16 September 2015

Kuwalaya (Bagian 6)

Kami berempat diselamatkan. Samar-samar aku bisa melihat Acarya Darma di antara tim evakuasi. Pertengkaran tadi mengacaukan lokasi keluarnya Marga sehingga kami muncul di tengah-tengah laut. Itu bukan pengalaman yang menyenangkan.

Aku terbangun di salah satu rumah penduduk. Didalam sangkar kecil—kalau Acarya Darma ingin aku dalam sangkar, maka aku akan dalam sangkar—di sudut ruangan. Ya, harus kuakui aku merasa sedikit sakit hati. Aku kira Acarya Darma akan membawaku bersama Tirta. Tapi, aku mengerti bahwa seseorang harus menjelaskan sesuatu pada Bara dan Felisa. Lagipula, ini salahku sehingga mereka terbawa kesini. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku membawa mereka.

Mereka masih pingsan, aku melihat wajah pucat mereka dari atas sini. Bara bergerak-gerak cemas dalam tidurnya, ia ketakutan, karena tidak bisa berenang. Sedangkan Felisa, raut wajahnya kebingungan, ia bingung mengenai merpati yang bisa bicara—mengenai aku—.

Dari jendela kamar itu, seseorang datang. Sebenarnya, seekor burung gagak datang.

“Jadi, sebentar lagi kalian berhasil?”

Aku hanya menatapnya sinis, ia bukan orang yang menyenangkan.

“Nah, kau masih saja bertindak bodoh. Semua yang kau lakukan akan sia-sia” katanya lagi dengan nada amat meremehkan.

“Kau tak bisa menghasutku, Zar. Kau tau itu” kataku.

“Yaah, aku juga tak mau repot-repot, dan sebenarnya aku kemari hanya ingin menyapa—hai!—sudah hampir empat tahun sejak kau pergi”

“Hai juga, bisa kau pergi. Kau juga tau kita harusnya tak sering bertemu”

“Ah benar juga. Ngomong-ngomong, empat tahun ini aku sering sekali menemui Braja, anak itu bodoh!” Ia lalu pergi sambil tergelak. Aku jadi khawatir. Aku sama sekali tidak khawatir dengan Arsa, ia pasti baik-baik saja. Braja ... pantas saja cuaca hari ini mendung. Jangan-jangan sudah empat tahun matahari tidak muncul, gawat.

Felisa terbangun, wajahnya masih pucat dan bingung. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, melirik sekitar, masih terbaring.

“Halo!” aku menyapanya.

Felisa memiringkan kepalanya supaya bisa melihat kearahku. Ia lalu mengerutkan kening. “Merpati seharusnya tidak bisa bicara” katanya, ia terdengar seperti Bara “apa yang baru saja terjadi, dimana ini?”

“Kita tunggu Bara bangun dulu”

Felisa masih kaget melihatku, ia rupanya agak takut. Yaah, aku harap itu tak akan lama. Bara bangun dengan cara yang lebih dramatis, ia langsung membelalakan matanya dan suaranya tercekat. Felisa yang sejak tadi sudah duduk, menertawakannya.

“Pantas saja kau tidak pernah ikut tes renang” katanya.

Setelah Bara berhasil menenangkan dirinya, aku sebenarnya agak ragu apa aku harus keluar sangkar atau tidak. Tapi, aku harus tetap di sini sepertinya. Ya, jika Acarya Darma berpikir seperti itu. Meski ini amat mengganggu sebenarnya

“Nah, sebelumnya, aku ucapkan selamat datang di Apsara!”

“Merpati seharusnya tidak bisa bicara” kata Bara

“Oh ya, aku tau. Ah tapi ini kan duniaku, bukan duniamu. Jadi Sekarang aku bisa berhenti menuruti aturanmu”

“Kau mengenalnya, Bara?” tanya Felisa.

Bara tidak menjawab, solah malu untuk mangakui kenyataan itu.

“Kami lebih dari sekedar kenal Felisa. Kami tinggal bersama”

“Kau mengenalku?”

“Kau pernah menyelamatku, tentu saja aku mengenalmu”

“Merpati seharusnya tidak bisa bicara” gerutu Bara.

“Baiklah, bisa kita mulai?”

“Mulai apa?” tanya Felisa, wajahnya linglung.

Aku menghela nafas, tidak kusangka akan sesulit ini. Baiklah, aku harus menjelaskan dengan cara yang paling sederhana

“Kalian baru saja melewati Marga, dimensi antar dunia”

“Omong kosong!” Bara menggerutu.

“Aku rasa ayahmu tidak mengajarkanmu untuk berkata kasar, Bara”

“Diam kau! Merpati konyol!”

“Sebenarnya tidak terlalu banyak yang diceritakan, kalian Sekarang berada di dunia paralel, itu saja”

Felisa menatapku tak percaya. Oke aku mengerti aku tidak bisa menjelaskannya semudah itu.

“Kalian berada di dunia paralel” aku mengulangi ucapanku.

“Dunia ... apa?” Mata Felisa membulat.

“Para—” aku menghentikan ucapanku, ada kesunyian yang aneh diantara kami. “Aku tidak berharap kalian untuk percaya—aku tau kalian tidak percaya. Tapi, lihat aku! Aku merpati yang bisa bicara!”

Hening. Bara menghela nafasnya, frustasi dengan hal yang tidak bisa diterima akalnya. Sedangkan Felisa, ada yang berbeda.

“WAAA!” teriak Felisa “Kau percaya itu, Bara? Kita di dunia paralel!”

Bara menutup wajahnya dengan kedua tangan. ‘Kenapa aku harus terjebak bersamanya?’

“Bara!” teriaknya lagi “Kita di dunia paralel!”

Bara menoleh ke arah Felisa, wajahnya sedih, hampir putus asa.

“Dunia paraleeel” ia membuat wajah lucu sambil mengucapkan kata itu. Ya, setidaknya ada seseorang yang senang di sini

“Felisa, kukira tadi kau bilang kita tidak boleh ke sini?”

“Oh, ya. Aku tidak tau kita akan ke dunia paralel. Perasaanku tidak enak, memang, tapi siapa peduli? Berapa banyak orang yang pernah ke dunia paralel?” pandangan Felisa lalu kembali ke arahku “Jadi, kenapa kau membawa kami ke sini?” tanya Felisa. Sudah kuduga pertanyaan ini pasti keluar, ya, kenapa aku membawa mereka kemari?

“Felisa,” seru Bara. “Kau sungguh percaya kita di dunia paralel?”

Felisa memiringkan kepalanya. “Bara, dia burung merpati yang bisa bicara. Kau bahkan tinggal serumah dengannya!”

“Bisa saja ini tipuan” kata Bara “Bisa saja ini mimpi”

Felisa terkekeh, “Lalu dimana dunia nyata bagimu? Tempat kau tenggelam dalam mimpi tadi?”

“Aku ... aku hanya tidak percaya”

“Lihat sekelilingmu Bara! Ruangan ini, misalnya. Di mana lagi di dunia kita ada bangunan dari bilik bambu? Lihat pakaianmu—mereka pasti mengganti pakaian kita karena kebasahan—pakaian ini jelas bukan pakaian yang lazim dipakai oleh orang di dunia kita. Lihat bangunan diluar sana, kuno sekali kan? Maaf, bukan mengejek”

“Tak apa” kataku

“Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau bawa kami kemari?’

 “Aku ... aku tidak tau” kataku

Mereka memandangku tak percaya. Aku memang bodoh.

“Aku tau aku salah, aku akan memulangkan kalian. Tapi sebelumnya aku harus menunggu Acarya Darma membetulkannya. Itu salah kalian, merusak batu itu” Yah, membela diri sepertinya tidak salah.

“Kau serius?” tanya Bara “Kau menyalahkan kami? Kau menghalangi kami keluar saat itu!”

“Ya, kau benar. Kau tau kan? Bagaimanapun juga aku ini binatang”

“Karena itu jadilah binatang! Jangan bertingkah seolah kau ini manusia!”

Aku tidak tahan, Bara memang sejak dulu menyebalkan, tapi aku tidak bisa terima dia merendahkanku.

“Tenang, Bara” kata Felisa “Sejauh yang aku ketahui hanya dia yang bisa memulangkan kita”

“Benar” aku membusungkan dada “Kalian seharusnya memohon padaku”

“Kau lihat tingkahnya?!” Bara mengadu pada Felisa.

“Jadi kapan kami berdua bisa pulang? Senin kami harus sekolah”

“Acarya Darma itu jenius, besok pagi mungkin”

“Ya, baguslah” ia berhenti sebentar. “Bagaimana kalau kita berkeliling?”

Benar juga, lama sudah aku tak kemari, duniaku, tanah airku. Tempat yang sebenarnya sama sekali tidak berarti bagi manusia Lotama. Jika diibaratkan hanya rajutan benang sisa dari rajutan kain yang sesungguhnya, bentuknya tidak karuan tapi ada dan bisa digunakan. Tapi ini tetap tempat tinggalku.

Namun, aku tiba-tiba mendengar derap langkah dari luar. Seseorang diantaranya amat aku kenal, sebagai satu dari banyak yang membenci Acarya Darma. Mau apa dia kemari?

Pintu dibuka, benar saja. Indra, Panglima kesayangan Raja itu masuk dengan wajah sekeras batu. Menatap kami bertiga seolah jijik.

“Kalian berdua ditahan atas perintah Raja Garbada”

Tunggu, Apa?

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^