1 Agustus 2015

Wekatama Sahwahita

Halo, kau yang mungkin tidak akan pernah membaca surat ini. Yang ingin kutuliskan saat ini adalah perasaanku padamu. Jika kau membaca ini mungkin kau memandang heran dengan hidung kembang-kempis, bertanya-tanya apa kau spesial untukku. Dan jawabannya, Ya, kau memang spesial untukku. Lebih tepatnya, aku merasa, aku hampir membencimu.

Aku sungguh berharap kau bertanya kenapa aku membencimu, walau lagi-lagi aku tau kau tidak mungkin membaca ini. Bahkan meskipun kau membaca ini, mungkin kau tidak akan menanggapiku. Menganggapku tidak penting seperti remah kue. Aku mengerti, karena kau pun nyaris seperti itu bagiku. Kecuali mengenai satu hal. Satu hal penting yang kini kau miliki, dan hal itu yang membuatmu penting.


Baik, aku akan bercerita.

Kita pertama kali bertemu dalam masa keduaku di Adibrata—golongan terbaik di Wacana Kedua, dilatih untuk menjadi segalanya; panglima, acarya utama, duta antar kerajaan, bahkan raja—aku sungguh-sungguh tidak berniat untuk mengenalmu. Walau jujur, kau amat menawan, tapi justru karena itulah aku tidak mau mengenalmu lebih dekat. Lagipula, saat itu adalah masa pertamamu di Adibrata, anggaplah aku ini agak rasis dan sama sekali tidak menganggapmu spesial.

Tiba dimasa ketigaku di Adibrata lagi-lagi kita di persatukan dalam golongan elit ini. Aku sudah mengakuimu, bertahan di Adibrata sungguh bukan hal mudah. Dan kau mulai mendekati Bhadra, temanku, yang telah bertahan tiga masa di Adibrata bersamaku. Aku menganggap kau cukup pantas untuknya, kau selalu bersikap manis.

Aku kira kau benar-benar manis, tapi sepertinya aku terlalu bodoh untuk menyadari kalau kau hanya mengenakan topeng. Bukankah, aku sendiri pernah mengenakan topeng? Bedanya, aku memakai topeng itu selama lima masa di Wacana Kesatu, dan melepasnya di Adibrata. Kau sebaliknya, mungkin.

Aku juga lupa kalau kau pernah menjalin kasih dengan golongan Dasa. Semua orang tau itu terlarang, maksudku menjalin kasih dalam masa Tiga Wacana. Setidaknya kau harus masuk ke Wacana Keempat sebelum bermaksud serius ke pernikahan. Oh, aku lupa, kau sama sekali tidak berniat untuk menikah, kau tentu hanya ingin bermain. Memalukan, perasaan seperti itu kau jadikan mainan. Itu alasan pertama kenapa aku harus membencimu.

Terlebih lagi, kau ‘melakukannya’ dengan Bhadra, mempermainkannya. Aku yakin seratus persen kalian pasti akan berpisah, dan semua hanya akan berakhir dengan penyesalan. Aku ingat aku pernah memperingatkan kalian tentang ini, kalian hanya bungkam dan bodohnya aku malah merasa bersalah, kenapa aku harus merasa bersalah saat melakukan hal yang benar?

Aku sempat berharap, hanya berharap walau tau hal ini tak akan jadi nyata. Aku berharap dua masa di Adibrata cukup untuk membuatmu semanis kelihatannya. Tapi rupanya tidak. Bagaimana aku bisa tau? Karena kita sama-sama dalam divisi penyerang saat masa kesatu Wacana Ketiga. Sementara Bhadra yang hatinya selembut sutra itu di divisi penyembuh.

Aku agak riskan dengan dihilangkannya Adibrata, Raja baru kita bilang itu demi kesetaraan, dia benar-benar terlalu lama memandangi laut. Aku kembali mengenakan topengku, topeng yang kuat dan agak kasar. Semata-mata hanya untuk melindungi diri dari pekatnya racun disini. Kau? Kau jelas melepaskan topengmu yang halus dan mengkilap itu. Tapi aku tidak tau apa kau menggantinya dengan topeng yang berwajah lucu-nyaris jelek atau itu memang wajah aslimu?

Kau lalu dipilih menjadi Samanta sementara, aku yakin itu karena kau dikenal sebagai seorang Adibrata. Hih, mereka tidak tau aku pernah jadi Samanta tetap di Wacana Kesatu. Yaah, itu tidak penting, aku tidak haus kekuasaan.

Nah, ini adalah hal berikutnya, yang membuatku semakin yakin untuk membencimu.

Suatu hari yang cerah, Kasub menghampiriku dengan wajah merah. Padahal kulitnya gelap, tapi aku tau dia marah sekali. Aku bertanya apa yang terjadi dan dia bercerita.

Dia hendak berendam di sungai saat melihatmu disana juga. Tentu saja, kita telah berlatih pedang seharian dan itu pasti melelahkan bagimu dan baginya. Dia melepaskan pelindung tubuhnya yang terbuat dari baja terbaik negeri ini. Dan berendam dibawah guyuran air terjun. Kau menghampirinya menantangnya beradu pedang, kau sudah bertelanjang dada dan memegang senjata.

Tentu Kasub setuju, ia melihat sebuah tantangan dan ini cukup adil. Kau membuat peraturan, dilarang menyerang daerah perut keatas, karena kita masih harus berlatih lagi dengan Acarya setelah itu. Kalian berdua sepakat. Kasub mengambil pedang, ia percaya padamu, karena ia sendiri adalah seorang Adibrata sejati, mereka berhati suci.

Dia menyerang betismu, celanamu robek, tapi ada percikan kilat setelah itu. Kau tidak melepas pelindung di kakimu. Saat temanku terkejut, kau menyerang pinggulnya, untungnya hanya goresan kecil. Tapi ada sebuah kepercayaan yang hancur, Kasub seorang idealis sejati, mungkin, ia terlalu rapuh untuk melihat ketidakadilan didepannya.

Aku mengatakan padanya untuk mengatakan ini pada Raja. Tapi dia menolak, ia tidak suka popularitas. Aku berkata padanya untuk mengatakan hal ini pada Bhadra. Lagi-lagi dia menolak, ia tidak ingin merusak hubungan kalian.

Tapi aku sama sekali tidak takut dengamu. Aku menceritakan hal itu pada Bhadra. Dia terlihat tenang, diluar perkiraanku. Aku hanya ingin dia menjauhimu agar dia tidak sakit hati. Tapi dia malah bertanya padamu. Kau berkata padanya kalau kau tidak sengaja, kau kira dia juga memakai pelindung betis, kau bilang aturannya adalah perut keatas, dan pinggul tidak dihitung walau dia tidak sengaja.

Bohong! Kau jelas melihatnya saat ia melepas semua pelindungnya. Dan ayolah, kau sendiri yang bilang akan ada latihan lagi dan kalian tidak boleh terluka untuk itu. Kau benar-benar memalukan!

Kejadian itu membuatku tidak tidur semalaman. Aku terus memikirkan sikapmu yang kekanakkan, tidak tau adab, egois, dan lainnya. Tapi aku senang, aku akhirnya menyadari hal itu.

Aku mulai memaafkanmu. Aneh, memang. Tapi kau tetap seorang Samanta sementara, kau tetap harus dihormati. Kau masih bersikap manis dihadapanku, mungkin supaya aku tidak melapor lagi. Walau, kau sering sekali kudapatkan berlaku hal-hal diluar moral.

Aku lupa, kau tidak pernah menjadi Samanta Tetap. Kami harus menjaga mulut dari sumpah serapah, selama menjabat, atau mati karena menjadi panutan buruk. Itu cukup efektif bagiku.

Apa aku membencimu? Seperti yang kukatakan aku hanya merasa aku hampir membencimu. Aku harusnya membencimu. Tapi aku juga sadar manusia memang tidak ada yang sepenuhnya baik. Aku ingin membencimu, tapi aku hampir tidak bisa.

Kau adalah Samanta, aku menghormatimu. Kau temanku dalam dua masa Adibrata, aku percaya padamu. Kau melewati banyak tantangan rumit, aku menganggumimu. Kau memang menawan, aku memaafkanmu.

Mungkin pada akhirnya, perasaanku padamu hanya nol saja. Negatif dijumlah positif, habis. Akhirnya aku sama sekali tidak punya perasaan padamu. Tapi, itu dia, Bhadra. Aku ingin sekali percaya kau tidak akan pernah meninggalkannya, membuatnya hancur. Namun aku tau pasti itu tidak mungkin. Aku benar-benar bingung.

Padahal aku sering sekali menasihatinya dengan caraku. Tapi aku gagal, semua ini juga salahku. Apalagi aku sama sekali tidak bisa menyampaikan ini langsung padamu. Kita memang di divisi yang sama, sering berperang bersama. Tapi sepertinya, justru Bhadra menjadi jurang antara aku dan kau. Aku bukannya ingin dekat-dekat denganmu. Hanya saja, kau tau, aku ingin kau tau kalau aku benci sikapmu, dan kau hanya akan mengerti jika kita berjalan bersisian, dan itu tidak mungkin. Karena jurang itu, membuat kita tidak ingin menjadi dekat. Kau menganggapku tidak penting, begitu juga aku. Kita mengalami hubungan netralisme yang aneh.

Sungguh, aku sama sekali tidak peduli padamu atau ingin ikut campur. Aku hanya egois, dan berpikiran kolot. Aku benci hubunganmu dengan Bhadra, aku takut kau menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping dan dia butuh orang lain untuk memungutinya, lalu mereka akan membuat hubungan tercela itu lagi, dan seterusnya dan seterusnya.

Karena, kau tau? Aku pernah merasakannya. Hati yang hancur, tapi aku bersyukur aku cukup kuat untuk memungutinya dan merangkainya lagi sendiri. Bentuknya mungkin tidak sebagus jika merangkainya dengan orang lain, tapi biarlah sang waktu yang memperbaikinya. Tiba saatnya nanti, aku akan bersabar menunggu Wacana Keempat, bertemu orang yang tepat, di waktu yang tepat, dan tempat yang tepat, kami akan mengenggam hati masing-masing dan hanya kematian yang akan menghancurkannya.

Aku tau itu sama saja, menunggu hatiku untuk dihancurkan lagi. Tapi sebaik-baiknya hati yang hancur adalah hati yang hanya hancur satu kali seumur hidup. Milikku mungkin dua, tapi itu masih lebih baik daripada berkali-kali. Kecuali kalau aku mati lebih dulu.

Aku rasa ini sudah terlalu panjang. Baiklah, harus aku akhiri.

Kau yang sudah membuatku bersusah hati menulis surat ini, aku hanya berharap kau bisa jadi lebih baik dari sekedar yang aku takutkan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^