30 September 2015

Kuwalaya (Bagian 8)

Bertemu dengan Zar, adalah hal pertama yang aku pikirkan ketika mendengar kata-kata gila Garbada kemarin. Ia mulai melanggar aturan, dan aku merasa ia benar-benar harus di beri pelajaran.

Mudah sekali bagiku untuk menemukannya. Ia selalu disana, di pohon beringin favoritnya di tepi hutan utara Apsara. Menatap para hewan dengan mata hitamnya, mengawasi mereka, seolah mengerjakan tugasnya dengan baik.

Begitu aku terbang dan bertengger di pohon di depannya, hewan-hewan lain langsung pergi menghindar. Sepertinya ia sengaja menimbulkan aura tak nyaman disekitar kami.

“Kau melanggar aturan, Zar!” kataku tanpa basa-basi.

“Lucu sekali, Mar, setahuku kau lah yang melakukannya sejak dulu”

“Berhenti bercanda!”

“Canda, serius, apa bedanya? Hidup kita ini kan lelucon saja. Kau sudah membuktikannya, datang ke Lotama, melayani manusia, benar-benar rendah”

“Aku peringatkan kau, sekali lagi kau dekati keluarga kerajaan. Aku buat kau bungkam selama-lamanya!” siulanku menambah suram keadaan disekitar kami.

“Keluarga kerajaan! Kau jelas-jelas tau, aku ini agak kolot” katanya, ia mengembangkan sayap. Aku tak tau apa yang akan dia lakukan, tapi aku harus waspada. “Tapi kita ini saudara, jadi aku akan menghargai permintaanmu. Dan, ngomong-ngomong soal aturan, lebih baik aku pergi. Kita tidak boleh terlalu sering bertemu” lantas terbang menjauh.

“Aku tak akan peduli aturan lagi Zar, jika kau berani-berani”

“Coba saja!” ia berbalik, mengibaskan sayapnya. Memotong dahan tempat aku bertengger. Aku bersyukur, aku seekor merpati. Sayangnya, sebelum aku sempat membalas serangan itu, Zar sudah menghilang.

Sial, kenapa dia cepat sekali perginya? Aku bahkan belum melakukan sesuatu padanya. Sudahlah, setidaknya ia tidak tau aku sudah tidak menyimpan kristal Pargata.

“Chiko!”

Aku menoleh. Baru saja hendak pergi dari pohon beringin saat mendengar bisikan itu. Tapi tak ada apa-apa, sama sekali tidak ada. Ini agak menyeramkan, begitu memikirkan tentang kristal Pargata aku malah berhalusinasi. Lebih baik aku cepat-cepat pergi dari sini.

***

Aku tak bisa mempercayai mataku ketika melihat Tirta di istana. Ia memakai pakaian yang berbeda daripada saat kami kemari. Sayang itu bukan pakaian yang ingin dikenakannya. Meski sudah repot mempersiapkan segalanya dari rumah, isi tasnya pasti basah semua, jadilah aku melihatnya dalam busana khas Apsara. Balutan kain sutra bercorak Sidomukti di kakinya, dan kebaya berkilau.

Tidak ada waktu untuk melepas rindu berlebihan, aku langsung bertengger di bahunya dengan hati-hati. Dengan pengawalan seketat ini—tiga dayang dan enam penjaga—aku tak heran mengetahui ia akan dibawa ke ruang bawah tanah.

“Mana Braja dan Arsa? Kau sudah bertemu dengan mereka?”

Tirta mengangguk, lalu menjawab dalam hatinya. “Mereka tidak tinggal di puri keputren, Mar”

“Benar, bagaimana menurutmu? Mereka?”

“Arsa sepertinya anak yang menyenangkan. Braja, dia agak kebingungan”

“Maksudmu?”

“Ia sebenarnya pemalu, tapi kau dengar guntur kemarin pagi? Arsa bilang ia memang agak aneh akhir-akhir ini”

“Aku tidak mendengarnya, aku masih di pantai kemarin pagi. Apa maksudmu ‘Arsa bilang?’”

“Dia menjadi kelinci, jika kau mengerti maksudku”

“Aku sangat mengerti. Pintar juga dia!”

“Orang-orang membicarakan tentang Yodha, apa maksudnya”

“Kau tidak tau? itu serial tivi yang sedang terkenal”

“Mar...”

“Ah, kita sudah sampai!”

Akhirnya, pembicaraan itu selesai dengan mengabaikan pikiran-pikiran kurang ajar para dayang yang bertanya-tanya kenapa aku bicara sendiri. Aku menyuruh mereka pergi, dan memasuki ruangan itu dengan Tirta.

Semua orang ada di sana. Braja, Arsa, Felisa, Bara, Indra dan Garbada. Duduk mengelilingi meja batu dalam suasana remang diterangi obor. Tempat ini biasanya digunakan untuk membicarakan strategi perang.

“Baiklah semuanya sudah berkumpul!” seru Garbada, setelah Tirta duduk dan aku bertengger dengan nyaman. “Aku diberi wewenang untuk memimpin rapat ini. Jadi langsung saja, kita akan membicarakan mengenai Yodha Kuwalaya”

“Kami menolak!” kata Felisa secepat mungkin. Ia langsung mendapat tatapan heran dari semua orang, kita baru mulai, bung!

“Maaf, Nona. Tapi mungkin sebaiknya kita membahas dulu hal-hal mendasar mengenai Proyek Triraksa sebelum mengambil suara” Indra menengahi.

“Tak perlu, tanpa tahu pun, aku yakin ini hal buruk, jadi aku menolak”

“Bagaimana bisa dia yakin tanpa tau apa-apa?” Arsa berbisik pada Braja. Braja mengedikkan bahu, tatapannya lurus pada Bara yang menutup wajah malu.

“Kita akan membahasnya dulu, silakan Pangeran,” kata Indra lagi.

“Mar! Kau bilang hari ini kami akan pulang hari ini! Besok hari senin! Kami harus sekolah!” Seru Bara

“Uh, dia cerewet sekali” keluh Arsa, aku menahan tawa melihat ekspresi tak percaya Braja. “Sst! Lakukan sesuatu!”

“Felisa! Bantu aku, kita tidak bisa diam saja menghadapi ketidakadilan ini! Ingat kita tidak boleh ketinggalan pelajaran satu hari pun! Bayangkan apa yang akan Bu Raquel katakan. Kita ini kelas ung—” kata-kata berikutnya hanya erangan, karena sebuah sulur kayu muncul dari tempat Bara berpijak, berputar-putar melilitnya supaya dia duduk tenang dan yang terpenting, diam.

“Baiklah, kita benar-benar bisa mulai sekarang” kata Garbada, dan tak lupa ia menambahkan “Terimakasih Braja"

"Karena ada tiga orang baru dalam proyek ini, jadi—seperti kata Indra—ada baiknya kami menjelaskan semuanya” kata Garbada. “Ahem. Berpuluh-puluh tahun lalu, jauh sebelum kalian di lahirkan, jauh sebelum Apsara menganut Monarki, Apsara memiliki tiga Raksa. Yakni, penjaga hubungan baik antara manusia dan alam dari pihak manusia.

“Tiga Raksa, adalah orang-orang bijak dari tiga penjuru Apsara. Tiap penjuru masing-masing dipimpin oleh beberapa pemuda berjiwa suci yang direkomendasi Raksa. Apsara, selalu dalam masa damai sejak saat itu.

“Suatu masa, untuk alasan yang masih belum jelas terjadi perang besar antara tiga daerah besar lain, yaitu Darani, Dagdha dan Antari. Daerah utara Apsara, mengalami porak poranda karena perang ini. Warga dari penjuru Utara itu lari ke selatan, menghindari perang. Tapi, kerusakan yang mereka buat mulai mengkhawatirkan dengan hampir hancurnya Gunung Hematala. Maka, Tiga Raksa dikirimkan untuk melindungi tempat tinggal para Pargata itu.

“Namun, Raksa sekalipun tidak mampu bertahan lama. Meski mereka mempunyai kekuatan magis, orang-orang Darani, Dagdha dan Antari terlanjur menganggap mereka lebih dari sekedar melindungi Gunung Hematala. Ratusan pasukan dari masing-masing wilayah menyerang Tiga Raksa, dan mereka tewas.

“Setelah perang berakhir, mereka baru menyadari siapa yang mereka bunuh dan meminta maaf pada penduduk Apsara. Tapi hal itu tidak mengubah apapun, hilangnya Raksa di muka Apsara membuat banyak krisis sosial, tak ada lagi kedamaian, semua orang tak percaya satu sama lain, dan para pemimpin kebingungan.

“Ditengah krisis itu, seorang Tamu dari Lotama datang, mengaku namanya Dharma. Ia menyarankan banyak hal, dan meski tidak memiliki kekuatan magis, bertindak seperti Raksa. Terpikir oleh orang-orang untuk mengirimnya bertapa di Gunung Hematala, agar ia bisa menjadi Raksa yang sesungguhnya. Maka, ia pun pergi, dua tahun ia mengasingkan diri di Gunung Hematala, dan kembali menjadi seorang Acarya.

“Ide-idenya semakin brilian, orang-orang tidak kecewa meski ia bukan Raksa, karena Acarya Darma lebih baik dari itu. Salah satunya, mengangkat seorang pemimpin tertinggi dari mereka, membuat mereka tidak kehilangan arah, Apsara mulai menganut monarki, dan ini lebih baik karena satu kepala membuat satu ide, dan satu ide lebih cepat daripada harus berdiskusi lama.

“Tak sampai disitu, Acarya Darma paham, cepat atau lambat, ia akan pergi, dan Apsara akan benar-benar butuh Raksa. Disinilah ia memulai project Triraksa, membangkitkan Raksa dari generasi masa kini. Ia menggali kuburan para Raksa terdahulu, dengan cara yang tak aku pahami membuat berbagai percobaan untuk memanipulasi ‘DNA’nya. Setelah sebelas tahun, ‘serum’ itu siap dan ia menyuntikkannya pada orang-orang terbaik di Apsara. Seorang adalah muridnya di pusat penelitian yang terletak di Jumi Dwipa itu, seorang adalah putra dari salah satu pemimpin tiga penjuru masa lampau, dan seorang lagi adalah putranya sendiri.

“Tapi, ‘serum’ itu tak bekerja secara langsung. Ia hanya menyisipkan materi gentik yang baru akan berefek pada keturunannya. Tiga pemuda ini, menikah, dan anak-anak merekalah yang merupakan Raksa. Arsa putra murid Acarya Darma, mewakili Raksa penjuru Selatan, atau sekarang kami menyebutnya Raksa Kusara. Braja, mewakili Raksa penjuru Tenggara, Raksa Kumuda. Dan Tirta, Raksa penjuru Utara, Raksa Kuwalaya.

“Tapi itu belum cukup. Prinsip satu kepala lebih baik dari tiga yang berdebat, menimbulkan ide untuk menyatukan para Raksa. Tapi, tentu beresiko jika harus menyatukan kekuatan para Raksa, jadi kami memilih untuk menyatukan ketiga Welas yang masing-masing di jaga oleh para Pargata dari tiga penjuru.

“Welas sudah ada sejak manusia tidak bisa mengingat, ia adalah penyeimbang dunia kami yang tidak penting ini. Apsara bersyukur mempunyai tiga Welas di daerahnya, jika kalian bertanya kenapa para Pargata menjaga ketat Gunung Hematala, karena disanalah Welas Kuwalaya di simpan. Welas juga ada di  Gunung Mandara, yakni Welas Kusara; dan di Gunung Siladri, Welas Kumuda.

“Pengambilan tiga Welas bukan hal mudah, karena hanya bisa diambil oleh orang-orang yang berhak. Dalam hal ini, adalah orang-orang yang memiliki semangat juang tinggi, orang-orang yang rela berkorban demi menyelamatkan Raksa. Merekalah Yodha.

“Yodha Kusara, adalah orang-orang dari Jumi Dwipa, mereka pergi ke Gunung Mandara beberapa tahun lalu. Sayang, karena gempa dahsyat, daerah tempat Gunung Mandara yang disebut Witana itu terpisah satu sama lain, dan menjadi kepulauan yang kami sebut Nusawitana. Dua Yodha itu tewas, dalam upaya melarikan diri. Untungnya, Welas Kusara sudah berhasil mereka ambil, dan Welas, seperti magnet setelah dipindahkan, ia datang menghampiri Raksanya.

“Yodha Kumuda, adalah orang tua Braja. Mereka pergi ke Tanjung Weni yang penuh padang rumput, menuju Gunung Siladri, perjalanan mereka tidak sulit, tapi lagi-lagi bencana terjadi. Gunung Siladri meletus, dan menyebabkan kekeringan di seluruh wilayah Tanjung Siladri. Orang tua Braja tidak selamat, dengan cara yang tragis, tenggelam dalam lautan lahar. Lagi-lagi, kami bersyukur karena saat itu terjadi, Welas Kumuda sudah di ambil dan datang dengan selamat.”

Garbada menghela nafas.

“Nah, yang tersisa adalah Welas Kuwalaya, yang terletak di Gunung Hematala. Aku harap, wahai kalian dua tamu Lotama yang terhormat, bersedia untuk menjadi Yodha Kuwalaya dan mengambilnya dari sana.”

Felisa terpaku ngeri.

Peta lainnya,
Sebenarnya, saya gak peduli sama kerajaan yang lain :p

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^