Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

Anak Panah (Part 03)

Ada pemandangan aneh di ruang tamu rumah Theo. Eddy duduk disana seperti menunggu sesuatu, di depannya duduk juga Differ yang menunggu dia bicara. Eddy sudah ada disana sejak Differ sampai setelah ia mengirim surat. Dia tidak mungkin menunggu Theo karena pasti dia tau Theo sedang bekerja.
Dari sana Differ bisa melihat betapa anehnya Eddy. Dia benar-benar terlihat seperti orang kurang gizi. Matanya terlihat agak mengantuk juga acuh, dia juga punya tangan yang panjang yang membuatnya sedikit proporsional dengan tubuhnya yang tinggi tapi kurus itu.
"Maaf Mr. Brood" Differ mulai berbicara, muak dengan kesunyian tidak berarti ini. "Anda tidak akan membuat saya membuang waktu dengan diam menunggu apa maksud anda datang kemari-kan?"
"Saya tidak akan melakukannya" katanya, dengan suara berat yang aneh "saya sudah melakukannya" baiklah, sepertinya Eddy mencoba membuat lelucon. Tapi ya ampun, tidak dengan suara se-menyeramkan itu
"Jadi?" Jawab …

Anak Panah (Part 02)

Berita kematian Archie segera menjadi headline semua koran di seluruh dunia. Sprig tersenyum, dia bukan senang dengan kematian ini. Siapa pula yang bisa mentertawakan kematian?. Ia sedang dalam tugas kemari, menyelidiki sesuatu. Dan kasus ini, sangat membantu sekali. Tugasnya memang jadi lebih banyak, tapi akan menyamarkan tugasnya yang sesungguhnya. Apalagi, jika misi ini sukses, mungkin akan meningkatkan karirnya (?). Sprig, memang tidak punya jabatan tinggi. Reputasinya juga tidak bagus. Meski begitu, menjadi polisi adalah cita-citanya sejak kecil. Ia ingat dulu pernah membuat kelompok detektif sewaktu di Asrama, bukan.. Bukan akademi polisi. Semacam sekolah menengah. Ia juga ingat dengan orang itu, orang yang suka pura-pura tidak mau ikut campur, tapi malah menyelesaikan semuanya sendiri.
Ah, lupakan orang itu. Ia harus cepat-cepat membuat laporan. Sprig memandang tape-nya. Aneh juga dia menggunakannya untuk interogasi kemarin, tape itu sudah kuno. Dan lagi, bukankah lebih baik m…

Anak Panah (Part 01)

Hari ini memang tidak cerah, langit bergemuruh walau tak jatuh air setetes-pun. Tapi, bagi beberapa orang, apapun tak boleh ada yang mengagalkan rencananya, bahkan cuaca. Seperti, Maurice Differ. Wanita muda ini menganggap bahwa di hidupnya yang tidak pernah ada yang ia kejar, ia hanya perlu mengikuti setiap kejadian yang terjadi di hidupnya, di iringi dengan rencana-rencana kecil yang paten, yang akan membawanya ke rencana lain. Dan begitulah hidupnya mengalir.
Maka, rencana kecilnya dua minggu ini, meski tidak di sukainya adalah menuruti titah atasan, teman, dan keluarganya untuk berlibur dari hiruk-pikuk kota sebelum ia jadi gila. Berlibur, benar-benar berlibur, tidak boleh secara sembunyi-sembunyi membuka kelas musim panas atau les fisika. Untuk itu, semua orang setuju untuk mengirimnya ke tempat yang ia kenal tapi ia tidak kenal. Yaitu, tempat dimana banyak teman untuk bicara, tapi tak ada yang ia ketahui tentang tempat itu. Mungkin kedengarannya baik. Tapi, manusia tidak pernah…