4 Juli 2015

The Charming Bukber

Saya gak inget kapan terakhir ketemu The Charming. Makanya waktu ada rencana bukber bareng TC, kok rasanya kayak mimpi. Serasa boongan, saya sama sekali gak deg-degan rasanya juga sabar-sabar aja. Termasuk waktu jam satu tanggal dua puluh sembilan Juni itu Hania ngabarin kalo berangkatnya jam dua bukan abis ashar. Saya memang buru-buru, tapi segalanya kerasa enteng. Lima belas menit pun cukup buat ganti baju dan sibuk ini-itu.

Di detik-detik terakhir secara ajaib, nomor Fira yang lama mendekam di kontak saya membalas. Saya menawarkan usul untuk berangkat bareng, tapi ternyata Fira udah berangkat duluan. Dan ironisnya angkot yang saya tumpangi malah ngetem di depan gang rumah Fira. Aneh, karen saya jadi takut kita udah gak kompak lagi setelah lama gak ketemu.

Tapi kejadiannya gak begitu waktu saya dan Hania nyampe di gang rumah Mila. Baru juga turun, gak pake jejeritan kangen kita udah ngakak. Secara singkat, kita ketawa gara-gara Galuh ternyata gak bisa ikut. Secara rumit, begini. Galuh bilang gak bisa ikut, kenapa? Karena sebuah kabar buruk yang bikin Fira gak percaya sampai terkekeh. Lama kami berusaha meyakinkan Fira tapi dia terus terkekeh dan kami tertawa mendengar kekehannya.

Memang sangat disayangkan tapi akhirnya kami pergi ke rumah Mila tanpa Galuh.

Kami disambut ibunya Mila yang ramah. Dan seperti biasa masuk ke rumah Mila yang di depan. Tapi, memang ada yang berbeda dari rumah Mila itu. Tempat itu jadi lebih terbuka, pohon Rambutannya udah gak ada dan perdu-perdu yang biasanya ada di halaman Mila juga gak ada. Hal berbeda lainnya, kita gak disuguhin sirop seperti biasa, hehehe.

Kami mulai selonjoran dan memutuskan menghubungi Galuh pake hape Intan yang tidak bergantung Wi-Fi (horang kayah~). Mulai VN gak jelas dan nanya-nanya tentang si Culhitz.

Lalu kami mulai ngobrol ngalor ngidul, tentang masa lalu, juga masa kini. Tentang usia kami yang semakin menua; tentang cerita saya; tentang situs-situs wattpad, pinterest, pottermore; tentang Fira yang masuk Gryffindor sedangkan saya Slytherin dan Hania Hufflepuff (kurang Ravenclaw XD); tentang golongan darah; tentang sekolah dan guru-guru; dan hal lain yang saya lupa. Ngakak emang bisa bikin amnesia.

Saya juga gak inget kenapa kami kemudian memutuskan untuk foto-foto (sepertinya memang tidak butuh alasan untuk itu). Fira mulai menggila, dia bikin pose foto baru. ‘gaya bayi’ sebutannya, yang pada percobaan pertama malah bikin dia keliatan horror.


 

Jam empat, kita berangkat ke Botani Square. Dan langsung ke foodcourt. Sampe jam lima kurang, saya ngajak Intan buat nganterin ke Gramedia buat beli novel The Silkworm­-nya Robert Galbraith alias J. K. Rowling yang udah jadi wishlist berdua dari tahun lalu. Sayang stok lagi kosong, padahal saya udah cape-cape nabung :(. (Mahal lo harganya, seratus sembilan belas ribuu :( ) Saya, Intan dan Fira kembali ke foodcourt dengan tangan kosong, meminggul sakit hati gara-gara dikacangin pegawai Gramedia :(.

Begitu kembali Hania sama Mila lagi ketawa-ketawa megang hape Intan. Rupa-rupanya mereka lagi ngebajak ... Secara ajaib dia jadi peserta olimpiade Gojigo. Wkwkwk



Jam setengah enam, kami mulai memesan. Semua kompak ngikutin Mila beli ayam penyet dan es teh manis. Saya sendiri heran bagaimana saya bisa lupa kalo saya alergi teh. Dan dengan santai menyeruputnya sampai  habis begitu adzan maghrib berkumandang dan berakhir sakit perut seharian keesokkan harinya.

Saat makan selalu menjadi sepi karena mulut kami penuh. Begitu selesai, kami yang masih enggan pulang demi melepas rindu memikirkan kegiatan berikutnya. Fira tadinya mau beli kebab, tapi dia kekenyangan (FIRA KEKENYANGAN!!). Intan tadinya mau menukar kupon Line, tapi baterainya habis. Sambil menuggu ide lagi-lagi kita foto-foto.


Beli crepes yuk!”

Lagi-lagi saya tak bisa ingat siapa yang mengusulkan itu. yang langsung disambut persetujuan oleh yang lain. Lucu juga, soalnya bukber tahun lalu kita juga beli crepes, bedanya waktu itu terpaksa gara-gara foodcourt penuh. Dan tahun ini kita bahkan lebih repot dari pada penjual crepesnya. Gara-gara bingung sama pembagian uang kembalian, dan semua gara-gara Intan nyumputin goceng.

Jam delapan, Mila ngajakin ke funmart. Saya pergi ke Gramedia dulu buat nyari buku titipan Mila (adik saya). Seri Misteri Favorit Kiddo nomor satu, tiga, delapan atau sembilan. Empat-empatnya kosong, cih. Saya terharu ternyata empat teman saya itu nungguin saya di Gramedia alih-alih langsung duluan ke funmart.

Sehabis membeli kartu seharga delapan puluh ribu, kami berusaha sekuat tenaga untuk menghabiskannya cepat-cepat karena hari semakin larut. Saya gak berani main macem-macem, cukup paham kalau saya ini pamaeh. Tapi, sekali-sekali ikutan juga sih.

Awal-awal kayaknya kita sial terus gara-gara cuma dapet tiga atau satu bahkan nol tiket dari tiap permainannya. Baru setelah Mila merapalkan mantra Gojigo kami mulai hoki. Dan berakhir dengan seratus lima puluh empat tiket, termasuk tiket-tiket yang ditinggalkan oleh pemiliknya, juga dari permainan level anak di bawah tujuh tahun, wkwkwk.

Tiket-tiket itu kami bagi lima dan sepakat masing-masing mendapat sebuah jepit rambut biru seharga tiga puluh tiket. Empat tiket sisanya kami tukar dengan permen yang entah di ambil siapa.

Pulang jam sembilan, rasa takut baru menelusup. Ayah saya tiba-tiba pulang dan saya jadi takut dimarahin. Untungnya jalan cukup sepi malam itu. Tidak ada acara macet-macetan untuk sampai rumah. Dan alih-alih marah, ayah malah berbaik hati menjemput saya. Walau sudah setengah jalan, setidaknya saya tidak harus berjalan sendirian melewati kebon dekat lapangan Voli, tidak ada yang main futsal.

Sebenarnya waktu menempuh setengah jalan kaki itupun saya tidak sendiri, ada Bunda (ibunya Yayu, teman SD) yang berjalan di depan saya. Kami baru sadar satu sama lain begitu di pertigaan dekat koperasi, tepat saat harus berpisah karena beliau pergi ke arah Legok dan saya harus ke arah Komplek Atas. Begitu berpisah, saya langsung melihat Ayah dan Mila, adik saya dari arah Komplek Atas itu. Ayah sama sekali tidak marah.

Hari itu menyenangkan sekali. Satu-satunya kabar duka selain ketidakhadiran Galuh adalah kenyataan saya sama sekali tidak membawa novel baru. Intan lupa tidak membawa The Monogram Murdersnya Sopphie Hannah, saya lupa bilang mau minjem Dunia Anna - Jostein Gaarder dari Fira, saya tidak berhasil membeli The Silkworm maupun salah satu dari Seri Misteri Favorit Kiddo. Mungkin lain kali, dan lain kali saya juga akan meminjam Wool karya Hugh Howey dari Fira, oh iya, Intan juga punya Dunia Sophie, ya?

Aaak, gak sabar buat kumpul-kumpul TC berikutnya! The Maze Runner: Scorch Trials, mari nonton Thomas (Brodie-sangster :p) sama-sama!

 

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^