5 Agustus 2015

Ekabhanu Baswara

Hai untukmu yang aku yakin pasti membaca ini—atau tidak?—, tapi aku sungguh berharap kau tidak menyadari kalau ini kutulis untukmu. Benar-benar kondradiktif dengan tulisanku kemarin kan?

Tidak banyak yang ingin aku sampaikan padamu. Bagiku kau tidak spesial, kau memang berbeda, tapi aku tidak mau membuatmu melayang. Orang-orang lemah pantas untuk tetap menjejak tanah, aku tidak menghinamu, karena sejujurnya aku juga begitu.

Kita berdua punya banyak kesamaan, bahkan aku baru sadar kalau kita punya nama yang hampir mirip. Aneh aku baru menyadarinya setelah satu masa berlalu. Kesamaan, itu yang ingin aku bahas. Aku kasar, aku menyebalkan, aku menyedihkan. Dan kau juga begitu. Bagiku, ini adalah pertahananku, menjaga jarak dengan semua orang supaya aku tidak tersakiti, aku ini naif, jadi aku benar-benar harus pandai menjaga diri.


Bagaimana denganmu? Kenapa kau bersikap seperti itu? Aku rasa itu bukan topeng pertahanan seperti milikku. Aku tidak menuduhmu masih terlalu bodoh untuk membuat topeng dan terlalu polos, walau kau memang terlihat bodoh. Aku sadar aku sama sekali tidak berhak untuk menilaimu, aku juga tidak mengenalmu secara dalam. Aku sama sekali tidak tau bagaimana dirimu sebenarnya. Bisa saja kan, sikap bodohmu itu justru adalah topeng termulus yang pernah ada. Mana aku tau?

Kalau itu adalah topeng untuk menjauhkan semua orang, kau pasti berhasil sekali. Semua orang membencimu, kau tentu tau fakta itu kan? Suatu hari aku pernah membaca sebuah kisah fiksi. Dalam cerita itu, si tokoh utama di benci semua orang dalam satu divisi, padahal dia pintar, dan nyaris tidak diceritakan kenapa dia bisa dibenci seperti itu. Pokoknya semua orang benar-benar membencinya. Aku benci buku itu, salah satunya karena fakta tidak masuk akal itu. Memangnya ada orang yang dibenci satu divisi begitu? Tapi kau, kau, membuatnya nyata. Setidaknya semua anggota divisi penyerang membencimu. Aku? Ya, kau memang menyebalkan.

Tapi, sepertinya itu bukan tujuanmu. Suatu hari aku sadar sikap bodohmu itu hanya untuk membuat seseorang terkesan, mungkin supaya kau dianggap baik, dan berharap mereka tidak membencimu lagi. Kau pasti ingat kejadian itu. Itu adalah duel mingguan. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Acarya sehingga memasangkan aku denganmu, mungkin karena nama kita sama. Karena saat itu kita melawan Wekatama dan Wekayana.

Aku benar-benar melupakan kalau esok kita akan bertanding, tapi rupanya kau sudah menyiapkan segalanya. Kau memberiku sebuah pedang dari tulang Buraksa, aku tidak tau bagaimana kau mendapatkannya, tapi itu sangat sempurna. Pedang itu ringan, seringan seekor Buraksa berlari menembus angin. Pedang itu juga tajam, apalagi dengan mantra yang mengukirnya, tebasan anginnya saja cukup untuk membuat luka menganga.

Kau sendiri memilih mengambil busur dan panah dari kayu eboni, tidak terlalu bagus memang tapi itu cukup untukmu. Aku kadang heran, pemuda berbadan ringkih dan tidak pandai bertarung sepertimu bisa masuk divisi penyerang. Setidaknya, kau harus bisa bermain pedang.

Wekatama dan Wekayana memasang wajah tanpa ekspresi padaku dan padamu. Kita berempat masih duduk dipinggir arena, menunggu giliran. Aku tidak tau apa yang Wekayana katakan padamu, tapi kau lalu menoleh padaku dan berbisik.

“Aku mohon, kita bertukar senjata”

“Tidak,” kataku. Kau bodoh atau apa? Aku tidak bisa memanah, kau tidak bisa bermain pedang.

“Wekayana memintaku, aku mohon”

“TIDAK!” Aku berteriak, semua mata mengarah padaku. Tapi karena kita berdua sama-sama menyebalkan, semua langsung mengalihkan pandangan lagi. Kau terus memaksaku bahkan sampai hampir tiba giliran kita. Aku nyaris menebasmu, kesal karena kebodohanmu.

Kau bisa bayangkan apa yang terjadi kalau kita bertukar, kau akan dihabisi atau malah menebas diri sendiri, dan aku tidak bisa apa-apa. Untungnya itu tidak terjadi. Tapi aku sadar kau sebenarnya hanya ingin membuat Wekayana senang, sayangnya bukan disaat yang tepat.

Kadang aku merasa kasihan padamu, terutama saat kau berlatih pedang. Tapi rasa kasihan itu hilang begitu kau sangat kesal sehingga melempar pedang ke tanah dan pergi keluar arena. Setidaknya kau harus sedikit bersikap ksatria. Lebih baik mati daripada kabur. Tentu aku tidak menyuruhmu mati di depan boneka jerami, itu memalukan.

Tapi kau tentu mengerti maksudku, kan? Maksudku adalah berjuang, dan jangan tunjukkan kelemahanmu. Kelemahanmu adalah saat mengayunkan pedang kau terlalu berhasrat. Itu bisa saja bagus, tapi hasrat membunuhmu itu bisa membuat musuh di atas angin. Coba alihkan, hasrat memenangkan perang, membela kerajaan, atau harga diri.

Aku tau kau tidak mungkin tau apa itu hasrat memenangkan perang, kau bahkan tidak pernah berperang. Bagiamana bisa berperang jika kau di divisi penyerang dan tidak bisa menyerang? Aku harap di masa berikutnya kau dipindahkan, mungkin divisi kedutaan, itu akan cocok untukmu, tapi kau harus bisa menjaga perasaanmu baik-baik. Kau tidak boleh marah-marah dihadapan duta lain hanya karena mereka menjatuhkan pena. Ya, aku percaya kau bisa. Kau sudah dewasa, bukan remaja labil yang frustasi.

Kau tau? aku kadang bukan hanya heran padamu. Tapi, juga heran pada divisi penyerang. Kenapa mereka harus membencimu? Maksudku, kalau hanya menyebalkan, aku juga menyebalkan. Aku bahkan cukup yakin aku jauh lebih menyebalkan darimu. Setidaknya, ketika aku marah aku mengungkapkannya dengan cara yang paling sadis, aku melukai hati mereka. Walau kadang aku tidak sadar, setidaknya itu yang mereka katakan untuk melukai hatiku.

Kau? Kau hanya menghancurkan barang-barang dan menyakiti diri sendiri. Tapi sepertinya itulah masalahnya. Benda yang rusak bisa dibayar, hati yang terluka sulit untuk sembuh. Aku menyakiti hati dengan lisan. Jelas sekali siapa yang lebih buruk dari kita berdua, bukan? Tapi coba lihat, ingat-ingat, rupanya kau juga pernah menyakiti hati seseorang, mungkin hanya sekali, tapi ini mencoreng namamu selamanya.

Aku pernah mendengarnya, tapi tidak tau apa kisah ini benar. Kudengar, suatu hari kau tidak diundang dalam sebuah perjamuan teman-teman Anik Reswara. Kau kesal dan membunuh kudanya. Aku tau itu memang sikapmu, semua orang tau. Tapi semua orang juga tau betapa berharganya kuda Anik itu. Tidak ada yang tau siapa orang tua Anik, ia ditemukan dalam keranjang diatas kuda yang mengetuk pintu rumah seorang Acarya. Bagi Anik, Kuda itu adalah saudaranya sendiri.

Kau menyakiti hati seseorang untuk pertama kalinya, dan tidak ada yang mau memaafkanmu. Ironis, memang. Orang bilang, saat itulah divisi penyerang membencimu.

Kau tau? aku rasa sama sekali tidak terlambat kalau kau mau berubah. Aku tau berubah pasti sulit, aku sendiri benci setiap kali orang menyuruhku untuk berubah. Tapi dalam beberapa hal, sikap manusia memang harus ada yang dihilangkan.

Kau punya modal cukup memulai, kau punya jabatan penting di kerajaan, kau punya banyak relasi. Kau hanya perlu lebih banyak bersabar, berjuang dan pandai-pandai membaca situasi. Apalagi, aku yakin kau pasti akan pindah divisi di masa kedua ini. Aku yakin kau bisa.

Jangan terlalu geer hanya karena aku seolah mempedulikanmu. Aku tidak peduli padamu, aku hanya peduli pada diriku sendiri. Karena saat melihatmu, aku melihat diriku. Dan itu benar-benar mimpi buruk.

Tidak banyak yang ingin aku bicarakan. Kita baru kenal satu masa dan aku tidak yakin tentangmu. Jadi, semoga berjumpa lagi. Suatu hari nanti, aku ingin bertemu denganmu yang berbeda. Dengan Ekabhanu yang tangguh, berani dan hebat tapi tenang. Dan aku bisa membanggakanmu, berkata aku pernah mengenalmu walau ketika saat itu tiba kau tidak bisa lagi mengingatku. Tak apa, karena satu hal. Aku benci orang lemah, apa itu berarti aku benci diriku? Benar, sangat.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^