18 Januari 2015

Pencuri di Asrama (Part 2)

Rupanya, Jenny ikut terlibat dalam penyelidikan Sprig. Ia meminjamkan kalungnya untuk disisipi alat pelacak. Sehingga, ketika kalung itu dicuri, pencuri itu akan dilacak. Hanya saja, sinyalnya menghilang ketika sampai di blok asrama Maurice. Itu sebabnya ia --Maurice, Ashley dan teman-teman satu bloknya--jadi tersangka.

Rasanya aneh sekali bagi Maurice melihat daftar nama tersangka yang dibuat Sprig. Apa yang kau rasakan jika mengetahui salah satu temanmu tidak seperti yang kau bayangkan? Seorang pencuri yang licin, yang tak tertangkap selama tiga tahun ia beraksi. Sulit dipercaya kan?

Si kembar Warruner yang konyol, Emma si penggugup, Caroline yang berkarakter, dan Marlene yang menyebalkan. Serta dirinya dan Ashley. Yang pasti Maurice yakin sekali bukan ia atau Ashley yang melakukan pencurian itu. Walau ia juga tak percaya jika salah satu dari kelima teman satu bloknya yang melakukannya.

Maurice menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Membaca laporan Sprig selalu melelahkan, entah karena matanya atau tulisan Sprig yang terlalu bagus.

Saat itu Ashley datang ke kamar mereka dengan heboh, pastinya ada sesuatu yang terjadi.

"Minggu ini Maurice! Minggu ini!" Katanya

Maurice memandangnya heran. Walaupun ia sudah terbiasa dengan kelakuan Ashley, ia tak bisa tak heran, soalnya hal-hal yang mengejutkan Ashley akan diluar akalnya. Terakhir Ashley berteriak-teriak seperti ini, ternyata ia mendapatkan pakaian kuno dari neneknya yang tak pernah ia kenal.

“Aku tidak tau kenapa aku bisa tidak tau! Semua orang membicarakannya. Tapi aku tidak tau! Maurice ini sungguh hal luar biasa!”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Aku bersyukur bukan aku saja yang tidak tau tentang hal ini”

“Demi Tuhan, Ashley! Apa yang kau bicarakan?”

“Lady Hayley! Ia akan datang minggu ini” Ashley mengucapkannya seolah-olah hal itu akan mengubah hidupnya.

Sementara itu Maurice masih menatapnya heran, Dengan ragu ia berkata “Baiklah” lalu melanjutkan dengan kalimat yang membuat Ashley ingin pingsan “Siapa itu Lady Hayley?”

Lady Hayley adalah wanita mengesankan dengan tampilan mengesankan juga. Ia diperkenalkan pada saat makan malam Minggu itu, ia dan Lord Hayley adalah lulusan asrama ini. Keduanya, sama-sama siswa terbaik dalam angkatannya, bukan hanya dalam status sosial namun juga keseluruhan sikap dan kemampuan akademisnya. Meski begitu, Maurice tidak langsung terkesan saat pertama kali melihat Lady Hayley, ia tak bisa terkesan hanya dari kisah-kisah dan penampilan saja. Barulah, saat Lady Hayley menyelesaikan kisahnya, ia sadar akan sesuatu, sesuatu yang salah dari hidupnya. Maurice yang pendiam jadi makin pendiam, mungkin hanya Ashley saja yang sadar akan hal ini. Ia jadi agak merasa bersalah, padahal ia sama sekali tidak bersalah.

“Aku merasa  ... kau tau kan? ... seolah aku bukan apa-apa” katanya “katakan padaku Ashley, apakah aku normal? Apakah di usia ku yang ke 16 ini aku normal? Maksudku, jika Lady Hayley itu normal, apa itu berarti aku aneh? “

“Maurice!” Ashley setengah tidak percaya “Apa maksudmu?”

“Tentu saja kau tidak mengerti” katanya “sebab aku memang aneh” Maurice menutup wajahnya.

Kini Ashley benar-benar bingung, Maurice tidak pernah bersikap seputus asa ini. Ia sama sekali tak tau harus berbuat apa.

“Maurice,” katanya pelan “aku sungguh tak mengerti apa maksudmu, tapi bukan karna kau aneh. Maksudku, kau memang bersikap aneh sekarang tapi tidak, ya ampun apa yang kukatakan” Ashley menatap Maurice lagi “Mungkin, sebaiknya kau tidur, atau membaca, apapun yang bisa membuatmu melupakan hal ini—apapun itu—”

Keesokkan harinya, Maurice tidak menjadi lebih baik. Orang-orang memang tidak menyadarinya, tapi hal ini membuat Ashley gelisah. Ia berencana mencari Robbie untuk minta bantuan, walau kadang ia ragu jika orang bernama Robbie itu memang ada. Bukan maksudnya ia meragukan Maurice, ia percaya pada Maurice, ia juga percaya bahwa Maurice punya kakak bernama Robert tapi ia sendiri belum pernah bertemu langsung dengannya. Tiba-tiba sebuah ide bodoh muncul dalam pikirannya untuk meminta bantuan Sprig, namun segera dihapuskannya karna hal itu terlalu gila. Ashley tak mau bertemu Sprig, orang itu seaneh namanya, namun kemudian teringat Maurice lagi.

Walau tidak yakin ia akhirnya pergi ke lapangan kriket, tempat dimana Sprig biasa berada. Ia tak yakin kalau ia akan benar-benar bicara padanya, tapi tak ada salahnya juga kalau ia menonton. Saat ia berada disana, ia bertemu dengan Emma, ia sedang duduk diantara tas-tas.

“Armstrong!” panggil Ashley, seraya datang menghampirinya. “Kau sedang apa?”

Emma agak kaget ketika ditanya, dengan agak malu ia menjawab “eh, aku ... disuruh menjaga tas”

Ashley mengangguk paham, “ku temani ya?” Ashley tidak menunggu jawaban dan langsung duduk disamping Emma. Mereka tidak banyak bicara, hanya memperhatikan jalannya permainan kriket. Hari ini adalah pertandingan antara asrama putra Blok D dan Blok F, jadi wajar jika Ashley menonton dengan semangat. Walau tau kesempatan Blok D amat kecil karna mereka melawan kelas senior, tapi siapa peduli.

Istirahat, Sprig dan kawan-kawannya menghampiri Emma dan Ashley, mengambil air minum dari tas mereka.

“Halo Ashley” katanya, lalu ia meneguk minumannya. “Permainan yang baguskan?”

“Tidak juga” jawab Ashley “Kau seharusnya tidak banyak melamun, dan lemparanmu kurang keras”

“Ngomong-ngomong ada apa dengan Maurice?” Sprig mengalihkan pembicaraan, tidak suka dirinya di kritik, apalagi oleh anak perempuan

“Apa maksudmu ada apa?”

“Pagi ini dia mengembalikan berkas-berkasku, dan berkata terserah padaku” kata Sprig

“Apa?”

“Ku bilang ...”

“Tidak, maksudku, tidakkah ini aneh Sprig?”

“Itulah yang aku tanyakan”

Lalu tiba-tiba saja Emma ikut bicara “Maurice juga datang padaku pagi ini” katanya “Dia berkata bahwa aku harus ... umm menjalani hidup”

“Apa yang sebenarnya terjadi Ashley?” Sprig bertanya lagi

Ashley terdiam,

“Ngomong-ngomong, berkas apa sih yang kalian bicarakan, jika aku boleh tau”

“Aku meminta Maurice menyelidiki kasus pencurian dua tahun ini, kau tau kan?”

Lalu Emma juga jadi diam

“Sudahlah, aku rasa anak perempuan sedang terkena sindrom menjadi aneh. Wah, sudah mulai lagi” Lalu Sprig kembali ke lapangan.

“Armstrong” kata Ashley

“ya?”



“Aku tau ini terdengar gila, tapi semoga saja Maurice tidak bunuh diri”
Bersambung ~
Umm, halo?
Jadi ceritanya saya mau cerita. Lho? Kan udah diatas. Nggak, cerita sesuatu yang mengganjal hati saya mengenai cerita ini. Anggap saja ini Author’s Note atau apalah.

Setelah melihat arsip blog ini, saya sadar betapa jarangnya saya update. 10 post dalam setahun, tidak bisa disebut rajin. Maka, jika memang ada yang benar-benar rajin mengunjungi blog ini, saya minta maaf. Sayangnya, hal ini tidak lantas membuat saya bisa rajin tahun ini. Saya sedang ada project, yang saya targetkan bisa selesai tahun ini, mungkin kamu tau, impian semua penulis pemula. Paling tidak, semoga saya bisa posting sebulan sekali dengan panjang post minimal 900 kata, tidak termasuk AN seperti ini tentunya.

Ngomong-ngomong, sudut pandang jadi berubah disini, saya tidak yakin selanjutnya Ashley akan berbicara lebih banyak atau tidak. Lalu yang terjadi dengan Maurice ... jujur saja, saat saya membaca ulang Anak Panah, saya merasa it was a weirdest story ever. Ya, masa jag-ujug ada ibu-ibu yang bisa nyelesain pembunuhan? Juga ketika membaca ulang part 1 cerbung ini, saya merasa Maurice aneh, ia tak sama seperti remaja lain. Disaat yang sama, saya sebagai penulisnnya juga merasa aneh, merasa saya ini ... sesuatu yang terlalu malu untuk Maurice sebutkan disini.

Jika, kamu berpikir kalau plot kisah ini belum selesai—berdasarkan paragraf diatas—. Kamu benar, untuk sementara mungkin kisah akan berjalan suka-suka. Lady Hayley mungkin hanya akan muncul dalam part ini, dan Maurice yang putus asa juga mungkin begitu. Tapi, tenang saja, saya usahakan penjahatnya akan tetap jadi kejutan, ya, saya berusaha.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^