12 September 2015

Divisi Penyembuh

Aku tau suatu hari aku pasti akan menyesali hal ini. Menuliskan kebencian tak ada bedanya dengan menumpuk dengki, dan akhirnya merusak hati. Tapi apalagi yang bisa kulakukan? Kalau benar-benar mau berkata jahat, aku akan bilang terlalu banyak orang bodoh dan terlalu banyak tugas sulit di dunia ini.

Setidaknya, walau hal ini tidak bisa dibenarkan, aku selalu yakin, setiap kebencian yang aku tuliskan, pasti akan menjadi pesan berharga bagi orang lain, minimal bagi diriku sendiri. Karena aku sendiri sadar, setiap marah terhadap seseorang, aku tidak jauh berbeda dengan orang itu.

Kepada siapa tepatnya aku menulis hal ini, aku tidak yakin, mungkin hanya untuk diriku sendiri. Maka, biarkkan aku menyahut, Wahai Purantara! Bersabarlah! Hanya tinggal dua masa lagi di Wacana Ketiga ini, bersabarlah-bersabarlah, bahkan meski masa ketiga ini memang sedikit mengejutkan buatmu.

Satu masa selalu dihitung dari hari keempat dari masa tujuh hari yang diawali dari dan sampai ketika Dua Yodha menemui gugus bintang yang mereka temui pertama kali. Aku lebih suka dengan sebutan manusia-manusia Lotama, satu tahun. Hanya saja tahun ini agak berbeda, se-istimewa ketika Dua Yodha muncul, purnama raksasa menggantung di atas langit, pertanda hari besar, entah baik atau buruk. Bagiku, itu memang hari besar, hari yang sama ketika tujuh belas tahun lalu, aku menemui rasi bintang pertamaku. Dan mungkin itu benar, bahwa ada pertanda buruk.

Tapi Raja tidak menganggapnya begitu, atau mungkin beberapa penasihatnya yang masih berpikiran orde lama (?). Mereka begitu yakin purnama raksasa itu pertanda baik, sebaik ketika Dua Yodha itu datang. Padahal menurut pandanganku sendiri, hal tu tidak sepenuhnya benar, karena hal yang amat buruk juga terjadi.

Kembali ke topik awal, kerajaan amat senang dengan purnama raksasa di hari keempat blablabla ini, dan memutuskan untuk melakukan pergantian posisi untuk para pemuda-pemudi. Aku dipindahkan ke divisi penyembuh. Sayang sekali, sahabatku Bhadra justru malah masuk ke sarang penyamun, maksudku divisi penyerang, ya, bersama dengan Wekatama.

Apa alasan raja memindahkanku kemari, tak akan pernah aku ketahui. Mungkin kegilaannya pada kesetaraan? Entahlah.

Masa-masa awal selalu sulit, aku mengalami semacam perasaan sadar akan kebersamaan dengan teman-temanku di divisi penyerang. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandai aku berusaha tidak menganggap mereka spesial, maka seberarti itu pula mereka untukku. Sayangnya, perasaan rindu yang naif itu kuiringi dengan perasaan yakin kalau teman-temanku itu justru bersyukur karena bisa berpisah denganku. Hilang sudah sisa-sisa cahaya dalam keremangan.

Belum lagi teman-teman baruku ini. Aku baru pertama kali masuk divisi penyembuh, dan asumsi pertamaku adalah kekaguman. Maksudku, aku selama ini bergantung pada mereka, obat-obatan ekstra manjur kudapatkan dari mereka.

Tapi kini, setelah beberapa purnama kujalani, aku sadar aku benci mereka.

Divisi penyembuh tidak sehebat yang kubayangkan, walau harus kuakui, semua perlakuan mereka adalah hal-hal yang sama yang sering aku lakukan. Ini benar-benar bodoh, bagaimana aku benci ketika orang-orang hanya berbuat apa yang sering aku lakukan. Yaah, bukankah orang bilang kita tidak bisa benci diri sendiri, maka kita membenci orang lain.

Aku selalu berkata solidaritas orang-orang itu omong kosong, karena dalam perang, kita tidak punya waktu untuk menunggu ‘teman’ jalan tertatih-tatih dalam hujan panah. Bukan berarti aku sekejam itu. Maksudku, dalam keadaan seperti itu, kau hanya punya dua pilihan, meninggalkannya, atau menggendongnya (kau juga bisa menggunakannya sebagai tameng, aku bercanda, sungguh).

Masalahnya, kebanyakan orang bodoh akan memilih pilihan diantaranya. Tidak membantu, juga tidak pergi. Inilah yang kusebut omong kosong, munafik, sifat egois yang diiringi gengsi yang akhirnya hanya menghasilkan keraguan yang merugikan.

Dalam banyak kasus, aku tentu memilih pilihan kedua (nah, aku tidak seburuk itu kan). Karena bagiku, kami berdua sama-sama dalam keadaan bahaya, dengan aku meninggalkannya pun aku belum tentu akan selamat. Lebih baik mati sama-sama atau hidup sama-sama dari pada hidup sendirian dalam penyesalan. (Kecuali jika membantu di sini adalah menusuk musuh dari belakang, ksatria sejati selalu punya harga diri, walau kuakui hal itu kadang merepotkan)

Dan orang-orang divisi penyembuh ini, meski tidak pernah melihat sebagian besar dari mereka di medan perang. Mereka adalah tipe orang yang akan memilih pilihan pertama. Setidaknya jika ia dihadapkan denganku. Seolah divisi penyembuh mempunyai dendam padaku.

Ketika mereka pergi ke hutan untuk mencari bahan obat-obatan, mereka meninggalkanku. Baiklah, aku sudah terbiasa untuk itu, tapi setidaknya mereka harusnya menyampaikan pesan Acarya untuk mencari tanaman obat-obatan itu. Dan, jangan kira aku tidak bertanya. Pernah suatu hari aku bertanya dengan agak memaksa apa nama buku yang Acarya bilang harus kubaca (sebagai penyembuh pemula) orang itu bilang tidak tau. Tapi saat Acarya datang dan bertanya apa kami sudah belajar, orang yang kutanya itu menyahut riang sambil mengangkat bukunya tinggi-tinggi. (Aku tau dia riang sekali karena buku itu beratnya bukan main).

Aku paham sekali kalau mereka mungkin mempersiapkan diri untuk persaingan yang lebih besar di Wacana keempat, tapi ayolah, mereka tidak perlu berbuat sekejam itu kan? Baiklah, aku mungkin memang pernah berlaku kejam, tapi tetap saja, menghalangi orang lain untuk mendapatkan ilmu adalah kesalahan besar! dan aku yakin aku tidak pernah begitu, ketika aku menjadi kejam, aku ingin agar mereka belajar, aku memberi petunjuk dan bukan menghalangi papan jalan.

Lalu, Tanggung Jawab. Jika ‘solidaritas’ mungkin mulai luntur karena semakin dekatnya Wacana keempat, maka aku cukup heran kenapa ‘tanggung jawab’ tidak berkembang karena alasan yang sama? Dan ini tidak terjadi di divisi penyembuh saja, kurasa.

Aku benar-benar bingung dengan semua orang, entah aku yang terlalu kolot atau mereka memang kekanak-kanakkan. Aku merasa semua orang salah mengurutkan prioritas, banyak hal penting yang mereka anggap canda, dan banyak canda yang mereka penting. Hal ini sungguh menggangguku ketika aku ribut-ribut akan sesuatu hal dan orang-orang hanya duduk memandangiku tanpa kekhawatiran sedikit pun. Atau sebaliknya, saat orang-orang ribut karena sepotong apel jatuh dari pohon, aku hanya duduk dan melihat mereka miris. Tak pernah dengar gravitasi ya? Oh, aku lupa, kau bukan Adibrata.

Kesimpulan? Aku tidak tau, kebencian tidak pernah punya kesimpulan. Tapi kalau harapan, aku punya banyak. Salah satunya, semoga rasa benciku ini bisa berkurang jadi hanya sekedar tidak suka saja, lalu menjadi biasa saja, kemudian paham dan lenyap sama sekali rasa benci itu. Tinggal bersama selama--mungkin--ber'tahun-tahun' dengan orang yang kau benci pasti menyiksa sekali. Tentu saja aku berusaha, aku berusaha untuk selalu tersenyum, meski palsu sekalipun. Karena orang bilang, itu bisa menyembuhkan hati yang terluka. Aku berusaha, sungguh.

Ngomong-ngomong, soal perpindahan divisi yang merepotkan ini, masih ada kabar baik. Dua ‘tahun’ lalu, dipindahkannya Ekabhanu ke kedutaan hanyalah harapanku. 'Tahun' ini, jadi kenyataan, lebih baik lagi, dia langsung terpilih jadi duta kerajaan. Walau aku bingung juga, bagaimana orang yang tidak pernah masuk divisi kedutaan bisa menjadi duta kerajaan? Kerajaan ini benar-benar kacau!

Tetapi, pemerintah kita bukan lagi kerajaan lagi, Purantara.

Dan kau kira aku peduli?

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^