25 Juli 2015

Tujuh Detik Menghilangnya Aku (Our Problem #1.5) - Bagian 3

Bagian 1
Bagian 2

Kalau kuhitung pagi berikutnya sudah hari ke-empat aku di sini. Keinginan untuk pulang mulai memudar, karena aku sadar itu terlalu tidak mungkin. Hari ini aku dan Anna berencana berkeliling Harrogate lagi, tapi kami baru boleh pergi setelah istirahat siang. Aku tidak diizinkan mengantar troli karena jalanku pincang. Padahal aku ingin sekali bertemu wanita itu juga kakek itu.

Anna mengajakku pergi ke hutan yang ia sebutkan kemarin. Aneh sekali? Dia kan takut ke hutan, apalagi sekarang kan sudah sore. Dia juga bilang akan pergi piknik. Apanya yang piknik? Dia tidak  ingat kemarin melempar salju ke wajahku?

Tapi Anna memang agak aneh akhir-akhir ini, umm aku tidak tau juga sih, aku baru mengenalnya. Mungkin dia memang begitu. Aku menunggu di dapur, sedangkan Anna pergi pulang untuk menyiapkan keranjang piknik—dia diantar Calvin.

Karena bosan aku memutuskan untuk berkeliling hotel. Maksudku memutarinya. Rasanya tidak sedingin saat pertama aku kemari. Apalagi karena kakiku terasa semakin hangat selama aku di sini. Saat sudah sampai di depan hotel, aku melihat mereka, tamu nomor 64 dan 111. Mereka ternyata cukup akrab, mereka menoleh ke arahku, lalu tamu nomor 64 tersenyum dan melambaikan tangan padaku.

Aneh rasanya, tidak banyak orang yang mudah mengingat wajahku. Karena terlalu senang aku menghampiri mereka.

“Anda baik-baik saja, Nyonya?” wanita itu tersenyum, lalu mengagguk.

“Kalian mau piknik ya?” tanya si kakek. Aku memandangnya heran, lalu dia menyahut lagi “Anna bercerita padaku” katanya. Eh?

“Tuan mau ikut?” tanyaku

Si kakek tampak berpikir sebentar lalu menggeleng, aku mengerti, pasti dia masih waras.

“Mungkin Nyonya Neele mau” kata si kakek.

Lupakan, tidak ada yang waras di sini.

Anna datang kearahku, sambil berlari dan membawa keranjang piknik. Dia memanggilku, lalu saat aku menoleh dia terantuk akar pohon dan jatuh ke salju. Kami bertiga tertawa melihatnya.

“Kalau begitu aku permisi, Nyonya Neele, Fatiah” kata si kakek. Dia bahkan tau namaku?

Aku segera menghampiri Anna dan membantunya bangun, sambil melihat kepergian si kakek, dia berkata:

“Kita tidak usah ke Oak Beck ya?” katanya. Memangnya siapa yang mau ke Oak Beck? Apa pula Oak Beck itu?

“Kita piknik di sini saja, tidak usah ke hutan”

Aku mengangguk. Terserah dia saja lah.

Anna menyiapkan pikniknya. Dia menggelar quilt dari kain perca dan mulai menyiapkan makanan. Aku tidak terlalu memperhatikannya, karena pandanganku terfokus pada Calvin yang mengintip dari balik bangunan hotel. Jelas dia sedang memperhatikan kami.

“Anna, kita main perang bola salju yuk?” ajakku. Sebenarnya, aku mau mendekati si pemuda itu.
“Eh?” dia malah bingung.

“Biar aku yang menyiapkan sandwich-nya” kata Nyonya Neele.

Kami berdua berterimakasih dan meninggalkannya.

Sepertinya sasaran Calvin bukan aku dan Anna, karena pandangannya terus menatap Nyonya Neele.
Aku melihatnya sendiri, Calvin seperti tidak sabar melihat Nyonya Neele untuk makan. Bagiku adegan itu seperti di film ketika si penjahat akan meracuni korbannya. Jarakku masih belum terlalu jauh dari Nyonya Neele, jadi dengan kurang ajar aku melempar bola salju ke arah sandwichnya. Semua orang kaget, aku yakin itu. Tapi aku tidak melihat ekspresi Anna ataupun Nyonya Neele, aku melihat Calvin. Dia mencari-cari arah datangnya bola salju itu, dan melihatku dengan bingung. Lalu dia pergi.

“Fatiah!” kata Anna “Apa yang kau lakukan?” nada suaranya marah, tapi wajahnya terlihat sedih. Aku baru tersadar atas apa yang telah aku lakukan.

“Aku ... aku minta maaf” kataku.

“Tidak apa, kita bisa membuatnya lagi” kata Nyonya Neele.

“Tidak usah” Anna mengambil keranjang pikniknya, lalu pergi sambil menangis.

Eh, aku kan sudah minta maaf. Lagipula, aku hanya merusak satu sandwichnya. Kenapa sih dia sensitif sekali? Karena bingung, aku mengambil sandwich yang tergeletak di atas salju. Permukaannya jadi putih. Tapi, apa masuk akal kalau seledrinya juga? Bau almond, sianida? aku tidak percaya pada diriku sendiri, aku pasti terlalu banyak membaca cerita detektif. Tapi kalau benar, ini pasti kebetulan yang—sangat—luar biasa.

***

Malamnya aku mengantar troli lagi. Tapi kali ini aku tidak ke kamar Nyonya Neele, sepertinya dia memutuskan untuk makan malam di bawah, baguslah. Lalu Calvin sepertinya mengatakan pada Sylvia untuk tidak membuatkan makan malam untuknya, aku penasaran, apa saja yang dia lakukan sepanjang malam hingga tidak sempat makan.

Sekali lagi aku ke kamar 64. Si kakek yang belum aku tau namanya itu di sana. Tersenyum ramah kepadaku. Sepertinya tidak ada salahnya kalau aku bertanya namanya, toh dia juga tau namaku.
“Snyder, Jason Snyder. Kau bisa memanggilku kakek Jason kalau mau”

Aku kaget bukan main. Dia Jason Snyder? Penjelajah waktu yang disebutkan Fira? Jangan-jangan pelayan yang diceritakan itu ... aku? Pantas saja dia dengan bodoh percaya, maksudku aku.

Kakek Jason kelihatannya senang melihat kebingunganku. Dia lalu bertanya.

“Namamu aneh, ya? Tidak terdengar seperti orang Inggris”

“Aku memang bukan orang sini”

“Begitu,” katanya, mengangkat sebelah alisnya. “Kalau begitu dari mana?”

Aku menyebutkan nama tempat asalku. Tanpa kuduga Kakek Jason menjawab.

“Aku juga pernah kesana”

“Apa?”

“Tetap saja, namamu cenderung asing”

Mau tak mau akhirnya aku membalas. “Namaku nama dari masa depan” aku tidak terlalu memikirkan apa reaksinya. Atau resikonya, memang ada resikonya? Kalau seandainya dia benar-benar penjelajah waktu, mungkin dia bisa membawaku pulang.

“Jadi, kau penjelajah waktu?” tanyanya

Aku memutuskan untuk tertawa, seolah itu ide konyol. Pembicaraan ini seperti antar orang yang-tahu-sama-tahu saja.

“Permisi, Kakek Jason” kataku sambil meninggalkan kamar itu.

***

Lagi-lagi aku terbangun dengan Anna sudah ada disampingku. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tapi sepertinya itu karena dia masih marah padaku.

“Ayo kita ke Oak Beck” katanya.

“Apa itu Oak Beck?”

“Hutan itu, dasar konyol” ia lalu pergi. Mengisyaratkan agar aku bersiap.

Aku tidak suka Anna yang seperti itu, mengingatkanku pada seseorang saja. Kenapa dia tidak mencoba membuatku nyaman sebagai penduduk baru di sini, eh?

“Kita libur lagi atau bagaimana?” tanyaku pada Anna.

“Kau, ya. Aku, tidak”

“Kau bolos?”

“Tidak. Aku sudah berhenti jadi pelayan pengganti”

Aku menggumamkan oh sebentar.

“Apa kita bisa naik bus ke Oak Beck?”

“Tidak”

“Lalu?”

Anna tidak menjawab. Gesturnya seperti menyuruhku diam.

Kami baru saja turun dari loteng dan menyusur lorong untuk sampai ke lift. Lalu aku melihat Calvin lagi, sedang mengintip ke lubang pintu kamar 111. Aku ingin menghampirinya, dan memarahinya. Tapi Anna menarik tanganku, menyuruhku untuk buru-buru.

Perasaanku tidak enak. Padahal Anna menarik tangan kiriku, tapi rasanya tangan kananku ada yang menggenggam juga. Lalu, aku merasa khawatir pada Nyonya Neele. Rasanya, aku harus menjaganya. Rasanya? Bagaimana caranya merasakan peristiwa? Aku konyol sekali dan terdengar seperti Fauzi.
Semoga dia baik-baik saja. Semoga Nyonya Neele baik-baik saja.

Di bawah, ternyata Kakek Jason sudah menungguku dengan Anna. Dia berbaik hati memberi kami tumpangan ke Oak Beck. Sepertinya mereka sudah kenal sejak lama. Aneh juga, karena seingatku Jum’at kemarin itu Anna baru pertama kali jadi pelayan pengganti.

Sudahlah.

Kami tiba di Oak Beck hanya sekitar sepuluh menit. Padahal jaraknya cukup jauh. Jalanan memang sepi, sih.

Sesampai disana, aku bingung harus apa. Lalu mendapatkan lemparan bola salju dari Anna. Akhirnya kami bermain perang bola salju. Tidak apalah, mungkin dengan begini dia bisa memaafkanku. Kakek Jason bahkan ikut bermain, aku tidak menyangka dia masih kuat berlari. Melihat keriput di wajahnya, orang seumuran dia sewajarnya tidak bisa banyak bergerak.

Lama-kelamaan, perang antara tiga orang itu jadi hanya antara Anna dan Kakek Jason saja. Yaah, aku sudah terbiasa diabaikan. Malah seringkali aku sendiri yang minta diabaikan, apalagi kalau sudah mendapat tatapan aneh dari orang-orang karena aku berbicara secara menggebu-gebu tentang buku-buku yang kubaca.

Aku menengok ke arah ‘hutan’ yang ada di dekat kami. Satu-satunya hutan yang pernah kulihat adalah yang ada di dekat rumah Dokter Owl, itupun hanya melihatnya saja. Aku tidak pernah mencoba masuk, karena hutan itu terlihat sangat gelap dan lebat. Aneh juga kenapa Dokter Owl mau tinggal di dekat sana.

Tapi hutan ini berbeda, pohon-pohonnya jarang-jarang lagipula tidak ada yang berdaun. Aku rasa aku tidak akan tersesat kalau masuk kesana.

Aku memutuskan untuk berjalan lurus saja, dan menyeret-nyeret kakiku, jadi Anna dan Kakek Jason bisa menemukan jejakku. Atau aku bisa kembali dengan mengikuti jejak itu. Hutan itu sepi sekali, meski terang benderang. Aneh, sama sekali tidak ada hewan yang muncul disana.

“Mungkin mereka bermigrasi” pikirku.

Aku akhirnya sampai di pinggir sebuah lembah. Ada sungai membeku di bawahnya. Ada jembatan juga. Tadinya aku mau menyebrangi jembatan itu, tapi kupikir aku sudah terlalu jauh. Aku diam saja di bibir lembah itu. Memandang ke bawah. Pemandangan yang indah sebenarnya, walau menyeramkan di saat yang sama.

Ada deru nafas di belakangku. Aneh tadi aku tidak merasa ada yang mengikutiku. Saat aku hendak menoleh ... orang itu mendorongku.

Aku jatuh ke lembah itu. Berguling-guling menelusuri salju. Batu dan perdu tidak bisa menahanku untuk berhenti, yang ada malah membuat badanku sakit. Tapi, tadi itu ... Anna kan?

Aku baru berhenti berguling saat sampai di dasar lembah, dengan posisi telungkup. Badanku sakit semua, kesadaranku hampir hilang. Aku tidak bisa bergerak. Apalagi setelah guguran salju menutupi seluruh tubuhku. Aku akan mati.

Aku pernah membacanya, orang yang berkepribadian lemah biasanya akan sangat berbahaya jika marah. Mungkin Anna juga begitu. Dia akhirnya sadar aku mempermainkannya, dan ... tapi itu tidak masuk akal. Hanya karena aku menyakiti hatinya, bukan berarti di boleh mencoba membunuhku. Tidak, membunuh memang tidak boleh.

Nyatanya aku tidak mati, belum. Aku pasti mati suatu saat, tapi bukan karena jatuh terguling dan dikubur oleh salju.

Seseorang menemukanku, tepatnya kakiku. Kakiku yang selama ini merasa hangat, mencairkan timbunan saljunya. Konyol. Benar-benar tidak ada logikanya. Aku kira aku hanya merasa kakiku hangat saja, bukannya kakiku benar-benar hangat. Bagaimana caranya kakiku bisa hangat, sedangkan anggota tubuhku yang lain tidak? Dan bagaimana kakiku bisa tetap hangat di dalam tumpukan salju?

Sudahlah, aku bisa berada di masa lalu saja sudah sangat aneh.

Dan tebak siapa yang menyelamatkanku? Willis Santos, suami Victoria Santos, Orang tua Annabeth Santos.

Jangan menatapku begitu.

***

Aku kembali ke hotel besoknya, setelah dirawat semalaman oleh mereka. Anna bertingkah aneh, mungkin dia pikir aku tidak melihatnya saat dia mendorongku jatuh ke lembah itu. Dia berkata:

“Oh, Fatiah. Aku mencarimu kemana-mana. Tapi aku tidak menemukanmu, jadi aku dan Kakek Jason kembali ke hotel. Aku kira kau di sana. Kau baik-baik saja kan? Kami kira kau mati”

Itu sih maumu.

Menjijikan. Dia kembali bertingkah seperti seorang penggugup yang tidak bersalah. Catat ini, aku akan memperhatikan dia seumur hidupku, aku pernah membacanya, orang yang pernah membunuh bisa membunuh lagi.

Sayangnya aku tidak bisa memperhatikannya lagi. Seperti katanya, dia sudah tidak jadi pelayan pengganti. Tenang saja, Anna, kalau suatu hari ada kasus pembunuhan. Kau orang pertama yang aku curigai.

Agak aneh karena aku sudah sangat merasa sehat hari itu. Aku bahkan merasa bisa kembali bekerja. Sepertinya ibunya Anna itu peracik obat herbal paling manjur di Harrogate, walau aneh juga kenapa bisa ada peracik obat herbal di Inggris?

Meski begitu, Eliza tidak menyuruhku bekerja. Jadi kupikir untuk mengawasi Calvin yang terus mengawasi Nyonya Neele. Ada apa dengan mereka berdua? Lama sekali aku mengawasi dia, dan tidak terjadi apa-apa. Aku bosan, jadi aku pergi ke dapur dan membawa troli, pura-pura mengantar makan siang.

Sambil membawa troli itu masuk aku memandangi Calvin di tempat persembunyiannya di balik pot bunga raksasa dengan tatapan ‘aku bisa melihat apa yang kau lakukan disana’

Tapi kemudian aku juga bingung harus apa di dalam. Nyonya Neele sedang berbaring sambil membaca buku. Dia bingung karena dia tidak memesan makan siang. Tapi dia mengizinkanku tetap tinggal di sana.

Mungkin aku bisa memergoki Calvin kalau dia berbuat macam-macam.

“Anda kenal Calvin, Nyonya? Calvin Frank dari kamar 89”

Nyonya Neele menerawang. Lalu menggeleng.

Lalu aku mengelilingi ruangan itu. Tidak sengaja kulihat ada sebuah kertas disana. Aku tau ini tidak sopan, tapi aku membacanya.

Archibald Christie

Nama itu sama sekali tidak asing bagiku. Pikiranku melayang ke pembicaraan antara aku, Dokter Owl, Fira dan Aldo. Beberapa hari yang lalu. Ya ampun.

Fira, apa dia sengaja membawaku kemari? Jadi wanita ini benar-benar ...

“Nyonya, boleh aku bertanya beberapa hal?”

Nyonya Neele melepaskan pandangan dari buku. Dia tersenyum, baginya pasti aku hanya anak kecil yang banyak ingin tau.

“Hari ini tanggal berapa” aku menanyakan pertanyaan yang paling menakutkan bagiku enam hari ini. Sambil mengingat informasi yang aku ketahui dari berbagai blog misteri.

“Tanggal delapan”

“Secara lengkap”

“Rabu, delapan desember sembilan belas dua puluh enam”

Sejak tanggal 3 Desember, Agatha seolah hilang ditelan bumi hingga akhirnya ia ditemukan pada tanggal 14 Desember

“Nyonya, dimana tepatnya Harrogate di Inggris?”

“Yorkshire utara”

di sebuah hotel di Yorkshire. Tepatnya di Hotel Swan Hydropathic, Harrogate

“Nyonya, siapa nama lengkap anda”

“Teresa Neele”

dengan nama samaran Mrs Teresa Neele. Nama yang memiliki nama belakang sama dengan selingkuhan suaminya, Nancy Neele.

“Nyonya, siapa Archibald Christie bagi anda?”

“Dia saudara saya”

Ketika melihat suaminya, kalimat pertama yang keluar dari mulut Christie adalah 'Fancy, my brother has just arrived'.

“Nyonya,” kataku, aku menarik nafas. Semua pernyataan itu sudah cukup menjadi bukti sebenarnya. “Apa anda Agatha Christie?”

Nyonya Neele tertawa, dia menganggapku bercanda, lalu berkata bahwa banyak orang berkata begitu.

Beberapa tamu mengenalinya sebagai Agatha Christie dari foto yang terpampang di surat kabar. Namun ketika ditanya, ia hanya tertawa.

Ini terlalu ... luar biasa. Aku bingung harus apa. Agatha Christie seharusnya tidak terbongkar identitasnya sampai hari kesebelas. Apa yang harus kulakukan? Aku harusnya melapor, karena seluruh Inggris mencari wanita ini. Tapi, dia harus muncul di hari kesebelas.

Tidak, aku tidak boleh mengubah sejarah. Tapi tidak apa-apa kan aku bersikap sedikit egois?

Aku berlari ke loteng. Mencari novelku. Ah ini dia, aku berusaha cepat kembali, tapi kakiku belum sembuh benar. Siapa peduli, aku harus kembali meski terjatuh dari tangga dan berjalan terseok-seok.

Tapi saat kembali pintu kamar itu terkunci. Dan ada kain basah di bawah pintu. Pelayan bodoh mana yang meninggalkannya di sini?

Untungnya aku membawa kunci cadangan, yaah, kau pikir bagaimana caranya aku masuk sambil membawa troli?

Aku masuk sambil menutup hidungku, bau gas darimana ini? Oh dari pemanasnya. Aku tidak mengerti, sepertinya bocor atau bagaimana. Nyonya Neele terbaring diranjangnya, ia nampak terlelap. Dia—kami—harus keluar dari sini. Seseorang harus memperbaiki pipa itu. Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya, tapi dia tidak bangun. Sebaliknya, pintu kamar itu terbanting, dan aku mendengarnya di kunci.

Oh, bodohnya! Aku meninggalkan kuncinya tergantung diluar. Aku melihat jendela, tapi jendela itu juga tidak mau terbuka. Aku melihat kisi-kisi udara juga ditutup supaya ... kami tidak bisa bernafas? Aku tidak bisa meraihnya, terlalu tinggi.

Aku mencoba membangunkannya, Nyonya Neele, maksudku Nyonya Christie. Dia harus bangun untuk menandatangani bukuku—bodoh, yang penting keluar dulu. Mungkin dia punya kuncinya. Aku merogoh saku-sakunya, tidak ada. Aku memeriksa laci-laci, nihil. Aku membuka lemarinya, kosong. Kopernya, aku bahkan tidak bisa membukanya.

Aku mengetuk-ngetuk pintu. Meminta tolong, berharap ada pelayan yang lewat atau apa saja. Tapi suaraku mulai habis. Aku sudah tidak bisa bernafas lagi.

Oh, kenapa aku harus nyaris mati setiap hari?

Benar, nyaris mati. Nyaris, kalau saja pintu itu tidak didobrak ... oleh Calvin.

***

Aku mulai benci ini. Lagi-lagi harus terbaring dikasurku dengan badan terasa sakit. Mereka tidak membawaku ke rumah sakit. Karena ternyata Kakek Jason adalah dokter. Yaah, kalau kupikir, sepertinya tidak ada yang mau menanggung biaya rumah sakit untukku. Hanya saja kejadian akhir-akhir ini membuatku takut. Aku hampir tertabrak mobil, hampir memakan sandwich beracun—aku yakin itu beracun, malah mungkin Anna marah karena rencananya gagal—, hampir tewas di lembah Oak Beck, hampir mati di kamar gas.

Aku merasa ini bukan kebetulan. Aku tidak mau mati muda. Juga mengenai Nyonya Christie, rasa-rasanya dia tidak meninggal di tahun 1926. Tidak, menurut sejarah dia masih akan hidup sekitar limapuluh tahun lagi.

Yang nyaris mati itu bukan hanya aku, tapi beliau juga. Siapa yang ingin seorang Agatha Christie mati? Aku berpikir, mungkin suaminya, tapi aku tidak melihatnya selama ini, lagipula seingatku dia seharusnya diawasi selama menghilangnya Agatha Christie.

Saingannya? Penulis detektif lain? Sir Arthur Conan Doyle? Aku menghilangkan pikiran itu, beliau bahkan mendatangi peramal untuk menemukan Nyonya Christie.

Siapa yang ingin seorang Agatha Christie tewas? Tidak ada kurasa. Tapi, setelah aku pikir-pikir aku sebenarnya tidak tau apa-apa. Tidak ada yang tau apa yang terjadi selama sebelas hari menghilangnya Agatha Christie, mungkin aku akan tau.

Lalu sebuah pertanyaan muncul di benakku. Siapa yang ingin aku mati? Tidak ada untungnya membunuhku kan? kecuali orang itu punya dendam kesumat terhadapku. Aku teringat Anna. Tapi kami bahkan baru mengenal selama beberapa hari, dia tidak mungkin ... ah, aku lupa dia mendorongku ke lembah di Oak Beck.

Pokoknya aku yakin ada yang ingin membunuhku, dan juga Nyonya Christie. Dan dia ingin kami tewas dalam kurun waktu sebelas hari ini. Sayang sekali, kami selalu lolos dari kematian, aku rasa hanya takdir yang bisa menolong kami.

Aku semakin yakin ketika Sylvia membawakanku makan malam. Sup ubi kayu—sejak kapan ubi kayu dijadikan sup?

Aku tadinya hendak langsung makan saja. Aku bahkan belum tau itu ubi kayu. Tapi saat aku mengendusnya, aku bertanya.

“Apa ini, Sylvia?”

“Itu ubi kayu, seseorang menyarankanku memberikannya padamu” jawabnya.

Aku memandang sup itu, apa di Inggris memang ada ubi kayu? Lagipula ini musim dingin. Dan rasanya ubi kayu ini terlihat familiar. Maksudku, kalau di Inggris memang ada ubi kayu, kurasa seharusnya bentuknya agak berbeda dari yang sering aku lihat di rumahku.

“Itu dari Asia” kata Sylvia. Kalimat selanjutnya membuatku kaget “dan dimasak setengah matang”
“Siapa yang memberitahumu untuk memberikanku ini?”

“Calvin, aku bilang padanya kau dari Asia. Jadi aku ingin memasakkanku makanan daerah asalmu. Dia lalu bilang seseorang pernah mengatakan padanya orang Asia suka ubi kayu mentah, dan itu baik untuk kesehatan. Tapi aku rasa itu aneh jadi kumasak saja setengah matang”

“Oh” kataku memandang sedih sup itu. “Dimana Calvin?”

“Tadi dia berdiri terus di depan kamar 65—kamar baru Nyonya Neele. Tapi kurasa sekarang dia ada di ruang makan. Kau tau kan, dia pemain banjo. Dia bermain bersama bandnya sepanjang malam”

Pemain banjo? Aku baru tau itu. Aku kira alat musik dikamarnya itu gitar, tapi bentuknya memang agak aneh.

“Kau merasa sakit sekali ya? Kau seperti mau menangis” kata Sylvia

“Aku tidak apa-apa”

“Kau belum memakan supmu”

“Aku akan memakannya nanti. Sylvia, maaf, maukah kau pergi? Aku mau sendirian”

Sylvia mengangguk. Lalu meninggalkanku. Aku berdiri, membawa sup itu. membuangnya lewat saluran dekat jendela.


Ubi kayu mentah memang baik sekali bagi kesehatan. Ia bisa menghilangkan semua penyakit, dengan nyawa orangnya sekalian.

Bersambung ...

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^