21 Maret 2015

Rabu, 11 Maret 2015

Saya bangun jam empat pagi. Meski dengan perasaan lelah karena semalam tak bisa tidur saking tegangnya. Untungnya, saya sudah menyiapkan tas sehari sebelumnya jadi saat itu sudahtidak repot lagi dan tinggal mandi dan berangkat.

Rencana awalnya, saya akan diantar ayah saya sampai depan gang, tapi akhirnya ayah mengantar sampai masjid amaliah juga. Tidak seperti biasanya, kali ini saya sampai di amaliah lebih awal dari jadwal. Mungkin ini pengaruh karna ayah yang mengantar, bukan mamah. Ayah juga tidak repot menunggu sampai saya pergi berangkat dengan bis. Beliau langsung pergi begitu saya menemukan teman saya.

Meski para siswa dihimbau agar sudah berkumpul pukul setengan enam. Tetap saja, bus dan para guru tidak datang tepat waktu. Tapi, memang jika dibandingkan dengan widyawisata ketika SMP, bus kali ini datang lebih cepat, dan rasa-rasanya segalanya serba praktis dalam perjalanan kali ini.

Saya memang membawa tiga tas, tapi tas pertama sama sekali tidak berat, dan itupun dimasukkan ke bagasi. Tas kedua berisi baju ganti untuk tengah hari nanti, juga sedikit camilan dan tas ketiga berisi barang-barang elektronik. Yah, saya sebenarnya merasa khawatir dengan ini.

Kami memulai perjalanan pukul delapan-an. Bis 2 berisi 43 siswa, merupakan gabungan dari dua kelas: X3 dan X2. Mayoritas anak X3 duduk di depan dan sisanya di belakang. Sebenarnya Bis 2 harusnya memiliki 44 orang. Hanya saja benar-benar sangat disayangkan ada seorang siswa yang tidak bisa hadir karena sakit.

Perjalanan dimulai. Untuk pertama kalinya, kami lewat puncak, saya sangat bersemangat untuk menunjukkan betapa jauhnya rumah kami (orang puncak) yang disambut dengan ungkapan ‘lebay banget’ sama bu Yayuk. Meski begitu, ternyata tidak banyak yang mendengarkan, akhirnya saya hanya bungkam sepanjang perjalanan.


Disaat yang lain bernyanyi, saya mendengarkan musik, sedang teman sebangku saya tertidur. Hari itu terasa sekali hal yang disebut ‘kesepian dalam ramai’. Ada yang hilang, lenyap. Saya tidak akan sadar kalau saja Adam tidak berulang kali berkata “Yaah, biasanya sama The Charming”. Ya, awalnya saya anggap itu ejekan. Apalagi Hania tidak sebis, sekamar bahkan sekelompok dengan saya. Saya pikir widyawisata kali ini akan jadi sangat membosankan.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Barli. Suatu tempat kesenian, awalnya saya kira kami akan melakukan kunjungan layaknya museum, ternyata tidak. Kegiatan pertama yang kami lakukan di sana adalah bermain angklung. Saya sangat senang dan belaga sok pinter main angklung (jangan ditiru kawan). Kami memainkan empat lagu, Kartini, Terimakasihku, I Have a Dream, dan Cucak Rowo. Agak berbeda karna kali ini kami bermain melodi bukannya akor, tapi ya menyenangkan. Sang MC juga sangat menyenangkan.


Setelah itu kami melukis keramik. Tepatnya mewarnai sih, ada piring gerabah yang sudah ada pola gambarnya dan kami tinggal mewarnainya dengan cat. Lalu piring itu di vernis dan dibungkus dengan plastik dan dibawa pulang, yeee. Sayangnya waktunya teralu sedikit sehingga gambar saya jadi berantakan.


Setelah selesai, kami langsung pergi ke Floating Market. Ya, sebenernya sempat dimarahi karena beberapa dari kami terlalu lama berganti baju. Memang sebagus apa sih floating market itu?

Sayangnya, saat kami sampai di sana hujan mulai turun. Kami jadi tidak bisa naik perahu disekitar danau di sana. Akhirnya, untuk sampai di pasar makanan kami harus memutar. Untungnya, sepanjang perjalanan itu kami melewati tempat-tempat keren untuk berfoto :p. Oh ya saat kami masuk pertama kali, sebenarnya sudah banyak toko-toko souvenir. Hanya saja, selain tidak menarik (bagi saya) harganya juga mahal-mahal.


Dan akhirnya kami sampai di pasar jajanan floating market dan tempat itu memang wah! Jajanan berderet sepanjang danau. Meski begitu, makanan di sana memang mahal. Sebagai informasi, kami diberi bekal koin senilai Rp.30.000, dan makanan di sana rata-rata seharga Rp.20.000 s/d Rp. 30.000.


Untuk mengakali hal ini, saya dan teman-teman saya (saat itu saya bersama Endang, Tian, Murni dan Nisa) memutuskan agar kami membeli jajanan dari makanan yang berbeda-beda. Jadi, kami bisa mencicipi semuanya, huahaha. Saya sendiri membeli Durian bakar (Durian dalam alumunium di bakar. Ditambah ketan dan buah-buahan), Nisa beli Mi kocok baso, Tian beli es pisang ijo original dan durian sedangkan Murni dan Endang beli pempek, juga beberapa teman-baru-saya yang membeli tutut, kentang goreng.


Akhirnya, kami berakhir dengan kekenyangan. Koin kami juga habis, meski begitu masih tersisa beberapa makanan  yang rasanya tidak begitu enak. Sedangkan masih beberapa jam sebelum akhirnya jadwal untuk pergi dari floating market. Hujan mulai turun, dan lengkap sudah. Bukan hanya kenyang dan bosan, kami juga kedinginan.

Definisi foto bagus:
objek fokus, latar blur, meh -_-
Saat itu, kami masih memiliki tiket untuk ditukar dengan minuman. Karna suasanan dingin, saya memutuskan untuk menukarkan tiket-tiket kami dengan susu hangat. Saya yang sudah terbiasa dengan kopi tentu menyeruput susu itu dengan mudah. Lalu kemudian teman saya marah-arah karena susunya terlalu panas.

“Si Fatiah minumnya kayak biasa aja”

-_-


Untungnya, begitu hujan reda, kami langsung dipersilakan untuk naik bis dan menuju hotel.

Hotel bumi makmur indah, sama sekali tidak buruk. Kasurnya empuk, lemarinya besar, ada televisi dan kamar mandinya luas. Rasanya nyaman sekali berlama-lama mengobrol disini. Jika digambarkan, jelas hotel ini mempunyai kondisi yang lebih baik daripada yang saya tempati saat di pangandaran, walau hostel di Jogja masih lebih baik lagi.

Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam dan kami diminta untuk untuk berkumpul di aula untuk pensi. Kelas kami menampilkan dua pertunjukkan, pertama Adit dan Fikri yang bernyanyi lagu yang saya tidak tau. Lalu yang kedua, Rohmat, Adam, Rizky, Adit, Fikri, Lala, Endang, dan Bela yang menyanyikan lagu Ska (saya juga lupa judulnya apa) yang diikuti aksi gajelas dai sekumpulan AGB yang menari-nari didepan panggung.


Ada pula penampilan lainnya dari kelas lain. Yang terbaik sepertinya ketika Salma—atau Salsa?—menyanyikan lagu Ayat-Ayat Cinta.

Saya mulai bosan ketika lagu-lagu yang dibawakan semakin tidak dapat saya pahami lagi, dan mengajak teman-teman saya yang lain untuk keluar dan berjalan-jalan.

Saya kira, jalan-jalan ini akan sama seperti di Pangandaran dimana kami bisa membeli oleh-oleh. Tapi tenyata tidak, wilayah itu sama sekali tidak menarik. Kami hanya berjalan beberapa puluh meter lalu memutuskan kembali dan ngerumpi di kamar.


Selain membicarakan betapa menyenangkannya saat kami di floating market, kami juga membicarakan banyak hal termasuk membicarakan masalah-masalah yang kami dapatkan hari ini. diantaranya:
·         Fish eye Endang hilang
·         Baju yang kami letakkan dalam bagasi bisa basah semua
·         Hair dryer Bela yang kami pinjam hampir rusak
·         Remote tivi hotel hilang (ketemu lagi)
·         Kami salah mengerti petunjuk kiblat
·         Susu yang kami bawa dari ruang makan tumpah dan mengenai tembok

Tak heran widyawista ini kami sebut juga sebagai widyawisata yang paling menyialkan yang pernah kami alami.

Termasuk masalah ketika teman-teman saya takut pada saya ketika saya menggerai rambut saya ._.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^