26 September 2015

Cita-Cita

Bukan, ini bukan postingan serius tentang passion atau tujuan hidup dan semacamnya. Simply, tentang diri saya sendiri, dan mengingat sebagian orang tidak terlalu suka orang lain membicarakan diri sendiri, saya benar-benar merasa harus minta maaf karena bersikap egois (lagi) kali ini.

Sejak kapan sebenarnya saya ingin jadi penulis, saya tidak ingat, tapi sekarang perasaan itu makin kuat. Dan saya masih ingat alasan konyol apa yang membuat saya memutuskan ingin menulis, yaitu: bagi saya, hobi adalah hal yang penting, dan tidak lucu jika hobi saya adalah belajar. Saya hobi membaca tapi itu tidak menguntungkan (what?). Maksud saya, pasti keren sekali kalau kita bisa mendapatkan sesuatu dari hobi kita, dari hal yang kita sukai.

Musik? Ah, saya sama sekali tidak punya bakat untuk itu. Olahraga? Tidak, tidak, saya benci berkeringat. Grafis? Gak bisa gambar.

Menulis adalah hal pertama yang terlintas dalam benak, hei, mengarang kan gampang. Itu seperti berbohong kan? Apa susahnya berbohong? Apalagi berbohong untuk hal-hal yang tak terbatas. Itu motivasi pertama saya untuk menulis, ‘karena gampang’, which is the most stupid reason ever. Dan hey! ada perbedaan besar antara kebohongan dan dongeng.

imgsrc, edited by me.

Menulis itu susah, terutama tekanannya. Di Indonesia tidak terlalu banyak orang yang suka membaca, dan banyak orang yang mungkin punya pendapat seperti saya yang lugu itu, menulis itu gampang. Bhahahaha! Tapi saya sudah terlanjur memilih ini, dan rasanya sudah terlambat untuk memilih musik, olahraga dan grafis. Oke, mari menulis, toh konon menulis itu gak perlu bakat, tapi latihan dan banyak membaca.

Dan juga, hampir tidak ada orang yang tau kalau saya mau jadi penulis (awalnya, saya juga gak niat bangeet jadi penulis). Wajar saja sih, misal waktu SD saya tidak terlalu sesering ini menulis. Meski begitu, saya pernah membuat project novel waktu SD, idenya childish banget. Terinspirasi dari anime Mew Mew StrawberryMagical Doremi dan komik The Adventure of Frutillo Magic. Saya berniat membuat tokoh superhero wanita sendiri. Mereka bertujuh, dan seorang laki-laki menjadi tekhnisi mereka. Nama mereka adalah Mejikuhibiniupu (silly. i knew it). Saya gak akan nutup-nutupin, itu terinspirasi dari--umm--geng SD saya, The Rainbow.

Mew Mew Strawberry. imgsrc

Magical Doremi. imgsrc
Frutillo Magic. imgsrc

Lalu, karena sesuatu hal, saya berhenti. Mengakui kalau ide itu sampah. Waktu SD saya memang cengeng, terlalu serius dan benci candaan kasar, mungkin mudah putus asa juga. Duuh, menyedihkan sekali.

Setelah membanting keras ide itu, saya memungutnya lagi dan menyusutkannya jadi tiga orang tokoh utama. Saya buat peta kota mereka, saya buat ide tentang musuh abadi mereka, saya buat kekuatan mereka, saya menggambar mereka. Tapi.... tidak pernah menuliskan kisahnya, au ah, saya semakin dewasa dan sadar ide itu klise dan kekanakkan sekali. (Walau begitu tetap saja, obsesi saya pada cerita anak-anak berkekuatan super tidak padam :D )

Perjuangan menulis saya sewaktu SMP lebih baik. Suatu hari, Galuh membuat fanfic (boyband) SM*SH, Tentang Kamu. Saya tertarik untuk buat juga, dan lahirlah cerbung romance picisan Diary Biru. Karena yang lain, (Mila, Fira, dan Hania) juga ikut menulis, saya semakin semangat. Saya membuat cerita Our Problem, sebagai rasa bosan terhadap romance. Anak Panah, adalah wujud kecintaan saya pada thriller detektif, ditulis berbulan-bulan dan sembunyi-sembunyi serta hati-hati.

Yaah, dalam cita-cita menjadi penulis yang  tulus (bleh) ini saya ingin berterimakasih pada: Pak Hendri, wali kelas sewaktu saya kelas empat dan lima, yang merupakan orang pertama yang berkata saya punya bakat dalam dunia tulis-menulis (setelah beliau membaca cerpen yang pernah saya tulis sewaktu kelas tiga dan saya tulis ulang sebagai tugas membuat cerpen di kelas empat/lima). Intan, yang merupakan orang pertama yang berdoa semoga saya bisa jadi penulis sukses (dan berbaik hati memperingatkan saya kalau-kalau saya tidak sanggup). The Charming, yang tanpa kalian mungkin saya gak akan pernah nulis lagi.

Tapi perjalanan untuk menjadi penulis ini masih puaaaaaanjang, dan semakin terjal. Mungkin terlalu cepat untuk berterimakasih, karena saya bahkan belum menelurkan karya cetak satu pun. Bodo ah, apa salahnya berterimakasih?

Menulis tidak mudah, itulah yang saya dapatkan setelah sekian lama memutuskan untuk menggelutinya. Meski begitu tetap menyenangkan. Dan ketika suatu hal yang sulit menimbulkan kebahagiaan, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya (ciyeeee, duo, tigo, (antiklimaks (bodo)))

Hei! bagaimana dengan cita-citamu?

2 komentar:

  1. pertama-tama salaman dulu. sama-sama bercita-cita jadi penulis dan merahasiakannya dari dunia nyata (yah, walaupun ortu tahu lewat aktivitasku di depan lepi).

    setuju. menulis itu tidak gampang dan menjadi penulis lebih tidak gampang lagi. penulis diakui sbg profesi jika sudah menghasilkan uang. meski para penulis mati-matian menolak ide tersebut, tapi kita perlu uang untuk membeli makanan.

    oleh karena itu, penulis adl profesi impianku, salah satu cita-citaku. cita-cita lainnya, rahasia dulu. :)

    BalasHapus

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^