2 Mei 2015

Bunuh Aku Saja!

imgsrc
Rana mendekap kakinya lebih erat. Menarik dirinya lebih dalam ke sudut ruangan itu. Membenamkan wajahnya dalam-dalam ke pelukannya sendiri. Suara pintu berderit terdengar mengganggunya, sosok pria memasuki ruangan itu. Menghampiri Rana dan menepuk kepalanya.

“Kau baik sekali, Rana” katanya. “Aku bersyukur sekali tidak mengabulkan keinginanmu waktu itu, siapa sangka kau jadi begitu berguna?”

Rana diam, ia sudah terlalu lelah untuk marah dan menangis.

“Jadi, apa kau sudah memutuskan? Menuruti egomu atau membantuku? Menyakiti diri sendiri atau orang lain? Terpenjara atau bebas?”

“Kau bilang menurutimu merupakan kebebasan? Kau kira aku bodoh?” Rana menatap wajah sosok itu, membencinya.

“Inilah kenapa kau adalah tawanan favoritku” Sosok itu tersenyum. “Baiklah, kau memang keras kepala. Maka, agar kau semakin berguna, bagaimana kalau aku menceritakan lagi kisahmu? Sama sepertimu, ini adalah kisah favoritku”

***

Rana, gadis baik dan cantik. Pintar dalam akademik maupun non-akademik. Sopan, baik pada kawan maupun lawan. Disegani, dipuji, sekaligus dibenci. Makhluk paling sempurna yang pernah ada. Dihari ulang tahunnya yang ke delapan belas, ia bukan hanya mendapat banyak hadiah—termasuk liontin emas dari seorang siswa paling di sukai di seluruh sekolah—tapi juga teror.

“Antar aku ya? Ku mohon!” Desi merengek pada sahabatnya.

“Hanya untuk kali ini? aku tidak mau lagi datang ke tempat-tempat seperti itu!” Rana menjawabnya ketus.

“Tentu, ini hanya sekali dalam hidupmu, sekali saja” Desi tersenyum senang.

Setelah bertahun-tahun, festival sihir kembali diadakan di kota itu. Mengudang segala penyuka hal mistis dari penjuru negeri. Walaupun memang sihir kuno sudah lama sekali menghilang dari bumi ini dan hanya tersisa benda-benda yang dianggap sakral padahal kosong saja.

Desi sangat senang dengan acara ini, Rana sebaliknya. Rana merasa, hal yang memang harus hilang, biarlah hilang selamanya, untuk apa diungkit-ungkit lagi. Lagipula, acara ini buang-buang waktu saja dan benar-benar kekanakan.


Tempat itu benar-benar ramai, banyak orang baik orang dewasa maupun anak-anak. Laki-laki maupun perempuan. Beberapa diantara mereka berpakaian seolah sedang merayakan halloween. Desi menghampiri sebuah tenda peramal. Rana menunggunya di luar. Lima menit kemudian, Desi keluar dengan wajah sumringah.

Rana memandangnya sinis. “Apapun yang kau dengar dari wanita tua itu, semuanya bohong” katanya. Sambil pergi menjauh

“Aku tau” namun senyum diwajah Desi tidak menghilang. “Setidaknya, aku mendengar hal baik tentang diriku—bahkan meskipun itu bohong—itu menggembirakan.” Ia mensejajari langkah Rana.

“Kau tidak boleh bahagia akan kebohongan, Desi. Apa menyenangkannya? Pada akhirnya tidak akan terjadi apa-apa”

Desi cemberut. “Mudah saja bagimu berkata begitu, hidupmu kan teramat menyenangkan. Bagiku yang hanya manusia biasa ini, kebahagiaan semu juga tidak mengapa”

“Ah, sudahlah, ayo kita pulang” katanya.

“Kau bercanda, Rana? Kita baru saja tiba, setidaknya kita berkeliling dulu. Membeli beberapa jimat, lalu baru pulang”

Rana menggeleng. Ia memutuskan untuk menunggu Desi di luar festival. Suasana yang amat ramai itu benar-benar memuakkan Rana. Kenapa orang-orang mau repot-repot datang ke tempat tidak berguna ini?

Seorang pria menghampirinya, duduk disampingnya, tersenyum. Rana balas tersenyum lalu sedikit bergeser, takut dengan pria itu.

“Orang-orang semakin bodoh, ya kan?” kata pria itu.

Tanpa sadar Rana mengangguk.

Mereka menyaksikan orang-orang keluar-masuk festival itu. Berpakaian aneh, tertawa. Satu jam kemudian, Desi baru keluar dan menghampirinya.

“Kukira kau tidak membeli apapun” kata Desi

“Memang tidak”

“Lalu apa itu?” Desi menunjuk ke arah kepala Rana.

Rana memegang kepalanya, entah sejak kapan ia sudah memakai headphone. Rana mencoba mengingat, pria tadi mungkin yang memberikannya, dan ia lupa kalau ia memakainya. Rana sempat ragu dengan ide ini, tapi semakin memikirkannya ia semakin setuju. Ya, pria tadi memang memberikannya padaku.

“Untukmu saja, Desi. Aku tidak menginginkannya” ia melepas headphone itu.

“Sungguh? Wah! Terimakasih! Maaf aku tidak membelikanmu apapun dari dalam” sesal Desi.

“Tak apa”

***

Esoknya, hampir tak ada apapun yang terjadi. Rana ke sekolah dan begitu juga Desi. Semua berjalan lancar, terlalu lancar.

“Aku rasa headphone ini semacam pembawa keberuntungan!” seru Desi.

Rana mengerutkan kening.

“Pagi ini aku melihat Lani terjatuh tepat di depan kakiku” kata Desi menahan tawa.

“Itu bukan keberuntungan, Desi”

“Tentu saja itu keberuntungan! Tidak setiap hari kita melihat Lani dipermalukan, lagipula ia memang pantas mendapatkannya. Maksudku, setelah yang ia lakukan pada kita selama ini” kata Desi

“Tetap saja ...” Rana tidak melanjutkan kalimatnya. Sebenarnya ia agak setuju dengan pernyataan Desi. Karena, selembut apapun hati Rana, ia tetap manusia. Dan manusia paling tidak suka menerima penghinaan, termasuk dari Lani.

***

Lama kelamaan, ucapan Desi seolah menjadi semakin kenyataan saja. Memang headphone itu memicu keberuntungan. Sayangnya bukan keberuntungan yang baik sebagaimana yang dikatakan Rana.  Desi semakin yakin, tetapi Rana tetap pada pendiriannya, tidak percaya.

Dua bulan berlalu, sebagaimana benda-benda mistis selalu mempengaruhi penggunanya, hal itu juga terjadi pada Desi. Ia menjadi orang yang selalu kau bisa bayangkan sebagai korban sihir. Pemarah, dan lemah. Bahkan Rana pun penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya.

Suatu hari yang mendung. Rana memutuskan untuk mengetahui apa sebenarnya headphone itu, konyol memang, mengingat pendiriannya selama ini. Lagipula,pikir Rana, apa yang mungkin terjadi?

Rana tak mendengar apapun, kecuali desiran darahnya sendiri. Tentu saja, ia tertawa, ia kan tidak menyalakan musiknya. Lalu ia mencoba melepas headphone itu. Tapi Desi mencegahnya.

“Dengarkan” katanya.

Rana menurut saja, melawan Desi akhir-akhir ini agak berbahaya. Lagipula,pikir Rana, apa yang mungkin terjadi? Pikirnya lagi. Desiran darahnya sendiri, tidak lebih dari itu. Baiklah, mungkin aku akan menunggu sampai Desi memperbolehkanku melepasnya.

“Hai!”

Rana kaget bukan main. Siapa itu? Rana menatap Desi, heran. Desi balik memandangnya, tersenyum, tapi itu bukan senyum yang selama ini Rana kenal. Tiba-tiba saja, semuanya menjadi remang, hanya ada Rana dan Desi. Tubuhnya seolah melayang, ditarik keras dari ruang kelas itu. Rana melihat Desi dibawahnya, melambaikan tangan. Lalu gelap.

***

“Kau sudah sadar?” tanya seseorang.

Rana terdiam, ia masih berada dalam kegelapan, dengan ragu ia balik bertanya “Siapa kau?”

Suara misterius tadi tertawa, “Aku? Itu tak penting. Yang terpenting, siapa kau, dan seberapa berharga dirimu?”

“Aku tidak mengerti”

“Temanmu baru saja menjual jiwamu, sayang”

Rana terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang baru saja ia katakan?

“Temanmu menjual jiwamu, itulah yang kukatakan”

Tubuh Rana bergetar, “Siapa kau?”

“Nah, nak, aku tau kau pasti merasa kaget, bingung, atau mungkin benci. Tapi, seperti yang kukatakan, yang terpenting adalah seberapa berharga dirimu? Apa kau berguna untukku? Atau temanmu itu hanya menjual sampah saja?”

“SIAPA KAU?!”

“Aku adalah tuanmu, dan kau budakku. Puas? Nah, sekarang jawab aku, apa kau berharga?”

Rana terdiam, ia marah, takut dan sedih disaat yang sama.

“Yah, sepertinya tidak. Kalau begitu mari kita hukum penipu kecil itu, dia pikir kebahagiannya itu gratis?”

“Apa yang kau lakukan?” Rana bertanya, masih dengan suara bergetar

“Menidurkan temanmu, tepatnya untuk selamanya”

“Tidak!”

“Nah, makanya kubilang kau tidak berguna. Temanmu baru saja menjualmu, Rana. Kau tanya kenapa? Karena ia iri padamu, karena kau begitu sempurna dimatanya. Kagum berubah menjadi benci, benci yang teramat sangat. Khas sekali sifat manusia”

“Jangan! Jangan bunuh Desi” kata Rana “Bunuh aku saja”

Suara itu tertawa “Apa untungnya bagiku? Kau milikku, kenapa aku harus membunuh milikku?”

“Jangan bunuh Desi!”

“Kalau begitu buatlah dirimu berguna, kalau kau tidak bisa membenci temanmu. Yah, maka kau harus menjadi seperti pria itu, menyebarkan portal-portal keseluruh bumi”

Rana teringat akan pria yang dimaksud. Pria yang duduk disebelahnya sewaktu festival sihir, lalu menghilang. “Itu berarti ...”

“Benar, membuat satu-persatu manusia memuakkan hilang dari muka bumi”

“Tidak, aku tidak mau!” Rana berteriak.

“Kau memang tidak berguna” kata suara itu. Tiba-tiba saja muncul suara menggelegar, lalu muncul suatu bayangan dalam kepala Rana.

“Temanmu itu akan mati, kau harusnya berterimakasih padaku” kata suara itu. Desi disana, dalam bayangan Rana menggigil kedinginan di kamarnya. “Tapi tentu saja, aku tidak akan membuatnya mati mudah, ia akan menderita lebih dulu”

“Apa yang kau lakukan? hentikan!”

“Apa yang akan kau lakukan, Rana? Kau tidak mengenalku, tak tau wujudku, dan kuingatkan lagi, kau sudah ada lagi dari muka bumi”

“Bunuh saja, bunuh saja Desi, jangan buat ia menderita!” Rana hendak menangis.

“Kau membingungkan Rana, tadi kau minta aku untuk tidak membunuhnya, sekarang kau minta kau membunuhnya.” Kata suara itu. “Tapi, kau kan budakku? Untuk apa aku menurutimu?”

Rana menangis, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dimana ia kini, kenapa ia bisa di sini, dan untuk apa dia disini. Siapa suara yang mengekangnya? Apa yang ia lakukan? Kenapa ia melakukannya? Ia membenci makhluk ini. Lalu, bayangan tentang Desi berhenti. Perlahan ia seolah pulih dari penderitaannya, apapun itu.

“Kau adalah manusia teraneh yang pernah aku tawan” kata Suara itu. “Selamat, kau telah membuat dirimu berguna. Benar, Rana aku menyukai kebencianmu padaku”

Ruangan sekitarnya tiba-tiba menjadi terang. Rana tidak tau tempat apa itu, tapi tempat itu remang dan dingin, lembab dan sesak. Ada sosok di depannya, hanya siluet saja, yang lama kelamaan berubah menjadi pria tinggi dengan senyum ramah.

“Ini rumah barumu, kau tidak akan lapar, tidak haus, tidak mengantuk, dan yang terpenting, tidak bahagia” kata pria itu “karena kau sudah memutuskan untuk memutuskan untuk membenciku. Mungkin ada baiknya kalau aku mengenalkan diri.

“Aku, makhluk yang tak pernah tercipta, makhluk yang tak pernah diperkenalkan, apalagi dipuja. Menyukai kebencian, melahapnya, dan berkembang karenanya. Kebencian terbaik adalah kebencian dari orang-orang yang tak pernah membenci, langka sekali, beribu-ribu tahun, hanya beberapa yang kutemui. Siapa sangka aku betemu denganmu sekarang.

“Kau benar, selama beribu-ribu tahun, aku melahap kebencian. Temanmu, Desi pernah jadi korbanku, walau ia tak menyadarinya. Beribu-ribu tahun, aku juga membeli budak untuk mengumpulkan lebih banyak kebencian. Mereka, tidak pernah ada lagi, tidak nyata lagi, menghilang dari ruang dan waktu

“Aku harap itu cukup, kau tidak perlu banyak hal untuk membenciku. Ingat saja, mengenai aku yang memenjarakanmu di sini, juga banyak manusia lain, merusak kodrat alam. Semakin kau mengingatnya, semakin kau membenciku, tapi justru aku semakin kuat” kata pria itu, lalu menghilang.

Rana terdiam, jika begitu, aku seharusnya tidak membencimu. Tapi, Rana tidak bisa, ia tidak bisa tidak membenci makhluk itu.

Beratus-ratus tahun, Rana tinggal diruangan pengap itu. Beratus-ratus tahu, makhluk itu menceritaka kisah Rana, kadang ia juga menceritakan tentang orang-orang sekitar Rana yang membenci Rana juga. Semata-mata agar Rana semakin membenci dirinya. Beratus-ratus tahun, tap Rana tetaplah Rana yang sama, remaja delapan belas tahun, dengan seragam sekolahnya. IA tidak haus, tidak lapar, tidak mengantuk seperti yang dikatakan makhluk itu.

***

Sosok itu menghentikan ceritanya. Menatap Rana, lalu mengerutkan kening.

“Rana?” tanyanya. Tapi, Rana tidak menjawab. Sosok itu menghampiri Rana, menarik dagunya, dan memperhatikan Rana lamat-lamat. Ia lalu tersenyum getir.

“Ia tertidur” katanya. “Yaah, ruangan ini juga semakin busuk saja.” Ia menjentikkan jari, ruangan itu menghilang, Rana tertidur, tepatnya untuk selama-lamanya.

***

Sama seperti Bunga Hitam, kisah ini terinspirasi dari mimpi gajelas saya, menjadi cerpen yang sama gajelasnya. Saya pernah menuliskannya sebelumya ketika SMP, yang disambut dengan tatapan ini aneh banget oleh teman-teman saya. Kerena yang saya tuliskan itu adalah hal-hal yang benar-benar saya ingat dari mimpi saya, bertokohkan saya sendiri (sebagai Rana), Mila dan Manan (sebagai Desi), sekumpulan geng bullyer tidak dikenal (Lani), flashdisk (sebagai headphone), sekumpulan anak indigo misterius (sebagai pria di festival), Vina Candrawinata (sebagai guru, tapi disini tidak ada), dan Alien berwarna hijau (sebagai makhluk tak bernama).Kisah itu berakhir dengan saya berteriak pada flashdisk untuk membunuh saya daripada membunuh orang-orang disekitar kami.Saya sudah tidak ingat akan konsep awal cerita itu, sehingga saya rombak banyak disini.Ngomong-ngomong jika kamu memperhatikan cerpen-cerpen saya hampir saya semuanya sad-ending, perlu saya katakan bahwa happy-ending is too mainstream. Tapi, cerita saya juga mepet-mepet happy-ending kok. Rana memang meninggal, tapi ia bebas dari jeratan makhluk itu. Berhenti diperalat olehnya. Bunga Hitam, seperti kata Henry, dunia lebih baik tanpa mereka, jadi itu happy-ending untuk umat manusia. Bahaya, pada akhirnya psycho itu pergi dan mungkin ia akan tobat.Yaah, sekian.
Update: 15/05/2015
Nemu draft pertama cerpen ini :D

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^