11 April 2015

Perang Krim Kue

Saya berangkat jam 10, dan dengan drama nyasar dulu sampai ke elos akhirnya tiba di GOR Srikandi sekitar jam setengah 12. Bukannya untuk olahraga atau sebagainya, saya menemani Wanti yang saat itu sedang tes bulutangkis yang tidak ia hadiri minggu lalu. Kami baru selesai jam setengah satu, dan segera pergi ke rumah Nadia.

Hari itu, rencananya X-3 akan mengadakan acara botram di rumah Hilal, sekaligus merayakan hari ulang tahunnya.

Acara ini sebenarnya (menurut berbagai sumber) sudah direncanakan oleh kelompok anak laki-laki sejak lama sekali. Tapi perang dingin antara dua kelompok besar anak perempuan mempersulit segalanya. Maka jadilah, acara botram dengan tema 'No Racist Vrooh'


Meski begitu, rasanya saya tetap malas. Yaah, tapi sepertinya kelompok seperti akan terus ada seumur hidup saya, jadi daripada menghindarinya terus-menerus lebih baik menghadapinya, ya kan?

Sampai di pertigaan Caringin (atau Citapen?) saya mengirim pesan pada Nadia untuk keluar. dan lalu Afivah agar kami dijemput karena saya tidak tau di mana rumah Hilal. Lama tidak dibalas, saya memutuskan menelepon Opie dan barulah kami dipedulikan.

Tak lama, Neo datang. Saya sempat tidak mengenalinya karena ia mengenakan kacamata. Karena baik Nadia maupun Wanti tidak mau dibonceng Neo akhirnya saya memutuskan untuk mewujudkan tema botram kita hari itu *yeah!* . Itu pertama kalinya saya dibonceng Neo, dan semoga juga yang terakhir kalinya.


Sudah banyak yang ada di rumah (?) Hilal saat saya sampai, semua orang menanyakan Wanti, Cicih, Adam F dan yang lainnya, dan saya jawab mereka semua ada di belakang saya. Nadia dan Wanti akhirnya sampai, sambil menunggu yang lainnya kami menghabiskannya dengan mengobrol dan makan buah yang ada di meja.

Setelah semua orang datang, acara makan-makan pun di mulai. Saya makan dengan tenang, dan sepertinya bagian ini tidak perlu dideskripsikan.

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, hari ini juga kami merayakan ulang tahun Hilal. Apa artinya ulang tahun? Kue. Masalahnya, Hilal rupanya di belikan Kue yang penuh dengan Krim. Tebak apa yang terjadi berikutnya? Perang Krim!

Saya hampir selamat karena orang-orang tidak meyerang orang yang berhijab. Sampai Egha menyerang Wanti, and everybody loses their mind. O.O . Untuk menyelamatkan diri, saya kabur ke sisi lain rumah. Meski Bela sempat terkejar dan disiram tepung oleh Dini di dekat situ. dan sepertinya Neza yang sedang membersihkan rambutnya juga tidak berniat menyerang saya. Singkatnya, saya menjadi orang paling bersih saat itu.


Acara dilanjutkan dengan foto-foto, dengan wajah belepotan krim kue. Untungnya, mereka tidak dendam karena saya masih bersih. Mungkin ini faktor beungeut nu geus jore, jadi mereka kasihan. Yang penting saya bersih, dan saya bangga.

Acara foto-foto itu berlangsung lama sekali, saya sampai capek, dan memutuskan tidak mengikuti sesi foto terakhir. Setelah foto-foto, tentu kami harus bersih-bersih. Apalagi banyak ranjau di lantai, krim-krim kue itu berwarna kecoklatan dan bergeletak di lantai, dan lembek, dan baunya memualkan.

Kami seharusnya pulang begitu selesai bersih-bersih. Tapi memutuskan untuk mengobrol sambil menunggu hujan reda. Saya sendiri, memilih memisahkan diri dan mengobrol dan bercanda  bersama Wanti, Nadia, Refa, Jessy, dan Cicih. Adam juga kadang-kadang ikut bergabung, menjadi bahan 'bullying' karena pakaian yang ia kenakan begitu ketat dan menjijikan, dan berkali-kali ia meminta agar saya tidak bilang pada Hania betapa konyolnya perbuatannya saat itu.

Lalu kami pulang.

Hari ini, begitu mengesankan. Walau memang agak kurang karena beberapa orang tidak bisa hadir, seperti Rivan, Nisa, Murni, Muti, Tian, Dini A, Santi, Rifal, dan yang lainnya

Banyak hal mengesankan juga yang lupa saya sampaikan disini, antara lupa dan terlalu tidak penting untuk dituliskan. Tapi, (meski yakin perang dingin belum akan berakhir,) saya senang sekali bisa berkumpul dengan teman sekelas.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^