidak ikut. Kak Uji, selaku Ketua Materi Ekskul Mustra menjamin kalau kami harus mengikuti AD’15, dan supaya diizinkan kami harus menyajikan penampilan terbaik setiap saat.

Katanya, penampilan kami hebat ketika di Jungleland, dan cukup bagus ketika di Pensi. Tapi mengenai bagaimana penampilan di AD’15 saya tak pernah yakin. Mungkin ini terdengar pesimis atau bagaimana, tapi tentu ada alasan kenapa saya berpikir begitu kan?

Ada kebiasaan aneh mengenai angkatan Mustra tahun ini. Kami tidak pernah latihan kecuali akan ada acara. Bahkan meski sudah berkali-kali Kak Asha (Ketua Umum) mengatakan bahwa kami akan latihan degung di sela-sela latihan angklung ketika tidak ada acara. Nyatanya, bulan September kami lalui tanpa latihan sama sekali. Apalagi ketika akhirnya di bulan Oktober kami mulai latihan, latihan untuk AD’15 harus ditunda untuk latihan untuk Pensi (20/10/15).

Kami baru mulai latihan sejak acara pensi selesai, itupun masih bolong-bolong. Apalagi ketika diumumkan bahwa AD’15 diundur dari tanggal 15 jadi tanggal 21. Keadaan tidak jadi lebih baik karena waktu latihan yang bisa lebih lama. Sepertinya kami baru mulai serius latihan sejak dua minggu menjelang AD’15. Dan minggu pertama itu juga tidak full, (tanggal 9 kami latihan u/ Hari Pahlawan besoknya. Iya, sehari doang), kemudian di seling Latihan Gabungan dengan Saung Wira di tanggal 15 (setelah latihan sendiri sebelumnya). Dan Minggu terakhir kami digeder habis-habisan, latihan bisa sampai magrib. Apalagi ada masalah kostum yang belum siap dsb.

Tapi kami juga bersyukur karena setidaknya kami didukung oleh sekolah. Diizinkan untuk mengikuti AD’15. Lampu ruang multi yang kami gunakan akhirnya dibetulkan. Biaya bis dan makan ditanggung sekolah. Untuk Ekskul yang gak terlalu menonjol, ini sudah luar biasa.

Teknisnya, sejak hari Jum’at, 20 November 2015 saya tidak pulang ke rumah. Ketika bel pulang berbunyi, saya, Indri, Nadia, dan Yulia, bergegas ke ruang multi untuk mengambil surat izin. Dan setelahnya pergi ke rumah Indri untuk mandi dan menaruh buku pelajaran hari itu. Ibunya Indri sangat ramah, mungkin terlampau ramah. Kami disuguhi roti untuk camilan, ibu Indri juga memaksa kami memasang salon pas di pusar supaya kami tetap hangat. Sebagai orang tua dan anak, perlu saya katakan hubungan ibu Indri dengan Indri cukup unik. Mungkin ini karena beliau adalah guru.

Kami dihimbau untuk kembali ke sekolah setelah Isya. Karena itu sambil menunggu, Indri dan Nadia memutuskan untuk mampir ke KEMARI Nesaci (maaf, ndri, nad, saya bukan penjaga rahasia yang baik). Dan, karena saya tidak bisa menunggu di rumah Indri, saya dan Yulia memutuskan pergi ke sekolah dan mencari makan. Rupanya, Kak Shofi juga tidak pulang, tapi karena tidak ada teman dia menunggu ia menunggu di counter di depan sekolah. Kami menyapanya dan kami bertiga masuk ke sekolah. Setelah sholat  Maghrib, ada kakak kelas yang lain yang datang, saya mengenal Kak Eka (Anggota OSIS yang mulai membantu Mustra sejak latihan u/ hari Pahlawan) dan Kak Ilham. Karena merasa Kak Shofi sudah punya teman, saya dan Yulia pergi untuk mencari makan.

Di depan kami bertemu Mutiara, yang baru datang dari rumahnya. Menunggu di depan pintu masuk ruang guru, minta di antar ke Mushola (tempat kumpulnya). Tapi karena sudah kelaparan, saya menyuruh dia untuk pergi bersama adik kelas yang baru saja datang.

“Belum ada yang datang bukan, Kak Muti?” kata adik kelas itu.

“Loh, terus kita dianggap apa?” kata Yulia.

Tadinya kami—saya dan Yulia—mau makan nasi goreng yang kata Yulia ada di dekat potokopian. Tapi karena tutup kami akhirnya ke Cafekavia, tempat yang sejak tadi dihindari oleh Yulia. Meski tidak penuh, Cafekavia sedang sangat sibuk. Ada keluarga yang mem-booking sekitar tiga meja untuk acara makan-makan besar, dan sepertinya mereka tidak berhenti-berhenti memesan. Membuat pihak Cafekavia kebingungan, Hot Chocolate yang dipesan Yulia berubah wujud jadi Coklat dingin lengkap dengan es krim stroberi diatasnya. Begitu juga dengan Nasi Goreng Bakso yang kami pesan berubah jadi Nasi Goreng Bakso+Sosis.

Ketika dalam perjalanan kembali ke sekolah, teringat bahwa kami harus membeli jarum pentul untuk memakai kerudung yang mungkin ribet. Kami bertemu Indri dan Nadia di depan potokopian  dalam rangka urusan yang sama. Di mushola, sudah banyak anggota Mustra yang datang, dan kami di minta bergegas ke ruang multi untuk latihan.

Kami berlatih hampir kesemua lagu, kecuali lagi-lagi lagu Halo-Halo Bandung yang notabene melodi semua. FYI, untuk AD’15 ini kami berlatih untuk 9 lagu. Enam diantaranya dimainkan dalam main bersama (Halo-Halo Bandung, Alusiau, Peuyeum Bandung, Don Dan Dape, Yamko Rambe Yamko, dan Jadilah Legenda) dan tiga lagi kami mainkan dalam penampilan sendiri (Bang-Bang, Marvin Gaye, dan Sambalado)

Sekitar jam 21.30 kami selesai latihan, dan selesai pula menyiapkan angklung yang harus dibawa untuk besoknya. Ketika sampai di Mushola, hal yang pertama yang saya sadari adalah ... Indri, Nadia, Yulia, dan Muti tidak ada di sana. Tapi untungnya saya melihat Sayyidah dan Mita. Saya cepat bergabung dengan mereka, walau alih-alih mengobrol, saya malah melanjutkan membaca Novel The ABC Murders karangan Agatha Christie. Baru, ketika akhirnya Nadia dan Indri kembali, saya memisahkan diri dari Mita dan kawan-kawannya yang lain yang baru datang. Meski tetap melanjutkan membaca.

Lampu dimatikan sekitar jam sepuluh, saya sulit tidur karena Mushola laki-laki lampunya masih menyala. Hingga akhirnya ketika alarm menyala jam satu malam, saya nyaris tersenyum melihat lampu Mushola laki-laki sudah dimatikan. Tapi sekarang sudah jam satu, dan saya harus bangun. Jadi saya duduk dan mencoba membiasakan mata dengan keadaan sekitar. Indri juga sudah bangun, dan saya melihat Muti sedang menggosok kaki Kak Eka dengan minyak kayu putih, ia demam, dan akhirnya tidak bisa ikut AD’15.

Nadia dan Yulia lalu bangun, kami lalu pergi ke kamar mandi bawah untuk cuci muka dan gosok gigi, sampai akhirnya kami sadar, tak satupun dari kami membawa pasta gigi. Konon, kami akan berangkat jam setengan satu pagi, walau nyatanya, Bis baru datang jam dua.

Semua orang sudah hampir masuk bis ketika Yulia sadar kami belum membeli Minute Maid, supaya tidak mual diperjalanan. Sambil terbirit-birit saya mengantar dia untuk membelinya, dan saya juga beli satu untuk diri sendiri. Bis akhirnya berangkat jam setengah tiga. Semua orang melanjutkan tidurnya.

Ketika di bangunkan jam empat pagi, kami berhenti di pom bensin (saya tidak yakin dimana letaknya, mungkin Nagrek, entahlah). Kami mengantri untuk mandi. Lalu berangkat lagi sekitar jam enam. Dengan riweuh mencoba memakai kerudung berbahan licin itu.

 Angklung's Day

Keramaian AD’15 sudah terlihat ketika kami turun dari bis di PUSDAI sekitar jam setengah delapan (mungkin, entahlah). Orang-orang memakai berbagai macam seragam dan tentunya membawa angklung. Saya juga melihat sisingaan, dan entah kenapa merasa senang dengan itu. Kami lalu digiring ke bagian pawai. Menunggu beberapa saat sambil foto-foto. Ketika pawai mulai berjalan, Kak Uji dengan semangat mengajak kami bernyanyi Halo-Halo Bandung. Rombongan di depan kami tidak bernyanyi dan berkali-kali saya melihat orang yang berdiri di depan Kak Uji menengok ke belakangnya dan memandang Kak Uji dengan pandangan ni orang kenapa sih? Wkwkwk.

     


Kami akhirnya sampai di Gedung Sate. Ramainya luar biasa, wajar saja sih, dari berita yang saya baca acara AD’15 ini diikuti lebih dari 5000 pemain angklung. Saya bahkan pesimis kita bisa dapet tempat. Kami menunggu lama sekali di barisan itu, berjalan tersendat-sendat dan diminta minggir sebentar ketika sebuah truk rombongan musik tradisional hendak lewat. Saya juga melihat sebuah rombongan yang menggunakan sayap besar dari anyaman bambu dan mereka harus berjalan menyamping supaya bisa lewat.

Tapi rupanya kami mendapat tempat, di ujung sebelah kiri dekat Masjid Al Mutaqqin. Jangankan Konduktor Utama, Konduktor Bayangan juga tampak kecil dari sini. Lalu tiba-tiba saja acaranya sudah dimulai. Kalau tidak salah lagu Yamke Rambe Yamko dan Jadilah Legenda yang lebih dulu, baru kemudian sambutan-sambutan.


Sambil ‘mendengarkan’ sambutan, kami memakan snack yang tadinya mau dibagikan saat sebelum pawai berjalan. Saya tidak ingat bagaimana urutannya, tapi kemudian kami berdiri lalu duduk berdiri lagi. Kami melihat rombongan Saung Wira dan ada adik kelas yang melambai-lambai menyapa temannya. Kami menyanyikan lagu Indonesia Raya juga lagu-lagu bermain bersama yang lain.

Bukan permainan yang bagus, pemandangan saya pada Konduktor Utama (Pak Aan) terhalang oleh orang-orang yang bergoyang-goyang. Sedangkan Konduktor Bayangannya, beliau sepertinya berkali-kali lupa untuk memberikan kode akor apa. Di saat-saat terakhir, agak terlambat dibandingkan dengan rombongan yang lain, Kak Uji berinisiatif memberikan intruksi sendiri. Dan begitulah acara itu berlangsung.

Setelah bubar, saya hanya mengikuti arus yang membawa kami ke masjid. Sejuknya bukan main bila dibandingkan saat di lapangan. Kami beristirahat di sana, mengobrol, foto-foto, makan, bahkan ada yang tidur. Saya bertemu teman SD saya di kamar mandi, Bela, dia tergabung dalam tim angklung Kosgoro. Sayang dia tidak melihat saya, atau berusaha untuk tidak melihat saya, mengingat pertemuan terakhir kami yang sama canggungnya saya rasa tidak ada alasan untuk mengganggunya yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya itu.

Lama, kami saya, Indri, Yulia, Muti, dan Nadia pergi mencari minum. Ada foodcourt kecil di ujung lain Gedung Sate. Dan saat itu saya melihat ada anak-anak SD yang sedang tampil.


Kami bertemu Eni, yang saat itu tergabung dengan rombongan Saung Wira. Dia melepas kerudungnya, dan saya baru tau kalau rambutnya cepak. Eni terlihat beda sekali, dia bisa dibilang tampan untuk ukuran remaja perempuan. Kami juga melihat Fakhri di rombongan Saung Wira, tak ada yang berpikir untuk menyapanya.

Saung Wira
imgsrc

Eni berpesan untuk melihat dia saat tampil, jadi kami mulai pergi ke depan Gedung Sate ketika Saung Wira sudah hampir tampil. Kak Uji jadi konduktor mereka. Melihatnya, saya jadi terpikir betapa repotnya ia. Di akhir penampilannya, seperti rombongan Angklung yang lain, Saung Wira diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan berhadiah. Saya tidak ingat apa pertanyaannya, tapi Kak Uji menjawab benar dan dia dapat Ponsel.

Kak Uji dapat ponsel
imgsrc

Setelah itu, ada selingan penampilan yang lain. Saya tidak bisa tidak kagum melihat penampilan SMP Ciampel Karawang. Lengkap dengan tarian dan penyanyi yang luar biasa, penonton hanyut dalam lagu yang saya tebak bercerita tentang Rama-Shinta. Kalian hebat!



Setelah penampilan dari grup yang lain, tibalah waktu penampilan untuk grup Angklung SMA Negeri 1 Ciawi. Dan begitulah. Ada suara yang hilang, ada melodi yang tak dimainkan, tapi dibelakang sini saya tak pernah bisa merasa yakin. Tapi melihat antusias penonton, sepertinya tidak seburuk itu.

Icha lagi nge-rap dalam lagu Bang-Bang.
imgsrc


Pulang


Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama, bahkan video bersama. Tersenyum lagi, membuat hilang perasaan takut mengecewakan. Bis rupanya diparkirkan cukup jauh dari Gedung Sate. Pantas saja, Eni tidak bisa menemukannya dan tidak berganti pakaian dengan seragam kami supaya bisa ikut tampil dengan kami. Ya sudahlah. Masih jam setengah dua, kami memutuskan ke Cihampelas untuk membeli oleh-oleh.

Saya tidak punya ide lain selain beli Maicih dan Kartikasari jadi saya beli dua makanan itu. Eh, tapi saya juga sebuah gantungan kunci angklung dan beberapa gelang sih. Yaah, hanya itu saja. Kali ini tidak ada acara hujan-hujanan karena saya bawa payung, hujan juga hanya turun sebentar.

Dan akhrinya kami benar-benar dalam perjalanan pulang. Di bis, kami makan lagi, kali ini Hokben dan snack yang sama dengan yang tadi di Gedung Sate. Nadia kekenyangan karena makan mi kocok. Satu bis berteriak ketika melewati seorang remaja SMA yang sejak tadi diperhatikan Icha berjalan dipinggir jalan. Muti bilang ekspresinya kaget dan takut.

Lalu saya tak ingat sejak kapan, suasana jadi hening, semua orang tidur (kecuali sopir bus, tentu saja). Kami sampai di ciawi jam sembilan malam. Saya turun, dan naik angkot ke Cisarua untuk akhirnya sampai di rumah jam sepuluh.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^