25 Maret 2015

Kamis, 12 Maret 2015

Bangun pukul empat pagi sudah menjadi kesepekatan teman-teman saya sejak sehari sebelumnya. Saya mandi paling pertama saat itu, bukan pengalaman yang menyenangkan karena semua orang tau betapa dinginnya Bandung, dan mungkin beberapa orang juga tau jam-jam di mana bumi mengalami suhu terdinginnya.

Kami berlima sudah siap. Siap untuk apa? Itulah pertanyaannya, kami sudah siap tapi tak ada yang harus kami lakukan. Berdiam diri di kamar hanya membuat mengantuk. Kami memutuskan berkeliling kamar teman-teman kami yang lain. Beberapa ada yang sudah sama siapnya ada juga yang masih berjuang ‘mengumpulkan nyawa’.


Setelah bosan, kami pergi ke luar dan menunggu waktu sarapan. Kebetulan saat itu hari sudah cerah dan mulai banyak orang yang juga berkumpul di luar. Di sana ada juga banyak penjual souvenir keliling yang memungkinkan kami untuk membeli oleh-oleh.

Kami lalu dipersilakan untuk sarapan.

Setelah sarapan Pak Ikhsan menginformasikan mengenai perubahan jadwal mengenai kegiatan kami hari ini. Awalnya, kami berencana untuk pergi ke BIB, lalu ke Pabrik Tahu, kemudian kembali ke Hotel untuk berkemas pulang. Namun—bisa ditebak—kami diminta berkemas sekarang.

Kami tiba di BIB kurang lebih satu jam setelah berangkat.

“Jauh-jauh datang ke Bandung Cuma buat lihat sapi” komentar beberapa diantara kami. SMA Negeri 1 Ciawi memang bersebelahan dengan kandang sapi, yang kadang baunya agak menganggu kegiatan belajar mengajar.
Balai Inseminasi Buatan Lembang, adalah salah satu balai inseminasi tingkat nasional. Disana, kami berkumpul di aula dan diberi penjelasan mengenai BIB dan inseminasi itu sendiri—kalian bisa cari info ini di internet J—setelah itu kami diajak untuk melihat sapi-sapi di BIB. Saya jadi takjub sendiri, karena sapi-sapi di sana benar-benar besar, di sana juga samasekali tidak berbau busuk dan bersih.

Sayangnya kami tidak dipersilakan masuk ke daerah kandang sapi. Seandainya boleh, saya juga tidak menolak kalau selfie dengan sapi XD




Kami segera melanjutkan perjalanan ke Rumah Produksi Tahu Susu Lembang. Di mana, merupakan satu-satunya pabrik tahu yang mengijinkan adanya kunjungan ke dalam pabrik. Kami juga diberi tahu bahwa tahu susu lembang ini hanya dijual di Bandung saja, tidak di jual ke luar kota. Hal menarik lainnya adalah pemandu kami saat itu bernama Wanti, yang merupakan nama salah satu teman saya yang tidak ikut,


Sebelum masuk ke pabrik tersebut. Kami diminta menunggu, karena pabrik tsb tidak terlalu luas sehingga tidak bisa menampung terlau banyak orang. Rombongan bis dua mendapat giliran setelah bis satu. Sambil menunggu, tak banyak yang kami lakukan. Hanya mengobrol dan berfoto ria. Karena di Pabrik tahu ini juga banyak tempat bermain dan hiasan-hiasan yang unik.



Tujuan terakhir kami di Bandung adalah Jl. Cihampelas untuk membeli oleh-oleh. Sulit sekali mencari oleh-oleh di Bandung. Khususnya hal-hal yang bisa dianggap unik. Sudah begitu, beberapa kali saya terpisah dari teman-teman saya yang menyebabkan saya merasa putus asa . Untungnya, kemudian saya bertemu dengan Tian, Refa, Cicih, dan Erha, yang kemudian mengajak saya untuk ikut mereka ke CiWalk, semacam Mall. Saya meras bersenmangat dengan asumsi bisa menemukan toko buku di sana dan membeli novel tebaru Tere Liye yang baru diluncurkan hari itu.

Hujan mulai dalam perjalanan kami ke sana—kami jalan kaki—. Sayangnya begitu sampai sana tidak banyak yang bisa kami lakukan. Saya tidak menemukan toko buku dan Erha juga sepertinya tidak tertarik pada apapun.

Waktu sudah menunjukan hampir pukul setengah empat, batas waktu kami untuk berbelanja. Hujan semakin deras, saya basah kuyup dan akhirnya kami bisa kembali ke bis tanpa kekurangan apapun. Yeah!

Satu hal yang baru saya sadari di Cihampelas adalah ‘kami begitu dibebaskan’. Di Cihampelas, tentu sja bukan hanya rombongan kami yang berbelanja, tapi juga rombongan lain. Berkali-kali saya melihat rombongan berbaju seragam melewati kami. Dan saya sadar, rombongan kami samasekali tidak seragam, kami  bahkan tidak punya tanda pengenal.

“Mungkin karena kita sudah dianggap lebih dewasa” kata Cicih.

Lalu saya teringat tontonan favorit saya tiap hari minggu. BSG ._.

Perjalanan pulang—ke bogor—jauh lebih menyenangkan dari pada saat berangkat. Saya banyak bercanda dengan Cicih, dan Refa. Yang kemudian diikuti oleh Lala, Endang, juga Nisa. Kami menciptakan ‘lagu’, dan ‘puisi’ berjudul ‘Hening’—dan sekarang kamu mengerti J—Kami berbicara di luar akal. Kami ‘menggila’. Meski berkali-kali juga dikomentari pedas oleh Bu Yayuk.



Tentu saja, selain hal-hal yang saya ceritakan di atas, masih banyak kisah dan suasana yang tidak sempat ceritakan. Di antara lupa dan memang sengaja untuk tidak di tuliskan. Khususnya hal-hal yang menyangkut mengenai sifat yang akhirnya keluar, dinding perbedaan yang semakin menjulang, dan kebencian yang patut dikasihani. Meski begitu, perjalanan adalah perjalanan, yang selalu menyisakan kenangan dan persahabatan.


0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^