18 Maret 2015

Pencuri di Asrama (Part 3)

Ashley masuk ke kelas sosiologinya. Ia terlambat, ketiduran tadi pagi karna semalaman ia begadang. Maurice disana, membaca buku antropologinya dengan serius sementara Sprig di ujung lain membuat pesawat terbang.

“Anda terlambat Ms. Fondella” kata Mr. Donovan

Ashley diam, tentu saja dia terlambat.

“Temui saya di ruang guru jam istirahat nanti”

Ia hanya mengagguk, lantas bergegas menuju kursinya.

“Kau tidak membangunkanku?” tanyanya pada Maurice

“Ya,” jawabnya singkat


Meski Maurice tidak mengatakan apa-apa juga tidak menunjukkan apa-apa juga bersikap seolah semua baik-baik saja dan ia sudah kembali. Ashley tau ada sesuatu, sayangnya ia tak tau apa itu. Ia benci perasaan ini, seperti tidak dianggap dan seluruh hidupnya sama sekali tak berguna. Jujur saja, kadang ia kasihan sekaligus cemburu pada Maurice. Di usianya yang amat muda, Maurice memiliki kepandaian yang amat mengesankan. Ia mewarisi bakat ayahnya yang peka pada lingkungan sosial, dan sedikit dari ibunya yang memiliki rasa ingin thu yang tinggi. Meski Maurice tidak seperiang ibunya.

Sayangnya, sulit bagi Maurice untuk menunjukan bahwa ia bangga akan hal itu. Ashley tidak tahu, Maurice tidak pernah bercerita dan sepertinya kedatangan Lady Hayley membangkitkan lagi perasaan itu lagi pada dirinya.

Ashley menghela nafas, dan saat itulah ia berhenti berjalan dan menabrak seseorang. Tubuh orang itu sangat besar. Seandainya saja tubuh Ashley selemah Emma Armstrong, sudah pasti ia akan pingsan.

“Maafkan aku” kata orang itu “Aku buru-buru, kau bisa bangun sendiri?”

Ashley yang terduduk jatuh dilantai mengangguk pelan, dan orang itu lekas berlalu pergi. Meski sudah mengangguk, Ashley tetap terperangah mengetahui kalau orang itu sama sekali tidak membantunya. Ia melihat jamnya yang lepas tadi, lalu lebih terperangah lagi.

“Waktu istirahat hampir selesai, aku harus cepat!”


Sekali lagi Ashley menghela nafas. Ini pertama kalinya ia dipanggil karena datang terlambat. Benar, ia tak pernah terlambat, sekalipun, sama sekali. Hal ini agak menyakitkan sebenarnya, ketika kesedihan Maurice membuatnya hanya peduli pada dirinya sendiri. Baiklah, kalau itu maumu. Aku juga bukan anak manja. Karena Sprig bukan pilihan yang baik untuk diajak bicara, mungkin sebaiknya ia memilih yang lain. Tapi ia tak mau bertemu dengan si Gebron, ia terlalu, yaah sempurna. Armstrong juga bukan teman yang menyenangkan. Mungkin sebaiknya ia bertemu dengan Jean atau Joan, setidaknya selalu lucu untuk mendengar mereka bicara.

“Aduh,” Ashley tiba-tiba saja terjatuh. Semua orang memperhatikannya dan wajahnya memerah. Apa itu tadi? Ada sesuatu yang menjegal kakinya dan ada suara tawa. Ia bangkit dan memandang sekitarnya, dari balik lorong. “Hei tunggu!” seru Ashley saat melihat seorang siswa berlari sambil menutup mulutnya.

“Kau bodoh Fondella!” katanya tanpa berhenti berlari “Jika semua penjahat berhenti saat kau teriaki ‘tunggu’, tentu dunia akan terlalu tentram”

“Stitchwort?” Ashley mengenali suara itu. Ia lantas berhenti. Tak ada gunanya mengejar seorang Norma Stitchwort.

Jika ada seorang Sprig yang memiliki rasa fanatik akan kebenaran. Maka Norma merasa harus ada penjahat sebagai penyeimbangnya. Lucunya, kedua orang ini mempunyai sifat yang hampir sama, sama-sama menyebalkannya. ‘Kejahatan’ yang dibuat Norma biasanya tidak berat, hanya jahil pada beberapa siswa, dan karena itu Tim Penyidik Asrama biasanya tidak menanggapinya. Kecuali beberapa divisi yang bosan  karena tak ada kasus yang harus ditangani. Selanjutnya, yaah semua sama-sama senang. Norma senang karena mendapat perhatian begitupun tim penyidik yang mendapat kebanggaan karena pekerjaannya. Simbiosis yang aneh.

Ashley mendelikkan matanya, lantas berbalik pergi. Seperti katanya tadi tak ada gunanya mengejar seorang Norma Stitchwor, yang ia inginkan hanya perhatian. Norma tidak lebih dari anak kecil yang selalu menganggap dirinya penting. Tanpa diduga seseorang merangkul pundaknya.

“Ayolah Fondella, jangan marah” kata Norma

“Aku tak marah” jawabnya “Itu kan maumu”

Norma tertawa, mengelak kalau Ashley benar.“Kulihat kau tadi bertemu dengan si Differ”

Ashley mengangkat alisnya, ia bercanda kan? “Tentu saja, sekarang siapa yang bersikap bodoh?”

“Nah, bagaimana menurutmu? Dia tampan? Sayangnya agak tidak bertanggung jawab ya?” Norma mengerlingkan matanya.

Kini Ashley mengerutkan dahi. “Maurice tampan? Tidak bertanggung jawab?”

“Wo wo wo, bukan dia yang ku maksud kawan” kata Norma “Robert. Robert Differ, jangan bilang kau tidak mengenalinya”

Ashley agak kaget “Ya, aku memang baru pertama kali bertemu dengannya”

Norma menggeleng-gelengkan kepalanya “Aku harusnya berguru padamu, Ashley—tak keberatan kupanggil begitu?—kau cerdik sekali”

“Apa maksudmu?”

“Tak perlu mengelak, tapi kau memang tak perlu mengakuinya. Orang-orang seperti kita memang seharusnya tidak mengaku, ya kan?” Norma lantas pergi. Meninggalkan Ashley yang kebingungan.

Dasar aneh.

“Robbie?” gumamnya. Jadi dia yang namanya Robbie? Sepertinya tidak terlihat dari apa yang didengarnya selama ini dari Differ. “Ia mirip ibuku” Ashley mengingat apa yang dikatakan Maurice soal kakaknya. Tapi, ia tidak terlihat mirip seperti seorang ibu. Sebenarnya ini juga salah Ashley yang nyata-nyatanya juga tidak mengenal ibu Maurice.

Ashley mengangkat bahu, Robbie bukan jenis orang penting yang harus ia pikirkan. Mengingat justru selama ini ia membenci sosoknya yang menurut Ashley materialistis dan ia kini mengerti kenapa Sprig bisa takut pada Robbie. Dengan badan sebesar itu, Robbie lebih mirip tukang jagal daripada sekadar pelajar bongsor.

Ashley melihat jamnya. Waktu istirahat hampir habis, jika ia tidak cepat, ia akan terlambat lagi. Tapi bukan itu yang menganggu Ashley, jam yang ia kenakan bukanlah miliknya.

Bersambung~

Cuma mau ngasih tau. Setelah dipikir-pikir entah kenapa saya heran sendiri kenapa progress novel saya gak maju-maju. Padahal konsep dasar dan plot sudah saya buat sejak tahun lalu. Meski saya mencoba untuk mengakalinya dengan memulai dari bab yang paling saya sukai, tetap saja, saya malah bingung sendiri. Karena itu! saya memutuskan untuk menghentikan perbuatan sia-sia yang ujung-ujungnya malah jadi alasan saya untuk semakin tidak produktif. Saya akan berhenti merasa tertekan mengenai iming-iming ‘novel’ pada kisah dengan konsep kebanggaan saya itu. Saya memutuskan untuk memposting kisah itu di blog ini saja sebagai cerita bersambung.Tapi tentu saja kisah saya itu harus mengantri. Setelah Pencuri di Asrama ini tamat, saya akan melanjutkannya dengan Our Problem 3, baru setelah itu dilanjutkan dengan Garde (judulnya mungkin bisa berubah)Karena project novel sudah tidak bisa diandalkan lagi. Maka mulai saat ini saya berjanji pada diri sendiri membuat post di blog ini sekurang-kurangnya dua post perbulan, syukur-syukur kalau bisa dua post perminggu. Doakan saja :D

2 komentar:

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^