27 Agustus 2014

Bahaya

Baru beberapa bulan aku bekerja di perusahaan ini, sebelumnya aku menganggur dan menggantungkan hidupku pada ayah. Ayah memang baik, walau ia sedikit mengekangku, melarangku bersosialisasi dengan orang-orang yang bisa berlaku buruk padaku. Tapi kini ayah sudah meninggal, dan aku harus membiayai diri sendiri. Untungnya melalui Gerry, aku bisa mendapat pekerjaan ini dengan mudah, dan disini banyak teman-temanku sewaktu SMA.

Hanya saja, akhir-akhir ini ada hal aneh yang menimpa kantorku. Selama sebulan, ada dua orang meninggal. Yah, tak masalah sih jika saja mereka bukan rekan kerjaku dan tidak meninggal di gedung ini. Entahlah, rasanya seperti ada yang meneror kami.

Yang pertama adalah Bu Feni, ia adalah bosku. Orangnya tinggi dan cantik walau harus diakui dia sering sekali marah-marah padaku, juga agak sombong. Lalu Mara, ia juga cantik tapi kelakuannya seperti pelacur saja, terakhir dia memamerkan tas baru dari perancis yang membuat panas wanita seisi kantor, terakhir sebelum ia meninggal. Aneh juga, kebetulan sekali mereka yang meninggal adalah orang-orang yang tidak terlalu kusukai. Bu Feni tewas diracun sedang Mara ia ditemukan ditikam di kamar mandi.

Aku menunggu Gerry di foodcourt saat jam makan siang, ia bilang kami akan makan siang bersama. Tapi sudah setengah jam dia tidak datang, Gerry memang sering terlambat akhir-akhir ini.

"Sayang, dimana?"

"On the way kok, tunggu ya"

Jawabannya tidak jauh dari itu setiap aku menanyainya. Mungkin lebih baik aku pesan makanan duluan. Tepat saat itulah Gerry datang. Mengenakan jaket dan membawa helm motornya.


"Darimana sih?"

"Ada janji dulu sama temen" katanya


"Ooh" kataku malas.

Gerry segera memesan makanan yang sama denganku. Ia begitu serius dengan makanannya, hingga tidak bicara padaku. Aku menatapnya lamat-lamat, kenapa dia sering terlambat jika kami hendak bertemu? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dikepalaku, disertai pikiran buruk mengenai alasannya, mungkinkah? Aku menggelengkan kepala membuang pikiran buruk itu. Gerry bahkan tidak heran melihat aku bertingkah aneh di depannya. Kenapa sih dia?



"Yuk, ke kantor lagi" katanya. Aku mengangguk, apalagi yang bisa kulakukan?

Padahal, pekerjaanku hanya tinggal sedikit saja. Kenapa pula harus buru-buru? Dan sepertinya semua orang begitu. Kebanyakan dari mereka hanya mengobrol dan mengindahkan pekerjaan mereka.

"Kenapa sih say" Mareta mengejutkanku dari lamunan. "Awas kesurupan" katanya sambil tertawa.

Aku tersenyum. Mareta, sahabatku sejak SMP. Dia seperti sahabat lainnya, sempurna.

"Kerjaan numpuk tuh, malah main kesini" kataku menatap gundukan berkas di mejanya mungkin 5 cm tebalnya

"Ah" katanya "Aku lembur deh nanti, di rumah juga gak ada siapa-siapa"

"Eh? Sekarang kan malem jum'at" kataku menakuti. Tapi Mareta bukan penakut. Ia mengibaskan tangan meremehkan.

"Ha! Pizzanya datang!" katanya seraya beranjak dari tempatku.

Aku kembali pada laptopku. Tapi aku tidak bisa berpikir, pikiran soal kemungkinan Gerry berselingkuh terus mengangguku. Ah, Sial.

Gerry, Mareta sekarang mereka sedang saling menyuapi Pizza. Gerry dan Mareta, pikiran gila itu merasuki otakku. Ah tidak! Tidak mungkin! Gerry dan Mareta, bayangan mereka yang tertawa dibelakangku semakin membuat hatiku sakit. Gerry dan Mareta, mereka memang pernah berpacaran waktu SMA, bisa saja. Tapi tidak mungkin! Oh hentikan! Hentikan pikiran bodoh ini.

"Da?" Suatu suara mengagetkanku. Itu Gerry. "Kamu kenapa? Dari tadi geleng-geleng mulu"

"Aku pusing" kataku

"Aku anter pulang ya? Izin sama Bu Hania" aku mengangguk. Apalagi yang bisa kulakukan? "Ta! Pinjem mobil dong, takut Milda keanginan"

"Oke sip" Mareta melempar kunci mobilnya. Gerry dan Mareta, kenapa mereka begitu akrab?

Kami berdua diam saja selama perjalanan pulang, Gerry oh Gerry kenapa sih dia?

"Da" katanya pelan. Ah, akhirnya dia bicara!

"Hmm" kataku malas, padahal senang

"Nanti aku lembur ya?" lembur? Kenapa ia harus lembur?

"Ya udah, ngapain izin sama aku" kataku

"Aku lemburnya jagain Mareta" petir menggelegar, aneh. Tapi kalimat itu memang mengejutkan, dan kenapa aku senang ya? "Kamu tau kan Bu Feni sama Mara? Mereka meninggalnya pas lembur sampe malem sendirian. Yaa, aku takut aja"

"Iya gak apa-apa" kataku datar

"Kamu gak marah?"

"Kenapa aku harus marah?" mobil Mareta menepi.

***

Aku bersiap dengan pakaian hangatku, sarung tangan wol, jaket, syal, penutup kepala yang kebesara dan sepatu bot ayah. Sepatu bot itu sangat pas untuk malam ini. Di luar hujan baru reda, rumput-rumput basah dan orang akan mengira jejak yang aku tinggalkan adalah jejak kaki pria, itu lucu.

Sudah sepuluh kali aku menelpon Gerry, ia tidak menjawab. Aku menolak alasan baterai habis, Gerry selalu membawa keempat power bank-nya. Malam ini aku harus melihat sendiri, benarkah ada hubungan antara Gerry dan Mareta.

Aku menatap penampilanku di cermin kamar mandi. Tiba-tiba mataku melihat benang gigi di pinggir cermin. Dulu ayah suka memakainya. Kini tinggal sedikit, lebih baik kubuang saja.

Aku naik sepeda motor dari rumah. Dan sampai setengah jam kemudian. Aku sudah mempersiapkan diri, jika nanti melihat dugaanku ternyata benar, aku tidak akan kaget. Aku mengendap-endap masuk ke kantor, tidak ada satpam yang berjaga, kantor ini memang konyol setelah ini aku akan re-sign dan pergi ke luar negeri.

Gerry pasti ada dilantai dua, di kantor kami bersama Mareta. Disana ada cahaya, ya, pasti mereka ada disana! Aku menahan nafas, mempersiapkan diri. Mereka ada di dalam sedang mengkhianatiku dan tak pernah terpikir akan dipergoki olehku.

Aku melangkah pelan-pelan menuju kantor kami yang bercahaya itu.

***

Gerry jatuh didepan kakiku. Aku membuang benang gigi ayah tadi, dan menendang-nendang wajahnya dengan ujung sepatu bot. Yah, Gerry sudah mati. Tercekik saat kami berpelukan, ia pikir aku akan memaafkannya setelah selingkuh dengan Bu Feni, Mara dan kini dengan sahabatku sendiri, dasar bodoh.

Saat aku berbalik Mareta sedang menatapku ketakutan, lucu sekali, padahal aku baru menyelamatkannya dari bajingan. Aku menepuk-nepuk kepalanya seperti anak kecil, tubuhnya gemetar. Kemudian mendekatkan mulutku ketelinganya, hanya membisikkan peringatan. Tapi, wajahnya semakin pucat lalu ia pingsan.

Aku jadi ingat pesan Ayah pada Mareta dan Gerry "Jangan biarkan orang-orang menyakitinya, itu berbahaya"