12 Agustus 2015

Kuwalaya (Bagian 1)

Ditulis penuh kerinduan pada The Charming & @republik9K.
Tidak ada dendam, Mar memang gitu 'orang'nya


Malam itu sebenarnya adalah malam yang menyenangkan dan tidak perlu terjadi tragedi. Kalau saja pria paruh baya itu tidak memberontak, tidak akan terjadi pertumpahan darah. Kedua anaknya sudah tidur, dan kami hanya tinggal membawa salah satunya diam-diam. Aku tidak menyalahkan Acarya, tapi kalau saja ia menerima nasihatku dan tidak meminta izin dulu pada ayah anak itu, tentu segalanya akan lebih mudah.

Malam itu, empat tahun lalu kami datang dengan niat baik-baik. Melalui Marga di hari baik, di malam bulan purnama raksasa. Acarya Darma berjalan pelan-pelan ke ruang tamu dan aku bertengger di bahunya. Pria itu sedang menatap suatu kotak bercahaya yang menampilkan gambar orang-orang mengejar bola. Acarya Darma menyapanya dengan ramah, dan pria itu menatap kami kaget.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya

Aku sering melihat Acarya Darma bertemu kawan lama, dan pertanyaan mereka biasanya 'apa kabar?' Atau semacam itu. Pria ini aneh, tapi aku suka karna dia langsung ke pokok permasalahan. Acarya langsung duduk di salah satu sofa dan merenggangkan badannya, aku terpaksa terbang menjauh.

"Kau tidak rindu padaku?" kata Acarya Darma. Sejujurnya, aku tidak tahu hubungannya dengan pria ini. Tapi, sepertinya mereka memang pernah berhubungan dekat, dan entah kenapa wajahnya sangat familiar.

"Untuk apa kau di sini?" wajah pria itu menjadi ketakutan.

Acarya Darma menengok ke arahku. Ia menyuruhku untuk ke kamar anak-anak itu supaya aku tidak menguping, padahal aku sudah tau semuanya. Dan mengenai pria itu aku juga sudah tau, beberapa detik yang lalu.

Anak-anak yang manis. Yang kecil perempuan dan yang besar laki-laki, mereka tidur di satu kamar dengan ranjang yang berbeda. Ranjang-ranjang mereka juga kecil dan dipisahkan oleh meja dengan lampu tidur di atasnya. Di belakang meja itu terdapat jendela besar yang tertutup tirai sementara bagian dinding yang lain di hiasi bebagai tempelan seperti stiker bintang yang bercahaya, gambar diri mereka, benda-benda berkilau, dan kertas- kertas bergambar.

Untuk sementara, aku tidak tau yang mana diantara kedua anak ini yang kami cari. Tapi, menurut  logikaku, sepertinya yang anak laki-laki. Mengingat Raksa yang lain juga laki-laki, apalagi ia terlihat lebih besar. Ya aku yakin anak laki-laki itulah orangnya, dan Acarya Darma pasti juga setuju. Aku menghampiri anak laki-laki itu, anak yang tampan. Ia sedang bermimpi tentang penampilan hebatnya saat pentas drama di sekolahnya tadi pagi. Dia tersenyum, sepertinya ia senang sekali. Kalau menurutku, mengatakan sesuatu yang membuat orang tertawa itu tidak membanggakan, kecuali kalau kau sedang berkomedi. Eh, mungkin ia memang sedang memainkan drama komedi. Drama yang serius tidak memungkinkan hantu berkata ‘abang bahagia! abang bahagia!’ kan?—Ya ampun, aku tidak percaya ada orang yang mau mengucapkan kata-kata konyol seperti itu.

Tiba-tiba saja pintu ditendang hingga terbuka. Cahaya dari lampu luar jelas mengganggu aku dan anak-anak itu, apalagi suaranya keras sekali.

"Jangan gila!"  Acarya Darma berteriak. Aku terdiam, mencoba untuk mengerti keadaan. Pria itu, ia berniat untuk ...

"Kau yang gila!" kata pria itu. Ia memegang sesuatu yang berkilat-kilat dan ... tajam.

"Tidak! Hentikan! Mar! Cegah dia!"

Aku? Apa yang bisa kulakukan? Aku terbang ke arah wajahnya, mematuki kepalanya. Tapi tentu saja percuma, aku malah terlempar ke lantai. Pria gila itu mendekati anak laki-lakinya yang tertidur, dan mengangkat pisau itu tinggi-tinggi. Aku tak sanggup melihat.

Lalu terdengar jeritan si anak perempuan, ia menjerit ketakutan melihat pemandangan menegangkan dihadapannya. Kemudian ... aku tidak tau bagaimana kejadiannya ... pisau itu jatuh dan bergerak sendiri, dan malah menikam pria itu ... benar, pria itu tewas.

Itu adalah kejadian paling aneh dalam hidupku, hari sudah hampir pagi waktunya tidak akan cukup. Apalagi, setelah jeritan tadi, pasti akan banyak warga yang berdatangan, dan sepertinya Acarya Darma juga terluka. Aku mengerti, ia harus pergi sendiri dan aku akan melatih anak ini hingga waktunya tiba.

Boleh cuap-cuap?

Naskah ini sudah dibuat sejak awal 2014, yap, sudah setahun lebih, sejak saya kelas 9. Yang baru kalian baca ini adalah satu dari sekian banyak draft yang dibuat dengan beragam perasaan putus asa. Sudah tamatkah? Belum, mandeg sampai 'bab' enam, mungkin saya butuh tekanan.

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^