26 Desember 2014

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Kedua)


Kami dibangunkan jam 4 (ngaret -_-) dengan senter, dan diminta berbaris di lapangan. Kebanyakan langsung bergegas sikat gigi dan cuci muka namun panitia bilang hal itu bisa dilakukan nanti setelah subuh--jadi saya tidak sikat gigi pagi itu--. Pagi itu, kami diberi kertas berisi petunjuk mengenai suatu tempat, ditempat itu kami akan menemukan badge ambalan. Mungkin inilah inti acara 'Penempuhan Badge Ambalan' ini.

Sangga saya mendapat petunjuk "Jam Dunia". Tentu saja kelompok saya langsung menuju meja piket dimana ada jam yang menjadi patokan seluruh sekolah.
Yah, sulit sekali menemukannya kalau bukan karna bantuan seorang kakak kelas, mungkin kami tidak akan bisa menemukannya. Jadi badge itu ditempel di tiang yang berada dalam satu garis lurus dengan 'jam dunia'. Padahal kita udah nyari kesitu -_-. Oke, sangga saya sudah dapat, lalu apa? Hal yang harusnya kami lakukan adalah melapor pada panitia. Namun, untuk berjaga-jaga kami menghafal dulu makna-makna dari badge Ambalan itu.

Nah, yang mau tau berikut saya jabarkan: *maaf belum sempat foto badge-nya
1. Bentuknya segilima, maksudnya Ambalan Fatmawati berlandaskan pancasila.
2. Warna dasar kuning, melambangakan kedewasaan
3. Warna dasar hijau, melambangkan kesuburan
4. Bentuk Bhayangkara karena salah satu perintis ambalan ini adalah anak polisi selain itu dulunya ottisfat sangat aktif dalam saka Bhayangkara
5. Warna merah putih, melambangkan bendera merah putih
6. Padi kapas melambangakan kesejahteraan
7. Siluet kelapa kuning yang berhadapan melambangkan penegak dengan persaudaraan
8. Bintang melambangkan cita-cita yang tinggi

Setelah menghafal makna dari lambang-lambang itu, rupanya masih ada dua lambang yang kurang. Yakni garis hitam-putih dan bunga tiga kelopak.

Untuk bunga tiga kelopak, saya berhasil menebak bahwa itu melambangkan tri satya dan garis hitam-putih kami diberi tahu Rifal bahwa itu berarti perbatasan antara alam manusia dan alam gaib (duuh). Keduanya benar, namun kami masih harus mencari nama bunga tiga kelopak. Salahkan kami yang bertanya ke kakak putra, kebanyakan mereka menjawab bunga Kamboja. Padahal jawaban ini salah -_-

"Memang mau mati?" Kata Kak Winda.

Tapi, saat kami bertanya ke kakak yang lain, jawaban mereka sama: 'bunga kamboja'

"Kenapa sih harus Kamboja" tanya Salwa

"Karena kuning, saya suka warna kuning" *digampar

Pada akhirnya, kami diberi petunjuk. Bunga itu bunga langka, terdiri dari tujuh huruf. Huruf pertama T, huruf keempat J. Sebagian dari sangga saya pergi bertanya ke kakak kelas yang lain dan sebagian lain merenung. Dan Santi bisa menjawab teka-teki itu :D. Tanjung, nama bunga itu adalah Tanjung.

'Jam dunia' menunjukkan pukul 05.00 kami dipersilakan untuk solat subuh sampai jam set 6. HANYA SOLAT SUBUH (kak, saya kapan sikat giginya? -_-) setelah itu, kami dibariskan lagi dan diberi sarapan bubur kacang hijau. Ada isu bahwa kami juga harus menghabiskan semua yang ada di gelas kami, termasuk jahe-jahenya. Apalah daya saya yang kebagian jahe hampir sebesar tiga jari sedang yang lain tidak dapat ditambah ditemukan pula seekor--umm--entah lalat entah lebah entah ngengat dalam kacang hijau saya. Tapi yang paling ngeselin saat itu mungkin ketika Kak Okky berkeliling mengumpulkan sisa makanan. Saya yakin yang dimaksud Kak Okky adalah jahenya saja, namun ada peserta yang membuang semua kecang hijaunya dengan alasan:

"Gak kuat santen kak"

Perlu saya beritahu, pembaca sekalian. Jadi saat kita mengambil bubur kacang hijau itu. Kacang hijau dan santannya dipisah, DIPISAH! *maaf capslock jebol*

Next, sambil ogah-ogahan kita senam. Awalnya saya kira, kami akan senam pramuka. Namun lagu yang diputar berbeda, seperti lagu daerah yang pernah saya dengar dari acara The Comment. "Sekarang manise, Nona manis putarlah ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri dan ke kiri, ke kiri, ke kiri, ke kiri manise"

Jam 8 kami berangkat lagi, entah kemana yang jelas kami jalan kaki dari gang SMA PGRI selama satu setengah jam dan keluar di Gang deket Alfamart. Luar biasa. Tentu saja banyak kejadian dalam perjalanan itu. Kelompok saya sempat salah jalan hingga menjadi rombongan terakhir (akibatnya setiap kami baru sampai untuk beristirahat, rombongan lain sudah siap untuk berangkat lagi); saya dan Neo sepakat untuk mencari tali lalu menggantung Adam di pohon dan menuliskan bahwa ia adalah hasil observasi kami terhadap salah satu Iwan (Nugelodi Ciawinthropus); saya geram dengan sepatu saya dan memutuskan untuk nyeker; kami menonton kerbau dan Kak Zaki menjelaskan kenapa sawah harus dibajak; saya kehilangan kelompok saya karna berjalan terlalu cepat; saya dan Santi terlalu frustasi sehingga mencoba menghitung percepatan dan perlambatan kami saat  tanjakan atau turunan.

Acara dilanjutkan dengan games.
Games pertama, kami mulai dengan pos kedua. Disini kami harus berbaris dengan balon diantara punggung dan perut masing-masing. Lalu dengan jalur yang ditentukan, kemudian diujung lintasan terdapat balon air yang harus dipecahkan. Saat itu aturan belum matang, sangga saya berhasil dengan mudah dan mendapat tiga bintang.

Games kedua, di pos ketiga. Dengan menggunakan selembar polybag, kami diminta membawa sebotol air mineral.

Games ketiga, di pos keempat. Ada tujuh kotak dan satu lingkaran. Setiap anggota dari sangga kami diminta untuk berjongkok dimasing-masing satu kotak dan satu orang berdiri di lingkaran. Orang yang berdiri di lingkaran akan melempar kantung air ke orang yang ada dibelakangnya, sebisa mungkin kami diminta untuk menangkap bola air itu. Pada games ini kakak penjaga pos berbaik hati menjelaskan makna permainan ini. Bahwa setiap kotak adalah lahan kerja, dan orang di lingkaran adalah pemimpin. Pemimpin harus tahu lahan kerja anggotanya, bukan hanya itu juga tahu kesiapan anggotanya. Malangnya, kalimat ini justru menjadi senjata makan tuan

Games ke empat, kami pergi ke pos satu. Dimana dalam posisi melingkar, kami akan mengoper bola masing-masing ke teman dengan satu tangan. Yaah, pokoknya gitu

Games ke lima, di pos kelima. Ada empat kotak yang memanjang, dan sebuah botol didepannya. Setiap kotak memiliki nilai sesuai dengan jaraknya dengan botol. Kami diberi empat kesempatan, untuk menjatuhkan botol tersebut. Aturannya satu kotak boleh dengan orang yang berbeda, orang yang sama tidak boleh dikotak yang sama.
Kesempatan pertama, Salwa melempar dari kotak poin satu, dan lemparannya kena.
Kesempatan kedua, ketiga, keempat, Gagal

"Kesalahan kalian, kalian punya kesempatan bagus dengan Salwa dikotak pertama. Kenapa tidak dengan orang yang sama tadi dengan kotak yang sama? Maknanya, kalau kalian ingin meningkat harus tahu diri"



Sehabis shalat dzuhur, kami diminta makan (lagi). Dengan porsi yang sama horrornya dengan semalam. Dan lagi-lagi kami juga kewalahan menghabiskannya, atau mungkin beberapa kewalahan. Entah kenapa saya yakin, sebagian hanya pura-pura kenyang atau males makan dan menyiksa kami yang mereka anggap tempat sampah. Ohya, ketika ini terdapat juga insiden tidak mengenakan. Seorang siswa X-4 yang akrab disapa Doyok ‘menyampaikan aspirasinya’. Menggunakan alasan games di pos keempat, ia menolak membantu putri menghabiskan makanan karna lahan kerja mereka yang berbeda. Selanjutnya ia dibentak oleh Kak wira yang--katakanlah--sudah lelah.
“Lu mau makan tulang temen sendiri?!”

Pertama, kesalahan panitia yang salah menyampaikan pesan. Sepertinya lebih cocok kalau kotak-kotak di games pos keempat disebut sebagai ‘kemampuan’ dan bukannya lahan. Lahan terdengar seperti kata benda sehingga dapat diartikan secara harfiah, dalam hal ini lahan adalah bagian yang mereka dapatkan. Sedang kemampuan adalah kata sifat yang meski diartikan secara harfiah tetap tepat. Kemampuan menangkap bola air, karena kami berjongkok disetiap kotak sehingga sulit mencapai kotak lain. Kemampuan untuk makan, karna hal ini tergantung kapasitan perut dan bukan bagian yang kita dapatkan. Dengan kata lain, kemampuan adalah yang bagian dapat mereka dapatkan.

Kedua, yah saya merasa siswa ini juga salah. Banyak siswa lainnya menganggap perbuatannya benar dan didasarkan ats musyawarah, tapi menolak membantu siswa putri yang kekenyangan? Seriously? Jahat amat. Ketiga, saya merasa sikap kak Wira agak lebay, apalagi setelah kejadian membentak itu, ketika kak Oky membantu menghabiskan makanan ia berkata “Lu mau jadi pahlawan?”. Apasih salahnya membantu?

Ada banyak waktu sebelum acara penutupan. Kami diminta membereskan kamar, atau beres-beres. Setelah acara penutupan, kami diminta menyampaikan kesan pesan mengenai acara ini. Adam dan Jafar maju kedepan, umumnya keduanya menyampaikan tidak suka dengan cara panitia yang tidak menghargai makanan, kak Fadli yang malah pacaran ketika acara games berlangsung dan lain-lain. Kakak kelas siswi menyambut kritik dengan baik, Kakak kelas siswa jiga nu ambek ._.

Dua hari kemudian, Senin pagi. Saya dan teman-teman saya membahas lagi kegiatan PBA. Tentang santan pecah, tentang Rifal dan tokek belang XD, tentang siswa yang mendengkur di ruang tidur mereka, tentang ketidaksiapan panitia, tentang orangtua mereka yang menyuruh ‘makan’ sepulangnya, tentang kesan mereka pada keseluruhan acara.

Yaah, semoga PBA tahun depan lebih baik daripada kali ini.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^