4 April 2015

Pengumuman - Hiatus

imgsrc
Saya baru saja membaca ulang Anak Panah, lalu berencana untuk mencetak kisah itu. Saat memindahkannya ke Word, saya heran sendiri karena Status Bar menunjukkan jumlah kata dalam kisah ini mendekati sepuluh ribu kata. Padahal Anak Panah hanya terdiri lima bagian saja.

Saat membuat Anak Panah, saya masih menggunakan Memo Blackberry untuk mengetiknya, dengan patokan satu bagian terdiri dari empat puluh kali scroll.
Siapa sangka hal itu membuat satu bagiannya terdiri dari hampir dua ribu kata? Sedangkan dalam membuat Pencuri di Asrama saya membuat patokan kurang lebih seribu kata.

Saya lalu heran sendiri, kenapa ketika membuat Anak Panah yang berisi ±10.000 saya hanya membutuhkan waktu tiga bulan sedangkan saat ini Pencuri di Asrama sudah berbulan-bulan tapi baru berjumlah ±4000 kata saja?

Kesalahan saya adalah saat membuat kisah Pencuri di Asrama di saat yang sama, saya sedang menulis dua kisah yang lainnya, parahnya lagi saya sama sekali belum memikirkan plot utama untuk Pencuri di Asrama.

Berbeda dengan Anak Panah, konsep sudah saya rancang jauh sebelum kisahnya dipublikasikan. Saya juga bergelut dengan karakternya dengan fokus. Saya mengenal mereka, benar-benar mengenal mereka.

Meski sudah merancang gambaran awal mengenai cerita Pencuri di Asrama, saya sama sekali belum tau mau dibawa kemana kisah ini. Saya menganggapnya sepele karena ini hanya akan di publish di blog ini. Sedangkan, ketika membuat Anak Panah, saya sangat takut dan hati-hati kalau-kalau ceritanya jadi aneh, karena ini merupakan cerita detektif pertama saya.

Dari tiga cerita yang sedang saya kerjakan saat ini, saya jadi berpikir untuk menunda dua diantaranya dan fokus untuk mengerjakan salah satunya. Sayangnya, Pencuri di Asrama bukanlah cerita yang akhirnya saya pilih. Untuk itu, dengan sangat menyesal saya akan menghentikan cerbung ini untuk sementara waktu. Jujur, saya benci sekali untuk tidak menyelesaikan suatu kisah. Tapi disaat yang sama jika kisah ini dilanjutkan pun, tidak akan berakhir baik.

Hal ini juga berarti kemungkinan besar saya akan melanggar janji saya yang saya buat di Author’s Note sebelumnya. Ampuni saya.

Lagipula, melihat traffic blog ini, sepertinya cerpen jauh lebih diminati daripada cerbung. Bahkan mungkin tulisan ini pun tidak ada yang membacanya. Jadi, saya sama sekali tidak khawatir. (ini juga bisa berarti saya akan tetap menayangkan beberapa cerpen)

Mengenai kisah yang saya pilih untuk mengerjakannya dengan fokus adalah kisah yang konsepnya sudah saya buat sejak tahun lalu. Hampir tak ada satupun teman dekat saya yang tau kisah yang saya buat ini, kecuali adik saya, Mila yang memang suka diam-diam membaca tulisan saya.

Kisah mengenai Bara dan Felisa, yang berjuang di Apsara untuk mendapatkan Kuwalaya agar dapat menyelamatkan Tirta. Diceritakan dengan sudut pandang pertama dari seekor burung merpati. 

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^