18 Juli 2015

Tujuh Detik Menghilangnya Aku (Our Problem #1.5) - Bagian 1

“Tidak!” teriakku kuat-kuat.

Ini benar-benar menyebalkan. Hari masih pagi, matahari bahkan belum bersinar sepenuhnya, di ruang kelas ini bahkan belum ada siapa-siapa selain tiga orang siswa. Tapi kepalaku sudah dipenuhi dengan permintaan konyol Aldo.

“Jangan paksa dia” kata Fira yang duduk di bangkunya. Menatap kami dengan remeh. “Kau memang konyol, Do”

“Tapi dia sendiri yang bilang—”

Fira menghentikan ucapan Aldo dengan tatapan matanya. Tidak pernah ada yang tahan dengan tatapan Fira—aku rasa itu hanya karena matanya besar.

“Melihat kalian datang sepagi ini saja sudah cukup luar biasa” kataku. “Dan sekarang menawariku dengan ide—apa kau bilang tadi?—mesin waktu?” aku terkekeh.

“Ini sungguhan, Fat!” Aldo terus berusaha meyakinkanku. “Makanya kubilang, kau ikut kami ke rumah Profesor Owl dan lihat sendiri! Mesin Waktu! Dia berhasil membuatnya”

“Berhenti mengucapkan nama benda itu! Aku menghargai kisah fiksi, tapi aku juga menghargai ilmu pengetahuan serta kebijakan alam untuk membuat semuanya tetap terkendali”

“Kau lihat Aldo? Dia lebih gila darimu” kata Fira.

Aku mendengus. Tapi, yang lebih aneh daripada segala yang diceritakan Aldo pagi ini adalah: Fira sendiri.

Fira, untuk pertama kalinya dalam dua tahun aku sekelas dengannya, datang ke sekolah pukul 06.30. Dan ... dia sama sekali tidak meragukan penemuan Dokter Owl. Maksudku, mesin waktu tentu sangatlah tidak bisa dipercaya dibandingkan sumbu lambat yang pernah membuat mereka hampir terbunuh semester lalu.

Mesin Waktu! Yang benar saja!

“Itu masih bisa dijelaskan. Kalau kau mengerti ilmunya. Heh, kukira kalau membaca banyak buku kau bisa lebih pintar” Fira berbisik, menyindirku seolah bisa membaca pikiranku—sebenarnya tidak, sejak tadi aku menggambar jam dan tanda tanya besar di buku matematika, dan Fira bukan orang bodoh.

Sekarang anak itu duduk semeja denganku. Aku sudah terbiasa duduk sendirian, tapi dia tidak. Faiza sakit campak, Fira sendirian. Untungnya Aldo tidak mendesak untuk duduk bertiga karena Fauzi juga sakit.

“Kau pernah dengar Jason Snyder? Dia adalah bukti kalau mesin waktu itu ada. Bisa saja ide mesin waktunya berasal dari penemuan Profesor Owl”

Yaah, dan Dokter Owl mendapatkan ide dari si Snyder itu, jadi siapa yang mendapat ide dari siapa? Aku benci paradoks. Walau suka kompleksitas. Ngomong-ngomong ...

“Siapa Jason Snyder?”

“Kau tidak tau?” Fira memandangku sinis. Ayolah, hanya karena kau tau bukan berarti kau bisa memandangku seperti itu.

“Dia penjelajah waktu, konon dia datang dari tujuh puluh tahun dari sekarang. Dia sendiri muncul di Inggris”

“Siapa yang mengatakan dia penjelajah waktu?”                                 

“Dia sendiri. Dia mengatakannya pada seorang pelayan di hotel dia tinggal. Lalu kabar itu menyebar. Meski tidak pernah diliput media resmi, tapi semua orang tau tentangnya. Ia datang untuk sebuah misi”

“Konyol” kataku ketus. Aku kembali memandang papan tulis. Bu Endang mulai memperhatikan kami.
“Ini hari selasa. Hari yang baik untuk mengunjungi Profesor Owl” hasut Fira.

“Kutukannya tidak akan bekerja jika kau mengunjunginya di hari selasa” Aldo yang duduk di depanku bergumam—dia memang tidak memaksa duduk bertiga, tapi bersikeras mengusir siswa yang harusnya duduk depanku, pengecut.

“Kutukan?” tanyaku.

“Kutukan terlibat hal buruk. Ibuku bilang begitu” lanjutnya.

Dia pasti bercanda.

Aku tidak pernah mau terlibat dengan empat—bukan, lima—salah, enam. Enam orang aneh itu. si kembar Fauzi dan Faiza, Fira, dan Aldo, serta Kak Lily dan Dokter Owl—meski sering disebut Profesor, dia samasekali bukan Profesor.

Alasannya? Fauzi, dia suka terdiam lama sendiri, berpikir seperti ada yang menganggunya, selalu; Faiza, kepribadiannya mudah berubah, dan dia suka membawa barang-barang aneh dalam tasnya; Fira, matanya menakutkan; Aldo, dia munafik; Dokter Owl, pasti hanya dokter gila yang berbahaya bagi masyarakat; Dan Kak Lily, jelas-jelas dia mantan anggota komplotan penjahat.

Tapi sekarang, aku sudah terhimpit oleh dua dari mereka.

Oke, aku akui aku pernah—umm—menaruh minat pada mereka. Aku memang bertanya pada Aldo, kalau aku boleh melihat sesuatu yang sedang dikerjakan Dokter Owl. Ada orang berilmu didekatku, sangat mubazir kalau hanya sekedar berteman dan menumpang makan siang dengannya.

Namun, setelah mendengar bahwa yang sedang dibuat oleh Dokter Owl adalah mesin waktu. Aku kehilangan semua rasa hormatku padanya. Aku tidak pernah dekat dengan mereka. Sekarang, aku tidak sudi jadi dekat dengan mereka. Orang-orang gila!

“Kalian ini kesepian, atau apa, sih?”

Kataku sambil mengangkat novelku di depan wajah. Bel istirahat baru saja berbunyi, dua anak ini masih tak mau pergi dariku.

“Kau tertarik dengan ide ini, Fatiah. Aku tau itu” kata Fira.

Mataku tak lepas dari rentetan huruf. Mencoba meresap bersamanya. Tapi bagaimana bisa kalau diperhatikan terus oleh mereka?

“Tidak”

“Ya, mata Fira besar. Dia bisa melihat kedalam jiwamu” sahut Aldo. Fira memelototinya, buru-buru dia berseru “bercanda!”

“Kalian kesepian” kataku yang akhirnya menyerah dan menatap mereka berdua. “Kalian kesepian karena si kembar tidak sekolah. Tapi kenapa harus aku?”

“Karena, Fauzi bilang begitu” kata Aldo.

“Apa?”

“Dia biasanya benar” kata Fira. Wajahnya jelas menunjukkan tidak suka “Aku meragukan hal itu sekarang. Dengar, aku tak mau memaksamu sebenarnya. Tapi, hadapilah si Aldo itu” Fira lantas pergi. Sudah kuduga dia tak mungkin tahan berlama-lama diam di jam istirahat.

Aldo masih bertahan, meski matanya tidak sebesar Fira. Tatapan memelasnya benar-benar membuatku muak.

“Baiklah! Baiklah! Aku ikut!”

Aldo tersenyum lebar.

“Bagus!” katanya. “Dan ini tanda keanggotaanmu” Aldo memberikanku sebuah jam tangan besar berwarna toska dengan gambar burung hantu ungu dibaliknya. Yaah, lumayan. Aku kembali membaca novelku.


Dokter Owl mengerutkan keningnya ketika melihat kami datang ke rumahnya. Aku tidak bisa membaca pikiran, tapi kalau pun bisa. Dia pasti bertanya: Di mana Fauzi dan Faiza? Siapa anak ini?

Aku tersenyum—pahit. Bagaimanapun pria ini lebih tua dan harus dihormati. Dokter Owl balas tersenyum lalu menyapa dengan ramah.

“Ayo masuk, aku memasak ayam panggang” katanya.

Fira memekik pelan, aku menoleh kearahnya, ia tersenyum lebar, tak pernah ku lihat dia tersenyum sebahagia itu. Sedangkan Aldo menghela nafas.

“Lagi” gumamnya.

Setelah puas makan siang dengan ayam panggang yang memang enak itu, kami beralih ke halaman belakang.

Halaman itu dipagari dengan semak-semak yang dipangkas tinggi--sepertinya sengaja untuk menutupi pemandangan hutan dibaliknya--dengan bunga-bunga terompet menjalar disekitarnya. Aku suka sekali dengan rumputnya, aku tidak ingat apa jenisnya. Tapi rumput ini terasa empuk sekali ketika menyentuh kaki. Apalagi cahaya matahari yang bersinar terik membuat rumput-rumput itu terasa hangat.

Tempat itu adalah tempat yang sempurna untuk bersantai. Kalau saja bukan karena barang-barang berantakkan yang ada disekitarnya. Kardus-kardus berjelaga hitam betebaran, aku menginjak beberapa baut, bau besi dimana-mana. Pemandangan segar ada disudut tempat itu, lemari buku.
“Maaf” kata Dokter Owl “Boleh ku tau namamu?”

“Fati—” Tunggu dulu, buku di lemari itu, buku itu ... “Hah!”

Dokter Owl menatapku heran “Fati-hah?”

“Anak Negro! Roger Ackroyd! Orient Express! Tiga karya terbesar! Oh! Tirai! Styles!” kataku menggebu-gebu.

“Namanya Fatiah” kata Fira. Dia agak bergidik melihatku.

“Wah! Agathamania rupanya”

Aku mengangguk keras-keras. Aku sudah membaca karya-karya Agatha Christie, meski kebanyakan meminjam, tapi tidak pernah melihat koleksi selengkap ini.

“Ini punya Fauzi, dia menitipkannya di sini supaya tidak ketahuan ibunya” kata Profesor Owl “Sebagian besar pemberian teman dunia mayanya. Namanya Ali kalau tidak salah”

Delapan puluh buku pengarang favoritku ada di depan mataku. Aku ... aku ... tak bisa berkata-kata. Dan apa itu? Koleksi buku biografi-nya pun lengkap. Fauzi! Dia sama sekali tidak pernah bercerita padaku!—tidak, aku yang selalu menjauhinya.

“Tiga karya terbesar?” tanya Aldo. “Seru sekali kah?”

Aku mengangguk.

“Salah” kata Dokter Owl. “Kisah misteri terbesar Agatha Christie tidak ada di lemari ini” katanya, ia menoleh ke arahku. Mengedipkan sebelah matanya. Oh! Benar juga, misteri terbesar. “Ada sebuah kasus yang tak pernah terpecahkan. Itulah kasus ciptaan terbesarnya” lanjut Dokter Owl.

“Sebelas hari menghilangnya ia di Yorkshire”

Aku menoleh, yang barusan bicara adalah Fira. Begitu melihat aku menatap heran padanya, ia mengangkat sebelah alisnya.

“Apa? Fauzi itu mulut besar, tau? Ngomong-ngomong, bagaimana dengan mesin waktunya?” Fira cepat mengalihkan pembicaraan. Sepertinya dia malu mengetahui hal itu. Atau, ada yang disembunyikan? Diragukan.

“Oh ya! Benar!” seru Dokter Owl.

Dokter Owl berjalan ke sisi lain halaman. Ada sebuah tabung seukuran tubuh manusia yang selimutnya terbuat dari kaca dengan sebuah lubang melengkung selebar ±½ meter. Atas dan alas tabung besar itu mengkilap seperti terbuat dari besi dan disisi-sisi tabung ada kotak dengan banyak kabel dan tombol.

Dokter Owl menegakkan tubuhnya, mulutnya mulai terbuka. Dia siap berpidato.

Aku mendesah, ini akan jadi sangat membosankan. Sayang sekali lemari buku berpintu kaca itu terkunci. Aku mencari posisi yang nyaman dekat pintu halaman belakang, menyingkirkan baut-baut disana. Lalu duduk bersila dan mengeluarkan novelku sendiri. The Murder of Roger Ackroyd. Sudah seharian aku membacanya, tapi belum selesai juga, aku agak malas karena aku sudah tau siapa pembunuhnya, bukan, aku tidak sepandai itu. Spoiler, terkutuklah penulis artikel wik*pedia.

“Ini memang sulit dipercaya! Aku memutar sebuah kepingan Zirkon di sini, lalu akan terbentuk portal, kita bisa pergi ke masa depan atau masa lalu dengan memutar tuas ini—jangan sentuh, Aldo!
“Aku tidak yakin ini bisa berfungsi, tapi kau tau? aku bilang pada Lily kalau ini kulkas. Dia menaruh makanan kesini, dan esoknya sudah membusuk”

Fira memandang Dokter Owl dengan tatapan tak percaya, bukan karena kagum tapi lebih pada meremehkan “dan kau kira dia menembus waktu?” tanyanya sinis.

“Oksidasi” kataku singkat. Setidaknya, aku punya teman yang hampir sependapat kalau ide mesin waktu ini terlalu luar biasa.

“Makanan itu adalah sereal dengan tanggal kadaluarsa satu tahun lagi”

“Salah cetak” seruku ketus.

“Sama sekali tidak, aku kebetulan mampir ke pabrik sereal itu bulan lalu untuk memperbaiki sebuah mesin penggiling coklat, lalu diberi langsung dari sana, aku memantau pembuatannya. Sama sekali tidak ada kesalahan”

Aku mendengus. Oke, aku menyerah. Siapa juga yang peduli dengan mesin konyol itu? Ngomong-ngomong, aku selalu penasaran dengan apa yang dilakukan Fauzi dan teman-temannya di sini. Aku seksi kebersihan di kelas, Faiza kebetulan piket hari selasa. Dia selalu piket terburu-buru. Berkata bahwa ini waktunya ke rumah ‘Profesor’ Owl.

Akhirnya aku tau, setelah mendengarkan presentasi Dokter Owl, kami bermain-main dengan penemuan-penemuannya yang lain. Tidak terlalu banyak yang berguna. Kebanyakan hanya mesin biasa—setidaknya kelihatannya. Mesin penggiling, mesin pencacah, oven, dll. Dokter Owl ternyata tidak terlalu luar biasa.

“Lily memperketat segalanya” gumam Dokter Owl sedih. “Setelah kejadian enam bulan lalu, setiap ideku harus dikonsultasikan dulu dengannya, setelah diizinkan aku baru boleh membuatnya. Barang-barangku tak sefantastis dulu lagi”

“Apa alat peluncur kacang polong itu juga termasuk barang yang fantastis?” desis Fira. “Untung Kak Lily menyitanya”

“Memangnya kenapa?”

“Fira benci kacang polong, kami hampir menjadikannya kelinci percobaan” kata Dokter Owl.

Fira mendengus, aku tadinya mengira dia suka semua makanan. Aku melihat Aldo menahan tawa, tapi tatapannya bukan ke Fira, tapi padaku. Anak aneh.

Berikutnya, karena kebetulan kami datang kemari langsung setelah pulang sekolah. Kami mengerjakan PR. Dokter Owl banyak membantu, ketelitian sepertinya memang keunggulannya, sangat cocok untuk tugas Fisika kami.

Hari itu diakhiri dengan Aldo yang bertarung sengit dengan Dokter Owl dalam permainan PS4. Aku dan Fira mencuci piring bekas makan siang kami. Lalu membuat popcorn untuk hiburan menonton Aldo dan Dokter Owl.

Aku tidak tau permainan apa yang mereka mainkan. Tepatnya, aku tidak mau tau.

Kami menatap matahari terbenam di hilir sungai sambil bersepeda pulang. Hari ini tidak terlalu menyenangkan karena aku agak setengah hati. Tapi, besok, aku jamin aku bisa meminjam buku-buku itu.


Aku datang pagi-pagi sekali ke sekolah, seperti biasa. Dan, tidak pernah merasa semenyenangkan ini saat melihat Fauzi ada di dalam kelas. Untungnya hanya ada kami berdua pagi itu—sepertinya Faiza masih sakit— jadi aku bebas bertanya padanya tanpa malu.

“Zi!” sahutku sok akrab

Fauzi hanya menatapku, lalu tersenyum menjawab sapaanku. Dia kembali membaringkan kepalanya ke atas meja.

Lemas sekali dia? Bahkan lebih lemas dari kucing gemuk di rumahku. Benar juga, dia baru sembuh—mungkin. Melihat kondisinya, dengan wajah pucat dan tangan kemerahan ditambah dia memakai jaket di musim kemarau, tidak aneh sebenarnya, apalagi dia kan Fauzi.

Aku duduk di kursi di depan mejanya.

“Zi!” sahutku lagi.

Lagi-lagi dia tidak menjawab, hanya menoleh dan mengangkat alisnya.

Aku anggap itu sebagai Apa? maka aku berucap lagi:

“Aku lihat buku-bukumu di rumah Dokter Owl, kemarin” kataku.

Dia menjawab dengan berdengung—benar, ‘berdengung’

“Aku kira, kau bisa—bukan—aku bisa—umm—meminjam bukumu”

Kulihat Fauzi mendelik, lalu dia mengangguk pelan.

Aku menghela nafas. Sudah kuduga, aku pasti bisa! Uh, konyol sekali, tentu saja bisa, masa meminjam buku saja tidak bisa?

Senang sekali mendapat kabar baik di pagi hari. Lupakan delikannya tadi, siapa juga yang peduli pendapat Fauzi tentang anak perempuan? Aku berjalan sambil berjingkrak ke luar kelas. Memandangi pemandangan matahari terbit dari balkon sekolah.

Fira datang terlambat lagi hari ini, seperti biasa. Hari tidak pernah senormal ini. Setidaknya itu yang aku pikirkan sampai ketika aku mengajak tiga orang itu untuk pergi ke rumah Dokter Owl, mereka menolak. Apa-apaan itu? Siapa yang kemarin memaksaku ke sana?

“Kita hanya pergi ke rumah Profesor Owl satu kali dalam seminggu” kata Fira.

“Kutukannya” kata Aldo.

“Omong kosong!” sergahku. “Kutukan, kita hidup di abad dua puluh satu! Dokter Owl bahkan membuat mesin waktu”

“Hee” sahutan heran datang dari Fira.

“Kupikir kau tidak percaya mesin waktu” kata Aldo.

“Tidak, tentu saja tidak” kataku gemas “Dia berusaha membuatnya, itu maksudku. Tapi tentu saja mesin waktu itu tidak ada”

“Kalau mesin waktu tidak ada, berarti kutukan itu ada”

“Itu tidak berhubungan”

“Kau baru saja menghubungkannya”

“Oh! Ayolah aku hanya ingin meminjam buku!” aku memelas pada Fauzi yang dari tadi diam saja. Percuma sepertinya, matanya sayu, seperti berkata ‘aku ingin pulang, pergi kau gadis gila!’

“Minggu depan saja” kata Fauzi lemas.

“Tidak, harus sekarang” aku bersikeras

“Kenapa?” Fira yang bertanya.

Aku tidak menjawabnya. “Fauzi, mereka bilang kau selalu benar. Kalau aku tanya pendapatmu bagaimana kalau kita pergi sekarang, kau pasti bilang perasaanmu tidak enak, tentu saja karena kau sedang sakit. Jadi ini tidak adil”

“Sebenarnya, tidak juga” kata Fauzi “Aku belum ke rumah Profesor Owl minggu ini. Kalau aku egois, aku rasa tidak akan terjadi hal buruk. Dan kebetulan sekali aku membawa kunci lemari itu”

“Tapi, Zi. Ibuku bilang—”

“Kau tidak perlu pergi kalau tak mau, Aldo. Fatiah hanya ingin meminjam buku”

Kami bertiga bungkam. Aku baru menyadari itu, aku tidak butuh Fira ataupun Aldo untuk meminjam buku.

“Tapi, aku tidak membawa sepeda” kata Fauzi.

Fira mendengus, lalu berkata “Ayo!”

Hei, tidak ada yang memintanya membonceng Fauzi kan? Ah, sudahlah, apa peduliku? Lagipula aku tidak mungkin membonceng Fauzi. Aku tidak mau sebenarnya.


Kami bertiga pergi ke rumah Dokter Owl. Tapi bukan Dokter Owl yang menyambut kami, melainkan adiknya, Kak Lily. Dan lagi-lagi aku mendapat tatapan ‘kau siapa?’ . Fauzi menjelaskan maksud kedatangan kami dan Kak Lily mempersilakan kami masuk dan berkata bahwa kami bebas melakukan apapun. Kemudian baru kuketahui itu ungkapan buruk, setidaknya karena Fira ternyata penurut sekali dengan Kak Lily.

Kami segera pergi ke halaman belakang. Fauzi mengambil beberapa buku yang hendak aku pinjam.

“Ya, terimakasih. Akan kukembalikan hari jum’at”

Fauzi menatapku heran, “Kau meminjam empat” katanya.

Aku terkekeh, dan memasukkan empat buku itu ke dalam tas. Fauzi tidak sepenuhnya salah, apalagi saat aku menyadari ada sebuah novel lagi di dalam tasku. Roger Ackyord, aku belum menyelesaikannya sejak kemarin.

Tapi, aku tidak bisa santai. Empat buku, dua hari. Aku harap cukup. Namun sebelumnya, aku harus menyelesaikan buku yang satu itu. Aku mengeluarkannya dari tas, kalau kugenggam begini mungkin aku akan tertarik membacanya.

“Hei! Lihat benda itu” seru Fira tiba-tiba “Profesor Owl sudah menyempurnakannya”

Aku mendelik, ayolah, Fira kau tidak sungguh-sungguh percaya itu mesin waktu kan?

“Coba kau masuk, Fatiah”

“Apa?”

“Masuklah”

“Kau gila, Fira” kataku “Aku bisa saja mati”

“Ayolah, kau bilang ini bukan mesin waktu kan?

“Tentu bukan, tapi bisa saja berbahaya”

“Jadi, kau percaya ini mesin waktu”

“Tid—”

“Ayo, masuklah Fatiah. Aku ingin tau cara kerjanya” Yang bicara barusan adalah Fauzi. Dia benar-benar masih sakit.

“Dan Fauzi selalu benar” sindir Fira “Kau takut ya? Fat?”

Kalimat itu, kalimat yang selalu digunakan penjahat manapun untuk menjebak lawannya. Dan Fira kira aku bodoh.

“Kalau kau masuk, aku akan meminjamkan semua buku ini” kata Fauzi.

Aku terkekeh lagi. Itu kenyataan pahit, karena nyatanya akulah yang tidak bisa meminjam buku-buku itu.

“Lebih baik lagi, dia akan memberikannya”

“Apa?” Fauzi kaget.

Bagus, Fira, usaha yang bagus.

“Sebenarnya, urusanku sudah selesai. Aku mau pulang. Dan, Fira, kukira tidak baik mengotak-atik barang Dokter Owl begitu.”

Kalian bebas melakukan apapun” kata Fira.

“Sudahlah, aku mau pulang”

“Sekarang kau bahkan percaya kutukannya”

“Tidak!” aku berteriak. Fira, benar-benar mengesalkan. Apa sebenarnya maunya? Lagipula, apa hubungannya dengan keinginanku untuk pulang dan kutukannya?

“Kalau kau bisa bertahan sepuluh detik saja tanpa gemetar, aku akan ...” Fira terlihat ragu, dia sama sekali tidak pandai bertaruh.

“Apa sebenarnya yang ingin kau buktikan?”

Dia menatapku tajam “Kalau kutukan itu hanya omong kosong”

Aku terdiam. Kenapa dia harus membuktikannya?

“Kenapa tidak kau saja yang masuk?”

Fira terkekeh dia menatap lamat-lamat pada mesin itu.

“Karena, diantara kita bertiga, akulah yang mengerti cara kerja mesin ini”

Itu penghinaan, jelas. Memang apa susahnya menekan tombol-tombol?

“Kenapa bukan Fauzi?”

“Dia tidak kesini dua kali dalam seminggu”

Aku menghela nafas.

“Sebegitu pentingnya membuktikan kutukan itu ada atau tidak?”

“Ya,” katanya “supaya aku bisa tenang”

Aku mendelik. Dia mengatakannya seolah dia tau dia akan mati besok.

“Dan lagi, kau rupanya tertarik dengan ide ini”

“Apa?”  sahutku heran. Bagaimana bisa dia berkata aku tertarik setelah aku menolaknya berkali-kali?
“Kau bilang mau pergi, tapi tidak kunjung pergi sejak pembicaraan ini dimulai”

Aku menoleh ke arah Fauzi. Dia diam saja sejak tadi.  Fauzi malah terlihat gelisah lalu berpaling.
Benar-benar kekanakkan. Orang-orang ini, memaksaku begini, memaksaku begitu. Mereka pikir mereka siapa?

“Sepuluh detik?” kataku, akhirnya menyerah. Mereka kekanakkan, dan cara terbaik menanggapi anak-anak adalah menurutinya. Lagipula, seperti kataku, ini bukan mesin waktu sungguhan kan?.

Aku melepaskan tas. Meski masih menggenggam novelku. Lalu masuk kedalam tabung itu. Fira menekan banyak tombol. Baling-baling diatas kepalaku beputar.

Aku melihat ke arah jam tanganku.


15:07:49


Halo pembaca yang budiman.Semoga ada yang heran kenapa saya memakai nama saya sendiri di cerita ini. Cerita ini diikut-sertakan dalam sebuah Writing Challenge yang diadakan oleh salah satu anggota grup PNFI, dengan tema ‘bertemu penulis favorit’ dan salah satu syaratnya adalah menggunakan PoV 1 dengan nama sendiri. Jadi, begitulah...Cerita sepanjang sebelas ribu kata ini (lebih panjang dari Anak Panah :D) saya bagi empat supaya kalian enak bacanya (eh, apa gak suka?). Dan, kalian tidak perlu takut digantung—seperti Pencuri di Asrama—karena ceritanya sendiri sudah siap. Lanjutannya juga gak akan lama-lama kok. Ada yang tau hari apa saja biasanya saya posting?Oh, mungkin ada pembaca yang belum kenal Fauzi dkk? Mereka tokoh-tokoh dalam Seri Our Problem, dan karena saya tidak kreatif saya gunakan lagi mereka. Meski masuk seri Our Problem, cerita ini lebih cocok disebut ‘My Own Problem’ soalnya Fauzi dkk tidak akan banyak muncul disini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^