23 September 2015

Kuwalaya (Bagian 7)

Indra tidak bercanda. Detik itu juga Felisa dan Bara digiring paksa masuk ke dalam kereta terbuka para prajurit dengan tangan diikat. Mereka bahkan menyiapkan Kuda Buraksa untuk mengangkut ‘tahanan’ secepatnya. Ya ampun! Dan apa maksudnya dengan mengatakan ‘Raja’ Garbada? Terakhir kali aku ingat, anak itu masih tertatih-tatih merangkak setelah jatuh dari pelana berkali-kali.

“Penobatannya tinggal beberapa hari lagi” kata Indra, ini adalah salah satu hal yang membuatku benci padanya. Ia selalu berhasil untuk ‘tidak berpikir apapun’, aku hampir kesulitan untuk membuatnya menghormatiku.

“Aku tau” kataku kesal, berbeda dengan Felisa dan Bara, aku ditempatkan di kereta yang sedikit lebih nyaman untuk manusia. Setidaknya di sini ada kursi yang dilapisi kulit, aku sendiri bertengger di atas logam perak yang khusus disiapkan untukku.

Indra tersenyum mengejek “Aku masih hebat dalam menghadapimu kan?”

“Diam”

“Gadis itu, kau tega sekali”

“Ia tak akan mati, bodoh”

“Yakin?”

“Aku seratus persen yakin kau bodoh”

Indra tertawa.

Seperti yang kukatakan, Indra adalah satu dari sekian orang yang membenci Acarya Darma. Kebanyakan dari mereka cemburu pada Acarya karena posisi yang bisa dicapai Acarya hanya karena kecerdasannya. Tapi itu kan wajar saja, meski sama seperti Bara dan Felisa, Acarya Darma dulu dianggap penyusup dari Lotama, namun ia selalu memberikan kontribusi hebat bagi kerajaan. Entah dalam tekhnologi, politik maupun ekonomi. Acarya bahkan dengan baik hati memastikan kami tidak terjebak dalam tekhnologi yang terlalu maju sampai merusak yang terjadi di Lotama.

Meski begitu, alasan kenapa Indra membenci Acarya Darma, aku masih belum tau. Emosinya mungkin menguar dari sikapnya, tapi seperti kataku pikiran Indra samar saja. Dan bagiku, orang yang pikirannya samar bukan orang biasa, entah baik entah buruk. Tapi, karena aku punya hutang pada Acarya Darma, aku anggap dia baik, dan karena Indra membenci Acarya, aku anggap dia jahat. Bisa saja pikiran samar Indra itu karena ilmu hitam kan? Kalau Acarya tidak, dia bersemedi selama dua tahun di Gunung Hematala, aku yakin dia bertemu Balinda dan mendapat anugrah itu.

Tiga jam setelah kami mulai berangkat, kami sampai di depan Istana. Ini, adalah keistimewaan Kuda Buraksa. Perjalanan dengan kuda biasa pasti akan menghabiskan satu hari penuh, itu pun dengan kecepatan maksimal tanpa istirahat. Perjalanan dengan jalan kaki bisa menghabiskan waktu satu minggu.

Kuda Buraksa adalah salah satu spesies endemik dari Gunung Mandara di barat daya Apsara. Beberapa tahun lalu, Gunung Mandara mengalami guncangan hebat, sedikit demi sedikit memisahkan diri dari daratan luas Dalu Dwipa, dan menjadi kepulauan kecil Nusa Witana. Dalam keadaan panik itu, banyak hewan mati, namun tak sedikit yang berhasil menyelamatkan diri lari ke Apsara.

Salah satunya, Kuda Buraksa, meskipun hewan ini awalnya bersikap sombong (Buraksa, nama seekor Pargata berwujud kuda. Kuda-kuda Buraksa adalah keturunannya). Namun, setelah kudesak, mereka akhirnya mau jadi tunggangan. Toh, itu satu-satunya cara mereka diperboleh kan hidup berdampingan dengan manusia. Kecuali mereka mau berenang-renang kembali ke Mandara.

Bara dan Felisa diturunkan dengan kasar dari kereta. Didorong-dorong dengan tongkat tumpul agar mereka terus bergerak, terus, terus menyusuri jalan-jalan setapak menuju balairung. Setelah melewati benteng lapis kedua, penjagaan diperketat, pengawal yang mengiringi mereka bertambah dua orang. Dan akhirnya tibalah mereka di depan singgasana, dengan satu dorongan, mereka jatuh berlutut menghadap Raja Manda.

Di samping kanan Raja Manda, di kursi yang lebih rendah, duduk pemuda itu, orang yang mengakui dirinya sebagai Raja Garbada. Padahal, ia masih yuwaraja—pangeran mahkota—sombong benar. Sementara di samping kiri Raja Manda, Acarya Darma yang semakin tua berdiri dengan wajah terkejut, mungkin kaget melihat cucunya diperlakukan seperti penjahat.

Aku ingin sekali, langsung melesat ke pundaknya, menumpahkan seluruh kerinduanku setelah perpisahan empat tahun. Tapi aku masih tidak tega meninggalkan Bara dan Felisa yang tertunduk meringis menahan malu dengan belasan pasang mata—pejabat istana—menatap mereka marah dengan tuduhan-tuduhan palsu. Garbada! Apa yang kau lakukan?!

“Jadi ini, penyusupnya”

“Benar, yang mulia” Indra berdiri dari barisan pejabat, entah sejak kapan dia di sana.

“Tingkat?”

“Kupu-kupu”

“Apa? Separah itu?”

“Mereka dari Lotama, yang mulia”

“Oh”

Sunyi sejenak, suara nafas tertahan di mana-mana. Lotama, daerah sakral yang tak pernah sekalipun dilihat oleh pejabat-pejabat ini, bahkan Raja sekalipun. Kedatangan manusia dari Lotama bisa berarti apa saja, belum purnama raksasa semalam. Asumsi mereka, jika Tirta pertanda baik, maka Bara dan Felisa mungkin sebaliknya.

“Jadi” kata Raja Manda “anak-anak, aku harap kalian tidak menahan tawa mendengar bahwa kalian adalah penjahat tingkat kupu-kupu”

Bara dan Felisa tidak menjawab. Dua penjaga di samping mereka memukul punggung Bara keras.

“Tidak, yang mulia” seru Bara, kemudian.

“Langsung saja, kalian tau apa kesalahan kalian”

Tidak mau kena pukul lagi, Bara langsung berseru.

“Tidak, yang mulia”

Tapi nyatanya, ia justru mendapat pukulan lagi, bahkan lebih keras, dan langsung tersungkur. Si penjaga menarik pundaknya kasar, agar ia berlutut dengan tegap lagi.

“Aneh,” gumam Raja Manda “Indra, apa alasan penangkapan mereka?”

“Penyusupan, yang mulia, atas rekomendasi yuwaraja Garbada”

“Garbada?” Raja Manda menoleh ke anaknya, menautkan kedua alisnya.

“Aku merasa hal itu cukup masuk akal, ayah. Mereka datang tanpa alasan, bisa saja, mereka membawa petaka bagi kita. Lagipula, Pargata Zar juga sependapat denganku”

“ZAR?!” Aku tak tahan lagi, keluar dari tempat persembunyianku diantara merpati normal di pohon beringin. Aku berseru nyaring. “Maafkan aku menyela yang mulia, tapi Zar, sudah lama sekali tidak melakukan tugasnya sebagai Pargata yang baik”

“Mar! Senang sekali melihatmu, setelah sekian lama” seru Garbada “Sayang sekali, yang terjadi justru sebaliknya, kau lah yang tidak melakukan tugasmu selama empat tahun ini”

“Maaf menyela, yang mulia” kata Acarya Darma akhirnya “Hamba rasa, itu tidak adil. Mar telah berbakti bahkan sejak aku datang kemari. Itu artinya, pengabdian lebih dari dua puluh tahun. Dan empat tahun ini, dia bahkan melakukan tugasnya dengan teramat baik. Melatih Raksa secara intensif, yang mulia bahkan mendengar sendiri dari Arsa dan Braja, aura Tirta sebesar tiga orang Raksa”

“Kau benar, Darma. Dan, Garbada, aku harap kau berhenti mengambil keputusan seenaknya, atau penobatanmu terpaksa aku tunda, lagi”

“Maaf, ayah” kata Garbada.

“Meski begitu, Garbada masih mengungkap kebenaran. Kalian memang datang tanpa alasan benar?”

Felisa berinisiatif untuk menjawab. “Izinkan hamba menjelaskan apa yang terjadi, yang mulia”

Si penjaga hampir memukul Felisa, untungnya Raja Manda mengangkat tangannya dan mengangguk.

“Dan hamba hanya akan menjelaskan jika yang mulia berkenan menitah penjaga melepas ikatan kami”

“Lancang!” seru seorang pejabat.

“Tenang” kata Raja Manda “Dan kenapa aku harus melakukan itu?”

“Karena, yang mulia. Setelah aku mendengar bahwa kalian amat mengaggungkan Tirta, maka aku akan mengatakan bahwa, temanku yang sudah kalian pukuli sejak dalam kereta kemari, yang sudah klian tatap dengan pandangan penghinaan selama sidang—betulkah ini sidang?—ini berlangsung, yang sudah ...”

“Langsung saja, Felisa” kata Bara geram.

“Temanku ini, adalah kakak dari Tirta. Dan mungkin punya hubungan darah dengan seorang kakek disana, melihat ukuran telinga mereka”


Suara nafas tertahan lagi. Jelas mereka terkejut mendengar pernyataan Felisa barusan. Aku tidak tau dari mana Felisa tau hal ini akan berhasil. Pandai sekali dia membaca situasi. Jika ia mengatakan hal itu empat puluh tahun lalu, ia pasti akan ditertawakan. Tapi karena sistem revolusioner dari Acarya Darma, segalanya jadi mungkin.

"Penjaga, lepaskan mereka" Raja Manda menjaga ekspresi wajahnya dan nada suaranya agar tetap tenang. Bagaimanapun, dia tidak boleh membiarkan siapapun merasa menang.

Ikatan Bara dan Felisa dilepas. Felisa sudah hendak berdiri dan menjelaskan, tapi ditahan oleh Bara. Dasar, pendramatisir. Ia menatapku penuh kebencian dan menunjukku tanpa tahu malu.

"Dia yang mulia!" kata Bara penuh emosi "Menculik kami dari Lotama"

Hei, kalau bukan karnaku, kau sudah digantung!

"Mar?" Raja Manda bertanya padaku.

"Insting seekor Pargata, yang mulia" kataku.

"Kau bisa saja bergantung pada instingmu yang jarang-jarang muncul itu, Mar. Tapi, kami, manusia, butuh alasan"

Aku tidak tau, kata-kataku berikutnya meluncur begitu saja dari mulutku. Ada dorongan yang sama ketika aku menjegat Felisa dan Bara dipintu.

"Yodha, mereka adalah Yodha" kataku

Dan Raja Manda gagal untuk mempertahankan wajah tenangnya.

“Jangan bercanda, Mar!” seru Indra “Setelah tiga anak itu, kau juga mau mengorbankan dua anak ini?!”

“Tidak ada yang akan mati, Indra” kataku.

“Kau kira aku bodoh? Setelah yang terjadi pada Yodha Kusara dan Yodha Kumuda, kau ... kau ... busuk, Mar!”

“Indra! Jangan menghina sidang ini dengan kata-katamu!” Raja Manda akhirnya menengahi kami. “Tapi, ia benar Mar, kau pasti bercanda”

“Hamba tidak berani, yang mulia”

Setelah helaan nafas panjang. Dan kebisingan penuh tanya di kepala Felisa dan Bara. Raja Manda akhirnya mengakhiri sidang itu.


“Kita akan bahas ini nanti. Dan tolong urus mereka” katanya “Maksudku, dengan hormat”

Gambaran (ekstra) kasar kerajaan besar Apsara.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^