11 November 2014

Pencuri di Asrama - 1

Saat itu sudah pukul 9 malam, kebanyakan siswa sudah di kamarnya, walau sebenarnya mereka masih boleh berkeliaran di lingkungan asrama sebelum jam tidur pukul 10 malam nanti. Langit cerah malam itu, bintang akan terlihat indah andai saja asrama itu tidak terlalu terang. Maurice sedang dikamarnya bersama Ashley, mereka membicarakan hal-hal yang tidak penting tapi menyenangkan. Walau disaat yang sama, Maurice sedang menunggu sesuatu yang menurut Robbie akan datang pada pukul 9:30. 

"Makanya kubilang mangkuk itu lebih berguna--" Kata Differ 

"Tapi tugas piring yang utama adalah menampung makanan kering!" Sahut Ashley

"Aku kan sudah bilang kalau mangkuk juga bisa melakukannya, dan piring tidak bisa menampung makanan basah" 

"Bisa saja, kalau makanan itu tidak terlalu basah. Piring masih memiliki cekungan" 

"'kalau' tidak dihitung" Maurice merasa sudah menang 

"Eh, aku ingat! Bagaimana dengan pizza? Mangkuk tidak cukup luas untuk menampung pizza! Sudah kubilang mereka punya tugas masing-masing!!" 

Differ tidak menjawab, ada suara ketukan di pintu. Ia menatap jam dinding, 21:37. Baiklah, apapun itu ia terlambat tujuh menit. Ashley buru-buru membuka pintu dan menemukan amplop besar di depan kakinya, ia menengok ke lorong, seorang anak lelaki berlari menjauh. Ashley memanggilnya, namun anak laki-laki itu tidak menengok sedikitpun. Kemudian gadis itu membawa amplop besar itu masuk. 

"Untukmu Maurice, dari Sprig umm ketua satuan penyidik asrama bagian D?" Ashley terkekeh sambil menyerahkan berkas itu pada Differ. 

"Kali ini diantar, baik sekali" kata Differ. Kemudian ia membuka dan mengeluarkan isi amplop itu. Seperti yang diduga, ada sobekan-sobekan koran sekolah, Sebuah catatan kecil dan beberapa lembar--, eh tunggu, uang itu tidak ada. 


"Apa ini Differ?" Ashley mengambil suatu kertas berwarna merah menakutkan. 

Hai 
Mencari sesuatu Maurice? Mungkin beberapa lembar uang atau sesuatu yang berharga? Maaf soal itu. Aku punya cara yang lebih ampuh agar kau mau membantuku menyelesaikan kasus ini. Apa itu? Singkatnya, kau juga salah satu tersangka, maka buktikan kalau kau bukan penjahat. Jangan abaikan kasus ini Maurice, kau tau? Di Amerika, polisi putus asa menjadikan orang tak bersalah sebagai terdakwa, tentu kau tidak ingin maju dalam sidang sekolah kan? 

"Sial!" Kata Ashley "Ini pemerasan namanya!" Katanya lagi 

Maurice mengangkat bahu, tidak peduli dengan ancaman Sprig. Kasus yang biasa ditanganinya kan seringkali tidak berat, mana mungkin masuk sidang sekolah. 

"Ini kacau!" Kata Ashley lagi, ia menaruh catatan-catatan itu "Kasus pencurian selama dua tahun terakhir! Dan kita jadi tersangka!" 

Differ menelan ludah. 

Jangan heran jika selama dua tahun terakhir terjadi pencurian terhadap barang-barang siswa dan tidak ada keributan polisi sama sekali. Pihak sekolah memiliki gengsi yang terlalu tinggi untuk memanggil polisi dan memberitahu masyarakat bahwa di asrama mereka ada murid yang berkelakuan buruk. Paling-paling laporan ketidak-adilan itu hanya sampai ke koran sekolah yang dalam memuat berita-pun harus disetujui oleh komite sekolah dan tidak boleh menjelek-jelekkan siswa. Dan kemudian di abaikan begitu saja. 

Itulah kenapa ada orang-orang macam Sprig. Mereka yang tidak terima akan ketidak-adilan, secara alami ditambah rasa penasaran, mencoba membuat kelompok detektif amatir. Mereka menyelidiki lalu ketika semuanya tuntas, pada tengah malam para korban dan tersangka akan dikumpulkan di ruang olahraga untuk pembuktian. Inilah yang disebut sidang sekolah, walau yang menjalankannya para siswa. Setidaknya, selama bertahun-tahun kegiatan di luar aturan belum ketahuan. Mungkin sudah ketahuan, tapi dibiarkan saja. Entahlah. Hukuman yang diberikan biasanya laporan kepada guru, atau jika tidak parah hanya diberi peringatan. Namun justru peringatan ini lebih sulit diatasi daripada dilaporkan pada guru. Karna semua orang tahu kalau ia bukan anak baik dan ia akan dijauhi semua orang. 

Differ berkali-kali di ajak untuk bergabung dalam kelompok ini. Dan berkali-kali pula ia menolaknya, menurutnya itu amat konyol. Meski begitu ia tidak segan untuk membantu. Sprig biasanya akan menaruh berkas kejahatan itu di suatu tempat tersembunyi. Lalu dengan bantuan Robbie, Differ bisa mengetahuinya. Dan untuk membuat Differ mau membantu pun tidak mudah, ia harus mengeluarkan beberapa shilling sebagai upah. Differ bukan orang yang materialistis, tapi menurut Robbie hal itu perlu dilakukan agar Sprig tidak meremehkannya. Pernah Sprig melakukannya (tidak memberi upah), dan Robbie bilang ia tidak perlu membantunnya. Differ memang tidak membantunya, tapi tetap menyelidikinya, toh ia memang suka melakukannya 

"Apa yang akan kau lakukan sekarang Maurice?" Ashley menatapnya kasihan 

"Robbie bilang..." 

"Persetan dengan yang Robbie katakan! Kakakmu itu pembisnis, ia tak mengerti tentang harga diri. Kau tidak tau apa yang akan dikatakan orang-orang jika kau masuk sidang sekolah" Kata Ashley memotong kalimat Differ. 

Differ menghempaskan dirinya ke kasur "Kalau begitu aku harus menyukai kasus ini" katanya kemudian ia membaca surat itu lagi, "'jangan abaikan kasus ini, Maurice'" 

*** 

Keesokkan harinya, Differ melihat Sprig dengan mata lebam. Memang aneh, mengingat ia penjilat paling unggul di asrama, sehingga sulit menemukan alasan mengapa ia babak belur begitu. Namun Differ segera tau alasanya ketika mereka berjalan bersisian, lalu Sprig berbisik padanya. 

"Pengadu!" 

Jelas ia dipukuli Robbie. Entah bagaimana Robbie mengetahui tentang pemerasan itu, ia punya banyak kaki tangan. Tapi yang pasti bukan Differ yang memberitahunya, ia tidak akan berbuat serendah itu. Lagipula, Differ bahkan tidak bertemu dengannya semalam atau pagi tadi. Mungkin teman-teman Sprig saja yang berkhianat, entahlah. 

Sudah tiga hari sejak Differ menerima berkas itu, namun sampai hari ini ia juga belum membacanya. Lagipula keadaannya tidak terlalu mendesak. Ia malas sekali, apalagi ini pemaksaan. Dan mungkin ia akan menundanya lagi kalau bukan karna kejadian hari ini. Saat selesai pelajaran olahraga dan seluruh teman asrama satu blok Maurice berganti pakaian. 

"Cincin ku hilang!" Kata Ashley. Sontak, seluruh orang di ruang ganti menengok kearahnya. "Cincin, peninggalan ibuku!" Katanya lagi. 

"Kau yakin menaruhnya di loker?" Tanya Differ 

"Aku menaruhnya dikantung seragam" suara Ashley seperti hendak menangis. 

"Ooh, loker itu" Jenny tiba-tiba saja angkat bicara. "Loker itu, memang banyak memakan korban" 

Semua orang mengerutkan dahi. 

Jenny tampak canggung. "Kau belum diberitahu Sprig, Maurice? Aku kira ia akan meminta bantuanmu, seperti biasanya" 

"Kau sepertinya tahu banyak, Jenny" kata Differ

Bersambung~

2 komentar:

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^