27 Mei 2014

Anak Panah (Part 03)

Ada pemandangan aneh di ruang tamu rumah Theo. Eddy duduk disana seperti menunggu sesuatu, di depannya duduk juga Differ yang menunggu dia bicara. Eddy sudah ada disana sejak Differ sampai setelah ia mengirim surat. Dia tidak mungkin menunggu Theo karena pasti dia tau Theo sedang bekerja.

Dari sana Differ bisa melihat betapa anehnya Eddy. Dia benar-benar terlihat seperti orang kurang gizi. Matanya terlihat agak mengantuk juga acuh, dia juga punya tangan yang panjang yang membuatnya sedikit proporsional dengan tubuhnya yang tinggi tapi kurus itu.

"Maaf Mr. Brood" Differ mulai berbicara, muak dengan kesunyian tidak berarti ini. "Anda tidak akan membuat saya membuang waktu dengan diam menunggu apa maksud anda datang kemari-kan?"

"Saya tidak akan melakukannya" katanya, dengan suara berat yang aneh "saya sudah melakukannya" baiklah, sepertinya Eddy mencoba membuat lelucon. Tapi ya ampun, tidak dengan suara se-menyeramkan itu

"Jadi?" Jawab Differ

"Begini Miss Differ," Eddy mulai menegakkan duduknya "sebenarnya ini menyangkut kematian kakak saya.."

Differ menatapnya antusias, menyukai topik ini.

Percakapan panjang itu hampir dikuasai Eddy, Differ nyaris hanya diam mendengarkan. Ya, intinya Eddy mencoba membela diri bahwa dia tidak mungkin membunuh Archie karena ia sudah jauh di dalam hutan. Sebenarnya, semua orang mengaku sudah di dalam hutan, kecuali Emily yang ada di toilet. Dengan kata lain, JIKA Differ percaya semua pengakuan, tidak akan ada yang bersalah. Berarti pembunuhnya berbohong. Bahkan dengan pembelaan panjang Eddy, tidak mengeluarkannya dari daftar tersangka. Lagipula, untuk apa ia membela diri di hadapan Differ?

"Memangnya anda tidak mau tahu?" tanyanya.

"Memangnya saya harus tahu?"

Begitulah, perbincangan panjang itu menambah informasi Differ mengenai pembunuhan itu. Termasuk pengakuan meragukan yang menyatakan bahwa Eddy pingsan di hutan saat kejadian. Differ mempunyai suatu prinsip, "Orang yang rugi bukanlah orang yang tidak membaca buku, tapi orang yang tidak pernah menyelesaikannya". Ibarat sedang membaca buku, Differ sudah membaca setengahnya. Mau tak mau ia tak sabar menyelesaikannya. Ia ingat satu nama, musim semi, Spring, eh tidak. Sprig..

Maka, Differ pergi ke rumah Mrs. Beauchamp tempat dimana Sprig menginap. Ia disuruh duduk di ruang tamu. Mrs. Beauchamp sangat baik, ia begitu senang melihat Differ berkunjung. Suatu kejutan baginya melihat Differ lagi setelah 17 tahun berlalu.. Mrs. Beauchamp sama seperti orang tua di desa ini lainnya, mereka gemuk, baik hati, dan tua. Mereka tidak bekerja dan dinafkahi anak laki-laki nya. Bahkan bagi mereka yang tidak punya anak laki-laki akan dinafkahi menantunya.

Sprig datang dengan penampilan acak-acakan.. Dia bahkan masih memakai piyama, dasar tidak tahu malu. Differ melihat jamnya, Pukul 11.27. Hampir jam makan siang. Differ bertaruh dia begadang semalaman.

"Ada apa Maurice?" Tanyanya tanpa basa-basi. Salah satu sifat yang sangat dihargai Differ.

"Ini tentang kasus kematian Archie" jawabnya. Keduanya saling mempertahankah ekspresi masing-masing, berusaha agar pikirannya tidak terbaca

"Aku tidak mau menolongmu" jawab Sprig ketus

"Ayolah.. Kau pasti bercanda Sprig. Bukan kau yang menolongku, tapi aku yang menolongmu"

"Tidak. Maurice, ini tidak seperti asrama. Ini menyangkut karir-ku!"

"Aku tidak menuntut popularitas Sprig, aku hanya ingin menyelesaikan sebuah buku. Lagipula, kita bisa mengatakan kalau semuanya hasil kerjamu. Kau tentu sudah mewawancarai mereka bukan?"

"Tapi Maurice. Itu tidak jujur"

Differ tertawa kecil. "Kau bicara kejujuran? Tidak ingatkah kau? Dulu, kau menaruh buku catatanmu disembarang tempat dengan beberapa shilling, aku mengambilnya, membacanya, mengembalikannya di tempat semula dengan beberapa catatan tambahan. Dan kau mempresentasikannya dihadapan semua orang, mengaku-ngaku menyelesaikannya sendiri"

"Tapi kau tidak pernah menyelesaikan catatannya. Kau selalu mempermalukanku, menjelaskan bagian rumpang yang tidak pernah kusadari" terdengar nada kesal dalam suara Sprig

"Ya, aku akui itu.."

"Dan sekarang kau menyuruhku percaya padamu?"

"Tidak juga, bahkan kadang aku tidak percaya pada pikiranku sendiri"

"Bagus"

"Tapi, tentu kau bisa memberiku sedikit petunjuk bukan? Hanya sedikit, itu tak akan mengubah apapun"

Sprig menimbang-nimbang, diam sejenak mencoba berpikir. Baiklah, seperti katanya, hanya sedikit, tak akan mengubah apapun

"Baiklah, apa yang kau inginkan?" Jawabnya,

Differ tersenyum, gagal mempertahankan ekspresinya. Jangankan Sprig, semua orang mengerti arti senyum. Kini ia yang terdiam, menimbang-nimbang, memikirkan pertanyaan yang tepat.

"Siapa saksi di toilet?"

Sprig mengerutkan kening, pertanyaan bodoh macam apa itu? Ia kemuadian pergi ke kamarnya memeriksa berkas-berkasnya. Dan menulis pada sebuah kertas.

"Fanny Donovan.." Kata Differ puas. "Wah, kau baik sekali, bahkan ada alamatnya"

"Eh, memang kau tidak memintanya?"

Differ menggeleng pelan. "Kalau begitu, terimakasih. Semoga kau beruntung" ia berdiri lalu membungkuk. Pintu di tutup dari luar, Sprig memejamkan matanya di sofa itu, ia kemudian bergumam

"Tuhan, semoga dia tak menemukan apapun"

***

Differ kadang merasa dirinya mempunyai dua kepribadian. Kadang dia merasa dirinya seorang yang terlihat membosankan, pendiam, tapi juga pendengar yang baik. Disaat yang lain ia merasa dia terlalu bersemangat, berisik, tapi tetap merasa menjadi pendengar yang baik. Meski begitu ia tak pernah menyalahkan dirinya tentang hal itu, ia tau bahwa setiap orang mempunyai dua kepribadian. Biasanya salah satunya dominan dari yang lain, tapi bukan berarti yang lain hilang sama sekali. Kita menyebutnya Introvert dan Ekstrovert.

Differ yakin dirinya adalah Introvert, dan bangga akan hal itu. Meski orang kadang salah mengira tentang kaum minoritas ini. Para Introvert biasanya memiliki teman sedikit dengan kualitas pertemanan yang hebat, mereka lebih suka mengurus satu-dua pohon hingga besar daripada menebar bibit sana-sini namun kadang tidak terurus. Mereka lebih suka diam membaca buku sendirian di kamar daripada reuni dengan teman lama yang tidak terlalu dekat. Mereka kadang sulit berbincang kecil namun jika menemukan topik yang jelas mereka bisa bicara ber-jam-jam

Differ pulang dengan hati yang gembira. Sudah waktunya makan siang, tapi sepertinya Theo belum pulang. Ia tidak mengerti apa jenis pekerjaan Theo ini, walau bibi Jane sudah menjelaskan secara singkat, tapi rasanya aneh ia tak punya jadwal tetap dalam pekerjaannya. Padahal kemarin ia tidak bekerja, tapi tiba-tiba tadi pagi ia pergi bekerja, dan ini musim panas!

Begitu melihat keadaan rumah yang sepi. Differ memutuskan membaca tumpukan koran yang berdebu di ruang tamu, jelas sekali Theo ataupun bibi Jane tidak pernah membacanya. Tak ada yang menarik, koran lama itu hanya memuat berita lama. Beberapa malah bisa dibilang tidak terlalu berguna. Misalnya, mengenai pemainan online yang digemari anak-anak muda. Untuk apa mereka memberitakan ini? Anak-anak muda jaman sekarang tidak membaca koran!, sedang orang tua akan membacanya penuh kebencian karena anak-anak mereka kecanduan akan permainan itu.

Differ melihat beberapa cuplikan gambar permainan itu. Entah mengapa, ia merasa ada yang familiar mengenai penggambaran jalan setapak medan perangnya. Ah, mirip sekali dengan pemetaan jalan setapak hutan! jika markas musuh itu adalah sungai ujung hutan, dan markas kita adalah jalan masuk hutan satu-satunya di lapangan tembak. Ada jalan setapak di sisi kanan, tengah, dan kiri. Jalan setapak itu tidak terlalu kentara, orang asing tidak akan menyadarinya, hanya penduduk asli seperti Differ atau Theo-lah yang tau jalan-jalan itu. Sebenarnya agak berbahaya jika masuk hutan itu tanpa pemandu. Memang hutan itu tidak terlalu luas. Tapi meskipun mayoritas ditumbuhi pohon pinus yang kurus, ada juga pohon-pohon besar yang menghalangi cahaya untuk melihat sekitar. Untungnya hampir tidak ada hewan buas disana, paling hanya ular besar yang tidak berbisa.

Ia membuka beberapa halaman lain, ada berita mengenai orang-orang terkenal seperti Bill Cosby, Alyssa Wolff, Gladys Potter, Lilly Tafloff, dan lainnya

Bibi Jane datang dengan pakaian kotor, bajunya berlumuran tanah, dan membawa keranjang penuh sayuran.

"Bagus, aku bekerja keras di kebun dan kau di sini, membaca" katanya ketus. Bahkan, meski sudah tidak bertemu selama 17 tahun, bibi Jane sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sayang karena rindu. Tapi Differ menyukainya, itu membuatnya merasa sudah sangat akrab, seakan ia sudah tinggal disana bertahun-tahun. Kita tau kan orang yang saling kenal kadang suka kurang ajar. Differ menanggapinya dengan senyum lebar tanpa perasaan berdosa, lalu pergi ke dapur dan membersihkan sayur-sayur itu.

Sejenak ia kagum dengan banyaknya sayur itu. Lihatlah! Bibi Jane masih kuat untuk mengurus kebun itu sendirian, kenapa ia harus pergi ke panti jompo? Tapi, Differ tidak membahas hal itu padanya. Ia mengerti bagaimana orang yang keras kepala.

Theo pulang pukul 5, tepat saat jam minum teh. Differ berniat menggunakan teh dari Miss Hana, tapi begitu membukanya ia heran kenapa bau dan teksturnya berbeda dari teh hijau yang pernah ia lihat. Saat ia bertanya pada Theo, ia bilang bahwa mungkin itu sudah basi dan harus di buang. Differ tiba-tiba ingat teh yang diberikannya pada temannya si ahli kimia, dan menyatakan hal itu pada Theo. Wajah Theo tiba-tiba pucat pasi dan suaranya bergetar.

"Lalu apa katanya?" Tanyanya

"Entah, aku baru mengirimkannya pagi ini. Mungkin akan ada balasannya besok atau lusa. Apa menurutmu aku harus menulis surat tentang teh itu?"

"Tidak perlu, kalau dia memang ahli kimia. Dia akan tau jika itu teh basi"

"Ya, aku rasa kau benar" Differ menjawab dengan tenang "aneh sekali. Seharusnya aku yang panik Theo, tapi wajahmu pucat sekali"

Akhirnya mereka meminum teh biasa yang kental. Differ bertanya pada Theo mengenai pekerjaannya yang aneh, tapi ia malah menjawab

"Kau tidak akan mengerti, ini jenis pekerjaan yang aku ciptakan sendiri"

Bagus, itu jawaban yang sangat bagus. Ia juga mendiskusikan mengenai pengiriman bibi Jane ke panti jompo, tapi Theo bilang itu sudah keputusannya, tidak ada yang bisa mengubahnya.

"Ia mulai sakit-sakitan Maurice, rematik, osteoporosis dan lainnya"

"Itu bisa diobati oleh dokter secara berkala. Memang berapa sih usianya?"

"Aku tidak bisa membawanya ke dokter terus menerus, di sana akan ada suster sabar yang akan mengurusnya. Dia hampir 60 tahun kau tau?"

"Aku kenal beberapa orang usia lanjut yang masih bekerja"

"Kau sama keras kepalanya dengan bibi Jane" kata Theo

"Begitu juga denganmu" Differ meneguk tehnya.

***

Keesokkan harinya Differ bangun pagi sekali untuk mengunjungi Fanny Donovan yang berada di luar kota. Ia menelpon perusahaan taksi dan menyuruh mereka datang ke stasiun kereta terdekat. Begitu datang, supir taksi itu terlihat sebal karena jauhnya perjalannan dari kota itu. Differ tersenyum dan menyuruhnya ke alamat yang di maksud.

"Maaf Madam, saya tidak tau alamat ini" katanya

Kening Differ berkerut, heran dan kaget. Heran karena pernyataan supir taksi yang sangat aneh itu dan kaget karena.. Ya ampun dia tidak setua itu!. Differ memutuskan tidak menggubris perasaan kagetnya dan menyahut sang supir.

"Oh, jadi apa fungsi GPS itu?"

"Tapi, Madam tempat ini tidak mendapat sinyal satelit yang baik"

"Kalau begitu pergilah ke kota terdekat, dan simsalabim kau mendapat sinyal"

Differ mendengar gumaman kecil bernada umpatan dalam bahasa asing, dan kemudian ia juga mengumpat

"Pemalas!"

Alasan Differ menelpon perusahaan taksi adalah supaya ia tidak pusing memikirkan jalan menuju tempat itu. Pasalnya Differ bukan penghapal jalan yang baik, ia butuh empat-lima kali ke suatu tempat untuk hafal jalannya. Dan ia tidak akan melakukan hal itu kali ini. Perjalanan selama satu jam itu terasa singkat bagi Differ yang asik membaca koran. Dan menyebalkan bagi supir pemalas yang tidak berniat untuk bekerja itu. Differ menyuruh supir itu untuk menunggu di luar. Ia tak akan berlama-lama dengan Fanny, hanya satu pertanyaan dan langsung pulang.

Differ menekan bel beberapa kali namun tak seorang-pun keluar baru di bel ke lima, seseorang anak laki-laki usia 10 tahun dengan piyama bermotif kelinci. Baiklah, Differ mulai muak dengan piyama. Suasana rumah itu ribut sekali, musik diputar keras-keras. Pantas saja butuh bel berkali-kali untuk layanan pembukaan pintu

"Mencari siapa?"

Differ memang tidak suka basa-basi tapi entah mengapa pernyataan langsung itu terdengar tidak sopan "Fanny Donovan" katanya singkat

"FANNYYYYYYYY!!!" Anak itu berteriak mencoba mengalahkan suara musik nan keras itu. Sekarang Differ benar-benar tidak suka anak itu.

Seorang wanita muda keluar sambil menutup telinganya. Menatap Differ heran tapi cepat mengambil tindakan untuk pergi dari sana dan mencari tempat yang lebih sepi untuk bicara. Mereka menyebrang jalan yang padat menuju sebuah kafe yang sepi.

"Maaf atas kekacauannya ..." Kata Fanny

"Anda bisa memanggilku Miss Differ"

"Oh ya dan saya Miss Donovan" mereka berjabat tangan sebentar, dan sebelum Differ sempat menjelaskan apa maksud kedatangannya Fanny sudah lebih dulu berbicara

"Anak jaman sekarang benar-benar mengecewakan. Mereka berteriak dan tidak peduli dengan orang lain. Ini semua pasti karena acara-acara kekerasan itu. Televisi, seharusnya semua orang tua tidak memberikannya pada anak-anak. Itu memberi pengaruh buruk pada mereka"

"Jadi mereka anak-anakmu?"

"Oh, bukan, mereka adik-adikku. Tapi aku pernah merasakan masa ketika kesopanan dan kehormatan di junjung tinggi. Sekarang, lihatlah perempuan-perempuan itu sangat senang dipandangi kotor"

Differ diam saja, ia sebenarnya tidak suka pada orang yang mengeluh, tapi ia tidak bisa menghentikan orang yang sedang berbicara, itu tidak sopan. Maka ia menunggu sampai Fanny selesai empat puluh lima menit kemudian.

"Eh, maaf saya berbicara panjang lebar dan melupakan anda" kata Fanny akhirnya

"Tak apa, saya juga sering begitu" padahal Differ hampir tidak pernah begitu

"Jadi ada apa Miss Differ? Seperti saya tidak pernah melihat anda sebelumnya"

"Tidak, sebenarnya tidak. Saya rekan Inspektur Sprig jika anda ingat, Slagy Lac?"

"Ah ya! Kejadian mengerikan itu!" Katanya dengan nada sedih

"Saya hanya ingin bertanya mengenai kejadian itu"

"Oh, tentu silahkan. Saya akan sangat senang membantu"

"Apa benar anda melihat Miss Dye di toilet saat itu?" Katanya sambil menyerahkan foto Emily

"Ah ya! Saya melihatnya, dia memakai mantel coklat dengan pakaian dan celana hitam" Oh bagus, Differ tidak tau berpakaian seperti apa Miss Dye saat itu

"Dan kalian disana selama dua puluh menit?"

"Rasanya tidak mungkin. Dia memang sudah di sana lebih dulu, baru saya datang. Lalu kami mencuci tangan bersama-sama di wastafel.. Barulah kami mendengar sebuah jeritan dan berlari keluar karena ketakutan"

"Kalau begitu terimakasih"

"Eh begitu saja?"

"Ya, kita sudah bicara cukup lama" Differ mengangkat tangannya, mengecek jam. Otomatis juga mengangkat korannya.

"Oh ya, anda benar. Eh, bukankah itu Nelson Mandela? Saya sedang membuat skripsi tentang dia, segala informasi akan membantu. Bolehkah?"

"Eh, tentu" Differ menyerahkankan koran itu dengan ragu. Nelson Mandela?

Bersambung~

20 Mei 2014

Anak Panah (Part 02)

Berita kematian Archie segera menjadi headline semua koran di seluruh dunia. Sprig tersenyum, dia bukan senang dengan kematian ini. Siapa pula yang bisa mentertawakan kematian?. Ia sedang dalam tugas kemari, menyelidiki sesuatu. Dan kasus ini, sangat membantu sekali. Tugasnya memang jadi lebih banyak, tapi akan menyamarkan tugasnya yang sesungguhnya. Apalagi, jika misi ini sukses, mungkin akan meningkatkan karirnya (?). Sprig, memang tidak punya jabatan tinggi. Reputasinya juga tidak bagus. Meski begitu, menjadi polisi adalah cita-citanya sejak kecil. Ia ingat dulu pernah membuat kelompok detektif sewaktu di Asrama, bukan.. Bukan akademi polisi. Semacam sekolah menengah. Ia juga ingat dengan orang itu, orang yang suka pura-pura tidak mau ikut campur, tapi malah menyelesaikan semuanya sendiri.

Ah, lupakan orang itu. Ia harus cepat-cepat membuat laporan. Sprig memandang tape-nya. Aneh juga dia menggunakannya untuk interogasi kemarin, tape itu sudah kuno. Dan lagi, bukankah lebih baik menggunakan kamera? Seseorang tidak bisa menyembunyikan gerak tubuh ketika berbohong, seperti menggaruk hidung, melirik ke kiri, meminum banyak air.

"Yah, seharusnya aku menggunakan kamera. Bukan tape.." Sesalnya.

Ia memutarnya. Pertama ia mendengar introgasinya dengan Eddy Brood


***

Differ, kini duduk di tempat yang sama di lapangan panahan. Ia menyaksikan Flo dan Theo yang sedang berlatih. Hana duduk di sampingnya, sepertinya ia sudah berlatih sejak pagi. Sementara Emily, Eddy dan Rene absen. Walau sebenarnya, tak ada jadwal khusus untuk latihan. Seperti yang kita tau, Rene baru saja melihat manusia meninggal di depannya, ia pasti shock. Apalagi, Eddy, kakaknya meninggal, dia pasti sibuk dan sedih (meski hubungan kakak-adik ini memang aneh). Dan, Emily, sepertinya ia memang ada perasaan spesial pada Archie, jadi yah..

"Cukup untuk hari ini" Hana bangun dan mengajak semuanya minum teh.

"Teh yang enak Miss Hana, boleh ku minta beberapa? Untuk temanku di kota?" Kata Differ

"Tentu, biar ku ambilkan" Hana masuk kedalam, melewati ruangan penuh kilauan menuju dapur. Differ memperhatikannya dari teras, tunggu... ada yang salah.

"Kemana anak panah dalam kotak kaca itu?" Tanyanya pada Flo

"Disita polisi Miss Differ" jawab Flo

"Kenapa?"

Theo menelan ludah, lalu menjawab pertanyaan itu. "Karena anak panah itulah yang membunuh Archie"

Differ terperangah mendengarnnya dan baru menyadari satu hal.

"Ini Miss Differ, semoga teman anda suka" Hana memberikan beberapa bungkus teh hijau. Differ menatap mereka bergantian, tatapan takut.

"Ada apa Miss Differ? Kenapa memandang kami seperti itu?"

"Ah maaf," Differ memasukkan teh-teh itu ke tasnya.

"Yah, sudah waktunya makan siang. Di pondok ini, tak ada apapun selain camilan. Kau mau ikut Maurice?" Tanya Theo

"Kemana?"

"Makan siang, ke rumah Flo"

"Hei! Tak ada yang mengundangmu!" seru Flo

Maka mereka pergi ke rumah Flo alias rumah Hana alias rumah Emily alias rumah Rene juga. Rumah besar yang hanya terpisah beberapa rumah dari rumah Theo itu adalah warisan dari paman Rene. Ya, keluarganya memang kaya di tambah Rene adalah keturunan terakhir keluarga Coney. Semua uang dari sanak-saudara selalu jatuh ke tangannya. Hal itu membuatnya merasa tidak perlu bekerja.

Suasana rumah begitu sepi. Sepertinya Emily dan Rene sedang tidur. Mereka mulai memasak, ada ayam yang siap dipanggang di kulkas.

"Anda punya banyak sekali teh hijau ya.." Tanya Differ seraya melihat ke arah lemari kaca yana tertempel di dinding

"Ya, aku menyukainya"

"Apakah di negara anda juga ada tradisi minum teh?"

"Oh ya, Ada. Hanya saja kami tidak menyukai teh yang kental sebagaimana anda"

Differ, mengangguk-angguk. Puas dengan jawaban Hana, perkiraannya selama ini benar.

"Tidakkah kita harus mengundang Rene dan Emily juga? Theo, bagaimana menurutmu?"

"Ya, itu ide bagus. Aku akan ke atas mengundang mereka"

Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Walau dengan perasaan tidak enak. Bahkan duo cerewet Theo dan Flo tidak bisa mencairkan suasana. Sebagaimana kita tau, Archie tewas ter/dipanah oleh seseorang, dan Anak Panah 'spesial' yang kini disita polisi adalah anak panah yang sama dengan anak panah dalam kotak kaca. Hal ini berarti, salah satu dari anggota klub panahan-lah yang membunuh Archie.

Rene selesai lebih dulu, Ia langsung pergi ke kamarnya. Begitu pun Emily. Hana, Theo, Flo dan Differ kini duduk di meja makan, mereka juga sudah selesai tapi tak ada yang beranjak

"Menyebalkan!" Seru Flo, semua mata langsung tertuju padanya. "Sikap apa itu? Pergi begitu saja, tidak tau sopan santun!" lanjutnya ketus

"Mereka sedang berduka" jawab Hana bijak "Kehilangan seorang teman, apa kau tidak sedih?"

"Archie juga temanku, tapi ia tidak seharusnya ditangisi terus-menerus"

"Ya" kata Differ "kejadian ini baru kemarin, mereka akan baik nanti" Semua orang mengangguk setuju.

"Nah Theo, karna kau diam saja.. Lebih baik kau cuci piring!" Seru Flo

"Hah? Eh, Maurice! Ayo kita pulang! Bibi Jane pasti sudah menunggu" katanya sambil beranjak, Differ mengikutinya dari belakang

"Huh!" Flo mendengus lagi "dia sama menyebalkannya"

Sikap seseorang yang langsung pergi setelah makan memang menyebalkan. Tapi, bagaimana jika itu sebuah pertanda. Misalnya, akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan? Seperti yang terjadi pada Rene. Beberapa saat setelah makan siang yang tidak nyaman itu.. Ia mengalami kejang dan sesuatu yang di sebut Flo dan hipotensi juga aritmia. Ia keracunan, mungkin karna kokain atau amfetamin bisa juga MDMA, dekongestan, Intoksitasi teofilin dan Intoksikasi kafein. Istilah yang aneh, tapi bagi Flo yang notabene seorang apoteker, Rene keracunan kokain. Untungnya ia masih bisa selamat, pertanyaannya siapa yang meracuninya? Apa ini bunuh diri atau semacam pembunuhan berantai? Yang jelas, hal ini akan membuatnya banyak diam, ketakutan.

***

Hari ini ia, Theo dan Bibi Jane sedang sarapan dengan segelas kopi. Theo memilah-milah beberapa surat, dan menyerahkannya pada Bibi Jane.

"Ada surat untukku Theo?" Tanya Differ

"Hmm" Theo memilah-milah surat lagi. "Tidak ada" katanya. Differ menganggukan kepalanya.

"Theo!" Katanya tiba-tiba.

"Ya!" Theo agak kaget

"Ceritakan padaku lebih detail tentang anak panah itu, anak panah dalam kotak kaca" katanya

"Oh.." Theo melepas kacamatanya. Tidak sulit menyuruh Theo bercerita, dia memang senang bercerita.

"Panah itu merupakan panah spesial. Konon pernah direndam air suci. Karena ke-sakral-annya, beberapa kali pernah hampir dicuri, maka kami memasukkannya dalam kotak kaca yang terkunci. Kuncinya sendiri, seperti yang kau tau, hanya diketahui anggota senior di mana letaknya. Semua orang boleh menggunakannya, terutama ketika merasa akan menggapai suatu prestasi paling besar dalam hidupnya. Sebagai kenangan dan penyeimbang, di sisi lain ukiran "keberuntungan" itu diukir pula inisial nama penggunanya. Bisa nama keluarga ataupun nama kecil"

"Nah," kata Differ, merendahkan suaranya "Bagaimana kabar terakhir anak panah spesial ini?"

Theo menelan ludah, ia tidak suka topik ini "Yah, ada inisial baru di anak panah itu"

"Oh, ya?" Differ heran, seharusnya si pembunuh tidak meninggalkan jejak, atau itu jebakan?

"E. Inisialnya E. Ditulis setelah enam huruf sebelumnya" katanya

E? Differ mengingat anggota Klub berinisial E. Emilia dan Edison. Eh, tapi seperti katanya tadi, ini bisa saja jebakan bukan?

"Ya ampun!" Seru Theo. "Aku tak percaya ini!" Katanya lagi

"Jangan ribut Theo!" Kata Bibi Jane

"Millicent, Armstrong, Ursula, Rockburry, Illy..."

"Aku tau mereka, mereka pemanah profesional kan?" Kata Differ

"Coney, dan sekarang E!" Theo melanjutkan. "Mereka juga pengguna anak panah ini" Theo bersemangat

"Aku tidak tau Miss Coney pernah mencapai prestasi paling tinggi dalam hidupnya"

"Inisial mereka Differ! Inisial mereka!!" Kata Theo

"Kau kenapa sih Theo?" Differ heran melihat dia begitu menggebu-gebu

"Inisial! M, A, U, R, I, C, dan sekarang E!!" Kata Theo. Maurice Differ tersedak. Theo tersenyum. "Ini aneh sekali" katanya lagi. "Baiklah, aku harus pergi" Theo berdiri dan keluar rumah dengan pakaian formalnya

Differ meminum segelas air putih.

"Itu benar-benar aneh. Bibi, apa yang dikatakan Theo tadi benar?"

"Mana aku tau"

"Ah, Bibi ini.. Eh, Theo akan kemana dengan pakaian se-rapi itu?"

"Bekerja.."

"Dia bekerja?"

"Tentu saja, seorang pria harus bekerja" kemudian dia melanjutkan "aku tidak yakin apa nama pekerjaannya. Dia mengurus imigrasi, izin tinggal.. Seperti itulah"

"Aku hanya tidak percaya dia bisa bekerja"

"Dia cukup efisien. Mengerjakan sesuatu dengan cepat bahkan hampir tidak terlihat. Lihat, surat yang tadi diberikannya padaku. Ini formulir, dia sudah mengisinya, aku hanya perlu menandatanganinya"

"Formulir apa itu?"

"Panti jompo"

"Bibi akan masuk panti jompo!?" Differ kaget

"Ya, beberapa bulan lagi"

"Tapi, Bibi masih muda.."

"Ohya? Aku tersanjung mendengarnya. Tapi, aku cukup waras untuk mengetahui kondisiku"

Setelah selesai sarapan Differ, pergi ke kantor pos untuk mengirim sesuatu lagi pada temannya. Kali ini bukan pada Ashley juga bukan hanya surat. Ia ingat akan seorang temannya yang sangat suka budaya Asia, maka ia mengirimkannya beberapa bungkus teh hijau. Differ, menanyakan apa saja kandungan gizi yang membuat teh hijau menyehatkan. Sebenarnya Differ tidak bersungguh-sungguh menanyakannya. Ia hanya ingin membuat temannya yang seorang ahli kimia itu senang karena mendapat pekerjaan "Meneliti Teh Hijau"

Di kantor pos, Differ bertemu dengan Emily. Wajahnya terlihat semakin sedih setelah kejadian tempo hari.

"Apa yang ingin anda kirim Miss Dye?" Tanyanya

"Oh, ini beberapa surat warisan"

"Beberapa? surat warisan?"

"Aku, Rene, Flo juga Hana pernah bersama-sama membuat surat warisan. Dan Flo bilang ini saatnya mengirimkannya ke pengacara"

"Apa dia takut akan sesuatu?"

"Entahlah, ia memang mempunyai insting yang tajam"

"Begitukah?"

"Ya, aku rasa"

Differ bertanya-tanya apa benar Flo memiliki insting yang tajam atau mengetahui akan sesuatu? Seperti Robbie misalnya. Ia selalu bilang kalau dirinya mempunyai insting yang tajam, padahal dia hanya sudah tau dengan apa yang terjadi, tau dengan cara yang wajar. Apalagi, setelah kejadian keracunan kemarin, jangan-jangan Flo khawatir kalau kalau mereka akan mati

Differ dan Emily pulang bersama-sama.

"Kalau boleh tahu, maaf jika saya lancang.." Tanya Differ

"Ya?"

"Kepada siapa akan diberikan warisan anda?"

"Apa?!"

"Eh, anda tidak harus menjawabnya"

Emily berpikir sebentar, "anda bisa dipercaya kan?"

Differ membuat gerakkan di depan mulutnya. Tanda dia akan mengunci mulutnya soal itu

"Bukan hal besar" katanya "kami semua sepakat, akan memberikannya sebagian pada keluarga terdekat, juga Klub panahan dan anggotanya"

"Terdengar wajar" kata Differ "udara hari ini, dingin sekali.. Aku tidak mengerti, padahal ini musim panas"

"Masa sih" Emily melihat sekitarnya. Ia tidak memakai mantel. Differ hampir lupa, Emily tidak peka pada cuaca. "Dingin itu kemarin.. Saat kematian Archie, anginnya berhembus kencang sekali" lanjutnya

Ternyata ia tidak benar-benar tidak peka pada cuaca pikirnya.

Bersambung~

Anak Panah (Part 01)

Hari ini memang tidak cerah, langit bergemuruh walau tak jatuh air setetes-pun. Tapi, bagi beberapa orang, apapun tak boleh ada yang mengagalkan rencananya, bahkan cuaca. Seperti, Maurice Differ. Wanita muda ini menganggap bahwa di hidupnya yang tidak pernah ada yang ia kejar, ia hanya perlu mengikuti setiap kejadian yang terjadi di hidupnya, di iringi dengan rencana-rencana kecil yang paten, yang akan membawanya ke rencana lain. Dan begitulah hidupnya mengalir.

Maka, rencana kecilnya dua minggu ini, meski tidak di sukainya adalah menuruti titah atasan, teman, dan keluarganya untuk berlibur dari hiruk-pikuk kota sebelum ia jadi gila. Berlibur, benar-benar berlibur, tidak boleh secara sembunyi-sembunyi membuka kelas musim panas atau les fisika. Untuk itu, semua orang setuju untuk mengirimnya ke tempat yang ia kenal tapi ia tidak kenal. Yaitu, tempat dimana banyak teman untuk bicara, tapi tak ada yang ia ketahui tentang tempat itu. Mungkin kedengarannya baik. Tapi, manusia tidak pernah tau yang terbaik, tidak kecuali orang tua mereka. Mereka justru menanamkan bibit-bibit pemikiran untuk Differ, agar ia berlibur ke tempat yang dua puluh tahun lalu, ayahnya mencoba membebaskannya dari sana. Kampung halaman.

Tiga puluh tahun lalu, Differ di lahirkan sebagai anak kedua dari pasangan Mr. Differ dan istrinya. Tiga belas tahun kemudian, ayahnya mengirim ia dan kakaknya dari tempat paling barat di negara ini menuju tempat paling timur. Sebuah tempat di mana ia akan punya teman yang baik. Mereka bersekolah di asrama. Sendirian, dalam arti tanpa orang tua.

Tapi, semoga saja. Masyarakat Slagy Lac sudah berubah. Walau kenyataannya, disini waktu bahkan terasa berhenti.

***

Langit cerah, udara segar, memang suatu ciri khas dari desa terpencil. Slagy Lac bahkan terbebas dari masalah internal negara. Mereka seperti punya negara sendiri, adat sendiri, bahkan dunia sendiri.

Hari pertama liburan, ia habiskan untuk tidur, walau itu berarti hanya beberapa jam saja. Ayolah, menempuh perjalanan sejauh 140,94 km bahkan dengan pesawat, bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Hari kedua, Theodore Halle sepupunya mengajaknya berkeliling desa. Tapi tentu saja, 'objek wisata' pertama tidak lain adalah Klub Panahannya. Klub panahannya tidak terlalu spesial, meski pernah jadi spesial. Merupakan Klub paling tua di desa ini, yang berarti wajar jika paling dulu mati. Klub Panahan Slagy Lac, hanya tinggal 6 orang saja, dimana 4 diantaranya wanita dan 2 lainnya pria. Terdengar aneh, dan memang begitu. Pertama mereka memasuki suatu rumah kecil di samping lapangan.

Begitu masuk mereka langsung di sambut dengan pemandangan yang menyilaukan mata. Di ke empat dinding sejak ketinggian 1 meter berbagai benda di pajang. Anak panah, busur, piagam, mendali, foto-foto dan lain-lain, kecuali setumpuk Piala yang di pajang dalam sebuah lemari kaca raksasa.

Ada satu yang begitu menarik perhatian. Sebuah anak panah yang tinggal di sebuah kotak kaca sendirian dengan bantalan merah di belakangnya. Jika teliti, kita akan melihat bahwa di kayu panah itu terdapat ukiran yang bertuliskan 'keberuntungan' . Hmm, tidakkah itu akan mempengaruhi keseimbangan anak panahnya? Ia harus menanyakan hal ini pada Theo suatu hari nanti.

Theo terlihat mengambil beberapa anak panah yang ada di dalam peti, lalu memasukkannya ke dalam tas punggung. Setelah itu ia mengambil salah satu busur yang tergantung di dinding. Kemudian, mereka segera menuju lapangan di samping rumah kecil itu

Sisi utara lapangan terdapat baja yang di lapisi spons berwarna putih, masing-masing setebal 10 cm. Dan semua orang hanya boleh memanah ke arah utara. Sedang, sisi timur, barat dan selatan hanya di batasi semak-semak.

Terdapat kursi panjang di bagian selatan lapangan. Disana duduk seorang wanita dengan rambut panjang hitam legam yang di kuncir kuda, ia memiliki wajah asing, sepertinya orang Asia. Di sampingnya terdapat, pria tinggi kurus dengan wajah kaku, melihatnya saja Differ sudah tidak menyukainya.

Di tengah lapangan, tiga wanita sedang berlatih, dengan sasaran masing-masing. Yang paling kanan, memiliki rambut bergelombang dengan wajah anggun, kelihatannya sangat mahir, melihat semua anak panah tertancap di tengah sasaran. Lalu, jelas sekali dari sorot matanya merupakan wanita yang sangat energik dengan rambut keriting merah, meski begitu, dilihat dari sasaranya ia tidak sehebat wanita yang sebelumnya. Sedang yang paling kiri, mempunyai wajah sendu yang cantik, nampaknya baru mulai, dan belum menembakkan satu anak panah-pun.

Theo yang baik, menyuruh Miss Differ untuk duduk di kursi panjang. Sedang dia menghampiri wanita berambut keriting merah dan sepertinya mengajaknya bertukar tempat. Wanita itu menghampiri Differ dan minum air dari sebuah botol di dalam tas yang berada di samping kursi.

"Anda pasti Miss Differ" katanya "saya Flora, panggil saja Flo" dia menjulurkan tangannya.

"Salam kenal," jawab Differ, sambil menyambut tangannya

"Anda sudah berkenalan dengan Miss Hana?" Tanya Flo

"Miss Hana, ini Miss Differ. Miss Differ ini Miss Hana" Flo mengenalkan Differ pada wanita berwajah Asia itu

"Nah, ini Mr. Brood" Flo menunjuk pria kurus tinggi tadi.

"Edison Brood" Pria itu menyalami Differ. Differ hampir terloncat kaget, pasalnya suara pria itu sama sekali tak cocok dengan postur tubuhnya. Ia mempunyai suara berat yang seakan berasal dari langit-langit.

"Maurice Differ" Differ mencoba menghilangkan kegugupannya dengan bersuara datar

"Nah, Miss Differ, anda lihat wanita di ujung kanan sana?" Flo menunjuk wanita anggun
"Itu, Renata Coney"

Differ mengangguk, mendengarkan pemandu wisata kedua-nya setelah Theo. Flo ini, sama cerewetnya dengan Theo.

"Dan yang itu, adalah Emilia Dye. Jangan dekat-dekat dengannya jika ia sedang berlatih" katanya lagi. Setelah diam satu dua detik, Flo kemudian bicara lagi. "Hari ini sangat panas, aku akan ke pondok untuk mengambil beberapa gelas jus"

Kemudian mereka semua terdiam, menonton orang-orang yang sedang berlatih, Wanita anggun bernama Renata Coney itu masih dengan kemahirannya, tak pernah meleset dari sasaran. Sementara wanita berwajah sendu alias Emilia Dye, masih ragu-ragu menembakkan anak panahnya. Karena bosan, Differ mengabaikan peringatan Flo, dan menghampiri Emily. Emily kini mengangkat tangannya bersiap membidik dan tidak mempedulikan Differ yang ada di sampingnya. Differ berjalan ke utara, iseng menghitung jarak antara Emily dan sasaran dengan langkahnya.

Terdengar jeritan wanita dari berbagai arah

Para pria, meneriakinya agar menghindar

Maurice Differ refleks berjongkok sambil menutup telinga

Sebuah anak panah melesat di atas kepalanya dan langsung tertancap ke spons putih di utara lapangan

Anak panah tadi, hampir menembus tubuh Differ.

Semua orang menghampirinya, membantunya berdiri, dan memastikan dia tidak pingsan.

"Maaf, Maaf, saya sungguh tidak sengaja" ucap Emily, tentu saja, mana mungkin dia sengaja.

Differ kaget, sampai tak bisa bicara. Theo memutuskan membawanya pulang. Ia tau persis, Differ tak suka di pandangi, apalagi dengan tatapan merasa bersalah.

***

"Kau akan pergi?" Tanya seorang pria pada kawannya

"Ya, harus. Adikku yang nakal itu sungguh tidak tau diri, ayahnya meninggal, tapi dia tidak datang ke pemakaman. Minggu ini, pengacara keluarga kami akan membicarakan warisan. Tapi, tentu saja ia tak akan datang, maka kami yang akan menghampirinya"

"Sudah berapa lama kalian tidak bertemu?"

"Hampir 5 tahun, atau lebih. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya"

"Dia tinggal sendiri? siapa adikmu itu?"

"Eddy. Tidak benar-benar sendiri kurasa. Aku kenal beberapa temannya disana. Emily, Rene, Theo, dan seseorang wanita berambut merah"

"Wah, dia di kelilingi wanita?"

"Ya, wanita-wanita cantik"

"Wah, sudah larut, aku rasa aku harus pulang sekarang. Archie, kau akan datang ke Klub besok kan?"

"Hei, atlet terkenal ini mana mungkin absen"

"Dasar, ya sudah sampai jumpa. Aku akan bayar tagihannya"

"Ya! Terimakasih!"

Pria itu keluar dari kafe kecil sudut kota itu. Archie meneguk kopinya lagi, dan bergumam sendiri
"Minggu ini, aku akan kaya" lalu tersenyum.

*****

Kemarin, sungguh bukan salam perkenalan yang menyenangkan bagi Differ. Setidaknya lebih buruk dari pada ketika seseorang menghilangkan pulpen pertamanya di perpustakaan sewaktu ia kelas tujuh. Hari ini, sebagai permintaan maaf. Emily bersama dengan Hana mengajaknya pergi berkeliling desa.

"Anda tidak memakai mantel Miss Dye?" Tanya Differ

"Apa harus?" Emily melihat ke langit

"Tak apa Miss Differ, dia memang begitu" jawab Hana

"Kemana kita sekarang?" Tanya Differ lagi

"Anda mungkin mau melihat proses perluasan Klub menembak Miss Differ?"

"Aku mengikuti langkah kaki kalian" jawabnya.

Maka, mereka melihat pembangunan lapangan tembak. Stadion tepatnya, stadion itu terletak di samping hutan, perluasannya tentu akan membabat hutan. Banyak orang di sana, aneh, aneh sekali. Apa yang menarik dari pembabatan hutan dan beberapa pekerja yang memasang bata. Tapi, disana ada beberapa atlet tembak ternama, yang mencoba lapangan yang konon akan menjadi yang terbaik di seluruh negeri.

Differ bertemu banyak orang, Emily dan Hana mengenalkannya, tapi ia tidak bisa menghafal semuanya. Umumnya orang-orang tua yang ternyata dulu merupakan anggota Klub panahan juga.

Seseorang menghampiri mereka, ia bukan atlet tembak atau pun panahan.

"Hei! Maurice!" Ucapnya. Differ mengerutkan kening. Siapa dia?

"Maaf apa saya mengenal anda?"

"Kau tidak ingat aku? Aneh sekali, padahal dulu ingatanmu kuat" katanya lagi.

Differ menyelidiki wajahnya lagi, ia ingat sesuatu tentang musim semi. "Spring?"

"Sprig, Inspektur" ia mengenalkan dirinya

"Oh, dan apa yang kau lakukan disini?"

"Liburan musim panas" jawabnya.

"Miss Differ, ayo pergi ke bendungan, Mr. Grake mendapat ikan besar!!" Hana menarik tangan Differ.

"Oh ya, sampai jumpa Sprig" ia melambaikan tangan selagi bisa.

***

Kini mereka berdiri di atas jembatan. Melihat orang-orang yang sedang memancing di bawah.

"Anda bukan orang sini kan Miss Hana?" Tanya Differ

"Saya lahir dan besar disini Miss Differ, tapi ayah saya memang orang Asia. Ikut Klub panahan-pun memang sejak kecil. Dan sekarang saya menggantungkan penghasilan dari menjadi atlet panahan profesional" Jawabnya sambil menambahkan informasi yang tidak ditanyakannya

"Bagaimana dengan anda Miss Dye?" tanyanya pada Emily

"Saya dari luar kota, Miss Differ, dan sebenarnya saya ini saudari angkat Rene. Dan ikut dengannya ke sini beberapa tahun lalu, tapi saya baru bergabung dengan Klub memanah sekitar dua bulan lalu. Saya sendiri bekerja sebagai artis teather di kota sebelah" Jawabnya, mengikuti format jawaban Hana

"Begitu" Katanya sambil memejamkan matanya, entah mengapa ia merasa sedih, sangat sedih.

***

Archie sudah sampai di desa ini, ia bersama pengacara ayahnya. Ia menghirup udara desa yang segar dan merasa sangat bahagia.

"Keadaan tidak akan lebih baik lagi" katanya

Archibald Brood adalah satu-satunya saudara kandung Edison Brood. Mereka tinggal terpisah setelah ayah mereka mengutus Eddy untuk menjaga rumah nenek moyang mereka di desa ini. Archie merupakan salah satu atlet tembak ternama, meski begitu tak banyak orang tau mengenai kehidupan pribadinya. Ia dulu pernah satu sekolah dengan Rene dan Emily.

***

Hari ini, Differ mengirim surat pada sahabatnya di kota. Awalnya ia ingin menggunakan media yang lebih modern, tapi bibi Halle bilang, kartu pos lebih baik jika ingin menceritakan pengalaman di suatu tempat wisata (?). Karena si penerima akan menyimpan kartu pos itu dan suatu hari akan datang kemari. Baiklah, itu cukup masuk akal.
Padahal yang di ceritakan Differ adalah hal-hal buruk yang baru di alaminya di sini, dan mungkin setelah membacanya, Ashley tidak akan mau menginjakkan kakinya di sini

***

"Kalian tentu mengerti, sebagaimana yang tertulis di sini maka dapat disimpulkan bahwa ... " Pengacara itu menghentikan kalimatnya, untuk membetulkan kacamatanya, menelan ludah dan hendak berbicara lagi, Tapi Eddy menghentikannya

"65% kekayaan ayah untuk Archie, sementara aku 35%?"

"Sebenarnya, 65% untuk Archie, dan sisanya anda, sanak saudara yang lain, juga beberapa badan amal" pengacara itu menelan ludahnya lagi. Untuk pembagian warisan yang tidak adil seperti ini, mengherankan Eddy bersikap cukup tenang.

"Tak apa Eddy, aku tetap kakakmu. Kau selalu bisa meminta bantuanku" ujar Archie.

Untuk si pengacara, itu adalah kalimat paling dermawan yang pernah didengarnya, dan membuatnya tenang. Bagi Eddy yang kenal betul kakaknya, itu adalah penghinaan.

Malam itu, Eddy mengundang teman-temannya (termasuk Differ) untuk makan malam demi menyambut Archie. (Hubungan kakak-adik ini memang aneh)

Makan malam itu terasa ramai, semua orang bercerita, berbicara dan menjadi secerewet Flo dan Theo. Namun, Archie yang bahagia sering kali mengeluarkan kalimat pedas yang membuat suasana tidak nyaman beberapa kali.

Semua orang pulang, Archie memberikan sebuah surat pada Rene. Yang nantinya akan membuatnya sangat bahagia

"Apa isinya?" Tanya semua orang di jalan pulang.

"A.. Aku akan menjadi Mrs. Brood?" katanya, dan semua orang tau apa artinya

"Kau dilamar Archie?" Tanya Flo

"Sesuatu yang bahkan lebih baik dari itu!" Katanya

"Ya ampun! Apalagi yang lebih baik dari itu?!" Hana bersorak kegirangan

"Selamat Rene" Suara Emily bergetar.

***

Pagi ini, sesuai dengan yang telah di janjikan. Mereka semua kecuali Differ, akan pergi berburu ke hutan.

Semuanya sudah masuk hutan, kecuali Archie dan Rene. Archie bilang ia ingin memberikan Rene sebuah pertunjukan menembak, tapi semua orang tau bahwa ada yang ingin dibicarakannya.

Semua orang benar-benar masuk hutan. Kecuali satu. Karena 20 menit kemudian. Terdengar jeritan Rene. Dan sebuah anak panah menembus rompi anti peluru Archie.

Archie tewas seketika.

Bersambung~