22 Agustus 2015

Analogi Dalam Analogi

Aku bermimpi aneh malam ini. Aneh, karena aku bisa mengingat mimpi itu dengan jelas, detailnya, rasanya, mimpi itu begitu terang, begitu nyata.

Aku berdiri di tepi jurang, tepatnya jurang yang kusebut Jurang Bhadra. Di sebrang, di tepi jurang lain, berdiri Wekatama yang menatap lamat-lamat ke bawah. Aku mengikuti arah pandangnya, tidak mendapati apapun selain kegelapan yang memesona, seolah memanggil untuk bergabung.

Tanpa sadar kakiku bergerak mundur, dari sudut mata, aku bisa melihat Wekatama juga melakukannya. Aku masih belum berhenti mundur ketika Wekatama mulai berlari maju, tapi aku juga ikut berlari ketika ia menjatuhkan diri ke dalam jurang.

Kami berdua akan bersatu dengan Jurang Bhadra, tapi bukan hanya itu yang membuat kami tersenyum, kami berdua juga akan berpisah selama-lamanya, karena kami tau di dasar jurang ada kematian yang menjanjikan. Lucu sekali, kami sama-sama ingin menyatu dengan kegelapan itu, tapi tidak ingin bersama. Perbedaan prinsip, aku yakin itu sebabnya. Tepat kemarin, aku baru mendengar kisah masa lalu Wekatama, yang membuatku tak ragu untuk merasa jijik.

Hal ini membuatku khawatir karena di masa ketiga ini, Bhadra masuk divisi penyerang. Tapi sekaligus tenang, karena ada kemungkinan Wekatama akan bersikap manis lagi. Aku tidak tau mana yang lebih buruk.

Satu-satunya yang wajar dalam mimpi itu adalah keadaan yang berubah tanpa kusadari, jurang itu tidak lagi memanggil, semua kesan ingin tenang dalam kematian menghilang. Aku malah menggapai-gapai udara mencoba menyelamatkan diri, saat sadar, tangan kiriku terasa sakit karena menggenggam batang mawar liar.

Aku membalik tubuh ke atas, melihat ceruk kasar di dinding tebing aku menarik mawar liar itu. Aku meneruskan pandangan jauh keatas, orang-orang bergerumul menatapku jatuh, aku bisa melihat ekspresi wajah mereka dengan jelas.

Mereka yang kuingat pernah tertawa denganku menatapku dengan kaku. Mereka yang tidak pernah tersenyum padaku hanya mendelik dan berlalu pergi. Ada satu orang yang memegang tali dengan wajah takut.

Perhatianku tertuju pada tiga orang dari masing-masing kategori itu. Soraba Sudana, yang pertama kali pergi, kami memang tidak pernah bicara, yang ada dia sepertinya selalu ingin membunuhku setiap latihan, tapi aku tidak pernah bisa marah akan hal itu. Melihatnya pergi, malah membuat hatiku sakit.

Lalu, Pandyawira Sudana, kembaran Soraba. Aneh kenapa dia ada di sana juga—menatapku dengan kaku—seingatku dia sudah pergi ke ... entah kemana, setelah dibubarkannya Adibrata. Dulu aku mengagguminya, sebelum semua rasa kagum itu jatuh pada adiknya.

Kemudian, Ekabhanu Baswara, satu-satunya yang matanya berair ketakutan. Ia memegang tali.


Ketika seseorang melemparmu dengan bongkahan emas sampai pingsan, lalu emas itu menggelinding ke sungai, kemudian kau sadar jirah yang kau idamkan tapi tak bisa kau beli semakin mahal harganya, dan kau terbangun di rumah seorang pengemis bau, yang selama ini selalu kau sapa karena kasihan. Apa yang kau rasakan?

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^