9 Mei 2015

Empat Ujian

Aku sama sekali tidak ingat bagaimana akhirnya aku bisa berada di sini.

Baiklah, saat ini aku memang berada di kamarku, tapi rasanya ada yang aneh. Kamarku remang dengan kesan merah menyeramkan, dan dari pintu terdengar suara ketukan kasar yang bertubi-tubi. Aku yakin sekali itu pasti itu ibuku, tapi aku tidak mau membukakan pintu.

“Buka!” Pintu kamarku kini diketuk lebih keras, lebih seperti dipukul.

Aku justru menahan pintu, berusaha agar ibuku yang sepertinya menyeramkan tidak bisa masuk. Tapi, semakin aku berusaha menahannya justru sepertinya pintu itu semakin medesak untuk terbuka.

“Hei!” ada suara dari jendela, entah sejak kapan jendela itu terbuka. Ada seorang anak laki-laki seumurku dengan pakaian lusuh dan rambut yang berantakan, dengan mata hijaunya yang besar ia menatapku dengan pandangan sok tau.

Aku menatapnya kembali sambil meringis, “Bisa kau bantu aku?”

Tapi ia sama sekali tidak bergerak, “Kau tau kau tidak bisa menahannya” katanya.

“Makanya, tolong aku”

“Tidak, kau harus menghadapinya sendiri” Aku mengerutkan kening, tapi ekspresinya sama sekali tidak berubah. “Ujian pertama, Bima” ia lalu pergi.

Hal paling masuk akal yang bisa aku lakukan sekarang adalah kabur lewat jendela. Tapi kalau aku melepaskan pintu ini, kemungkinan besar ibuku bisa masuk, dan mungkin aku akan tertangkap. Pintu kamarku kini didorong, aku menahannya sekuat tenaga. Tapi sia-sia saja.

Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Di hadapanku kini berdiri ibuku tapi dia bukan ibuku. Wanita ini bertubuh berkali-kali lebih besar dari manusia normal, wajahnya merah dan matanya menatapku bengis.

Rambutku ditarik, aku tidak mengerti, apa salahku?

***

‘Ibuku’ tidak mengatakan apapun, tapi ia menyuruhku melakukan banyak hal: membersihkan rumah; mencuci pakaian, piring-piring kotor; termasuk memijati kakinya yang besar. Aku sama sekali tidak diizinkan untuk keluar rumah, makan, atau tidur. Tidak ada kata istirahat, dan tak ada pekerjaan baginya selain menarik-narik rambutku setiap kali ia anggap aku berbuat salah. Ini hari ketiga, aku semakin yakin dia bukan ibuku. Untungnya ia sama bodohnya seperti semua raksasa dalam kisah fiksi, ia sama sekali tidak tau jumlah makanan di kulkas berkurang karena aku kelaparan.

Anak laki-laki berpakaian lusuh itu kini datang lagi, ia mengintip dari jendela dan melirik-lirik ke sebuah lemari besar yang ada di ruang tamu. Saat aku yakin raksasa itu telah tertidur pulas, aku berpura-pura membersihkan lemari. Di dalamnya ada gada besar. Aku tidak mengerti.

Saat aku mengeluarkannya, tiba-tiba saja serasa ada hembusan nafas di telingaku. Dan sebelum aku sempat merasakan tarikan rambut, cepat-cepat aku ayunkan gada itu kebelakang.

Raksasa itu pingsan, aku mengambil kesempatan, merogoh sakunya dan keluar dari ‘rumahku’

Anak laki-laki berpakaian lusuh menyambutku dengan tepuk tangan.

Aku cepat-cepat mengunci pintu itu lagi dari luar dan membuangnya jauh-jauh. Nafasku tersenggal, dan aku masih tak percaya aku bisa mengayunkan gada berat itu.

Aku lalu berbaring di atas rumput, dan baru menyadari langit desaku sama anehnya dengan rumahku. Warnanya merah, seolah ada yang menumpahkan darah kesana.

“Ia bukan ibuku” kataku akhirnya, masih memandang langit “dan ini bukan desaku”

“Memang” katanya dengan nada menyebalkan.

“Kau siapa? Aku di mana?”

“Aku heran kenapa kau baru menanyakannya sekarang”

“Jawab saja” aku berusaha menahan diri untuk tidak marah.

Ia ikut berbaring di rumput, dan  ikut menatap langit bersamaku “Indah ya, langitnya?” katanya.

“Menyeramkan” aku ikut terpana

“Kau belum terbiasa”

“Kau belum menjawab pertanyaanku”

“Kau terjebak di dunia lain, tidakkah itu cukup?”

“Itu tidak menjelaskan apapun. Kau siapa?”

“Rio sepertinya bagus, kau sendiri? Siapa namamu?”

“Ami” kalau ia tak mau menyebutkan nama aslinya, kenapa aku harus?

“Ini adalah dunia yang aneh seperti yang kau lihat” ia mulai menjelaskan, “Dibuat oleh seorang pimpinan pasukan perang dunia ke tiga untuk menyiksa para tawanan”

“Perang dunia ... apa?” aku duduk

“Dunia ini dibuat sedemikian rupa sehingga memadukan keajaiban ilmu pengetahuan dan kecanggihan sihir, tak ada yang bisa keluar kecuali berhasil mengalahkan ujian terakhir. Sayangnya, sangat tidak mungkin untuk bisa dikalahkan. Sama sekali tidak mungkin”

“Tahun berapa ini?” aku menatapnya takut.

“7823” Rio akhirnya menjawab.

“Bohong!” aku mencengkram bahunya kuat-kuat “Kau pasti bohong!”

“Untuk apa aku berbohong?”

“KAU BERBOHONG!”

“Terserah saja kalau kau tak mau percaya” ia lalu mentutup matanya “Aku sendiri heran kenapa seorang anak gadis tak berdosa dari abad dua puluh satu bisa terjebak di sini, bagaimana dengan mu Kirana?”

Aku menatapnya tidak percaya dengan perasaan tidak keruan, bagaimana ia tau?, lalu ... gelap.

***

“Jangan buka buku itu, pegang saja, aku akan mengambilnya lagi secepatnya. Berjanjilah kau tak akan membukanya. Aku mohon, sebentar saja”

“Eh, baiklah”

Paman itu lalu masuk ke dalam kuil. Kami memang tak diperbolehkan membawa apapun ke dalam kuil.

Aku sama sekali tidak membukanya. Seseorang yang sama anehnya dengan paman itu menabrakku, buku itu terjatuh. Saat buku itu terbuka, tubuhku menghilang sedikit demi sedikit, seperti pasir yang tertiup angin. Orang itu tertawa. Paman itu berlari kearahku lalu tersenyum.

Sayup-sayup aku mendengar seseorang berkata, “Bodoh”

***

“Kau sudah sadar?”

Aku melihat sekelilingku, ada Rio disampingku. Aku belum ‘pulang’. Tanpa sadar aku menangis.

“Aku rasa itu artinya ya”

Rio berdiri, mengambil air, dan memberikannya padaku. Aku memuntahkan air itu, rasanya pahit.

“Itu satu-satunya yang terbaik yang bisa didapatkan di sini” katanya.

Aku menatap sekitar, rupanya Rio mengambilnya dari sungai dekat situ dan kami sudah tidak di depan rumahku lagi.

“Nakula tadi menyerang, kau pingsan, merepotkan saja” katanya. “Kau harusnya melawannya, bukan hampir mati karenanya”

“Kenapa aku di sini?” aku menatap gelas yang diberikan Rio padaku.

“Segalanya selalu sulit diawal, akan kuceritakan lagi besok. Langit mulai gelap, tidurlah, kau tidak tidur tiga hari ini bukan? Aku akan berjaga”

Aku tidak mau tidur. Bagaimana bisa aku tidur jika aku tau aku berada di dunia lain, dipinggir sungai kotor, apalagi bersama dengan anak laki-laki yang sama sekali tidak ku kenal. Apa katanya tadi? Penyerangan? Apa dunia ini juga dikelilingi binatang buas yang kapan saja dapat membunuhku? Aku tidak mau tidur, tapi mataku rasanya berat sekali.

***

Rio bercerita, bahwa di sini, aku harus menyelesaikan empat ujian untuk keluar. Pertama, Bima; kedua, Nakula dan Sadewa; ketiga, Yudistira; dan terakhir bisa ditebak adalah Arjuna. Setiap kali seseorang mengalahkan atau dikalahkan Bima, akan ada orang baru yang muncul. Ia memberitahuku bagaimana cara mengalahkan mereka. Supaya kami bisa hidup lebih tenang tanpa diserang makhluk-makhluk itu lagi. Mereka akan terus mengejarku sampai aku mengalahkannya, walau ia juga bilang sangat kecil kemungkinannya kalau aku ingin keluar.

“Kalau begitu kemana tawanan yang lain?” tanyaku

“Kebanyakan tewas, ada juga yang bersembunyi” katanya “Ayo jangan buang-buang waktu, kau harus mengalahkan ujian kedua”

“Kalau aku harus menghadapi ujian-ujian itu sendiri, kenapa kau membantuku?”

Rio menatap mataku lamat-lamat “Ibuku, adikku, sahabatku, tewas begitu menghadapi ujian pertama mereka. Itu alasan pertama” katanya “Kedua, kau benar-benar sama sekali tidak bersalah, kau tidak terlibat perang, harus ada alasan kenapa kau ada di sini, terutama karena tanda di dahimu itu”

Aku menutupi dahiku dengan poni.

Kami mendatangi Nakula dan Sadewa. Meski ini bukan desaku, tempat ini sama persis dengan desaku. Rio bilang, mereka menggunakan ingatan para tawanan untuk memproyeksikan pandangan mata mereka. Apa yang aku lihat, mungkin berbeda dengan apa yang dilihat tawanan lain, termasuk Rio. Nakula dan Sadewa berada di tempat pembuangan sampah di dekat rumahku. Mereka berdua berwujud anak kecil. Gerakannya gesit, dan mereka tertawa-tawa sambil berlari-lari. Aku benci sekali melihatnya. Mengingatkanku pada dua adik tiriku.

“Ingat ada pedang di pohon itu. Aku tidak tau kau melihatnya seperti apa, bagiku sendiri pohon itu seperti pohon beringin. Butuh berminggu-minggu bagiku untuk melubangi pohon itu dan mengambil pedang di dalamnnya.”

Aku beruntung, yang aku lihat adalah pohon pisang.

“Kau akan butuh ini” ia menyerahkan sebuah belati padaku “Tapi kau tetap akan membutuhkan pedang itu” aku mengangguk mengerti.

Aku memasuki arena ujian itu. Nakula dan Sadewa mengelilingiku, menari-nari sambil menyanyi mengejek. Kadang mereka menarik-narik rambutku, atau melempariku dengan sampah. Aku ingin sekali menangkap mereka, lalu mengikatnya di pohon, tapi mereka terlalu cepat. Badanku sakit sekali.

Aku tak mau berlama-lama di sini, aku berusaha cepat-cepat menyayat pohon pisang itu degan belati. Tapi sulit sekali, pohon pisang ini mengeluarkan getah ungu yang bau. Yang mendesis setiap jatuh ke tanah. Aku rasa itu beracun.

Saat aku berhasil mendapatkan pedang itu, Nakula dan Sadewa sepertinya marah sekali. Wajah mereka yang tadi tertawa-tawa berubah menjadi menyeramkan, sama menyeramkannya dengan Bima kemarin. Mereka menyerangku, tapi aku mengayunkan pedang, mereka lantas menjauh.

Kini adalah bagian paling sulit, aku harus mengalahkan mereka, dua anak kecil yang gesit dan marah ini. Aku mengacungkan pedangku, mereka menggeram ke arahku. Nakula maju, aku hendak menyabetnya tapi ia berhasil lolos. Sementara pandanganku teralihkan pada Nakula, Sadewa tiba-tiba saja bersiap menyerangku. Dari tangannya, keluar kuku-kuku tajam berlumuran getah  tadi. Aku tak bisa lagi menghindar, aku pasti mati.

Buk! Sadewa terjatuh. Ia memegangi matanya yang berlumuran getah ungu sambil menjerit kesakitan. Nakula berteriak marah ia menyerang membabi buta ke arah . Kami?

Rio mengambil sayatan pohon pisang berlumuran getah itu lagi melemparnya kearah Nakula. Nakula menghindar, ia tertawa.

“Cepat!” katanya padaku.

Aku melempar pedangku kearah Nakula. Ia jatuh, dan terkulai lemas.

Rio buru-buru keluar dari arena ujian itu, ada yang aneh dengan tangannya.

“Apa, apa yang terjadi” aku menatapnya ngeri. Tangan Rio berlumuran getah ungu, bukan hanya itu, tangannya meletup-letup.

“Belati!” katanya.

Aku menyerahkannya, dan sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilakukannya, ia ... memotong tangannya. Aku menutup mulutku yang hendak menjerit.

“Tidak apa-apa, di sini kau tidak akan mati kalau berusaha untuk mati. Nah ... lihatkan” Rio benar, tangannya tumbuh lagi. “Kau hanya bisa mati jika karena sesuatu dari ujian itu, getah tadi misalnya.

Aku menamparnya “Lalu kenapa kau melakukannya tadi? Kenapa kau membantuku? Kau tau kau tidak boleh membantuku. Kau bisa mati”

“Atau lebih parah lagi, dikeluarkan* dari arena” katanya “karena kalau itu yang terjadi, kau yang akan mati”

Aku menatapnya tidak percaya, sama sekali tidak mengerti bagaimana cara berpikirnya.

Dari arah rumahku ada seseorang keluar, mengunci pintu, dan melempar kuncinya jauh-jauh. Ia lalu terjatuh, pingsan. Saat aku hendak menghampirinya, Rio menahanku.

“Ayo pergi” katanya.

Kami kembali ke arah sungai. Rio bilang itu satu-satunya tempat aman yang jauh dari keempat ujian. Sayangnya di sana kami sulit mencari makanan.

“Saat aku mengalahkan Yudistira nanti, apa yang harus kulakukan?”

“Seharusnya mengalahkan Arjuna”

“Tapi kau bilang itu tidak mungkin?”

“Memang”

“Lalu?”

“Terjebak di sini selama-lamanya”

Aku mendesah, aku tidak mau tinggal di sini. “Kau tidak pernah mencoba melawan Arjuna?”

“Tidak, sejak aku melihat pimpinan perang dari pihakku terbunuh olehnya”

“Kenapa kita tidak mengumpulkan orang-orang yang bersembunyi dan melawannya bersama-sama?”

“Harus kuberitahu berapa kali? Kau harus ...”

“Tapi, tadi kau membantuku”

“Yaah, aku melanggar peraturan”

“Dan tak ada yang terjadi padamu kan? Lagipula, bagaimana kau tau itu aturannya?”

Rio tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya dariku, lalu memutuskan untuk tidur.

Sejak aku mulai mengenal Rio, aku memutuskan untuk percaya padanya. Lagipula, di sini, hanya ia yang bisa ku percaya. Meski, jujur, masih banyak hal misterius dari dirinya. Lucu sekali, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku percaya pada seseorang, tapi orang itu justru adalah yang paling seharusnya tidak aku percaya. Tapi itu bukan tanpa alasan, tadi ia menyelamatkanku, melanggar peraturan. Aku tidak tau dengan orang lain, tapi kalau seseorang hampir mati demi mencegah aku mati, apa yang paling mungkin bisa aku rasakan?

Yudistira tidak terlalu jauh dari Bima dan Nakula-Sadewa. Ia ada di dalam rumah tetanggaku.

“Kali ini aku sama sekali tidak bisa membantumu. Bukan karena peraturannya. Tapi, karena hanya kau sendiri yang tau cara mengalahkannya”

Aku mengangguk, walau tidak mengerti.

“Yudistira adalah yang paling sulit. Aku mohon, jangan mati”

Aku memasuki rumah tetanggaku itu. Rumah itu rapi dan bersih, suasana menyeramkan di luar hampir tak ada di sini. Yaah, ini lumayan melegakan. Ada suara dari arah dapur. Aku menghampirinya.

Seorang gadis seumurku membelakangiku. Rambut panjangnya yang hitam legam di kuncir kuda. Ia mengenakan celemek, dan sedang memotong sesuatu. Sepertinya ia menyadari kehadiranku, karena ia berhenti memotong dan menegakkan kepalanya.

“Sampai juga” katanya. Rasanya aku mengenali suara itu.

Ia berbalik, masih memegang pisau dapur, dan tersenyum kearahku. Jantungku rasanya berhenti. Aku mengenal dahi itu, tapi malah bertanya: “Si ... siapa kau?”

“Aku Kirana”

“Bukan, aku Kirana”

Ia mendelik, berkacak pinggang “Aku Kirana” katanya. “Dan ya, kau juga.”

“Bohong!”

“Mari kita buktikan”

“Apa yang akan kau lakukan?” aku memandangnya ngeri. Ia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi dan menikam dirinya sendiri. Perutnya berdarah, tapi ia tertawa. Sementara aku terjatuh memegangi perutku. Ia melakukannya berkali-kali. “Hentikan” aku memohon “Sakit”

“Sakit?” katanya “Akan kuberitahu apa itu sakit. Saat kita tau ayah kita meracuni ibu demi menikahi sekretarisnya. Saat kita tau mereka sudah lama berhubungan bahkan sebelum ibu sakit-sakitan”

“Hentikan!” aku menutup telinga “aku mohon”

“Saat kita tau ayah membenci kita dan membuang kita ke rumah nenek. Saat kita tau kalau nenek menganggap kita terkutuk”

“Tidak! Itu tidak benar!” aku menangis.

“Kau boleh mengelak, berpura-pura itu hanya dalam pikiranmu, tapi itulah yang sebenarnya” ia terduduk “Kau juga mungkin sudah tau kenapa bisa ada di sini?”

“Aku harus mengalahkanmu” kataku

“Benar” katanya “Bunuh aku, dengan begitu kita akan mati bersama-sama. Hidup akan lebih mudah”

“Katakan padaku, bagaimana cara mengalahkanmu?”

Ia tersenyum mengejek “Tidak ada cara lain, lagipula apa artinya hidup saat tau semua orang membencimu?” ia melempar pisau dapur itu kearahku, dan jatuh didepan kakiku. Aku mengambilnya.

Sejak aku lahir aku diberi tanda oleh ibuku. Sepasang sayap hitam di dahi. Entah apa maksudnya, orang-orang menganggap aku aneh dan tak ada yang mau berteman denganku. Aku mengerti siapa Yudistira ini. Bagian diriku yang paling waras dari segalanya. Dari jendela aku juga melihat Rio dengan pandangan was-was. Selama ini, pandangan itu adalah pandangan eksfresif darinya.

Aku menghampiri diriku, ia tersenyum penuh kemenangan. “Benar, Kirana” katanya “Bunuh aku”
Tanpa ia duga aku memeluknya. Ia menjerit, tapi aku tidak melepaskan pelukanku. Kirana berubah menjadi asap hitam dan masuk ke tanda di dahiku. Lagi-lagi aku pingsan.

Aku terbangun di samping sungai (lagi). Aku tersenyum melihat Rio masih disampingku. Ia menyerahkan segelas air padaku. Aku meminumnya sampai habis.

“Terima kasih” kataku.

Malam itu kami habiskan dengan diam, memandang langit merah sampai bosan.

“Kalau aku bilang aku ingin mengalahkan Arjuna, apa aku gila?” aku akhirnya berucap

“Ya,”

“Apa yang terjadi kalau aku berhasil mengalahkannya?”

“Kau akan keluar dari sini, kembali ke kehidupan lama mu”

“Ayo kita lawan dia bersama-sama, kita pasti bisa kalau bersama-sama”

“Tidak mungkin”

“Lalu apa kau mau hidup di sini selama-lamanya?”

“Mengapa tidak?”

“Ayolah, kita bisa gila kalau terus menerus di sini. Pria-pria yang memberikanku buku itu, pasti dari masa depan. Kita bisa keluar, dan kau bisa pergi ke jamanku. Kita tidak akan sendirian lagi”

“Kau, Aku, bahkan jika seluruh tawanan bergabung. Kita tidak akan bisa mengalahkan Arjuna”

“Lihat dahiku, kau bilang pasti ada alasan kenapa aku di sini kan?”

Rio menggeleng. Ia memalingkan wajahnya.

Kami tidak berbicara berhari-hari, tapi kami masih hidup. Makan, minum, tidur. Sudah kubilang. Aku benar-benar akan gila kalau di sini terus. Maksudku, apa yang harus kami lakukan di sini? Langit merah itu memuakkan, makanan di sini tidak ada yang normal. Terlebih lagi, kami tidak punya tujuan. Aku senang bersama Rio, dia baik, benar-benar baik, bisa kau bayangkan dua anak muda laki-laki dan perempuan, hanya berdua selama berhari-hari dan tak ada yang terjadi? Tapi kalau begini terus aku tidak akan tahan.

“Setidaknya beritahu aku di mana ujian ke-empat itu”

“Begitu kau ke sana kau tidak akan bisa kembali” katanya

“Bagaimana denganmu? Kau bisa kembali, kau pernah mencoba melawan Arjuna juga kan?”

“Saat itu Arjunaku belum ada”

“Konyol”

Rio akhirnya mengalah, ia mengantarku ke Arjuna. Kami berhenti di tepi hutan yang gelap. Rio berbalik.

“Kita sampai” katanya

Aku melongok ke balik pundak Rio, di mana Arjuna?

Rio melempar belatinya padaku.

“Di mana dia?” tanyaku

“Tepat di depanmu” katanya

Kabut hitam  keluar dari tanda di dahiku. Kirana yang lain muncul.

“Apa ku bilang?” katanya.

Aku memegang belati itu dengan tangan gemetar, siap menghunus, walau tidak tau harus menghunus siapa.

Kirana berucap lagi “Ujian pertama, berwujud orang yang paling kau rindukan; ujian kedua, berwujud orang yang paling kau benci; ujian ketiga, berwujud bagian gelap dirimu sendiri; ujian keempat ...”

“Orang yang paling aku percaya?” Apa-apaan ini?

“Kita tidak punya didunia nyata, jadi mereka membuatkanmu satu di sini” ia tertawa “Sekarang kau punya dua pilihan: Membunuhnya, lalu keluar dari sini, kembali ke kehidupan lama yang sama-sama kita benci. Atau menyelesaikan urusanmu denganku”

“Aku mohon Kirana, jangan mati” Rio menatapku sedih.

“Oh ayolah!” kata Kirana “Ia tidak nyata Kirana, sejak awal ia sudah bagian dari ujian. Ia berbohong mengenai segalanya tentang dirinya. Menurutmu bagaimana ia bisa tau segalanya tentang dirimu? Dan bagaimana ia bisa menyelamatkanmu dari Sadewa tepat waktu? Ia tidak nyata, membunuhnya sama sekali tidak menguntungkanmu”

Kirana benar, saat itu Rio cepat, tidak, ia terlalu cepat untuk ukuran manusia biasa.
Rio cepat, ia sangat cepat. Sama cepat ketika tiba-tiba ia memelukku, tanganku masih menghunus belati.

“Kau curang!” Kirana menjerit.

***

“Dek, dek” seseorang memanggilku.

“Ya?” aku menjawab, sedikit kaget.

“Buku itu, terima kasih”

Aku memandang tanganku, sebuah buku bersampul tebal dengan ukiran sepasang sayap hitam. Aku menyerahkannya pada Paman itu “Sama-sama” lantas pergi dari sana.

Ponselku berdering, aku buru-buru mengangkatnya “Di mana?” kata suara di sebrang telepon.
“Sebentar lagi, tadi ada urusan”

“Cepat!”


“Aku sudah sampai, di belakangmu” Aku melambai-lambai sambil tersenyum. Rendra berbalik dan balas melambai walau tidak membalas senyumku, ia temanku, matanya besar hijau, dan rambutnya selalu berantakan.

Just another my weird dream dengan beberapa penyesuaian tentu saja. Saya tidak ingat benar ujian-ujian apa saja yang ada (kecuali yang pertama) dan Rio dalam mimpi saya ternyata adalah vampir jahat yang ujian terakhirnya adalah mengejar dia di ruangan yang berputar-putar dan wujudnya adalah laba-laba berkepala manusia dan bertaring -_- . Ada tokoh lain dalam mimpi saya, yang membantu saya untuk mengejar Rio. Saya tidak ingat siapa saja. Tapi, ada seorang anak kecil yang manis. Ada banyak alternatif penyelesaian, saya bingung pilih yang mana. Menurutmu, apa yang sebenarnya terjadi?*kutipan dari Harry Potter dan Batu Bertuah karangan J. K. Rowling hal 202

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^