26 Agustus 2015

Kuwalaya (Bagian 3)

Hari ini hari Rabu. Aku tidak mengikuti Bara pergi ke sekolahnya karena hari ini aku harus menemani Tirta pergi ke perpustakaan kota. Lagipula, sepertinya hari ini kelas akan sangat ramai mengingat hari ini adalah hari yang spesial.

Ohya, aku mengantar Tirta ke perpustakaan. Sudah empat tahun sejak aku mengembangkan kemampuan Tirta, sudah empat tahun pula ia berhenti sekolah. Setiap hari Rabu, dimana perpustakaan selalu mengalami waktu paling sepi, Tirta pergi kesana, belajar.

“Mungkin kau bisa tinggal di rumah saja dan menyuruh Bara untuk meminjam buku” aku pernah mengusulkan.

“Kau pasti bercanda, Mar”

Aku sekali lagi merasa kasihan pada Tirta. Tirta tidak banyak bicara, ia memang pendiam. Dan menjadi lebih pendiam lagi sejak empat tahun lalu. Ia bilang, bicara itu membuang waktu, lebih baik lakukan apa yang harus dilakukan. Aku bisa saja setuju, kalau saja itu bukanlah ungkapan kekesalannya karena aku tidak segera membawanya ke Apsara.

Yaah, itu tidak terlalu penting kurasa. Yang terpenting adalah ketika aku pulang sore harinya, aku benar-benar terkejut melihat pemandangan di halaman belakang rumah kami. Ada sekitar dua puluh lima orang lebih di sana, makan.

Aku menatap Tirta tidak percaya, ia balas menatapku, lalu tersenyum.

“Mereka!” sahutku.

“Bara sudah izin pada ibu” kata Tirta datar. “Mendadak rupanya”

Aku terdiam.

Mereka teman-teman Bara. Merayakan ulang tahun Bara dengan makan-makan di halaman belakang kami. Acara penuh omong kosong, manusia seharusnya merayakan ulang tahun dengan penuh duka, mengingat mereka semakin dekat dengan kematian. Bukannya, dengan hura-hura tidak berarti. Aku sendiri tidak ingat kapan hari lahirku, supaya aku tidak perlu bersedih dengan kenyataan aku semakin tua.

Di sana juga ada Felisa yang jelas sekali sedang menjaga jarak dengan Rini. Rini bahkan membawa Ciko—pilihan buruk mengingat ada dua ekor kucing tak kenal kenyang di rumah ini.

“Kau tak pernah bercerita punya halaman seluas ini?” celetuk seseorang.

“Pasti cocok sekali kalau latihan untuk praktik senam disini, tempat ini seluas gedung olahraga sekolah” kata yang lain.

Mereka tertawa.

Aku heran, kenapa mereka mau membuat acara ini, maksudku, demi Bara? Aku lebih heran lagi dengan kenyataan aku hanya samar-samar mengetahui kehadiran mereka di rumah. Maksudku, bagaimana caranya aku tidak tau? Aku ini Pargata! Penjaga hubungan baik antara manusia dan alam, aku bukan burung merpati biasa!

Sama sekali tidak terdengar suara serangga hari ini, hewan-hewan terdiam, angin bertiup sepoi-sepoi. Langit cerah, tapi udara sama sekali tidak panas.

“Sabtu nanti, kita latihan di rumah Bara saja!” Felisa berseru.

Aku menengok ke arahnya, Sabtu?

“Tidak mau!” seru Bara “di kelompok kita, hanya aku saja yang laki-laki, itu artinya akan ada tujuh orang anak perempuan yang akan datang ke rumah ini”

“Ayolah Bara, kau benar-benar kekanakkan, sabtu nanti itu giliranmu”

“Siapa yang menetukan urutannya?” Bara memicingkan matanya.

“Urutan absen!”

Bara terhenyak, tapi, lalu ia berkata

“Aku tidak mau!”

“Kau harus, Bara” Rini tiba-tiba saja bersuara, lalu terdiam, seolah menentukan kalimat yang tepat “itu peraturannya”

“Sejak kapan itu jadi aturan?”

“Baru saja, aku kan ketua kelompoknya” Rini lalu berdiri. “Di mana kamar mandinya? Aku mau cuci tangan”

“Pintu sebelah kanan” Ia lalu meringis.

Terlihat beberapa anak menahan tawa.

Sabtu?

***

“Selama tujuh hari, alam akan seolah bersahabat dengan manusia. Dimulai dan berakhir saat Dua Yodha menemui rasi bintang pertama mereka kembali ketempatnya, dan hari keempat, adalah saat purnama raksasa” aku mengingat apa yang pernah diajarkan Pargata sebelumnya padaku. Aku ingat dengan jelas, aku dan Zar masih sangat kecil, belum berwujud. Aku selalu jadi pemerhati yang antusias, sedangkan Zar dengan kurang ajar malah bertanya.

“Untuk apa menunggu bulan purnama raksasa untuk membuka Marga? Tidak ada pengaruhnya kan? Lagipula, untuk apa pula kami harus membuka Marga?”

Pargata sebelum kami, yang saat itu adalah seekor kura-kura betina bernama Balinda menjawab dengan senyuman seorang ibu “Memang tidak nak, tapi purnama raksasa, bagaimanapun adalah pertanda hari besar—meski artinya bisa baik atau buruk. Selain itu membuka Marga, menutupnya, menjaga hubungan baik antara manusia dan alam, serta menjaga Welas, sudah jadi kewajiban kita”

“Kami juga harus menjaga Welas?”

“Untungnya tidak, kalian Pargata Janari hanya akan dibebankan tiga tugas pertama, dan kamilah, yang akan menjaga Welas, memberikannya pada yang berhak, dan kemudian mati”

Aku bergidik ngeri. Kami para Pargata hanya bertugas untuk melayani manusia, inilah yang membuat Zar kesal. Ia tidak terlalu suka diperintah, mungkin hal itu yang membuatnya dilahirkan sebagai burung gagak. Balinda mencoba menghiburnya dengan mengatakan kalau itu adalah cerminan kecerdasannya, yang benar saja!

“Satu hal yang perlu diperhatikan” Balinda melanjutkan “Hal ini memang jarang terjadi, hampir tidak pernah malah. Seperti yang ku bilang, saat itu alam akan seolah bersahabat pada manusia. Termasuk kita, para Pargata. Di suatu tempat yang  stabil, kita akan menjadi seharfiah wujud kita”

***

Aku menelan ludah.

Aku tidak pernah memikirkan kemungkinan ini sebelumnya. Tentu saja, dunia ini adalah dunia paling nyata, maksudku dunia dimana hal yang sebenarnya terjadi, bukan hanya kemungkinan yang tidak dipilih. Di dunia ini tidak ada Pargata, atau Welas, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk menstabilkan dunia ini. Dunia ini sudah sempurna.

Dan aku, aku seekor burung merpati. Di dunia ini, burung merpati tidak bisa membaca pikiran. Aku mulai seharfiah wujudku.

Tapi ini aneh, empat tahun lalu aku kemari dibawah bulan purnama, tapi tak ada yang terjadi.

Aku terbang ke kamar Tirta menceritakan apa yang baru aku sadari dengan menggebu-gebu.

Tirta yang sedang membaca hanya tersenyum, lalu berkata “Baguslah, itu berarti waktunya sudah dekat”

Aku termenung. Benar juga, itu berarti misiku hampir selesai.

“Kalau begitu lebih baik kita bersiap, sebelum kau benar-benar tidak bisa berpikir” katanya lagi.

“Tapi aku tidak tau kapan tepatnya purnama raksasa akan terjadi”

“Hari keempat, Mar, kau baru saja mengatakannya”

“Tapi kapan? Aku tidak pasti kapan hari pertama dimulai” aku tidak sabar, antara marah dan antusias di saat yang sama.

“Siapa peduli, kita akan tau kapan purnama raksasa terjadi saat melihat bulan. Jangan buat hidupmu rumit, Mar”

Aku menatap Tirta sebal. Tapi sekali lagi ia benar.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^