19 September 2015

Pengejaran Sia-Sia

“Di ... dia kabur!” seru Eva, menatap nanar pada pintu mobil yang berayun oleh angin malam.

George di sampingku jelas tekesiap, ia kaget bukan main. Sedangkan aku sendiri hanya menghela nafas, sudah kuduga ini akan terjadi, walau agak menyesal kenapa harus terulang lagi. Kami hanya meninggalkannya minum kopi di kafe kecil di pinggir jalan ini. Seharusnya aku tahu ini tidak mudah, kilasan percakapanku dengan atasanku lewat begitu saja

***

“Jika kau berhasil, kau akan naik pangkat” katanya.

Aku menarik nafas, hidungku kembang kempis antara bangga dan ragu. Hidupku sudah cukup baik akhir-akhir ini, apa aku harus terima kasus ini? tapi apa salahnya? Memang tidak boleh dapat untung berlipat-lipat?

“Lawanmu adalah Herman”

“Apa?”

“Ia mencuri sesuatu, kau diminta secara langsung oleh TC Enterprise untuk menangkapnya”

“TC?”

“Kenapa? Kau terkejut?”

“Tidak, aku hanya heran bagaimana perusahaan sebesar itu bisa kemalingan, dan mengenai Herman,”

“Kalian pernah menyelidiki Kasus Museum Damar sama-sama. Sebelum ia menuding kambing hitam keluarga TC, padahal ia sendiri yang mencuri prasasti itu, jadi kupikir ini akan menarik”

***

 “Ayo,” kataku “Kita harus menangkapnya lagi, kan?”

Eva dan George mengangguk. Lantas cepat-cepat masuk ke dalam mobil.

“George, arah?” tanyaku, sambil memegang kemudi.

“Sulit dipercaya, ia sudah lumayan jauh” katanya menatap I-pad yang amat dicintainya.

“Apa itu?” Eva malah bertanya. Melongokkan kepalanya dari kursi belakang.

“Kami menyisipkan alat pelacak di giginya saat ia pingsan, ini ide Fathur. Brilian kan?”

“George, arah!”

Setelah obrolan tidak penting itu, akhirnya ia menjawab dengan kalut “Tenggara, 3 km. Ia masuk hutan!”

Sambil mendengus, kuputar kemudi, menyusuri jalur yang di tunjuk George, tekhnisi  baru di divisi kami ini, menganggap segalanya hanya main-main. Dia pikir siapa yang lepas kali ini? Nenek tua? Dia Herman bung! Herman! Pencuri kelas kakap merangkap mantan polisi yang menurut Eva cukup diikat dengan tali tambang saja. Kenapa pula aku dipekerjakan dengan orang-orang ini?

Baiklah, kuakui aku agak heran kenapa Eva bertingkah seperti orang bodoh begitu. Ia kenal baik Herman, dan reputasinya dikepolisian sama sekali tidak buruk, sebaliknya, banyak prestasi yang telah capainya.

Hutan yang dimaksud George sudah di depan mata, hutan ini terlalu lebat, jadi kami terpaksa turun dari mobil.

“Kau yakin, dia kemari?” tanya Eva

“Seratus persen” kata George, membetulkan letak kacamatanya.

Aku membungkuk, berusaha melihat lumpur di bawah kami. Jelek, sangat jelek, itu jenis jejak yang kau buat jika kau bermaksud sengaja membuatnya. Aku tidak tau apa artinya ini. Jebakan? Yang benar saja.

Setelah perdebatan sengit antara aku dan dua orang temanku itu--Eva: tak ada senter, bahaya; George: aku benci nyamuk--, kami akhirnya memasuki hutan itu. Dengan kabut yang baru turun, Herman seharusnya masih belum jauh, mengingat kami juga kesulitan melihat jalan yang benar. Beberapa kali Eva terperosok dalam lumpur, atau George mengeluhkan dinginnya udara, mereka berdua benar-benar memperlambat diriku saja.

“Kalian ini tidak becus!” kataku akhirnya, hilang sudah semua kesabaranku menghadapi mereka. Mereka berdua hanya menunduk. “Lihat, ulah kebodohan kalian! Kita terjebak di hutan bau ini!”

“Secara teknis ... selama Ipad ini menyala—”

“Diam!"

Mereka menurut, keheningan itu memberi kesempatakn bagiku untuk mendengar bunyi gemerisik semak diantara nyanyian serangga,

“Itu pasti dia! Cepat!" kataku riang

“Kenapa sih, kau begitu terobsesi dengannya, Fathur?” Eva dengan bodoh bertanya.

“Kenapa kau bilang? Dia itu Herman! Aku tak perlu memberitahumu atas dasar apa kita menangkapnya kali ini bukan? Pencurian permata Kusuma jelas bukan hal kecil, apalagi ini bukan satu-satunya yang dia lakukan. Ingat kasus Museum Damar? Pencurian prasasti yang tak ternilai harganya? Aku harap kau cukup pandai untuk paham hal ini, Eva”

“Maaf saja, Fathur, tapi aku merasa ada hal lain yang kau—”

“Ssst. Diam, dengar”

Tak ada suara. Tapi itu justru masalahnya. Keheningan ini agak ganjil, kami ada di hutan kan? Kabut semakin pekat, hidungku sampai tidak bisa mencium apa-apa lagi, kecuali bahaya.

"Aaakh!" pekikan George seolah mencoba memperjelas hal itu.

“George?” tak ada jawaban. “Eva”, sunyi. Aku tidak suka ini,

Dari arah atas sebuah jaring jatuh menimpaku. Jaring tambang yang basah, mau tak mau aku terjatuh memeluk tanah.

“Jangan bergerak!” suara serentak itu diiringi derap kaki mendekat. Pistol-pistol dituding ke arahku, Eva salah satu diantara mereka, dan ... oh! Herman!

“Apa-apaan ini, Eva? Kau pengkhianat!”

“Sebaliknya, Fathur” katanya, sambil merogoh saku celanaku. “Kau harusnya heran aku tidak terkejut kau menyebut-nyebut permata Kusuma”

George menatapku tak percaya ketika benda berkilau itu berpindah ke tangan Eva dari sakuku.

Uh! Permataku yang berharga!

Ditulis dalam rangka Tugas B. Indonesia Selasa, 1 September 2015 : Memproduksi Cerpen. 'Pengkhianatan' selalu jadi tema yang menarik bagi saya. Pemanfaatan kepercayaan yang mahal, dijamin jadi twist tak terduga. Tapi ini mulai membosankan.

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^