20 Juni 2015

Queen Dewi's Plan

Butuh waktu lama sebelum akhirnya saya memutuskan untuk menceritakan ini. Sebuah proyek besar yang dicanangkan oleh guru Bahasa Inggris kami. Yang membongkar lebih banyak aib saya pada khalayak, proyek yang sama yang pernah membuat saya menemukan sahabat.

Drama, selalu menimbulkan kesan sendiri bagi saya. Sama seperti study tour, karena secara tidak langsung kami harus berinteraksi dalam waktu cukup lama. Drama kali ini memberikan kami waktu satu bulan lebih. Wajar saja karena ini Drama Bahasa Inggris, musikal pula.

Anggota kelompok saya terdiri dari Cicih, Radila, Murni, Ardini, Rivan, Syarif dan Neo.

Butuh waktu cukup lama bagi kami untuk menentukan cerita yang akan ditampilan. Daan, karena saya tidak kreatif, saya comot saja cerita drama ketika SD. Tiga Penyihir dan Sup Kura-Kura, bercerita tentang tiga orang penyihir yang menjampi seorang putri karena dendam, seorang pengembala kemudian tau dan melaporkan ini pada kerajaan. Putri selama dan mereka hidup bahagia selamanya.

Saya mengambil cerita itu, namun dengan banyak perubahan. Berikut sinopsisnya. (Btw, saya males nge-translate-nya)

Once upon a time there a kingdom named Gita Kingdom. In Gita Kingdom, there a king named King Nata who have a daughter named Princess Rajni. But, there something important that Gita Kingdom not have, a queen. The Queen has passed away since Princess Rajni still a toddler, because a rare sickness.
Then, King Nata made a decision that Princess Rajni need mother. So, he married a Queen who only live with her daughter from neighbored kingdom. The Queen named Queen Dewi who really love her daughter, Princess Aruni. However, even Princess Aruni have many careness from her mother, she was a strong, brave, loyal and smart princess instead of the spoil one.
Princess Aruni is older that Princess Rajni. It makes Queen Dewi thought that her daughter should be the next queen for Gita Kingdom. But, King Nata also have his ego and didn’t want that the next queen is not his direct-blood-relative. Queen Dewi was very angry about this, but she couldn’t do anything. Except one. Then she made a plan to kill Princess Rajni.
She went to the forest, to the witches’s shack, and buy some potion from them. The witches doesn’t know what the queen will did with that potion. Actually, they are don’t care. Well, they are only bussiness-woman.
Everyday, the queen gave that potion to Princess Rajni’s food. Then, Princess Rajni became to sick, and the Queen gave that potion as a medicine for Princess Rajni. Of course it made Princess Rajni’s condition became worst. But everyone doesn’t know what actually happened. They’re think she have the rare sickness like her mother.
Wilapa is a shepherd. One day he realize that his sheep has vanished one by one with strange way. So, he decide to stay up ‘till night to know what are really happen to his sheeps. Then he found that his sheep was took by a witch, so he followed her.
Wilapa hide and watch what happened with his sheep, and finally he knew what actually happened to Princess Rajni. Wilapa directly told this to the kindom. Unfortunately, he told it to the queen. The queen felt have threatened and imprisoned Wilapa.
Princess Aruni thought that something weird about her mother, so she went to the prison and met Wilapa. From the shepherd she realize that her mother is the one who was poisoned her step-sister. Then, she made a plan with the shepherd to get potion to heal Princess Rajni.
After they got the potion, they revealed that the queen was the culprit for all that what happened to Princess Rajni—as they knew from the witches. King Nata was very angry, but Princess Rajni told the King that all what Queen Dewi done was because her love to her daughter, Queen Dewi is a great mother, so with her beautiful heart, Princess Rajni forgave her. Queen Dewi feel very sorry and thankful to Princess Rajni, she realize that the Princess have a great qualify to be a next queen. However Princess Rajni and King Nata also found that Princess Aruni are more proper to be next queen, with her brave, strong, clever and loyal character. And the shepherd? He got many gold from the king.

Perubahan ini disebabkan banyak hal.
Pertama, dalam cerita baru ini (Queen Dewi’s Plan) tokoh antagonisnya berganti jadi sang Ratu (fyi, dulu saya Ratu, sekaran penyihir). Meski begitu, seiring pertumbuhan usia, saya sadar bahwa manusia tidak ada yang 100% baik dan 100% jahat. Jadilah, Ratu Dewi yang buta karena cinta.

Lalu, tadinya si gembala akan berakhir dengan menikah sang putri. Tapi, saya gak rela kalau Syarif harus menikahi putri, meski seandainya dia pangeran yang menyamar, saya gak relaaaa.
Lagipula, setelah saya pikir-pikir. Menikahkan putri dengan gembala yang HANYA kebetulan menemukan rumah penyihir itu konyol.

Perubahan jelas terjadi pada cerita. Di cerita ini ada ibu tiri dan saudara tiri. Udah. *lho?

Ada juga sih perubahan yang tadinya pengen diadain tapi gak jadi gak jadi. Misalnya, pertarungan penyihir dan Aruni. Pikir kami waktu itu: masa penyihir takut sama pedang, kamu baru bikin putri hampir mati, vrooh. Tapi karena sulit membuat properti dan koreonya akhirnya scene ini dibatalkan.

Lalu adegan Rajni diracuni. Sejak awal saya sudah memutuskan agar Rajni pingsan. Tapi, Neo memaksa agar dia jadi ‘melakukan hal yang ‘putri kok kayak gitu’’. Akhirnya, dia sendiri yang memutuskan untuk menghilangkan adegan itu—padahal saya sudah mengkodisikan naskahnya. Selain itu Radila juga bukannya gak cocok jadi gila, semua orang punya sisi gila—sepertinya. Yasudahlah.

Perubahan paling ngeselin—bagi saya—adalah: Neo ingin Syarif jadi gembala, saya ingin Syarif jadi operator, karena saya rasa dia gak bisa dipercaya. Neo lalu jadi operator, Rivan jadi raja. Kemudian Neo sendiri yang pingin jadi Raja, Rivan jadi operator. Kami kekurangan prajurit. Seharusnya sejak awal tidak usah ada peran operator. Kesimpulan: semua salah saya.

Latihan saya coba atur sesering mungkin. Sebagai kelompok pertama yang menemukan cerita, hal ini ternyata tidak memberi kami keunggulan. Latihan molor selama beberapa waktu dengan anggota yang hampir tidak pernah lengkap dan latihan yang penuh dengan canda.

Sebenarnya, satu-satunya hal yang sangat ingin saya ceritakan dalam pos ini adalah suatu kejadian yang amat berkesan saat latihan. Itu latihan terakhir kami, Raja Nata (Neo) menangisi putrinya yang tak kunjung sadar, Aruni (Cicih) datang tergesa sambil membawa sebuah botol. Dia berseru pada ayahnya.
“Dad! Dad! I found a potion that can heal Rajni!”

Line berikutnya dari Neo adalah:
Really? Where did you got that?”

Tapi saat itu—sepertinya—Neo lupa dan hanya berkata ‘Really?’ lalu ia diam. Cicih juga tidak segera menjawab karena bingung—mungkin begitu.
Begitu saya sadar. Nada bicara Neo lebih seperti heran, dan saya melihat properti sementara yang di pegang Cicih adalah aqua botol sebagai ramuan. Saya langsung tertawa, adegan itu jadi seperti:

“Seriously? That water?”

Get it? :D . Kesannya jadi lebih sarkas daripada tidak percaya karena senang. Setelah lama saya pikirkan saya baru teringat akan line saya sendiri ketika drama versi sebelumnya.

Gembala (Bima) datang tergesa-gesa ke kerajaan dan memberitahu Ratu (saya) kalau penyembuh sang putri adalah sup kura-kura. Sang Ratu marah dan mendorong si gembala sampai jatuh, ia berkata:
“Apa kamu gila? Masa sup kura-kura bisa menyembuhkan penyakit putriku”

Sejujurnya, itu adegan favorit saya karena ... yaah, bisa ngedorong Bima sampai jatuh di atas panggung pula :D (Drama ini ditampilkan di upacara perpisahan dan kenaikan kelas) Peace :D

Akhirnya, sampailah kami pada hari penampilan. 10 Juni, tepat sehari setelah UKK. Setelah di kocok kami mendapat nomor urut 5, yang artinya kemungkinan urutan tampil ke 9 atau 10 (digabung sama kelas X-4). Dan dengan pertukaran yang berbelit-belit akhirnya kami mendapat urutan tampil ke-7.

Gugup, pasti. Ternyata benar, di depan panggung rasanya panas sekali.

Dan, kacau! Syarif terutama karena dia jarang latihan, sudah begitu dia menyalahkan orang lain dengan ‘pan ceunah manehna titah kitu’ . Oke, siapa yang nyuruh kamu buat gak baca 90% naskah kamu dan linglung kayak anak ilang, HAH? SIAPA? (maaf emosi).

Saya juga merasa drama kami adalah yang paling singkat daripada yang lain, belum untuk drama musikal, lagunya sedikit dan terlalu sederhana.

Untungnya, Miss Nia cukup punya perhatian dengan Neo yang jadi bintang dikelasnya.

Hei, sepertinya saya kurang banyak menceritakan yang lain.
Murni, dia juga jadi penyihir seperti saya. Kami penyihir innocent yang cileupenung kumaha kituu. Sama-sama gak bisa akting, bikin kita keliatan datar banget. Padahal aslinya histeris. Rivan, posisinya sulit sekali. Setelah bertukar jadi operator, dia nyaris jadi gembala. Tapi, Rivan pinter improvisasi. Dan empat jempol buar Ardini yang emang anak teater, yang bikin semangat anggota lain buat jadi lebih baik dan maksimal. Meski sibuk, Dini rajin banget latihannya ga kayak si itu.

Ada tujuh penampil lain yang tampil hari itu. Sayang sekali saya tidak bisa cerita semuanya. Pertama karena sudah lupa; Kedua, saya juga hampir gak ngerti semua ceritanya; ketiga; males nulisnya.

Tapi, saya berikan tepuk tangan pada Gustiani dan aktingnya di penampil pertama. Saya pangling sekali melihat dia jadi jutek. Dan adegan favorit saya ketika. Tian, Adam, Sri dan Fivah bertengkar, Lalu Rizki mencoba menenangkan mereka. Dan mereka berteriak ‘No!’ bersamaan lalu tirai ditutup. Itu keren parah.

Oke, postingan ini mulai membosankan dan saya yakin tak ada yang berminat baca juga. So, goodbye!


Note-to-self: Betapa naifnya berpikir bahwa dia akan bersikap baik jika kita juga bersikap baik padanya. Entah siapa yang kekanakkan. Tapi, berpikir idealis tidak pernah salah. Selalu ingat prinsip untuk berbuat benar, kapan pun, dimana pun, pada siapa pun, meski itu tidak berbuah—setidaknya di dunia yang fana ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^