1 Juli 2015

Wiga

Aku menjatuhkan pedangku. Badanku limbung, aku nyaris jatuh telungkup kalau tanganku tidak cukup kuat untuk menopang berat badanku. Otomatis aku bisa melihat bayanganku sendiri di lantai marmer yang mengkilap. Oh, lihatlah! Aku hanya remaja enam belas tahun yang selama ini dibodohi dongeng!

“Kana! Ayo! Apa yang kau lakukan!” Puspa meneriakiku, ia tak bisa apa-apa tangannya terikat akar pohon yang usiannya sudah ribuan tahun.

Didepanku, berdiri Wiga itu. Ia tidak menyerangku meski kondisiku sudah selemah ini. Pertanda betapa jujurnya ceritanya barusan.

“Kana! Ingat apa yang telah ia lakukan!” suara Puspa menggelegar menggetarkan dinding-dinding balairung itu.

Apa yang telah ia lakukan?

Yaah, Wiga yang mengaku bernama Rajata itu telah merusak hidupku. Hidupku yang sebenarnya sudah cukup menyedihkan.

Aku mengenal Rajata beberapa bulan lalu, saat tahun ajaran baru dimulai. Kami langsung berteman baik, aku sama sekali tidak mencurigai dirinya, atau menganggap ada hal aneh dari dirinya. Selain seorang teman sebaya yang maniak game, juga memiliki pesona luar biasa di antara anak-anak perempuan, banyak orang yang seperti itu kan? Lagipula, aku suka dia karena namanya aneh, seperti namaku. Rajata, artinya perak. Namaku sendiri, Kanaka artinya emas. Lalu aku merasa harus mengenalkannya pada sahabatku, Ariti—perunggu.

Saat itu, di taman, aku belum menyadarinya, tapi hal-hal diluar akal mulai terjadi. Dadaku sakit ketika ia mengenggam tangan Ariti untuk pertama kalinya. Begitu pulang, aku melihat dadaku berwarna kemerahan, dengan pola seperti ... ular?

Aku bermimpi buruk sejak saat itu. Mimpi aku berada di tempat amat gelap tapi aku tau amat luas. Sebuah cahaya dari atas menyinariku seperti yang kau pernah lihat di teater. Aku bisa melihat retakan di tempatku berpijak lalu aku jatuh ke lubang tak berdasar. Rasanya seperti berhari-hari, namun saat aku bangun, aku baru tidur satu jam. Begitu aku kembali tertisur, mimpi yang sama kembali lagi.

Aku memutuskan untuk tidak tidur. Tapi mana mungkin bisa? Aku sering tidak sengaja tidur di kelas, di kamar mandi, di bis, di bilik telepon umum atau tempat-tempat tak lazim. Selalu sama. Mimpi memuakkan itu. Belum lagi rasa sakit di dada yang selalu aku rasakan setiap melihat Ariti dan Raja bersama-sama.

Aku sudah hampir gila ketika bertemu Puspa. Kami punya masalah yang sama.

Kepada Puspa ia mengaku bernama Rangga. Ia mengganggu kehidupannya dan sahabatnya, Ranti.

Apa yang telah ia lakukan? Banyak.

Korbannya bukan hanya kami. Belasan tahun lalu, sebelum aku lahir, dari yang ku dengar dari Rodra, perang saudara yang terjadi merupakan ulahnya. Ia tidak hanya menyiksa secara batin tapi menyakiti secara fisik. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan makhluk ini.

Aku teringat sebuah legenda nenek moyangku. Wiga adalah makhluk malang. Dahulu sekali, Wiga adalah pahlawan bagi bangsa ini. Mereka kuat, cerdas dan setia. Bukan hanya secara fisik, para Wiga juga memiliki kekuatan yang berbeda dari manusia biasa, para petinggi kerajaan selalu menjadikan mereka mata-mata dalam perang apapun.

Lalu ada seorang Wiga yang berkhianat—ia tidak melaksanakan misinya tanpa konfirmasi apapun, karena seorang gadis yang dicintainya dari pihak musuh. Kekasihnya itu menceritakan pada sahabat dan kekasih gelapnya identitas sebenarnya si Wiga. Kabar tersiar dengan cepat, kerajaan asal Wiga itu mengetahui pengkhianatan Wiga itu.

Seluruh nama Wiga tercemar. Wiga tidak pernah tidak dipercaya lagi, semua orang menyalahkan Wiga yang berkhianat itu.

Hari ini aku berdiri di hadapan entah keturunan keberapa dari Wiga itu. Bangsa Wiga rupanya menuntut dendam.

Puspa mengajakku untuk tidak diam saja.

Rintangan yang kutemui ternyata sulit bukan main. Pertama kami harus menembus dunia lapis tiga puluh enam untuk bisa bertemu dengan wujud Wiga yang asli. Dibantu Rodra, aku berhasil walau harus kehilangan salah satu jari kelingkingku. Lalu kami harus mencari dua senjata perak yang berada di tempat tertinggi dan terendah dunia itu.

Aku memang bermental lemah. Belakangan aku baru menyadari rasa sakit didadaku ini merupakan ulahnya, tapi bukan hanya itu saja. Terpendamnya perasaanku terhadap Ariti adalah yang menyebabkan Rajata mudah saja membuat tato itu. Lalu membuatku sakit hati setiap saat. Tapi aku diam saja, aku benar-benar makanan empuk buatnya.

Tidak heran saat ia selesai bercerita pun aku bisa langsung lemas begini. Ia bercerita mengenai betapa malang nasibnya. Betapa kejam manusia.

Rupanya kejadian buruk yang menimpa nenek moyangnya tidak sepenuhnya salah sang Wiga yang jatuh cinta pada manusia. Lebih dari itu, pihak kerajaan rupanya sudah merencanakan genosida pada bangsa itu. Mata-mata adalah pengkhianat pihak musuh, bukan tidak mungkin bisa mengkhianati kerajaannya sendiri. Bisa kau bayangkan itu? ia menceritakannya dengan begitu cerdik, membuatku merasa kasihan.

“Manusia adalah monster yang sebenarnya. Mereka tidak segan membunuh suatu bangsa hanya karena kesalahan satu individu bangsa itu. Kau pasti akan membunuh seekor serigala yang lewat di belakang rumahmu. Bahkan sebelum ia mencuri ayam mu”

“Jangan dengarkan dia, Kana! Ingat dia telah bersalah, kata-katanya tidak berarti”

“Jadi kau akan membunuhku karena dendam? Khas sekali ...”

“Kau sendiri dendam, Raja” kataku.

“Karena aku punya darah manusia dalam tubuhku” katanya.

Aku tidak bergerak. Raja juga, kami berdua saling terdiam merenungi nasib masing-masing.

Desingan keras datang dari arah Puspa entah kapan dia berhasil meloloskan diri dari jerat akar pohon tua itu. Ia telah melesatkan anak panahnya.  Menembus dada Raja.

“Demi masa lalu yang penuh rasa sakit dan masa depan tanpa teror” kata Puspa.


Aku hanya melihat tubuh Raja yang terjatuh. Aku terlalu banyak membaca dongeng. Sekarang aku tidak tau di mana aku berdiri. Tokoh pahlawan yang mengalahkan antagonis, atau sekedar penjahat yang menang dalam dongeng kelam yang tidak disenangi anak-anak.

Sebuah cerita yang lama mendekam di kepala dan ingin cepat-cepat saya akhiri. Terinspirasi dari lagu Runaway Baby yang dipopulerkan Bruno Mars. Jangan tanya di mana benang merahnya.p.s. Puspa adalah gadis dari cerpen ini

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^