25 Desember 2014

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Pertama)

Okelah, memang rasanya aneh bikin cerita kehidupan pribadi saya di sini. Sesuatu yang selalu amat saya hindari, tapi kini saya lakukan. Tapi yah, gak apa-apa lah, sekali-kali. Sekarang udah susah nemu orang yang mau dengerin cerita saya yang panjang lebar (mungkin belum), so let me tell you a story J

Penempuhan Badge Ambalan SMA Negeri 01 Ciawi, bisa dibilang adalah kegiatan camping di sekolah selama dua hari satu malam. Ini bukan definisi sebenarnya karena arti kata Penempuhan Badge Ambalan sendiri terdengar seperti usaha untuk mendapat Badge Ambalan, iya kan? Oke, langsung aja, saya berangkat dari rumah jam 11.00 WIB dengan asumsi akan tiba pukul tepat 12.30 (menjelang weekend, siang, dan puncak. Kalian tau bagaimana keadaanya) Membawa tas gendong berisi kebutuhan pribadi dan tas jinjing berisi natura, serta berpakaian pramuka lengkap.

Saya sampai di sekolah sekitar jam 12.00 —mungkin kurang—sekolah masih sepi tapi sudah ada beberapa yang datang. Di depan X-3 misalnya, ada Opie, Wanti, Dini dan Murni. Sambil nunggu kami mulai mengobrol, mungkin sedikit bergunjing. Terutama tentang kegiatan PBA itu sendiri. Tentang kurangnya informasi mengenai waktu di mulainya acara (di surat dikatakan pukul 14.00, akun twitter @ottisfatsman1c mengatakan pukul 13.00), isu mengenai kebenaran harus membawa baju ganti (dan harus merah untuk putri), mengeluh tentang banyaknya natura yang dibawa, dan akhirnya memaklumi bahwa pada awalnya kegiatan ini direncakan untuk tiga hari dan panitia tidak sempat membuat banyak revisi.

Pukul 12.30, kami mulai mengeluh lapar. Untunglah pintu gerbang sudah dibuka (sewaktu jam shalat jum'at, pintu gerbang ditutup, karna satpam pergi). Teman kami, Anisa (dan teman-teman yang lain) sudah bisa masuk, dan dia bawa banyak snack :9. Kami mulai mencari jajanan di luar sekolah (karna kantin tutup), kebanyakan berencana membeli kentang goreng, saya sendiri belum tau mau beli apa. Kemudian saya lihat gerobak Lumpia Basah, tak ada yang spesial memang kecuali amang jualanya adalah amang yang saya sebut sebagai ‘amang profesional’, yeah! He's back! Tanpa babibu saya langsung kesana dan memesan satu porsi. Iseng nanya kemana aja si amang pergi selama ini dan entah serius entah tidak dia menjawab kalau dia pergi umroh. Makin lama makin banyak yang datang dan memesan kalau tidak salah ada lima orang termasuk saya. Dan untungnya kami semua memesan rasa sedang, kecuali Murni yang dengan riweuhnya pengen gak sedeng dan gak pedes. She want spicy in level ¼ K

Sekembalinya ke depan kelas, keadaan sudah mulai ramai. Lalu kami pergi solat dzuhur, eh sebenarnya saya gak terlalu inget mana yang lebih dulu jajan atau solat. Tapi waktu saya solat, ternyata banyak orang yang ngumpul di mushola, khusunya Hania, Santi, Ai.

Kalo gak salah, sekitar jam setengah dua upacara pembukaan dimulai. Itu pun baru gladi resik. Kami (peserta kegiatan PBA) baris persangga, saya sendiri adalah anggota sangga perintis ambalan 12 atau dulunya sangga 14. Sangga gacul (tolong jangan dianggap serius) saat itu hanya ada 4 orang, saya, Hania, Salwa dan Intan. Begitupun sangga lain yang tidak lengkap dan ketakutan pun jadi kenyataan, dibuatlah sangga baru supaya lebih merata. Pada akhirnya saya masuk sangga 3 dengan Nadia, Santi, Salwa, Intan, Opie dan Maulida. Eh, sebenarnya itu bukan anggota sangga 3 yang resmi, karena sebagaimana naluri anak ABG egois banyak sangga yang bertukar anggota termasuk saya XD.

Pembukaan berjalan dengan tenang dan damai, meski sempat ngerasa aneh waktu Bu Ana menyebut dirinya kakak.

Upacara selesai, dan acara sesungguhnya dimulai. Panitia menyuruh kami untuk mengambil tas dan kemudian menyuruh pinsa untuk mengumpulkan natura, beberapa hal yang saya ingat saat itu; telur Refa pecah, Egha minta sebagian roti saya dan banyak orang riweuh karna natura mereka tidak dalam satu tas (tapi saya tidak, dan saya bangga). Selanjutnya, panitia mulai menyuruh sesuatu yang membuat sebagian anggota shock, para pinsa dan wapinsa dititah untuk mengembalikan tas anggotanya ke tempatnya semula, dan tas-tas itu kan berat sangad ._.

Ada beberapa peraturan yang diterangkan oleh panitia setelahnya—atau sebelumnya?— diantaranya; semua handphone wajib dikumpulkan pada panitia —padahal disurat edaran sudah disebutkan mengenai larangan membawa Hape, saya tidak bawa hape dan lagi-lagi saya merasa bangga—lalu isyarat peluit, tentang aturan salam pada orang yang lebih tua (saya lupa sama sekali dengan aturan ini, dan tidak menerapkannya)

Selanjutnya kami dibawa ke ruang aula untuk mendapat materi, dari Kak Ruri mengenai navigasi dan Kak Syam menceritakan masa lalunya sebagai salah satu pelopor Ambalan OttisFat. Jujur saja, materi dari Kak Ruri terlalu membosankan hingga saya beberapa kali tertidur (walau harus waspada karna Kak Wira foto-foto), untungnya beberapa kali beliau memutar video yang menghibur (Charlie Caplin dan perjuangan Muhammad Al-Fatih, btw saya tidak tau apa relasi antara video-video ini dengan kepramukaan—saya kan tidur—). Dan cerita dari Kak Syam sangat menginspirasi, diantaranya beliau bercerita mengenai kebanggaan sekaligus keprihatinannya atas masih digunakannya lambang dan nama Ambalan OttisFat, makna-makna lambang Ambalan OttisFat, lagu asli Nuju Ambalan :

Mari bersamaku yayaya nuju ambalan yayaya nuju ambalan nuju ambalan

Mari bersamaku yayaya nuju ambalan yayaya nuju ambalan di pantai damai
Disana tak ada yayaya orang yang cedera yayaya orang yang cedera orang yang cedera
Disana tak ada yayaya orang yang cedera yayaya orang yang cedera di pantai damai
Yang ada disana yayaya satuan saja yayaya satuan saja satuan saja
Yang ada disana yayaya satuan saja yayaya satuan saja di pantai damai

dan lain-lain.

Acara itu akhirnya ditutup untuk kemudian dilanjutkan dengan makan (±17.30), rupanya bekal yang diminta dibawa panitia adalah untuk saat itu, namun banyak yang malas untuk membawanya (termasuk saya). Pada akhirnya, seluruh bekal peserta—yang membawa bekal— dikumpulkan dan dimakan bersama-sama. Namun untuk 'mencampurkan' bekal-bekal itu, panitia butuh waktu. Sehingga peserta dikumpulkan lagi dilapangan dan Kak Okky mulai mengalihkan perhatian kami dari makanan. Salah satu yang paling saya ingat adalah ketika dia bertanya tentang dari kelas mana saja kami berasal. Ketika X-1 dan X-2 dipanggil semuanya damai-damai saja. Namun saat X-3 dipanggil, sekilas Wanti menyahut "panglobana" dan kami bersorak. Hal ini di ikuti oleh kelas lainnya, kecuali salah satu kelas yang siswanya sama sekali tak ada yang ikut. Beberapa kelas merasa ini tidak adil sehingga 'pemanggilan' kelas diulangi lagi, kini kelas X-1 dan X-2 ikut bersorak, dan semua beradu sorakan paling keras, namun pada akhirnya kelas apa pun yang dipanggil semua peserta ikut bersorak XD

Kami mulai makan, diatas kertas nasi yang disambung secara lesehan didepan meja piket. Terjadi simbiosis mutualisme yang sangat indah, antara orang-orang yang kelaparan dan orang-orang yang tak suka dengan makanan campuran itu, ngomong-ngomong saya termasuk orang kelaparan :p.

Setelah solat Maghrib, pengajian (yang hanya diikuti segelintir peserta) dan solat Isya. Acara dilanjutkan dengan lagi-lagi kegiatan di aula. Bedanya kali ini merupakan acara perkenalan kakak-kakak alumni dan pengalamanya mengenai kepramukaannya. Yang paling berkesan diantaranya; Kak Zeli (yang kenyal :p) alias Kak Ager, Kakak polongo XD, lalu ada satu-satunya kakak perempuan yang dimodusin si Rifal. Acara paling mengesankan mungkin ketika Salma (si kembar) dihipnotis oleh salah satu kakak kelas. Ya! Dihipnotis! Dia dibuat lupa siapa namanya, dan dibuat menganggap dirinya Jessica Mila lalu dibuat mengaggap semua peserta adalah boneka dan menurutnya Ardini adalah boneka yang paling lucu. Akibat acara hipnotis itu, Salma jadi diledek Jessica Mila.

Api unggun, mungkin adalah acara yang paling menyenangkan. Sambil mengelilingi api unggun para peserta yang berkenan dipersilakan untuk menghibur teman-temannya. Diantaranya yang saya ingat; Loren yang bernyanyi sambil bergitar (saya gak tau judul lagunya), Kak Zaki yang menunjukkan aksi menyembur api dengan minyak dari mulutnya, Yulia, Lidya, dan Iis yang menyanyikan Price Tag dengan improvisasi mereka yang khas, kelompok Nasyid yang bernyanyi lagu 135.000.000 (sambil melawak), lalu sangga 7 yang bernyanyi lagu yang ... Bikin ngakak.

And the nightmare goes on. Jam sebelas malam kami disuruh makan (it is weird isn't it?). Makanannya sih enak namun porsi banyak sekali, banyak peserta mengeluh kekenyangan. Tapi, kami tidak boleh tidur sebelum makanan habis. Bahkan salah seorang peserta ada yang kurang ajar, dia berdiri padahal makanan habis dan ketika diminta duduk lagi dia bilang

"Heueh deuh gandeng"

Juga kejadian tidak mengenakkan dengan cara panitia mengoper makanan putri ke putra yang membuat kami berpikir:

"Kayak ngasih makan kucing"

Waktu makan yang disediakan adalah 15 menit, namun kami baru selesai 45 menit kemudian dengan penuh perjuangan. Ngomong-ngomong, kami makan diatas polybag sampah, hal ini mungkin yang menyebabkan banyak peserta jadi tidak nafsu. Mengenai polybag sampah, saya sempat bercanda dengan Wanti sebelumnya bahwa makanan yang akan kami makan nanti akan dimasukkan kedalam polybag dan dikocok-kocok sambil dibanting.

Finally, bed time! Sebelum tidur tentu kami diberi waktu untuk sikat gigi dan lain macam sebagainya, namun ada adegan tidak mengenakan saat kami sedang sikat gigi di keran wudhu. Kak Wira mencuci polybag bekas kami makan (semoga hal ini hanya untuk menakut-nakuti saja). Oke, karna waktu sudah hampir jam 12 dan konon kami akan dibangunkan jam tiga pagi, Ambalan saya memutuskan untuk tidur dengan sepatu dan setangan leher, jadi ketika bangun nanti kami tidak kerepotan. Jujur saja, saya tak bisa tidur nyenyak. Saya tidur persis di depan pintu, dan menghadap ke pintu (soalnya eungap). Dan dari luar terdengar suara-suara, suara pintu dibuka, ditutup, dipaksa dikunci, digaruk dan lain-lain. Itu menyebalkan, apalagi setelah dipaksa makan sebelumnya dan saya kaget bukan kepalang ketika esoknya teman saya bilang, kalau yang membuat suara-suara itu bukan panitia, mereka bukan manusia

"Mana mungkin mereka (panitia) mau repot-repot gangguin kita"


Dan saya teringat ketika iseng membuka mata dan melihat pintu terbuka, sementara tak ada orang di luar dan saya kepanasan ._.

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^