23 Juni 2014

Anak Panah (Part 05)

Warning : Ini adalah part terakhir dari cerbung Anak Panah, jika anda pembaca baru. Saya sarankan membaca dari Part 1 di sini. Anda telah diperingatkan *jadi serem gini*
Theo sedang menonton televisi ketika Differ pulang pukul sembilan. Ia memandangi Theo sedih, lalu ikut duduk menonton televisi

"Dari mana Maurice?" Tanyanya

"Mrs. Beauchamp" katanya tegas

"Eh, apa yang kau lakukan?"

"Hanya berkunjung" jawab Differ lagi

"Berkunjung?"

Differ tidak menggubrisnya dan memandang Theo kasihan. "Theo," panggilnya

"Ya?"

"Lebih baik kau jauhi Flo"

"Eh, kenapa tiba-tiba membahas Flo?"

"Kalian tidak akan cocok, dan dia tidak pantas untukmu"

"Apa?"

"Aku sudah tau, aku sudah tau siapa yang membunuh Archie, juga meracuni Rene"

"Apa maksudmu kau sudah tau?" Theo benar-benar heran

"Aku sudah tau, perempuan itu, bisa-bisanya dia membohongiku. Aku sudah tau, jadi kau harus menjauhi Flo"

"Maksudmu, kau sudah tau. Kau sudah tau semuanya?"

"Semuanya. Aku tau dia mengkhianati kakaknya, ya ampun, setelah apa yang kakaknya berikan selama ini, dia mengkhianatinya hanya karna cemburu!, aku juga tau kenapa kau begitu pucat ketika tau isi teh itu bukan teh. Itu ganja.. Aku tau dia pengedar narkoba dan obat bius, aku tau dia adalah otak dari semua ini. Aku tau kau berusaha melindunginya sehingga menyembunyikan surat-suratku, kalau tidak kenapa kau tau balasan itu penting? Itulah kenapa kau dan Flo tidak cocok, karena salah satu dari kalian adalah penjahat"

Theo memandangi Differ. Antara tidak percaya dan kesal

"Ini benar-benar menyedihkan, setelah berhari-hari tinggal disini. Seharusnya aku tau sejak awal. Yah selamat malam Theo, besok pagi aku akan menemui Inspektur Sprig dan menceritakan semuanya, aku harap kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Bunuh diri misalnya.." Differ tersenyum getir dan pergi meninggalkan Theo.

***

Differ terbangun di ruangan serba putih, ia mencoba duduk tapi kepalanya sakit. Ia mengendus dan sadar akan bau yang tak asing, rupanya ia sedang di rumah sakit. Masuk akal, kepalanya sakit dan ia di rumah sakit. Ia melihat lagi ada sekelilingnya ada bibi Jane menangis tersedu-sedu dan Sprig yang mencoba menenangkannya.

"Hey" Ia mencoba memanggil Sprig "apa yang terjadi?"

"Maurice!" bibi Jane begitu kaget sekaligus senang melihat Differ yang berbicara "Aku pikir kau mati nak, kau pingsan selama enam jam!! Untung polisi ini datang!"

"Tidak bibi Jane, aku tidak sebaik itu untuk mati muda" ia tertawa sebentar "Apa yang terjadi?" Ia bertanya lagi

"Theo! Theo anakku, aku tidak percaya!" Bibi Jane menjadi menggebu-gebu lagi. Differ kini mengerti,

"Bibi pulang saja, bibi pasti lelah" kata Differ

"Nah, sudah kubilangkan? Ayo bi, aku akan mengantarmu" Eddy kemudian menuntun bibi Jane keluar ruangan. Differ baru sadar, di ruangan itu juga ada Flo dan Rene.

"Dengan kejadian ini. Berarti teoriku benarkan Sprig?"

"Untuk urusan tertentu. Kau memang nekat Maurice"

"Apa yang sebenarnya terjadi Miss Differ?, kenapa Theo, Hana dan Emily di tangkap?" Tanya Rene. Ia duduk di kursi yang tadi di tempati bibi Jane

Differ mencoba duduk, kepalanya sudah tidak sakit lagi sekarang. "Itu karena mereka adalah orang jahat Miss Coney"

"Tapi, bagaimana bisa?" Ia tidak mengerti

"Pertama, kejadian di lapangan tembak. Emily-lah yang membunuh Archie. Ya, memang terdengar sangat tidak mungkin. Tapi pada kenyataannya ia tidak ada di kamar mandi saat itu. Saksi yang ada di kamar mandi memang tidak berbohong. Ia memang melihat seseorang bermantel coklat di sana. Tapi itu bukan Miss Dye. Karena pernyataan Miss Donovan yang mengatakan bahwa ada foto Nelson Mandela di koranku, padahal foto yang di maksud adalah Bill Cosby.

"Keduanya memang tampak mirip jika kita tidak teliti. Hal ini membuat saya curiga jangan-jangan Miss Donovan salah menilai orang, jangan-jangan orang di kamar mandi itu bukan Emily. Flo juga bilang kalau Emily menenteng mantelnya kemana-mana, tidak memakainya. Itu cocok karena Emily dikenal tidak terlalu peka pada cuaca. Lalu darimana ia mendapatkan anak panah dan busur? Bukankah ia tidak membawanya? Karena alasan ia masih pemula dan itu berbahaya. Soal anak panahnya, mudah saja.. Anda yang memberitahu dimana kuncinya kan Miss Coney?"

"Eh, itu karena ia adikku Miss Differ" kata Rene

"Nah, ia kemudian mengukirnya dengan inisialnya, ia ingin pembunuhan ini menjadi dramatis. Kepada siapa ia menitipkannya? Dan darimana ia dapat busurnya? Aku tidak tau, yang mana tapi yang pasti salah satu antara milik Flo atau Eddy. Dalam hal ini Hana atau Theo pasti membantunya. Tapi sayang, bukankah sejak awal kita tau Emily adalah pemanah pemula, tidak profesional, dan agak ceroboh? Maka bidikannya meleset"

"Me.. Meleset? Maksud anda, bukan Archie yang ingin dibunuhnya? Tapi.." Flo memandangi Rene

"Tentu saja, bukankah ia amat mencintai Archie? Bahkan meski bertahun-tahun tidak bertemu. Bukankah suaranya bergetar ketika memberi ucapan selamat pada Rene? Ia cemburu, itu motif utamanya"

Rene menutup mulutnya, hendak menangis. Tidak percaya bahwa saudari angkatnya itu...

"Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Rencana selanjutnya tetap dilanjutkan. Theo dan Hana yang sudah bersiap di jalur tengah kemudian membawa estafet kedua busur itu ke sungai. Sehingga kemarin di temukan oleh anak buah Sprig. Juga satu hal lagi yang menguatkan dugaan ini, anak buah Sprig juga menemukan mantel coklat di dalam lubang pohon besar, saya bisa pastikan itu milik Emily, ia tidak mungkin membidik sambil menenteng mantel bukan? Miss Dye agak kekanakan, ia tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri pada kematian Archie, ia menyalahkan angin, angin yang tidak pernah ia rasakan"

Rene kini benar-benar menangis. "Jadi semua ini hanya salah paham saja.." Katanya sambil tersedu-sedu

"Salah paham?" Semua orang heran

"Emily kira, Emily kira aku akan menikah denga Archie? Ya Tuhan, semua ini salah paham saja.."

"Apa maksudmu Rene?" Tanya Flo

"Saat aku bilang, aku akan menjadi Mrs. Brood.. Yang aku maksud itu Eddy!! Ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku menikah dengan Archie! Aku tau Emily menyukainya, bagaimana mungkin aku menikah dengan Archie!"

Semua orang terdiam, benar-benar menyeramkan ketika orang lain mati hanya karena 'salah-paham'. Emily dan semua orang mengira Rene akan menikah dengan Archie, ia cemburu. Dan satu nyawa melayang.

"Lanjutkan Miss Differ, kenapa Theo dan Hana membantu Emily?"

"Anda tau tidak? Kenapa saya pergi dari desa ini pada usia 13 tahun? Dan tidak pernah kembali selama 17 tahun lamanya? Teman-teman seusia saya disini, bukan teman yang baik. Tapi saya tidak punya teman selain mereka, saya terpaksa berteman dengan mereka, saya tau ini terdengar berlebihan. Tapi, teman-teman saya itu licik, tapi mau-tidak mau saya harus berteman dengan mereka. Saya tidak pernah mengerti cara berpikir mereka, katakanlah saya bingung hingga frustasi. Saya pergi jauh dari sini, ke asrama yang sama dengan Sprig"

"Maksud anda, teman-teman yang licik itu termasuk Theo? Dan Hana juga?"

"Theo, dia sepupu saya, ia lahir dan besar disini. Hana, saya tidak mengenalnya tapi ia berani-beraninya dia bilang lahir dan besar di sini.. Itulah kesalahan fatalnya, ia berbohong pada saya, berbohong dengan santai. Bahkan jika ia benar orang asli sini, ia sama liciknya. Lalu ketika saya tanya "Apakah di negara anda juga ada tradisi minum teh?" Ia menjawab "Oh ya, Ada. Hanya saja kami tidak menyukai teh yang kental sebagaimana anda". Kalau dia memang lahir dan besar di sini seharusnya ia refleks menjawab "Apa maksud anda? Negara kita kan sama". Ia pembohong dan saya tidak suka, saya meragukan pernyataanya bahwa ia pemanah profesional. Saya mengirim surat pada teman saya Ashley, ia sangat suka olahraga kuno, seperti berkuda dan panahan, dan baru membaca jawabannya sore kemarin. Bahwa Hana bukanlah pemanah profesional, ia tidak mengenalnya. Saya juga tidak pernah melihatnya memanah, setiap datang ke klub, ia selalu sedang duduk, bahkan tanpa keringat. Lalu, kenyataan bahwa benda dalam bungkus teh itu bukanlah teh. Miss Hana ceroboh memberikan saya bungkus teh yang salah

"Theo, seperti yang saya bilang tadi dia salah satu teman masa kecil saya. Bibi Jane bilang ia bekerja mengurus imigrasi dan sebagainya. Dan begitulah Ia yang membuat Hana bisa tinggal disini. Saya juga sangat tidak suka ketika ia 'mempengaruhi' bibi Jane untuk ke panti jompo, saya berpikiran buruk tentangnya. Jangan-jangan ia begitu matrealistis sehingga ingin bibi Jane minggat. Lalu, ketika Miss Coney diracuni. Mengapa ia harus diracuni? Karena sejak awal, mereka bertiga ingin anda mati. Tapi, apa untungnya? Hei, bukankah jika salah satu anggota panahan mati, uang mereka akan diberikan sebagian pada keluarga terdekat, juga Klub panahan dan anggotanya?. Itu dia harta, dan Miss Coney, anda adalah yang paling kaya di antara klub panahan"
"Maka, Emily yang cemburu di tambah Hana dan Theo yang sejak lama sudah bersekongkol, merencanakan semuanya"

Semuanya diam, menghela nafas tidak percaya dengan yang sebenarnya terjadi.

"Terakhir saya mengetes Theo, mengatakan saya mengetahui segalanya dan seolah-olah belum memberitahu Sprig. Jika ia bersalah, ia akan bingung dan bertanya "Surat apa? Apa maksudnya ganja? Dan mengira orang yang saya maksud adalah Flo dan Mr. Brood. Tapi ia mengerti apa yang saya katakan, dan saya mendapat pukulan di kepala. Apa tadi bibi bilang? Untung ada polisi ini, kau menguntitku ya? Atau seperti kata para pembual itu, kau punya insting yang tajam? Aku tidak ingat kau pernah mengatakannya, kecuali Robbie dan ..." Kalimat Differ terpotong oleh pernyataan Sprig

"Flo menelponku. Dia bilang perasaannya tidak enak"

Differ kini menatap Flo dengan pandangan bersalah

"Ini benar-benar menyedihkan" Flo murung. "Bagaimana dengan klub panahan kami? Bagaimana klub panahan Slagy Lac bisa menjadi klub panahan Slagy Lac tanpa ada orang asli Slagy Lac di dalamnya?"

"Saya ikut sedih dengan yang terjadi pada Theo" kata Differ "Soal klub panahan, saya ingat seseorang pernah berkata 'kami tidak akan bubar, bahkan walau anggotanya hanya tinggal bertiga-pun kami tidak akan bubar. Tidak sampai kami semua tewas'"

"Anda benar Miss Differ. Ayo Rene, kita pulang. Berlatih esok hari dan memenangkan lomba panahan bulan depan"

~Tamat~

16 Juni 2014

Anak Panah (Part 04)

Begitu Differ sampai di rumah, lagi-lagi ia mendapati suasana lengang. Ia tidak menemukan bibi Jane di manapun, tapi ia tidak yakin jika Theo bekerja. Ia ingin mengobrol sekarang, maka ia pergi ke Klub Panahan untuk memastikan apa ada orang di sana.
Benar saja, setidaknya ia melihat ada dua orang yang sedang berlatih dan seseorang yang duduk di kursi panjang. Awalnya ia pikir yang duduk itu adalah Hana, ternyata dia Flo.

"Anda tidak berlatih Miss Slicker?" Tanyanya Differ. Bukannya menjawab, Flo malah menatapnya marah

"Bisa anda memanggil saya dengan Flo saja?"

"Eh, maaf saya tidak tahu anda tidak suka"

"Akhir-akhir ini semua orang menyebalkan"

"Ada apa?"

"Lihatlah, kami bahkan hanya berlatih bertiga"

"Lalu? Aku kira bahkan klub ini sebentar lagi bubar" Differ lalu tertawa sejenak

Flo memandangi Differ lagi, "kami tidak akan bubar Miss Differ, bahkan walau anggotanya hanya tinggal bertiga-pun kami tidak akan bubar. Tidak sampai kami semua tewas"

"Lalu apa yang anda khawatirkan?"

"Bulan depan akan ada lomba panahan. Tapi dengan kejadian ini, kami jadi jarang latihan. Apalagi Rene, padahal dia bidak utama"

"Apa yang lain tidak ikut?"

"Aku, Eddy dan Theo juga ikut. Hanya kami jarang sekali lolos ke putaran final"

Differ terdiam, sepertinya ada yang kurang "Oh, ya! Apa Miss Hana tidak latihan hari ini?"

"Dia bilang akan menjaga Rene dan Emily di rumah. Alasan konyol. Maksudku, memang apa yang mungkin terjadi?"

"Dia hanya khawatir" Differ mencoba, meredakan amarah Flo "Bagaimana dengan anda, bukankah anda menyuruh Emily mengirimkan surat warisan? Tidakkah itu tanda khawatir?"

"Eh itu" Flo nampak kikuk "Itu benar-benar hanya perasaan saya saja"

Differ tersenyum, mencoba tidak menekan lawan bicaranya. Walau pada kenyataannya tanggapan apapun biasanya tetap akan menekan lawan bicara yang gugup.

"Ohya, Flo ada yang ingin saya tanyakan" kata Differ sedikit berbisik

"Ya?"

"Apa pada hari itu, maksud saya pada hari mengenaskan itu. Anda mengerti kan?"

"Eh, ya saya mengerti. Archie?"

"Iya. Pada hari itu, apa benar Emily memakai pakaian hitam-hitam dan mantel coklat?"

"Ooh.. Iya, saya ingat sekali. Malah, saya menyindirnya karena dia seperti orang yang akan pergi ke pemakaman. Dan mantel itu, Rene memaksa kami semua untuk membawanya. Padahal langit cukup cerah walau sedikit berangin. Jadi Emily membawanya, dia menentengnya kemana-mana. Begitulah, jika Emily adalah orang yang berpikir bahwa cuaca akan cerah sepanjang hari. Rene sebaliknya"

"Dan, apakah 'kecemasan' Rene itu benar?"

"Tentu saja tidak! Kami sudah melihat ramalan cuaca pada malam hari sebelumnya. Dan itulah kenapa kami memutuskan untuk berburu kelinci pada hari itu"

"Aku tidak ingat Theo membawa bahkan seekor kelinci pulang?"

"Ya, itu karena kami tidak mendapat seekor kelinci satu pun"

"Bagaimana bisa? Di hutan itu ada jutaan kelinci! Bahkan jika kalian memanah ke sembarang arah. Paling tidak, kalian itu akan mengenai seekor kelinci ceroboh"

"Saya tidak tau Miss Differ. Sebenarnya, saya hampir tidak ingat apa saja yang terjadi saat itu"

"Apa maksud anda?"

Flo mencondongkan badannya ke samping Differ dan dengan suara pelan ia berkata "Jangan katakan ini pada Theo ya. Saya tidak mau dia khawatir"

Differ mengangguk. Kemudian Flo melanjutkan "saya rasa, ada seseorang yang memukul kepala saya dari belakang saat itu. Saya tidak tau siapa. saat itu kami (Flo, Hana, Theo, dan Eddy) memutuskan berpencar. Saya dengan Hana dan Theo dengan Eddy. Kemudian, saya dan Hana terpisah karena hutan itu sangat gelap. Begitu sadar saya mendengar Rene berteriak, dan semua perlengkapan berburu saya hilang"

Differ sekali lagi mengangguk. Sekarang dia mendapat pengakuan yang sama dengan yang diterimanya dari Eddy. Terlalu sama malah. Apa ini? Mereka berdua bersekongkol? Berbohong demi...

"Dan, saya tidak habis pikir. Siapa yang memasukkan racun pada Rene. Maksud saya kenapa ada racun di sana"

"Saya kira anda tidak khawatir.."

"Tidak, saya hanya bingung. Kokain tidak bisa didapatkan dengan mudah. Bahkan untuk seorang apoteker. Dan saya rasa tidak ada panti rehabilitasi di sekitar sini"

"Menyedihkan memang mengetahui teman kita ternyata tidak seperti yang kita ketahui selama ini"

Flo mengerutkan dahi, tidak mengerti hubungan antara jawaban dan pernyataanya

"Eh, maksud saya kita semua pasti gusar saat ini Flo. Kita semua tau bahwa salah satu di antara kita adalah pembunuh. Dan itu pasti menyakitkan"

"Siapa yang mau membunuh Archie?, kami semua tidak terlalu dekat dengannya. Tidak ada alasan untuk membunuhnya"

"Ya, hampir tidak ada yang punya alasan" katanya sambil memandangi Eddy

Theo datang dengan dahi berkeringat. Ia mengambil botol minumannya dan menenggak isinya.

"Theo, tadi pagi apa ada surat untukku?"

"Tidak" jawab Theo cepat

"Itu aneh" kata Differ

"Tidak juga, butuh berhari-hari untuk sampainya sebuah surat" kata Theo lagi

"Mungkin lebih baik aku mengirimi mereka e-mail"

"Tidak perlu" Theo mencoba menenangkan. "Balasan penting itu akan segera sampai"

"Ya, mungkin saja.." Differ masih ragu

"Flo, kau masak apa hari ini?" Tanya Theo

"Spagheti, jangan bilang kalau kau.." Flo tidak melanjutkan kalimatnya

"Sudah siang, Kau mau ikut Maurice? Makan siang di rumah Flo, Eddy! Kau ikutkan?"

Setelah pertengkaran kecil antara Theo dan Flo akhirnya Eddy memutuskan ikut. Sementara Differ tidak, dengan alasan ingin menemani bibi Jane.

Tapi, begitu ia sampai di rumah. Ia menemukan bibi Jane masih belum pulang. Maka, mau tak mau ia harus makan siang sendirian. Ia tidak mungkin pergi ke rumah Rene, karena pasti akan sangat aneh. Kira-kira kemana Theo akan pergi setelah makan siang? Mungkinkah dia berlatih panahan lagi? Lagipula apa dia punya pekerjaan lain? Karena merasa tidak tau harus melakukan apa, Differ memutuskan untuk berbaring di kamarnya, dan menyusun potongan puzzle yang dimilikinya.

***

Sprig kini merasa frustasi. Ia tidak dapat menemukan jawaban apapun bahkan untuk salah satu pertanyaannya. Ia sudah mendengar wawancaranya berulang-ulang, berpikir apakah ada yang kurang. Ia sudah memeriksa tempat kejadian, bahkan mengerahkan seluruh anak buahnya. Tapi tetap tidak menemukan apapun. Di tambah lagi, ia mulai ragu buronan yang di carinya ada di sini. Tiba-tiba, seseorang mendobrak pintu.

"Pak, kami menemukan sesuatu!" Kata salah satu seorang anak buahnya.

Akhirnya, pikir Sprig. Setelah berhari-hari mencari petunjuk dan berpikir bahwa lawannya adalah pembunuh yang terlalu cerdik. Semoga yang di temukan anak buahnya ini sesuatu yang sering mereka sebut 'kecerobohan' penjahat.

Mereka segera pergi ke hutan dekat lapangan tembak itu. Beberapa orang berkeliling di sekitar pohon besar dan penuh lubang. Sprig hendak berhenti, tapi anak buahnya tadi menariknya lebih jauh ke dalam hutan. Mereka lalu tiba di sungai yang cukup besar. Setelah itu, mereka berjalan kaki hampir sejauh dua kilometer. Dan tiba di air terjun kecil.

"Di sana pak, ada dua busur yang sudah hancur"

Sprig masih diam. Ia tidak tau, apakah petunjuk ini akan berguna. Paling tidak dia sudah tau siapa pemilik busur-busur ini.

***

Differ, tidak yakin. Ia merasa hal-hal yang di ketahuinya belum lengkap. Tentu saja, ia belum berbicara sama-sekali dengan Rene. Ia tidak tau bagaimana Rene, bagaimana orang-orang di sekitarnya menurut pendapatnya. Dan untuk menyelesaikan sebuah gambar, Ia harus punya semua kepingan puzzle-nya, mungkin beberapa palsu. Tapi, kepingan yang benar akan memperjelasnya. Apalagi Rene satu-satunya yang tidak menjadi tersangka saat ini. Ya, setidaknya sampai saat ini.

Setelah memastikan kalau Bibi Jane tidak akan pulang sampai malam nanti. Differ mengunci semua pintu dan jendela juga menyalakan lampu-lampu tidak lupa menutup semua gorden. Ia pergi ke rumah Rene, untuk sekedar berbincang-bincang. Meski mungkin nanti Hana tidak akan membiarkan siapa pun bertemu dengan Rene. Tapi, Differ sependapat dengan Flo bahwa Rene pasti baik-baik saja. Dengan penampilan anggunnya saat pertama kali bertemu, Differ yakin Rene cukup dewasa untuk tidak menangisi Archie terus-menerus.

Perkiraan Differ salah ketika ia berpikir bahwa Hana akan mencegahnya. Jangankan mencegah, ia bahkan tidak ada di rumah. Rene sendirian di ruang tamu, sedang membaca buku sambil mengemil makanan ringan dengan televisi menyala. Ia buru-buru membereskan semuanya ketika Differ datang. Bahkan seberapa pun anggunnya Rene, pikir Differ ia tetap wanita muda yang tidak bekerja. Mereka berbincang-bincang seperti orang biasa, Differ bertanya beberapa hal dan tidak nampak raut sedih di wajah Rene.

"Saya rasa, mengingat ketika sore hari anak panah itu masih ada. Pasti benda itu di curi pada malam hari" Jawab Rene ketika di tanya kapan anak panah itu hilang

"Kira-kira siapa ya, yang mencurinya?"

"Siapa saja anggota klub memanah bisa. Kecuali Emily"

"Eh?" Differ tidak mengerti

"Tentu saja bukan Emily, ia baru bergabung dua bulan lalu. Kami tidak memberi-tahu kuncinya kecuali pada anggota lama"

Differ mengangguk mengerti

"Lagi pula," kata Rene "dia kan tidak membawa alat panahan waktu itu, sekali lagi- karna ia masih pemula"

"Ya, saya mengerti. Ada juga saksi yang bilang bahwa ia di kamar mandi sampai anda berteriak. Intinya, anda yakin Miss Dye tidak bersalah kan?"

"Begitulah. Dia kan adik saya Miss Differ"

"Adik?" Differ lalu teringat pada percakapan di jembatan

"Ya, Adik angkat. Dahulu saya dan orang tua saya tinggal di suatu rumah yang bersebelahan dengan panti asuhan. Saya sangat akrab dengan Emily, jadi ayah saya mengadopsinya"

"Tapi, kenapa ia tidak mengganti namanya?"

"Perasaan sentimental. Sejak dulu, Emily itu agak kekanakan juga mudah terpengaruh. Bahkan di usianya sekarang. Ia sangat menghormati pendiri panti, jadi ia enggan mengganti namanya"

"Kekanakan?"

"Benar, orang tua saya begitu memanjakannya sejak kecil. Kadang ia tidak bisa menerima jika dia salah, atau tergesa-gesa dalam memutuskan sesuatu. Saya punya tugas yang berat, setelah orang tua saya meninggal"

"Ya, kalau begitu Mr. Brood adalah yang paling mungkin"

"Apa?"

"Mr. Brood adalah yang paling mungkin" Differr mengulangi perkataannya

"Tidak, tidak mungkin!"

"Kenapa anda berpikir seperti itu? Jelas ia punya kesempatan dan motif"

"Tapi, dia kan adik Archie.. Dan apa maksud anda dia punya motif?"

"Justru karena dia adik Archie, Miss Coney. Dan motif yang saya maksudkan adalah : pertama, ia tidak suka dengan pembagian warisan yang tidak adil. Kedua, ia cemburu"

"Cemburu? Pada siapa?"

"Tentu saja pada Archie! Archie kan melamar anda, sedang di sisi lain ia juga menyukai anda"

"Eh, begitukah?" meski tidak kentara, wajah Rene terlihat memerah

"Anda tidak tahu?"

"Umm, tidak, bukan begitu. Berarti Archie benar"

"Apa yang anda maksudkan?"

"Saya tidak bisa mengatakannya, tidak sampai urusan ini selesai" Rene mengangkat kepalanya "Tapi, Miss Differ. Eddy tidak mungkin meracuni saya, ia bahkan tidak ada saat itu"

"Hal itu, masih harus diselidiki"

"Apa ada kemungkinan, adanya dua tersangka?"

"Bisa saja, sebenarnya Miss Coney. Saya mencurigai Flo-lah yang meracuni anda"

"Pasti karena dia apoteker ya? Dia pasti mengerti obat-obatan, racun, dan dosisnya. Tapi kan, dia yang menyelamatkan saya"

"Itu-lah yang tidak saya mengerti"

"Bila benar tersangkanya hanya ada satu. Siapa yang paling mungkin?"

"Orang yang ada di dua tempat itu saat dua kejadian.. Theo, Flo, dan Miss Hana"

"Tapi mereka semua tidak punya motif untuk membunuh Archie"

"Ya, tidak ada untuk Archie. Tapi bisa saja untuk anda" kata Differ. Ia tiba-tiba teringat sesuatu, "saya harus pulang Miss Coney, setidaknya sebelum Theo dan Bibi Jane pulang. Rumah di kunci, dan kuncinya ada pada saya. Semoga urusan ini cepat selesai"

"Sampai jumpa Miss Differ, saya juga akan memasak makan malam"

***

Differ memandangi coret-coretan di hadapannya. Beberapa tabel dan daftar kebiasaan anggota memanah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bertanya-tanya, apakah yang dilakukannya sudah benar?

Theo pulang dan memanggil-manggil nama bibi Jane dan Differ. Differ menyahut dan berkata ia ada di kamarnya. Theo datang dan memasuki kamar Differ, kemudian terkejut melihat betapa berantakannya ruangan itu.

"Ya ampun, apa yang kau lakukan?!"

"Tidak ada" Differ masih terus menulis

"Apa ini, 'Theo, di hutan, pandai memanah, tidak punya motif membunuh Archie tapi punya kesempatan dan kemungkinan. Tidak ada kesempatan tapi punya kemungkinan dan motif meracuni Rene'! Oh ya ampun! Kau mencurigaiku Maurice?!"

"Aku mencurigai semua orang Theo.."

"Aku bersusah payah mencari Eddy. Kami terpisah dan hanya aku yang tau jalannya. Dan kau mencurigaiku?!"
"Dan, ya ampun aku tidak tau Flo pingsan! Di mana? Kapan?!"

"Di hutan, kau berisik sekali. Pergilah! Mandi!"

"Flo pingsan! Ya ampun! Bagaimana bisa!!" Katanya sambil berlalu.

Differ tidak bisa membayangkan jika Flo dan Theo menikah. Hidup mereka akan penuh hiruk-pikuk dan kebisingan. Dan pasti mereka akan mengganggu tetangga, lalu mereka diusir dari tempat manapun di dunia. Uh, menyeramkan.

Ia akhirnya berhenti menulis, dan merasa puas pada dirinya. Sementara kecewa pada yang lainnya. Ya, akhirnya dia tau.. Dia tau semuanya. Differ memutuskan agar segera pergi ke rumah Mrs. Beauchamp, menemui Sprig dan berdiskusi, toh ini masih pukul tujuh malam.

***

"Benar-benar tidak bisa di percaya" Sprig takjub mendengar penjelasan Differ.

"Ya, dia cerdik, licik tapi membuat kesalahan fatal sejak awal"

"Yayaya, kami akan segera menerbitkan surat penangkapan. Kau akan baik-baik saja kan? Maksudku dia tidak tau kau sudah mengetahui identitasnya kan?"

"Aku rasa belum,"

"Belum?"

"Ya, cepat atau lambat dia akan mengetahuinya. Tapi tak usah khawatir, aku yakin aku aman" Differ kemudian pamit,

Bersambung~