9 September 2015

Kuwalaya (Bagian 5)

Hari Sabtu benar-benar datang, tujuh orang anak perempuan Sekarang ada di halaman belakang rumah kami. Sementara itu, semalam aku lihat bulan hampir penuh. Aku tidak bisa berbicara Sekarang, juga tidak bisa membaca pikiran manusia. Merry dan Frank—dua ekor kucing Tirta—mengejekku terus menerus karena aku menjadi seperti merpati kebingungan, sebenarnya aku memang merpati kebingungan.

Bara dan teman-temannya berlatih, mereka mengenakan kaus seragam berwana putih dengan gambar dua sayap di belakangnya, juga ada tulisan Dua Sayap Kebebasan di bagian depan. Aku tak tau apa maksudnya, aku tau mereka kelompok dua, tapi aku rasa itu tidak masuk akal, dan aku harap itu bukan sayap merpati karena aku benar-benar tidak suka.

Hari itu benar-benar membosankan sebagaimana hari Sabtu biasanya. Meski begitu, aku berharap banyak pada hari ini, semoga bulan purnama raksasa benar-benar muncul dan dengan begitu aku bisa kembali dan sembuh dari keadaan aneh ini.

Hari hampir sore ketika anak-anak itu pulang. Tapi, entahlah rasanya ada yang aneh. Aku segera terbang ke kamar Acarya, Tirta mengikuti. Mungkin benar apa kata Tirta, ketika aku kehilangan kemampuan untuk berbicara, instingku semakin tajam, dan mungkin ini memang hari yang tepat untuk membuka Marga. Rasanya, aku senang sekali, sebentar lagi aku akan pulang.

Sayangnya Bara melihat kami. Selama ini, kami hanya pergi ke kamar Acarya jika tidak ada dia saja, karena kau tau kan? Dia benar-benar merepotkan.

Bara mengejar kami

“Tirta!” katanya. Ia pasti kaget sekali melihat Tirta masuk ruangan ini.

Aku tidak peduli, begitu juga Tirta. Untungnya, meskipun aku tidak bisa berbicara saat ini, Tirta cepat mengerti dan mengambil batu itu dari lemari. Bara ada di ambang pintu, menatap kami heran.

“Tirta?” katanya “Apa yang ...”

Tirta mendelik padanya. “Tolong keluar, dan tutup pintunya” katanya santai.

Wajah Bara memerah, ia kini benar-benar marah.

“Tirta! Kau tau ...”

kau tidak boleh memasuki ruangan ini? Nah, begitu juga denganmu, kenapa kau kesini? Oh tidak perlu dijawab”

Tirta mengangkat batu, tidak, bukan dengan tangannya tentu saja, ia membuatnya melayang di udara. Aku bertengger diatasnya, siap membuka Marga. Tapi, belum, ada yang kurang. Aku tau bulan purnama memang belum muncul, tapi bukan itu, seperti kata Zar, tidak perlu bulan purnama untuk membuka Marga. Lagipula, aku harus membukanya Sekarang, hanya saja ...

“Cepatlah Mar!”

Tiba-tiba ada orang lain di pintu itu. “Jangan lakukan” katanya.

Kami semua menengok ke arahnya,

“Felisa?” tanya Bara. Ia kelihatannya heran. Aku juga heran, untuk apa dia kemari? Tadi dia sudah pulang kan?

“Jangan lakukan, apapun itu, jangan lakukan”

Tirta memandangnya ketus,

 “Ada apa dengan kalian?” tanyanya. “Ini benar-benar konyol! Keluarlah!”

“Jangan lakukan” kata Felisa.

“Lakukan apa?” Tirta bertanya dengan marah, tidak biasanya ia marah. “Kau bahkan tidak tau apa yang kau katakan!”

“Tirta!”

jangan membentak orang yang lebih tua. Oh, dan jangan memotong perkataan orang lain

Felisa menatap Bara heran, Bara balas menatapnya.

adikku ini penyihir” kata Tirta, ia tertawa. “Ayolah, Mar cepat!” ia mengangkat batu itu lebih tinggi. Tapi tiba-tiba saja, Felisa menyerang kami. Ia mendorong Tirta sampai jatuh. Aku segera membuka Marga sebelum batu itu menimpa Tirta dan Felisa, untungnya aku tepat waktu.

Batu itu berubah menjadi air dan mengenai lantai dan seperti seharusnya, membentuk lubang hitam yang kian membesar.

“Apa itu?” tanya Felisa.

“Ayo keluar!” kata Bara.

Tapi aku menghadangnya, mereka berhenti begitu melihat aku di ambang pintu. Lalu aku berkata “Tidak ada yang boleh keluar”. Semua orang menatap ke arah ku. Mereka kaget karena aku menghadang mereka, dan bisa bicara. Tunggu ... aku sudah bisa bicara?

Felisa yang lebih dulu sadar. “Menyingkir!” katanya, sambil berjalan mundur menghindari lubang hitam “Aku tidak yakin dengan lubang ini”

Tapi, aku mengunci pintunya sehingga mereka tidak bisa keluar.

Felisa dan Bara mundur terus-menerus ke sudut ruangan, sementara aku dan Tirta—setelah meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja—sudah terjatuh ke dalam lubang itu. Cepat atau lambat, Felisa dan Bara juga pasti terjatuh.


Tapi ada yang aneh. Aku tidak bisa bernafas. Air, air di mana-mana. Di mana sebenarnya sisi lain Marga ini muncul?

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^