22 Juli 2015

Tujuh Detik Menghilangnya Aku (Our Problem #1.5) - Bagian 2


“Hei! Kau pelayan baru ya?”

Suara siapa itu?

Aku memandang sekitarku, mencari sumber suara. Nafasku tercekat. Di mana ini? Ini jelas bukan di halaman belakang Dokter Owl lagi. Salju! Ya ampun, dimana aku?

“Kau! Cepat kemari!” Ada seorang wanita gemuk tinggi dari arah timur, dia menghampiriku dan menarik tanganku. Kami berdua masuk ke dalam sebuah gedung besar bertingkat, tapi sepertinya itu pintu belakang, karena kami muncul di sebuah dapur. Dapur yang besar.

“Sudah terlambat, tidak atau diri pula!”

“Maaf nyonya, aku bukan—”

“Benar kata ibumu, kau memang penghayal! Sylvia! Ajari dia!”

“Baik” kata seorang perempuan muda.

Aku diambil alih oleh Sylvia.

“Tapi, aku bukan—”

“Sssh” Sylvia menutup mulutku dengan jarinya. “kita akan buat ini mudah, oke? Kau hanya beberapa hari disini, hanya pelayan pengganti. Ibumu tidak menjualmu”

Apa maksudnya? tentu saja ibuku tidak menjualku! Beberapa hari katanya? Aku menoleh ke arah jam. Jamku berhenti. Apa-apaan ini? Tapi aku yakin ini sudah lebih dari sepuluh detik.

Aku menarik napas pelan-pelan. Mari kita lihat situasinya. Tadi aku masuk kedalam mesin Dokter Owl, dan begitu sadar aku disini. Ditempat bersalju, dianggap pelayan dan orang-orang menggunakan bahasa inggris, british pula.

Tidak, tidak bisa. Bagaimanapun caranya aku tidak bisa mengerti keadaan ini.

“Nah, nak. Kau tidak kedinginan memakai itu? Dan tolong singkirkan buku itu. Kita punya banyak pekerjaan, kau tidak mau Eliza marah lagi kan?”

Aku menggeleng, kalau yang dimaksud Eliza itu adalah wanita tadi. Dan dia benar, aku kedinginan. Aku hanya pakai seragam sekolah, dan yang ini khusus musim kemarau. Benar, musim kemarau, tapi kenapa diluar bersalju? Di negaraku bahkan tidak ada musim dingin!

“Ini memang masih pagi, tapi jam sarapan sudah lewat. Jadi tolong bersihkan piring-piring itu. Aku akan cari pakaian untukmu. Yaah, sepertinya aku punya”

Sylvia meninggalkanku. Aku pergi ke wastafel, mulai mencuci. Tapi ... ini semua tidak masuk akal. Kecuali, kalau sebenarnya mesin waktu itu bekerja. Aku ingin menolak kemungkinan itu. Tapi tidak ada yang lebih masuk akal, walau sebenarnya kemungkinan itu juga tidak masuk akal.

Tak lama Sylvia kembali dengan pakaian yang lebih tebal. Namun seseorang mengetuk pintu. Sylvia membukanya, dan seorang gadis seumurku langsung masuk dengan wajah ketakutan.

“Maaf aku terlambat! Aku bangun kesiangan, ibuku memarahiku, aku tidak bisa menemukan mantelku jadi kugunakan milik ayahku. Oh! Aku tidak bertemu Nyonya Misty jadi kupikir untuk lewat belakang. Tolong jangan beritahu dia, Calvin bilang dia menyeramkan—ya ampun, jangan katakan padanya aku mengatakan itu. Aku ... aku minta maaf” Dia bicara tanpa bernafas. Dan sekarang dia memegangi dadanya sendiri, seolah sesak.

Sylvia mengerutkan dahi.

“Kau siapa?” tanyanya.

“Eh? Aku Annabeth Santos, Pelayan pengganti”

Sylvia menoleh kearahku. Aku tersenyum pahit.

Pintu lain dapur itu terbuka. Eliza muncul dengan wajah berang melihat kami yang berdiri kebingungan mengenai identitasku. Ia tidak bicara apapun kecuali memelototi kami. Yaah, mungkin baginya terlihat jelas dari semua orang-orang di dapur kami yang paling santai.

Aku kembali mencuci piring. Sylvia mulai memasak lagi, dan Anna pergi bulak-balik untuk mengantarkan makanan dan memberiku piring kotor yang baru. Hari itu benar-benar sibuk. Tumpukan piring seolah tidak pernah habis, tanganku berkerut bersinggungan dengan air. Tadinya, aku ingin bertukar dengan Anna, tapi kami bahkan tidak sempat mengobrol. Dia hanya tau namaku. Kami berkenalan sekilas saat ia menaruh piring-piring itu.

Sekitar pukul dua siang, kami diperbolehkan beristirahat, tapi hanya sampai jam empat. Aku memutuskan untuk mengobrol dengan mereka. Maksudku, Sylvia dan Anna. Saat ini hanya mereka orang yang aku kenal—walau secara teknis aku sama sekali tidak mengenal mereka.

Kukatakan bahwa aku tersesat, dan baru pindah dari negeri yang jauh sehingga tidak ingat alamatku. Mereka percaya begitu saja, dan sepertinya tidak berniat memanggil polisi, mungkin seperti cerita detektif yang aku baca, mereka takut pada polisi.

Kenyataannya aku memang tersesat. Aku baru benar-benar menyadari hal itu saat malam. Aku diberi salah satu kamar kecil di loteng, dengan syarat membantu mereka lagi besok pagi. Tidak masalah bagiku.

Sepanjang malam aku menangis, kutahan suaraku dengan bantal. Kebingunganku tadi pagi memuncak saat malam, saat dimana imajinasi begerak terlalu liar. Aku takut, sangat takut tidak bisa kembali.

Belum kuberitahu kalau sekarang aku ada di kota kecil Harrogate, dan tempat ini adalah sebuah hotel spa. Dimana tepatnya Harrogate di Inggris aku juga tidak tau.

Dan aku benar-benar menembus waktu. Aku seharusnya sudah sadar saat Sylvia bilang ‘masih pagi’. Padahal terakhir kali kemari waktu sudah sore. Hal itu diperkuat saat aku bertanya hari apa ini, dan dia menjawab ini hari Jum’at. Aku mungkin memang terlalu bodoh untuk menyadari kalau salju diluar jelas-jelas menunjukkan ini akhir tahun, bukan bulan Juni yang terik.

Aku tidak menanyakan lebih detail ‘kapan’ tepatnya aku berada sekarang. Aku terlalu takut, apalagi saat melihat televisi hitam putih dan mobil-mobil gaya abad ke sembilan belas. Ini menakutkan, aku bahkan tidak tau bagaimana cara kembali.

Oh, mungkinkah aku akan terjebak di sini? Tangisku semakin keras membayangkan hal itu.
Satu-satunya yang membuatku sedikit lega adalah, rupanya bukan aku sendiri yang menangis menyesali nasib malam itu. Di lantai di bawahku, nampaknya ada tamu hotel yang ditimpa kemalangan juga.

Egois sekali aku ini.

***

Keesokkan harinya keadaan tidak jadi lebih baik. Aku bangun dengan kepala sakit. Dan seolah ada angin yang terus berhembus melewati leherku. Untungnya, dengan alasan yang juga tidak bisa kumengerti kakiku terasa hangat.

Aku sudah siap mencuci piring lagi. Sejak semalam, sudah kupikirkan kemungkinan terburuknya. Kalau aku benar-benar tidak bisa kembali, aku akan tinggal disini. Mungkin suatu saat akan diusir karena terlalu lama menumpang, saat itu, mungkin Eliza akan mencarikanku panti asuhan atau entahlah. Pokoknya, aku tidak mungkin mati hanya karena tersesat kan?

Lagipula, kehidupan tetaplah kehidupan dimana pun aku berada. Walau saat memikirkan itu aku teringat ibuku. Uh! Andai saja Fira tidak memaksaku memasuki mesin konyol itu.

Sylvia menghentikanku.

“Hari ini kau bertukar tugas dengan Anna” katanya.

Aku mengangguk lalu berjalan menuju troli besar dekat pintu dapur. Banyak piring berisi makanan untuk para tamu yang sarapan di kamar. Dan makanan-makanan yang aku bawa adalah untuk tamu di kamar 64, 89, dan 111. Kamar 64 ada di lantai dua, sedangkan kamar 89 dan 111 ada di lantai paling atas.

Aku jadi ingat, mungkin aku bisa bertemu wanita yang menangis semalam. Mungkin kami bisa berbagi perasaaan lalu saling menasihati satu sama lain. Menyemangati orang lain selalu lebih mudah ketimbang menyemangati diri sendiri. Atau mungkin kami bisa sama-sama menangisi keadaan.

Ya, kalau aku mau melakukan itu, hal pertama yang harus kulakukan adalah bertemu dengannya. Ada ratusan kamar di hotel ini. Bodoh sekali kalau aku memeriksa satu persatu dan bertanya pada setiap penghuni kamar ‘apa kau yang semalam menangis?’

Ya, ampun apa yang kupikirkan?

Tamu di kamar 64 adalah seorang kakek, aku tebak usianya sudah enam puluh. Ia terlihat kaget melihat aku datang, lalu tersenyum, seolah mengenalku, aku sendiri juga heran, karena aku juga seperti mengenalnya, teutama matanya. Ngomong-ngomong, kamar nomor 64 itu sendiri agak unik. Dinding-dindingnya dilapisi karpet, mungkin untuk meredam suara. Sepertinya ini khusus untuk tamu yang sering menjeri ketika dipijat, itu asumsiku saja. Aku juga baru sadar kalau kayu pintunya keras sekali. Ini mungkin kamar VIP atau semacamnya.

Sedangkan tamu kamar 89 bahkan belum bangun. Aku rasa dia jenis pemuda yang sering disebut dalam buku sebagai kambing hitam keluarga. Dia cukup tampan, tapi tidak rapi. Ada alat musik dikamar itu juga. Ah, apa peduliku?

Dan harus kuakui kalau aku punya perasaan familiar terhadap wanita di kamar 111. Mungkin dia wanita yang menangis semalam? Heh, bagaimana aku bisa merasa begitu? Mendengar suaranya saja tidak. Tapi wanita itu memang terlihat menyedihkan. Ia memandang ke arah jendela dengan tatapan kosong, dan harus kukatakan kalau matanya sembab. Meski begitu, ia tetap tersenyum ketika aku pamit.

Saat aku kembali aku melihat Eliza, Sylvia dan Anna sedang berunding. Namun cepat-cepat bubar ketika aku datang. Aku tidak terlalu memikirkan mereka, banyak hal yang harus dikerjakan. Aku rasa, mungkin sebaiknya aku mulai berhenti berpikir agar pekerjaan ini lebih cepat selesai. Walau aku juga tidak tau kenapa aku harus buru-buru. Tidak ada tujuan yang ingin kucapai, aku bahkan tidak dibayar.

Akhirnya istirahat siang datang juga. Anna mengajakku bermain salju di luar, aku bingung. Bermain salju terdengar terlalu kekanakkan. Lagipula, memangnya dia tidak kedinginan setelah mencuci piring seharian. Aku saja kedinginan, apalagi sensasi angin yang melewati leherku tidak kunjug hilang, meski kakiku juga tetap terasa hangat.

Kami bermain tidak jauh dari pintu belakang dapur. Tapi, aku tidak bergerak sama sekali. Sedangkan Anna berlari-lari kesana kemari. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan. Kemudian dia terdiam membelakangiku, dan membungkuk seperti memungut sesuatu. Ia berbalik dan menyembunyikan benda itu dibalik punggungnya, lalu tersenyum mengejek padaku.

Saat aku sadar, sebuah bola salju melayang kearahku.

Aku sama sekali tidak bergerak. Aku terlalu kaget. Bola salju itu benar-benar dingin dan mengenai tepat ke wajahku. Anna yang kebingungan berlari menghampiriku.

“Kau baik-baik saja kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Lebih baik kita masuk” kataku.

Anna terlihat gugup. Ah, sudahlah aku kedinginan.

Kami tidak bicara lagi sepanjang sisa hari itu. Alih-alih merasa tidak enak membuat Anna merasa tidak enak. Aku malah senang karena dia mendapat sedikit pelajaran.

Saat makan malam, lagi-lagi aku mengantar makanan ke kamar 89 dan 111. Tapi pria di kamar 89 tidak ada dikamarnya. Tapi alat musiknya ada. Mungkin dia ke ruang makan, tapi kenapa aku harus mengantar makan malam kalau dia makan di ruang makan. Saat aku hendak keluar, aku melihat dia buru-buru masuk.

Dia berbeda sekali dari yang kulihat tadi pagi. Rapi sekali, menggunakan kemeja, dan rompi. Rambutnya juga klimis. Aku kira butuh waktu lebih dari satu jam untuk menyisirnya.

“Makan malam, Tuan” kataku.

Dia melihat ke arah troli yang aku bawa.

“Oh, benar. Bisa kau bawa lagi”

Aku kaget mendengarnya. “Maaf?”

“Aku mungkin akan makan setelah tengah malam. Sayang kalau makanannya dingin. Aku akan ke dapur sendiri nanti”

Tadinya aku mau protes karena aku sudah capek-capek membawanya. Ya, tidak capek sih. Tapi tetap saja. Namun keinginan itu kutahan dan aku hanya mengangguk.

Wanita di kamar 111 tetap menatap jendela dengan tatapan kosong. Aku heran, memangnya itu saja yang dia lakukan sepanjang hari?

“Makan malam, Nyonya” kataku.

Wanita itu hanya mengangguk.

Iseng, aku bertanya lagi.

“Anda tidak ke bawah, Nyonya?”

Wanita itu hanya menggeleng.

Aku bukan orang yang suka mengobrol sebenarnya, tapi dengan wanita itu, ada sesuatu tentang dirinya yang aku rasa penting.

“Anda menyukai pelayanan di sini, Nyonya?” tanyaku lagi. Sengaja aku mengeluarkan piring-piring itu dengan perlahan dari troli.

Wanita itu mengaggguk lagi. “Aku suka spa nya” katanya.

“Anda sedang dalam masalah, ya?”

Wanita itu tidak menjawab. Oke, aku rasa itu memang pertanyaan yang terlalu intim. Saat aku keluar, aku melihat sebuah botol di atas lemari kecil dekat pintu. Aku mengambilnya, untuk alasan yang aku sendiri tidak tau—aku mulai terdengar seperti Fauzi.

***

Pagi hari berikutnya, aku menemukan Anna sudah di sebelah kasurku. Wajahnya masih agak gugup. Dia orang yang mudah diperdaya, kalau kau tanya aku.

“Hari ini kita libur” kata Anna.

Aku heran juga mendengarnya. Ini seharusnya hari minggu. Dan kalau ditempat asalku hari minggu adalah hari tersibuk di tempat hiburan.

“Kita akan berkeliling Harrogate” katanya lagi.

“Apa?”

“Mungkin kita bisa menemukan rumahmu”

Nafasku tertahan. Kita tidak akan menemukan rumahku, Anna. Tidak akan.

Tapi aku segera bersiap. Rasanya seperti memberikan harapan palsu. Aku merasa bersalah, karena tau ini akan sia-sia. Tapi tidak mungkin juga aku mengatakan yang sejujurnya. ‘Oh Anna, kita tidak bisa menemukan rumahku’ lalu Anna akan kebingungan dan bertanya ‘memang kenapa?’ lalu dengan dramatis aku akan menjawab ‘aku datang dari masa depan’. Aku tidak bisa menebak apa reaksi Anna selanjutnya, mungkin dia akan tertawa seperti orang normal, atau mungkin dia akan terpesona.

Hei tidak ada salahnya juga. Jadi, begitu keluar dari kamar aku menatap Anna dengan pandangan serius. Tapi, sebelum aku sempat mengucapkan apapun dia langsung membungkuk di hadapanku.

“Maafkan aku soal kemarin” katanya, suaranya serak, seperti hendak menangis.

“Eh?” aku tidak menyangka kalau dia benar-benar memikirkan itu sampai hari ini. “Aku tidak marah kok” kataku.

Mungkin tatapanku tadi membuatnya takut. Aku bersyukur Anna tidak mengenal Fira.

Aku tidak melanjutkan rencanaku tadi. Bahkan kalau nanti Anna malah percaya aku dari masa depan. Mungkin malah aku yang tertawa. Aneh sekali kan?

“Kita naik apa?” tanyaku saat kami sudah di bawah.

Anna memandangku resah, lalu dia berkata “Seharusnya kita naik mobil dengan Sylvia, tapi dia sakit karena semalam begadang”

“Jadi?”

“Berjalan kaki”

Aku tersentak. Aku memang tidak tau seluas apa Harrogate itu, tapi kalau namanya saja ‘kota’ mana bisa berkeliling sambil jalan kaki? Meski disebut kota kecil sekali pun.

Dari kejauhan seseorang datang mendatangi kami. Itu tamu nomor 89. Dia terlihat terburu-buru seperti kemari malam. Ada apa dia kemari?

“Mana Sylvia?” tanyanya.

“Dia sakit” kata Anna

“Sakit?”

“Menunggumu sampai pagi”

“Eh?” yang heran itu bukan hanya pria itu, tapi juga aku. Lalu pria itu menatapku. “Kan sudah kubilang, tidak usah ditunggu” katanya.

Aku bingung. Pertama, dia tidak memintaku mengatakan tidak menunggu. Kedua, aku memang tidak mengatakan pada Sylvia untuk menunggu atau tidak menunggu.

“Kau bisa mengemudi?” tanya pria itu padaku dan Anna.

Kami berdua sama-sama menggeleng. Dia tidak melihat aku ini usia berapa ya?

Pria itu mendengus.
“Kalau begitu batalkan saja!” katanya.

“Apa?” Anna menatapnya heran

“Tidak usah jadi mengelilingi Harrogate”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Anna terlihat kesal.

“Siapa kau memutuskan kami pergi atau tidak?” kataku, meski seperti hendak meledak Anna tidak bicara apapun. Jadi, anggap saja aku mewakilinya. “Kita akan berjalan kaki, iya kan Anna?”

Anna mengangguk, lalu dia berkata “Kami tidak butuh kau, Calvin!”

Ooh, jadi namanya Calvin.

Calvin tampak kebingungan lalu dia pergi.

Aku dan Anna mulai berjalan. Entah akan kemana, dia bilang mungkin aku mau ke Penny Pot Lane. Saat aku bertanya dia bilang itu adalah jalan dengan sepanjang kebun di sana. Dan, semua sayur hotel ini berasal dari sana. Dia juga bilang, karena ini musim dingin mungkin tidak ada yang berkebun disana.

Aku bingung, karena seingatku Anna bilang mau mencari ‘rumahku’. Dan rasanya tidak ada rumah di Penny Pot Lane, mungkin. Setelah menyampaikan pendapatku ini. Anna hanya terdiam dan mengajakku naik bus, saat kutanya dia menjawab: Penny Pot Lane.

Kami berjalan ke arah Timur Laut dan tiba ditempat yang Anna sebut Royal Hall. Entahlah, aku ikut saja. Sebuah bus datang dan kami naik.

Jalur itu melewati banyak perumahan, Anna berkali-kali menanyaiku. Aku harus jawab apa? Bukan-bukan-bukan. Kurang dari setengah jam kami sudah sampai di persimpangan jalan. Anna bilang jalan ke arah barat adalah Penny Pot Lane. Seperti dugaanku, aku tidak melihat barisan rumah disana.

Tapi ada sebuah rumah tua di salah satu jalannya. Anna menyuruhku menunggu. Nah, sepertinya dia mengajakku ke sini bukan tanpa alasan. Sepertinya dia hanya ingin bertemu seseorang.Anna keluar beberapa saat kemudian, dengan wajah ketakutan. Aku mulai terbiasa dengan mimik wajahnya yang selalu horror itu.

“Kita bisa jalan kaki dari sini” katanya.

“Seberapa jauh?” tanyaku.

Anna terdiam sebentar, dia terlihat berpikir. “Tergantung” katanya “Kalau kita lewat Cornwall Road sebenarnya lebih dekat daripada lewat Skipton Road”

“Seberapa jauh?” aku mengulangi pertanyaanku

“Lewat Cornwall sekitar 3 mil, aku rasa, Skipton 4 mil”

Nafasku tertahan. Itu bukan jarak yang dekat, apalagi dengan berjalan kaki.

“Kita akan lewat Cornwall kan?”

Anna memandangku takut “Sebenarnya di sana ada hutan—umm—aku takut”

“Ini masih siang, apa ada sungai di sana? Aku rasa malah bagus kalau kita ke sana”

“Aku tidak mau” kata Anna. Dia tidak pernah selugas itu, baiklah. Aku tidak akan memaksanya, terakhir kali aku memaksa seseorang, aku terjebak di sini, walau bukan salahku juga sih. Jadi kami berbelok ke Skipton begitu sampai di persimpangan lain. Setidaknya kali ini Anna lebih masuk akal, ada banyak rumah dipinggir jalan. Dia bertanya kalau-kalau mengingat rumahku, aku harus jawab apa? Bukan-bukan-bukan.

“Kau dengar tidak, ada gossip mengerikan di dapur?” tanya Anna Dia sepertinya mulai bosan mendapat jawaban ‘bukan’ dariku.

 Aku menggeleng, bagaimana bisa tau, pagi ini aku tidak ke dapur sama sekali.

“Sepertinya ada yang mencoba meracuni tamu. Ada arsenik di troli makanan. Mengerikan sekali. Untung kami segera membuangnya”

Troli? Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Kalau tidak salah, kemarin itu aku yang terakhir membawa troli. Jangan-jangan botol yang kemarin aku curi? Jadi itu arsenik?! Ya ampun, apa wanita itu mau membunuh orang? Atau ... bunuh diri?

Aku dan Anna terdiam satu sama lain selama beberapa saat. Sampai tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan tinggi datang dari arah belakang kami. Mobil itu nampaknya hilang kendali. Untungnya kami cepat menghindar, mobil itu berbelok dan menabrak sebuah pohon.

Kami berdua baik-baik saja, kecuali kalau kaki terkilir bisa disebut tidak baik. Aku dan Anna menghampiri mobil itu. Penumpangnya, rupanya seorang wanita. Lucunya, dia wanita dari nomor 111. Umur panjang, baru saja aku memikirkannya. Umur panjang, ironis sekali karena aku curiga dia akan bunuh diri dan rasanya kecelakaan tadi bukan tidak disengaja.

Anna terlihat ketakutan. Walau dia memang sering terlihat ketakutan, tapi kali ini lebih parah. Aku memekik ketika melihat wajah wanita itu, bukan hanya karena darah yang mengalir dari dahinya. Tapi juga karena wajahnya. Selama ini aku hanya melihat punggung wanita itu, dan tak kusangka wajahnya mirip sekali dengan penulis favoritku.

“Kita harus—umm—menolongnya” kata Anna. Kami melihat sekitar, meski ada banyak rumah, sepertinya tak satupun yang berniat menolong kami. Aku kebingungan, aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan.

Sebuah mobil melintasi kami. Mobil itu memiliki model yang sama dengan yang dinaiki wanita ini. Lalu aku juga baru menyadari kalau kedua mobil itu punya gambar lambang hotel kami. Seorang kakek turun dari sana dan kaget melihat kami bertiga. Aku benci kebetulan, tapi kakek itu memang kakek yang sama dari kamar 64. Namun aku bersyukur dia mau menolong kami. Setidaknya, aku juga tidak perlu berjalan lagi.  


0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^