19 Agustus 2015

Kuwalaya (Bagian 2)

Keringat dingin membasahi tubuh Felisa, ia baru saja kembali dari toilet ketika menemukan toples itu kosong. Tidak benar-benar kosong memang, ada sedikit serbuk kayu dan kacang-kacangan di dalamnya. Namun, toples itu kosong karena tak ada makhluk hidup yang memakan kacang-kacangan di sana.

Felisa lalu berjongkok, mencari-cari di antara meja dan kursi. Ia amat menyesal pergi ke luar tadi, bagaimanapun menjaga Ciko adalah tugasnya dan tidak seharusnya ia pergi begitu saja.

“Ciko, Ciko!” panggilnya pelan, ia tak mau kalau siswa lain mengetahui hamster itu hilang. Tapi, tentu saja hal itu tidak mungkin. Perilaku anehnya yang berjalan sambil berjongkok jelas mengundang perhatian


“Kau mencari sesuatu?”

Felisa memutar kepalanya, melihat siapa yang baru saja datang, Bara. Gawat, pikirnya. “Tidak, tidak, semuanya baik-baik saja” Ia lantas lekas berdiri dan duduk di kursinya.

“Mana Ciko?” Bara menatap heran toples Ciko yang kosong.

Felisa menghela nafas, lalu memasang senyum tanpa dosa dan berkata “Hilang”

“Hi ... hilang?” Bara memelototinya. “bagaimana bisa hilang?”

“Bukan salahku! Sungguh! Dia jatuh, aku rasa”

“Kau! Kau memang tidak bertanggung jawab!”

“Hei! Tak perlu marah, apa urusanmu?”

Tiga siswa lain, yang sedang bergosip di ujung kelas hanya menggelengkan kepala, pemandangan ini memang biasa bagi mereka. Adapun sejumlah murid malah asyik tidur dan melewatkan pertunjukan ini. Suasana kelas memang sedang sepi. Sebagian besar siswa sedang berada di Lab. Komputer mengerjakan tugas praktik TIK mereka yang belum selesai.

Ngomong-ngomong soal Ciko, seperti yang kukatakan sebelumnya, ia seekor hamster. Pagi ini Haris membawakannya untuk Rini, dan semua orang sangat gemas dengannya. Jarang-jarang ada hewan pengerat lucu di kelas ini. Tapi, ya, Rini tidak mungkin membawa Ciko ke Lab, maka ia menitipkannya pada Felisa, yang menurut sepengetahuannya cukup sayang pada binatang.

Wajah Felisa dan Bara sama-sama merah padam. Keduanya kesal pada satu sama lain. Bara, ya dia memang mudah marah, apalagi jika meihat sesuatu tidak pada tempatnya sedangkan Felisa adalah jenis orang yang berantakan. Jadi, bisa kaubayangkan betapa ‘cocoknya’ mereka.

“Kau tahu? Daripada memarahiku terus lebih baik membantuku” kata Felisa, ia kembali berjongkok dan memanggil-manggil Ciko.

“Memangnya aku yang salah?” Bara lantas pergi kembali ke kursinya. Kalau dipikir-pikir, kadang aku setuju kalau dia memang menyebalkan.

Sayangnya, saat itu bel istirahat sudah berbunyi. Pelajaran TIK sudah selesai, Rini akan kembali. Felisa mencoba meyakinkan diri bahwa ia akan menemukan Ciko sebelum Rini sampai. Mengingat bahwa jarak dari lab komputer dan kelasnya cukup jauh. Rini harus menuruni tangga, menyebrangi lapangan dan naik lagi ke lantai dua, Felisa bahkan menambahkan kemungkinan bahwa Rini akan pergi ke kantin dulu.

“Ciko! Ciko!” ia terus memanggil

Tapi, harapan hanya tinggal harapan. Semua orang sangat terhibur dengan kehadiran Ciko dan berusaha mencapai kelas secepat mungkin. Suara tawa dan langkah kaki di lorong membuat Felisa makin panik, ia tidak bisa berpikir. Namun, justru itulah kelebihannya—aku rasa. Disaat paling mendesak seperti itu, dengan perasaan campur aduk, Felisa berjalan mantap menuju salah satu tas yang tergeletak di lantai dan mengeluarkan Ciko dari sana dengan hati-hati.

Ia memang agak berbeda.

***

Aku suka Felisa.

Ia baik pada semua makhluk hidup, sehingga alam menganugerahkannya insting yang tajam. Memang banyak manusia yang punya insting yang tajam, dan banyak pula manusia yang baik pada makhluk hidup, jadi mungkin alasan aku menyukainya kurang kuat. Pokoknya aku suka Felisa, aku rasa aku mulai menyukainya karena kejadian dua tahun yang lalu.

Bara sakit dan aku diminta Tirta untuk mengantarkan surat izin kesekolahnya. Baiklah, aku memang burung merpati tapi aku tidak suka kalau disuruh mengantar surat. Aku juga tahu kalau merpati jaman dahulu bertugas mengantar surat, tapi aku kan berbeda. Aku adalah jenis merpati yang punya harga diri.

Aku sudah mengutarakan hal ini pada Tirta, tapi ia malah berkata akan mengurangi jatah makanku. Rasanya aku ingin mengadu pada Acarya Darma atas apa yang telah cucunya lakukan padaku.

Maka aku pergi ke sekolah Bara. Kalau merpati jaman dahulu membawa surat dengan mengikat gulungan kertas di kakinya. Tirta, dengan tega menyuruhku membawa surat dalam amplop yang harus kugigit dengan paruhku. Rasanya aku ingin menangis—seandainya aku bisa.

Aku bersyukur karna hari itu meja piket sedang sepi karena sebagian besar guru sedang mengikuti kegiatan upacara bendera, sehingga tidak ada manusia yang menatap heran pada merpati yang bisa membawa surat dan menaruhnya di atas meja.

Aku sudah siap untuk pulang saat itu, dan melintasi pohon mangga dengan anggun. Tapi aku bukan satu-satunya burung yang terbang melintasi puncak pohon mangga. Seekor burung layang-layang ceroboh dan tidak tahu diri menabrakku, jika membandingkan ukuran kami, memang seharusnya ia yang jatuh. Tapi, aku ini burung merpati yang sensitif. Tidak, aku tidak lemah, aku hanya ... baiklah kau benar, aku memang tidak terbiasa terbang ke luar rumah.

Aku terjun bebas ke pohon mangga, ranting-rantingnya melukaiku. Bulu-buluku koyak, tubuhku berdarah. Untungnya, saat itu ada Felisa. Alih-alih berdiri tegak saat upacara, ia malah sedang duduk-duduk santai di bawah pohon mangga. Ia melihatku, lalu bergegas menuju ruang UKS. Tapi, saat itu ruang UKS sudah penuh dengan siswa-siswa yang hampir pingsan. Maka, ia pergi ke kelasnya. Walau kelihatannya bingung, ia mecoba mengobati luka-luka ku dengan peralatan P3K di kelasnya. Kemudian, ketika pulang sekolah, ia membawaku ke rumahnya.

Rupanya ayahnya dokter hewan, tapi meskipun begitu, ia bersikeras merawatku sendiri. Ia bahkan memotong uang jajannya untukku, lantas bagaimana aku tidak jatuh cinta? Bercanda, kami kan beda spesies.

Sejak saat itu, aku selalu ikut Bara pergi sekolah, untuk melihat apa Felisa baik-baik saja, dan menunggu saat dimana aku bisa balas budi. Walau rasanya aku tidak akan dapat kesempatan itu, ia terlalu mengaggumkan untuk mendapat bantuan. Apa aku berlebihan?

Rini berdecak saat melihat Felisa memegangi Ciko, dalam pikirannya ia mengaggap Felisa telah bermain dengannya sepanjang hari.

“Bawa saja pulang kalau kau amat menyukainya”  katanya ketus.

“Eh? Kau berlebihan, ini aku kembalikan” ia tersenyum lebar “bagaimana tadi? Berhasil?” tanyanya lagi

“Tolong  jangan bahas itu” Rini mengibaskan tangannya,

“Ya, wi-fi sekolah kita memang senang bercanda”

“Dan menurutku itu tidak lucu”

“Ada apa sih?”

“Apa yang apa?”

“Biar ku tebak—umm—dia?”

“Kau bicara apa sih? Aku mau tidur, bangunkan aku saat jam istirahat selesai”

Bahkan, meski tidak diberitahu, Felisa tau apa yang terjadi pada Rini. Dia sedang kesal akan sesuatu hal, mungkin seorang anak laki-laki yang disukainya. Ah, kisah cinta remaja, aku sama sekali tidak peduli.

Felisa memandangi Rini yang pura-pura tertidur, berpikir mengapa sulit sekali bagi temannya ini untuk bercerita? Lagipula, sebesar apa masalah yang ia hadapi sehingga sekesal ini?

“Rini,” bisikknya “kau benci padaku, ya?”

Rini terdiam, mungkin ia benar-benar tertidur. Felisa menghela nafas, ini membosankan. Lalu ia memutuskan untuk pergi, mencari rombongan siswi lain yang bisa ia ajak bicara. Ada satu rombongan di ujung lain kelas, ada perasaan tidak enak saat ia hendak ke sana. Perasaan tidak enak berarti hal buruk, hal buruk berarti masalah dan masalah lebih bak dari pada mati bosan.

Benar saja, mereka rupanya sedang membicarakan Rini, dan kedatangan Felisa tentu dianggap sebagai narasumber terbaik saat itu.

“Kau tau siapa orangnya Felisa?” tanya mereka.

Ya, mungkin kalian tau, Felisa memang seorang sahabat yang baik tapi jika sahabatnya sendiri enggan bercerita rahasia padanya, kita bisa tau bahwa dia bukan jenis orang yang pandai menjaga rahasia. Masalahnya, Felisa adalah detektif ulung dan kadang tak bisa membedakan mana yang bisa dipublikasikan dan mana yang tidak.

“Aku tau” katanya bangga “Tapi tak akan kuberi tau”

“Oh, ayolah Felisa!” mereka memelas.

“Baiklah, aku akan memberi kalian petunjuk” Felisa menggosok hidungnya
Orang bilang nama adalah harapan.
Kau akan setuju pada terang,
tapi tidak pada tenang. 
Meski begitu kau tetap memilih tipuan.

“Aku rasa aku tau siapa mereka!”


"Dua orang! benar?

“Siapa, siapa?!"

“Dia benar-benar ... menyebalkan”

Felisa sadar bahwa ia memberi petunjuk yang terlalu mudah, di kelas ini hanya ada delapan orang siswa putra, mereka pasti dengan mudah menebak salah satunya atau mungkin keduanya.

“Tentu saja aku bercanda, aku sama sekali tidak tau” Ia lantas langsung pergi berharap berhasil meyakinkan mereka. Perlu kukatakan, hal itu amat diragukan.

Felisa menatap Rini, merasa bersalah. Berkali-kali ia mengutuk diri, seharusnya tadi ia tidak ke sana. Sekarang, ia tak berani duduk di samping Rini. Felisa menatap berkeliling, adakah orang lain yang bisa ia ajak bicara? Ada gerombolan yang sedang bernyanyi di luar, ada yang sedang mencoreti papan tulis bersama-sama, ada yang sedang menikmati angin dekat jendela. Tapi semuanya menimbulkan perasaan tidak enak pada Felisa. Ia memilih untuk menurut kali ini, dan melihat Bara yang sedang membaca buku.

“Bara! Sisa kelas hari ini, aku duduk disini ya? Aku dalam masalah”

Bara melihat Felisa sebentar, lalu membaca bukunya lagi.

“Bara! Tolong! Berhentilah bersikap menyebalkan!”

Bara menutup bukunya, ia melihat ke arah Rini “Kau memang biang masalah”

“Bara!”

“Jangan tanya aku, aku bukan pemilik kursi yang akan kau duduki”

“Kau benar! Mana Haris?”

“Mungkin di kantin? mungkin sedang di perjalanan ke kantin? Mungkin di perjalanan dari kantin?”

“Bara! Aku serius”

“Apa aku kelihatan bercanda?”

“Ya!” ia lalu mengambil tas Haris, berjalan ke tempat duduknya dan menukar dengan tasnya. “Rini! Aku akan duduk di depan, Bara akan mengajariku matematika”

Rini mengangkat kepalanya “Hari ini tidak ada pelajaran matematika”

“Oh, tidak perlu khawatir, ia membawa bukunya. Kau tau kan? Ia selalu membawanya”

Rini membaringkan kepalanya lagi, Felisa bergegas pergi dari sana

“Felisa” Rini tiba-tiba berucap, masih dalam posisinya

“Ya?”

“Kau benar, aku memang membencimu”

***

Felisa mematut-matutkan kepalanya ke meja. Ia merasa bodoh.

“Bisakah kau berhenti? Kau menggangguku, tau?”

Felisa menengok, namun ia tak menghiraukannya, lalu melakukan hal itu lagi. “Aku dalam masalah”

“Aku tidak peduli” Bara lalu mengubah posisinya. Ia berbalik agar bisa membaca bukunya di atas meja di belakangnya.

“Masalahku sangat besar”

“Teruslah bicara, dan aku akan mengusirmu”

“Aku rasa aku akan duduk disini sepanjang semester”

Bara berhenti membaca. “Kau tak bisa lakukan itu!”

“Aku bisa, aku sedang melakukannya. Lagipula, kau bukan pemilik kursi yang kududuki”

“Felisa!”

“Diamlah Bara! Siapa juga yang mau menghabiskan sisa semester bersamamu?” kata Felisa “Semuanya akan berakhir, semua ini akan berlalu”

“Lihatlah siapa yang sejak tadi bicara”

Bel berbunyi, namun guru belum memasuki kelas. Felisa menatap Rini yang masih membenamkan kepalanya, apakah tadi ia tak salah dengar? Ia berharap dirinya salah dengar. Rini tak mungkin benar-benar membencinya kan? Ia berharap ...  tapi berharap saja tidak akan menyelesaikan masalah. Ia memutuskan untuk meletakkan masalah itu sebentar, lalu mengeluarkan buku bahasa di depan mejanya, mulai mengerjakan beberapa soal.

Sudah sepuluh menit, dan guru bahasa belum juga datang. Bara memerintahkan seksi humas untuk menjemput beliau, tapi rupanya, Pak Banu memang tidak ada di tempat.  Beberapa siswa tersenyum mendengar kabar itu, kecuali Bara dan Felisa sepertinya. Felisa suka pelajaran bahasa, jadi kau bisa mengerti kenapa. Sedangkan Bara tidak suka dengan ketidakhadiran Pak Banu, tidak ada alasan khusus, ia hanya beranggapan bahwa beliau harusnya datang.

“Jangan ribut” ucap Bara, tapi percuma, siapa yang bisa tidak ribut ketika tidak ada guru, dan tak ada tugas? Bahkan untuk kelas dengan standar tinggi seperti kelas ini, sulit untuk menyanggah bahwa mereka merasa tertekan saat belajar.

Bara mengikuti jejak Felisa yang mengerjakan soal-soal bahasa, tapi bagaimana bisa ia berkonsentrasi jika kelasnya berisik bukan main, apalagi yang ia kerjakan adalah soal bahasa. Maka ia berjalan ke depan kelas, berdiri di sana dan memandang seluruh kelas dengan wajah garang. Ia tak bicara apapun, tapi justru kebisuan Bara yang lebih menakutkan dari amukannya. Tak lama, seluruh siswa menyadari sikap aneh ketua kelasnya, dan mereka bukan hanya menjadi diam, beberapa tertunduk malu, beberapa mengumpat dalam hati dan ada pula yang mencoba menantang diri untuk bertahan memandangi mata Bara.

Kesunyian kelas mulai terasa aneh, dan mereka mulai gelisah. Untungnya Bara kemudian angkat suara, dengan nada dingin yang acuh ia berkata “Kenapa kalian diam?”. Tak ada yang menjawab. “Rapat kelas, se-ka-rang” katanya lagi.

Suara mendesah dari berbagai arah. Rapat kelas tidak pernah menyenangkan. Ini adalah saat dimana Bara mengecek kinerja bawahannya, dan kebanyakan diselingi marah-marah. Meja-meja digeser ke depan, agar memberi cukup ruang untuk membuat lingkaran di belakang kelas.

“Sudah berapa kali kubilang, kita ini kelas unggulan ...” Bara memulai pidatonya. Seandainya aku bisa menutup telingaku.

***

Bara langsung pergi ke kamarnya begitu sampai di rumah, sedangkan aku terbang ke halaman belakang, menemui Tirta. Tirta sedang memberi makan kelinci saat aku datang. Begitu aku hinggap di pundaknya ia langsung bertanya padaku.

“Apa sih yang begitu menarik dari Bara, Mar?”

Aku menahan tawa, selama ini yang Tirta tau adalah aku pergi untuk mengikuti Bara ke sekolah, itu saja. Andai dia tau apa sebenarnya tujuanku mengikuti Bara ke sekolah. Lagipula, memang tak ada yang menarik dari Bara.

Sudah empat tahun sejak kejadian mengerikan itu. Aku akhirnya tau kalau Tirta adalah anak yang aku dan Acarya Darma cari. Sayang sekali waktu itu kami tidak bisa membawanya langsung ke Apsara. Tak apa, aku  masih bisa melatihya di sini, walau memang terbatas sekali. Aku juga agak kasihan padanya, perkembangan kemampuannya yang begitu cepat membuatnya jadi sulit menyesuaikan diri. Ia jadi mirip sekali dengan Braja.

Tirta kini berjalan masuk ke dalam rumah dan menghampiri kandang ikan. Rasa-rasanya, di rumah ini memang agak terlalu banyak hewan peliharaan. Lima ekor kelinci di halaman belakang, satu aquarium berisi banyak jenis ikan di ruang tamu, seekor anjing penjaga di depan rumah, juga ada dua ekor kucing sombong yang senang sekali berkeliling.

Bara keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum, ia berpapasan dengan Tirta. Mereka saling memandang, Tirta tersenyum pada kakaknya dan Bara memalingkan wajahnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^