2 September 2015

Kuwalaya (Bagian 4)

Masih empat puluh lima menit sebelum bel masuk pelajaran pertama berbunyi. Tapi kelas IX-11 sudah ramai. Kegiatan berlangsung sebagaimana kesibukan pagi hari. Ada yang melakukan piket pagi dengan terburu-buru, atau sekedar mengobrol mengenai acara televisi pada malamnya. Namun, tidak sedikit juga yang asik berdiskusi mengenai PR matematika yang akan di kumpulkan hari ini, disertai orang-orang yang pura-pura mendengarkan padahal diam-diam menyalin jawaban temannya.

Hari Kamis selalu menjadi hari yang berkesan bagi siswa kelas ini. Diawali dengan pelajaran bahasa daerah yang kebanyakan diisi dengan pendidikan moral, memacu semangat perjuangan, cinta tanah air dan omong kosong lainnya.

Lalu dilanjutkan pelajaran bahasa Inggris, yang mana gurunya adalah wali kelas mereka sendiri. Hal yang paling menarik, mungkin, karena pada saat itu giliran Bara yang dikritiki habis-habisan oleh Bu Raquel.

Puncaknya adalah pelajaran matematika, ketika jenaka harus dibarengi keseriusan. Bu Maria senang sekali bercanda, tapi tak jarang muridnya dibuat bungkam dengan pernyataan rumitnya.

Hari itu kemudian akan diakhiri dengan pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup yang membuat mata berat. Bukan hanya karena volume suara guru yang terlampaui kecil, tapi juga rasa benci para siswa terhadap pelajaran itu. Bagi mereka, PLH hanya buang-buang waktu karena pengulangan dari beberapa pelajaran lainnya. Belum lagi isu bahwa Dinas pendidikan kota itu membuat mata pelajaran PLH karena desakan dari kota sebelah yang menganggap masyarakat kota ini tidak memperhatikan lingkungan, sehingga menyebabkan kota sebelah itu mengalami bencana alam setiap tahun.

Bel berbunyi, menganggetkan mereka. Ada rasa kecewa ketika keasyikan kegiatan pagi itu diusik.

Pak Jajang masuk dengan senyum di wajahnya. Menaruh kertas-kertas di atas meja, lalu alih-alih duduk di kursinya, ia malah bersandar di meja terdepan barisan kedua milik siswa. Ia menengok ke arah Bara, memberi isyarat. Bara yang paham lalu berteriak dengan nada yang khas.

“Pimpinan saya ambil alih, duduk siap, gerak!” Setelah bunya srak yang bersamaan, ia berteriak lagi. “Sataacan urang belajar, hayu urang ngadu’a, ngadu’a dikawitan—sebelum kita belajar, mari kita berdo’a, berdo’a dipersilahkan”

Ada keheningan sejenak, diiringi tundukkan kepala. Selang beberapa menit, Bara kembali berteriak. “Lengse—selesai”

Hening kembali setelah itu, baik guru dan siswa seperti menunggu masing-masing untuk bicara. Hingga akhirnya Pak Jajang memecah kesunyian dengan kalimat yang agak mengejutkan.

“Keluarkan kertas selembar, hari ini ulangan”

Tak ada yang protes, hanya suara tercekat. Pak Jajang tersenyum, salah satu hal yang ia sukai dari kelas ini adalah karena siswanya tidak pernah mengeluh, kecuali jika diminta. Di sisi lain, siswa kelas itu juga paham sekali posisi mereka. Kelas IX unggulan, berarti bukan hanya panutan bagi kelas lain tapi juga panutan bagi adik-adik kelas mereka. Mereka sadar pikulan mereka akan lebih berat lagi jika harus menerima omelan guru-guru, terutama karena mereka merasa sudah cukup dengan adanya Bara.

Pak Jajang mendiktekan soal pertama, yang kemudian harus dijawab para siswa dalam waktu sepuluh detik. Baru kemudian akan dilanjutkan soal berikutnya. Ketegangan dimulai.

Pandanganku menyapu sekeliling kelas, terlihat jelas Bara kebingungan dan Felisa yang tidak peduli dengan jawabannya. Rini menulis jawabannya dengan mantap, begitupun dengan Haris.

Aku tidak melihat Ciko hari ini, sayang sekali, sepertinya Rini tidak membawanya.

Sebenarnya, aku cukup akrab dengan Ciko. Aku biasa bertemu dengannya kalau sedang melewati toko hewan peliharaan ketika mengikuti Bara ke sekolah. Kadang, kalau Tirta pergi dan membeli makanan hewan peliharaannya aku juga mengobrol dengannya. Ia, satu-satunya yang percaya kalau aku dari dunia lain, sementara binatang lain menganggap aku gila.

Rini tidak membawa Ciko hari ini, kemungkinan juga seterusnya. Aku tidak akan bertemu dia lagi, bukan hanya karena ia sudah tidak di toko binatang peliharaan atau karena Rini tidak akan membawanya lagi. Tapi karena, aku akan pergi ...

Benar juga, mungkin ada baiknya kalau aku pergi menemuinya, untuk terakhir kali. Apalagi setelah sikap ketusku kemarin. Aku salah sekali menganggap dia hanya hamster biasa.

Pak Jajang baru selesai membacakan soal kelima. Soal-soal itu sebenarnya tidak sulit, hanya saja ketegangan sepuluh detik itu membuat para siswa panik, mungkin, aku tidak yakin. Tapi membaca ekspresi wajah mereka sepertinya mereka memang panik, atau tidak? Ini benar-benar menyebalkan, aku merasa bodoh.

Ini pasti balasan karena aku sudah menganggap ... ya, binatang lain lebih rendah dari diriku. Semoga saja, aku bisa dimaafkan setelah melakukan sesuatu pada Ciko.

“Sekarang, tukar dengan teman sebangku”

Pak Jajang mengambil selembar kertas dari meja guru. Lalu membacakan kunci jawaban. Terdengar suara ricuh saat jawaban-jawaban itu dibacakan, beberapa berbisik ‘yes’ ada juga yang berkata ‘yaah’. Setelah selesai, Pak Jajang mengabsen nama mereka satu-persatu, menuliskan nilai mereka.

“Nilai sama sekali tidak penting” kata Pak Jajang setelah selesai “Nilai bagus sama sekali tidak berarti kalau bukan cerminan dari otak pemiliknya. Karena nilai bagus yang seperti itu tidak bisa membuat bangsa ini maju”

Para siswa terdiam. Pelajaran yang sesungguhnya baru saja dimulai.

“Kalian mungkin berpikir bangsa kita ini kaya, baik budaya maupun sumber daya alam. Tapi, apalah arti itu semua kalau sumber daya manusia nya tetap buruk? Memang, sumber daya manusia kita bukan yang terbaik di dunia. Mungkin, masih butuh waktu cukup lama bagi kita untuk bisa mengelola sumber daya alam kita sendiri. Tapi, masih ada hal yang bisa kita lakukan, untuk mengharumkan nama bangsa ini pada dunia.

“Jepang, tidak punya sumber daya alam sekaya kita. Tapi, sumber daya manusia mereka bagus. Itulah yang membuat mereka maju, tapi bukan hanya itu. Mereka menjaga budaya mereka dengan baik, mereka cinta budaya mereka, itu membuat mereka disegani. Di negri kita sendiri ada Bali. Banyak orang datang ke Bali, mengaggumi Bali, bukan karena sumber dayanya tapi karena masyarakat di sana melestarikan budayanya. Penduduk lokal disana mungkin tidak memakai sandal, tapi Bali bahkan lebih terkenal dari Indonesia.

“Itulah yang bisa kalian lakukan. Cintai budaya, lestarikan. Apalah artinya negara maju kalau kita kehilangan jati diri bangsa?”

Pak Jajang menyapu pandangannya ke seluruh kelas, lalu tersenyum melihat wajah antusias mereka.

“Yaah, kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Ada pertanyaan? Ya, Rini?”

“Pertanyaan saya tidak berhubungan dengan yang tadi bapak terangkan” kata Rini, meminta izin.

“Tidak apa,”

“Mengenai soal halaman 72, belum bapak terangkan”

Ada suara mencibir pelan, entah darimana. Dengan sifat sinisnya itu, wajar sekali banyak yang memusuhi Rini, terutama ketika ia mencoba ‘mencari muka’ di pelajaran bahasa daerah. Seluruh siswa di kelas ini tau kalau Rini jago bukan main di pelajaran bahasa daerah, ia bahkan mewakili kota untuk lomba menulis aksara kuno. Seluruh siswa di kelas ini tau, Rini sama sekali tidak perlu menanyakan itu untuk dirinya sendiri, ia pasti sudah mengerti. Dan alasan kenapa ia masih bertanya, masih menjadi misteri dan sepertinya menimbulkan banyak kecurigaan—dasar manusia!

“Halaman 72” Pak Jajang mengambil bukunya. “Wawangsalan, ya?”

Pak Jajang tampak berpikir sebentar, lalu ia berucap lagi.

“Ini seperti teka-teki. Permainan kata namun masih berkaitan dengan fakta, salah satu hal keren yang kita miliki. Contohnya ini Kendang gede pakauman, dagdigdug rasaning ati—Gendang besar kebangsaan, dagdigdug rasanya hati”

Pak Jajang menatap murid-muridnya, “Jawaban wawangsalan ini adalah bedug, fakta di kata ‘Gendang besar kebangsaan’ dan permainan kata di ‘dagdigdug’”

Kelas jadi ramai seketika, setengah lebih menjelaskan menggebu-gebu pada dirinya sendiri. Sadar akan suatu fakta kecil yang selama ini mereka tidak acuhkan.

“Contoh lain Cakcak gede kadal bilik, ulah dipake mokaha—Cicak besar kadal kamar, jangan dipake berlebihan”

Semua terdiam, mencoba memikirkan jawaban. Tiba-tiba saja dari ujung kelas, maksudku, benar-benar ujungnya, seekor kadal besar mengintip dari balik langit-langit yang berlubang, berseru keras sekali.

“Tok-kee”

Tawa pecah di kelas itu.

***

Kembali ke rencana awalku, hari ini aku akan pergi ke rumah Rini.

Untungnya, jalan ke rumah Rini tidak jauh. Aku mengikutinya yang berjalan kaki, menyusuri trotoar di seberang sekolah, lurus ke arah timur. Tidak sampai lima belas menit, kami sudah sampai. Aku berbelok mengitari rumah itu, mencari dimana jendela kamar Rini. Sudah semestinya, ia ‘menaruh’ Ciko di kamarnya.

Rumah Rini berbeda dengan rumah Tirta yang bertingkat walau sempit, Rumah Rini luas tapi berkelok-kelok, catnya berwarna hijau pucat, senada dengan banyak tanaman hijau yang mengelilinginya. Isi rumahnya juga tidak kalah dengan banyak hiasan, kebanyakan berupa ukiran kayu juga wayang. Rini sepertinya tidak punya televisi—ya, sekarang aku tau nama benda itu—.

Rini langsung tertidur begitu sampai di kamarnya. Sementara aku mencari-cari di mana Ciko. Rini jelas bukan pecinta binatang, ia menaruh toples Ciko di atas lemarinya. Aku terbang diam-diam ke kisi-kisi jendela, bertengger disana. Bersiul.

Ciko merayap menuju dinding toplesnya, menatapku dengan mata merahnya.

Aku memejamkan mata.

“Aku harus pulang” kataku, bernyanyi dengan nada sendu.

“Wah, sayang sekali” jawab Ciko sambil menggigiti biji-bijiannya.

“Umm, aku senang bisa mengenalmu”

“Aku juga”

Suatu ide gila terlintas di pikiranku, mungkin aku akan di marahi oleh Balinda, atau diejek Zar. Tapi, tak apalah, sekali-kali melanggar peraturan tak akan membuatku mati. Lagipula, aku rasa benda ini memang tidak berguna.

Aku menggoyang-goyangkan tubuhku. Suatu benda kemerahan muncul di antara bulu-buluku yang putih bersih.

“Kau tau Ciko? Aku mungkin tak akan kembali lagi”

Aku susah payah mengambil benda itu dengan paruhku. Ciko menatapku heran, lalu dengan perlahan—supaya tidak membangunkan Rini, aku terbang memasuki kamar, menghampiri Ciko.

“Jadi, aku rasa aku harus memberimu kenang-kenangan!”

Aku memasukkan kristal Pargata dalam toplesnya.

“Terimakasih” katanya, lalu mengubur benda seukuran biji jagung itu diantara serbuk kayu.

Aku lalu bertengger di sebelah toples Ciko. Lalu menatap keluar jendela, hari ini cerah sekali. Ciko sepertinya juga merasakannya, ia tidak banyak berulah. Aku menghela nafas.


“Kalau begitu, selamat tinggal!” kataku. Lalu terbang meninggalkannya.

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^