15 April 2015

Benar atau Salah?

imgsrc
Saya pernah membahas ini bersama teman-teman beberapa waktu lalu, tapi sepertinya cukup bagus kalau saya sampaikan di sini juga.

Sejak dulu, saya ini Anak Mama (iyalah masa anak kudanil). Hal yang paling terasa adalah saat memilih sekolah, saya selalu menurut apa kata Mama. Sekeras apapun saya mencoba memutuskan sendiri, apa gunanya gunnya kalau tidak direstui orang tua? Saya selalu percaya dengan pepatah khas dari Mother Gothel dari Rapunzel ‘Mother Know Best’.
Lalu saya merasakan hal aneh ketika mencoba mengerjakan soal Kimia dengan teman saya. Guru Kimia saya, Pak Heri adalah guru favorit saya. Beliau sudah sangat tua dan mempunyai metode mengajar yang unik. Beliau sama sekali tidak menganggap muridnya bodoh, dan menyuruh kami untuk sebisa mungkin belajar sendiri. Walau, pada akhirnya beliau juga akan menjelaskan dengan panjang lebar karena ternyata tak ada murid yang belajar sendiri. Karena itu pula, Pak Heri sebenarnya tidak pernah memberikan pr atau tugas, beliau hanya berkata “Kalian bisa coba kerjakan halaman sekian” tapi tidak pernah menilai atau menanyakan tugas itu kemudian.

Tentu saya sadar, belajar Kimia tidak bisa hanya dengan membacanya saja. Saya mengerjakan semua latihan di buku teks tanpa diminta, akhirnya Kimia juga jadi pelajaran favorit saya.

Hal paling sulit dalam mengerjakan soal Kimia, bukanlah saat saya mengerjakan soalnya, tapi saat saya selesai dengannya. Kenapa? Karena kita tidak pernah yakin apakah jawaban itu benar atau tidak. Saya biasa bertanya pada Santi, kalau-kalau saya salah. Tapi, Santi juga pelajar yang mungkin salah. Memang, seharusnya saya bertanya pada Pak Heri, dan saya sadar. Pak Heri juga mungkin bisa salah.

Pikiran saya melayang jauh pada abad keemasan bangsa timur tengah. Ketika benda-benda dan teori-teori ilmiah baru pertama kali dikemukakan. Para penemu ini tentu bisa dipastika sangat-sangat pintar. Tapi, bagaimana mereka bisa yakin kalau mereka benar?. Tentu saya tau semuanya bertahap, sama seperti perkembangan model atom. Dari model roti kismis sampai yang terbaru adalah model kuantum. Bagaimana mereka bisa yakin? Sebagai orang pertama, bahkan satu-satunya yang menyatakan pendapat itu, bagaimana mereka bisa yakin?

Tentu hal ini berbeda jika dibandingkan dengan sekarang. Misalnya saja ketika kita mengerjakan ulangan, guru-guru dengan mudah mencap mana jawaban salah dan benar. Darimana? Tentu berdasarkan buku teks yang dibuat menurut teori pada jaman dahulu. Padahal, pernah ada masa di mana teori yang kini dianggap salah adalah benar.

Bahkan saya memikirkan bagaimana kalau ternyata mata kita selama ini salah? Hal yang kita lihat adalah bayangan yang ditangkap retina atas cahaya yang dipancarkan benda-benda, yang kemudian di proses oleh otak sehingga membuat kita menganggap itulah yang kita lihat. Ilusi, bagaimana kalau yang kita lihat selama ini bukan lah seperti yang terlihat? Tidak ada yang tau, karena manusia mempunyai mata yang sama.

Mungkin semua ini mungkin berawal ketika saya membaca cerpen berjudul Warisan Dinasti Lemesurier (dari kumcer Poirot's Early Cases) karangan Agatha Christie. Yang berakhir dengan penyelesaian yang mungkin salah. Bahkan detektif super hebat Hercule Poirot pun baru menyadarinya di akhir.

Kembali, ke masa kini. Saya menyadari betapa banyak petunjuk dan pemberitahuan yang saya dapatkan selama masih menjadi pelajar. Contoh mudahnya sudah saya sebutkan, ketika kita ulangan para penilai tau dengan jelas mana yang salah, lantas memberithu kita mana yang salah dan benar.

Di masa depan, ketika kita sudah bergabung dengan masyarakat, bukan hanya dinilai tapi juga menilai. Bagaimana kita tau mana yang salah dan benar? Persaingan, kita mungkin bisa dijatuhkan teman sendiri jika bertanya.

Ketika menyerahkan rancangan pada boss kita, bagaimana kita tau kalau kita sudah benar melakukannya atau belum? Si atasan hanya berkata bagus. Lalu ada teman kita yang yang ternyata membuat rancangan yang lebih bagus. Tapi, apakah itu berarti yang kita buat salah?

Saat dewasa nanti, sudah tak ada guru atau orang tua yang membimbing. Bagiamana kita tau? bagaimana kita yakin kalau yang kita buat itu benar atau salah. Siapa yang menciptakan standar kebenaran atau salah? Pernahkan kalian membaca cerpen Kambing Hitam karangan Italo Calvino?

Saya tentu pernah terpikir kalau segalanya dapat ditemukan dalam Al-Quran. Dan saya cepat mengerti bahwa yang saya pikirkan ini adalah hal-hal teknis, bukan mengenai akhlak.

Tapi, memang, setiap kali saya memikirkan hal aneh seperti ini. Jawabannya selalu sama. Siapa peduli? Yang penting kita selalu berbuat benar dan sebisa mungkin menjauhi segala hal-hal yang buruk (berdasarkan akhlak). Benar tidaknya kita mungkin hanya Allah yang tau, sama seperti apakah mata kita melihat yang sebenarnya atau bukan. Halangan apapun yang dihadapi saat dewasa nanti, cukup dihadapi saja, tak perlu banyak mengeluh atau gusar. Semua akan baik-baik saja asal kita yakin telah melakukan hal benar. Yakin, kita telah melakukan yang terbaik. Yakin, Allah bersama kita.Well, sebenernya overthingking kaya gini juga gak baik ... banget. Jadi saya selalu mencari penyelesaian paling sederhana.Meski begitu, aneh saya masih merasa takut. Ah ingatlah Profesor Lupin pernah berkata:
imgsrc
So, ready for being adult?

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^