21 Oktober 2015

Mengutip Diri Sendiri

imgsrc
Selamat pagi, tidak terasa sudah hari Rabu lagi ya? (pasang wajah tanpa dosa). Ada yang like halaman facebook Catatan Bulbul? Saya sudah bilang, kalau saya stuck di Kuwalaya. Sebenarnya, bagian berikutnya dari Kuwalaya sudah masuk bagian petualangan, bisa dibilang delapan bagian kemarin itu ‘bagian-awal’ saja. Kalo dipikir-pikir emang terlalu pendek sih, kebiasaan jelek dari dulu alur selalu kecepetan. Jadi, mari kita jeda dulu untuk Kuwalaya bagian tengahnya, lagi proses kok. Dan kabar baik (atau buruk) lagi, saya jadi pengen lanjutin Our Problem! Abis baca komik thriller dan liat pembangunan instalasi pengolahan limbah deket rumah jadi kepikiran, hmmm.

Nah, karena postingan terakhir itu biasa banget (postingannya, bukan videonya) jadi saya mau membahas sesuatu yang lebih—err—berbobot? Eh? Gak yakin juga sih.


Jadi beberapa bulan lalu, saya sedang memikirkan tagline untuk blog buku saya, MewriMembaca. Berhubung ‘Mewri’ sendiri adalah nama kucing peliharaan saya, jadi saya mencoba memikirkan hal yang berhubungan dengan kucing dan buku. Tapi, yaah, dasar gak kreatif saya tersandung juga ke google dan menemukan kutipan ini: “Books, Cats, Life is good”

Waah, keren nih, pakek ah. Usut punya usut rupanya kutipan tersebut di cetuskan oleh Edward Gorey, saya gak tau siapa itu Edward Gorey, atau buku yang ditulisnya, yang pasti dia keren karena berpikir seperti itu. Tapi ... kenapa kalimat tersebut harus di atas namakan namanya?

Saya ngerti kok, kalo seandainya dia orang terkenal, dan mungkin menulis buku, toh saya dapet info ini dari goodreads. Tapi, kenapa? Kutipan itu bukan, yaah, katakanlah bukan kalimat yang ‘hebat’, meski jika diperhatikan menjelaskan betapa sederhananya kebahagian jika kita mensyukuri apa saja yang ada. Baiklah, itu terdengar hebat sekarang. Tapi akhirnya saya bertanya, sampai mana batas suatu kutipan bisa di atas namakan?

Karena saya kenal beberapa orang, yang di akun sosial medianya, apabila mereka menuliskan sesuatu yang hebat, mereka akan menuliskan nama mereka di belakangnya. Beberapa dari mereka memang penulis, dan saya mengerti jika mereka juga mencantumkan tanggal, apalagi jika isi tulisannya tentang sastra. Tapi yang saya maksud adalah tulisan tentang prinsip hidup.

Saya gak bilang mereka salah, malah menurut saya itu keren. Berani mengungkapkan pendapat dan berani untuk bertanggung jawab atas pendapat itu. Dan sebenarnya sayalah yang pengecut, yang tidak berani melakukan hal yang sama dan ketika saya sangat bisa melakukannya.

Saya benci pengeluh—meski saya sendiri seorang pengeluh—beberapa teman saya sering mengeluhkan betapa sempit waktu libur mereka sehingga butuh waktu lama bagi mereka untuk memnyelesaikan novel yang saya pinjamkan. “Aku tuh mikirin PR” kata mereka, ya, saya balas saja “PR tuh dikerjain, jangan dipikirin doang” saya tidak pernah anggap hal itu keren, karena kalimat itu keluar begitu saja sebagai kebiasaan saya menyindir orang.

Tapi kemudian, teman saya itu menuliskan kalimat ‘saya’ itu di postingan statusnya. Memang sih, dia tidak mengaku-ngaku itu ‘kalimatnya’ tapi lucu saja. Saya juga gak tau kesambet apa, ngerasa harus ngerespon.


Balasannya itu wajar banget, malah saya juga pernah bilang begitu beberapa waktu sebelumnya untuk menenangkan seseorang yang mungkin tersinggung ketika saya bilang kata-kata dalam karyanya mirip dengan kata-kata dalam karya orang lain.

Tapi kalau begitu, apa gunanya mengatasnamakan sebuah kutipan? Tentu berbeda kalau sebuah karya sastra umum seperti novel, cerpen atau puisi (eh, puisi lama, pantun, sifatnya malah anonim, kan?). Mungkinkah ini semacam meniru bagaimana cara mengutip perkataan Tuhan, atau sabda Rasul? Hmm, kalau begitu bukankah ini berarti semacam mempertanggungjawabkan suatu ide? Benar?

Tapi kok, saya malah mendapat kesan pengatasnamaan kutipan manusia modern lebih ke “ini ideku, ciptaanku” (itu mah kamu, Fat) daripada “saya yakin ini benar”. Kalau hadist, semakin banyak yang meriwayatkan, semakin shahih, tapi kalau kutipan biasa, hanya spesial jika hanya satu orang yang mengatakannya. Eh, iya gak sih?

Kalau maksudnya untuk ‘hak cipta’ suatu ide, ini juga kurang efektif. Karena, yaah, saya sering melihat inti kutipan yang sama dikatakan banyak orang. Mungkin tujuannya untuk sensasi? Melihat banyaknya foto-foto berisi kutipan-kutipan dan nama-nama orang yang belum tentu juga orang itu mengatakan hal itu, well, ini internet, bung.

imgsrc | get it? get it?

Kita sampai dipenghujung tulisan, dan lihat, saya bahkan tidak tau harus menyimpulkan ini bagaimana. Yang pasti sih, hal ini tergantung pendapat masing-masing orang, dan benar-benar gak bisa dipukul rata begini atau begitu. Lagian gak penting juga sih buat dibahas, so congratulation! you've wasted your time!

Hei, bagaimana pendapatmu dengan pengatasnamaan kutipan ini?

2 komentar:

  1. agak kesel juga sih kalo apa yang kita omongin malah di 'aku' orang , tp kalo udh gitu yaudahlah, yang penting kan arti dr omongan itu sendiri :D

    BalasHapus

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^