22 Juli 2014

Bunga Hitam

Terdengar suara bedebum ketika aku sampai di rumah. Dan yang kulihat di depan mataku kini adalah kakekku diantara reruntuhan tembok. Di sebrangnya seorang pria mengangkat tangannya ke depan.

"Kakek!" Seruku, kakek tidak bergerak. Malah pria itu menengok kearahku dengan pandangan tajam. Aku kaget bukan kepalang ketika mengetahui siapa dia, lebih kaget lagi melihat pola bunga hitam di sudut-sudut matanya.

"Henry!" Aku berteriak lebih keras. "Apa yang kau lakukan!!" Aku berlari ke arahnya. Mengepal tinju hendak memukulnya, namun tepat sebelum tanganku menggapainya. Ia menghilang.

Aku berdiri di depan makam kakekku dengan perasaan berkecamuk. Sedih, takut dan kecewa. Henry, kakakku sendiri, membunuh kakek. Satu-satunya sanak keluarga kami yang masih hidup. Yang lebih tidak kumengerti, alasan dia bergabung dengan Bunga Hitam. Hal itu sama saja membongkar identitas kami. Apakah, apakah setelah ini aku juga akan mati?

Dari tempat aku berdiri. Dua puluh meter jauhnya ada segerombol anggota bunga hitam. Yang aneh adalah tak ada dari mereka yang berpikir. Kecuali seseorang yang amat aku kenal. Aku berjalan ke arah mereka, mencari Henry. Peduli amat dia akan membunuhku, dia harus menjelaskan banyak hal. Aku harus tau alasannya, bahkan jika aku harus mati. Tepat ketika aku di depan mereka semua, Henry keluar dari kerumunan itu.

"Kau ingin bicara Trek? Kemari," Henry berbicara dengan lisannya. Aku mengikutinya menjauhi kerumunan Bunga Hitam yang tidak berpikir itu.

"Maafkan aku Trek" kata Hendry dengan lisannya lagi. "Kakek memang pantas mati" katanya lagi. Tapi, disaat yang bersamaan pikirannya berkata lain "Bukan aku yang membunuh kakek!" Aku mengerutkan dahi, jika bukan Henry lalu siapa?



"Bedebah!" Aku maju hendak mendorongnya, berpura-pura marah akan ucapannya. Tapi tubuhku tiba-tiba tak bisa di gerakkan. Aku melihat Henry lagi, apa ini? Ia bahkan menghentikannku tanpa mengangkat sikunya?

Tubuhku melayang menjauhi Henry, dan ia bicara lagi "Aku lelah Trek. Bertahan sebagai Daun Perak terakhir, dan perlahan-lahan menyaksikan bangsa kita hancur. Bukankah lebih baik telur hari ini daripada ayam di esok hari?" Lisannya berucap lagi. Tapi lagi-lagi, pikirannya berkata lain "Mereka bilang jika aku tidak bergabung dengan mereka. Salah satu dari kita bertiga akan mati. Aku kira itu hanya gertakan, tapi kakek tewas"

Kini Henry tersenyum. "Sekarang aku bagian dari Bunga Hitam. Aku bisa menjadi apapun yang aku mau! Aku tidak perlu bersembunyi lagi! Bukankah keluargaku ada dimana-mana?" "Pergilah Trek! Pergilah ke gunung Olympus, temui kakek Bill. Mereka tak akan mengejarmu sampai kesana"

"Waktumu sampai tengah malam. Kau mengerti maksudku kan? Jika tidak, yah, kau tau apa yang akan terjadi"

Henry menghilang. Begitu juga dengan kerumunan bunga hitam di belakang kami.

Apapun maksud Henry tadi pagi. Aku rasa memang keputusan paling tepat saat ini adalah lari. Jangan sampai keinginan Bunga Hitam untuk menghabisi Daun Perak terwujud seperti hancurnya Akar Merah, Tunas Biru, Pucuk Ungu, Cabang Kelabu atau yang lainnya. Untungnya pemerintah sepertinya belum tau aku adalah Daun Perak. Aku bisa pergi begitu saja ke gunung Olympus.

Dua jam kemudian aku sudah sampai di kaki gunung Olympus. Tidak ada kendaraan lain disana, apa aku harus mendaki? Mendaki gunung tertinggi di tata surya ini? Aku hampir putus asa hingga aku merasakan sesuatu yang basah menyentuh leherku. Benda itu terus 'menjilati' leher belakangku, aku hendak menengok ke belakang tapi takut ia malah menjilati wajahku. Jadi, terpaksa aku menunggu dia selesai.

"Hei Trek! Berhenti!" Seseorang berteriak agak jauh dari makhluk ini dan aku tidak mengerti mengapa ia menyuruhku berhenti. "Nakal! Kau Lamma yang nakal!" Serunya lagi.

Makhluk yang sepertinya lamma itu berhenti menjilatiku, dan mengeluarkan suara yang aneh

"Hei kau! Apa yang kau lakukan?" Aku menengok dan mendapati ia sedang menunggangi lammanya.

"Aku ingin ke atas, menemui Kakek Bill"

Dari atas lamma ia mendekatkan wajahnya dan menatapku lamat-lamat "Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya, apa kau gila?" Aku mengerutkan dahi mendengar pertanyaannya, aku harus jawab apa? "Kalau begitu naiklah, aku juga akan kesana" ia membuat lammanya duduk agar aku mudah menaikinya. "Sepertinya kau tidak gila. Dari mana asalmu?"

"Bumi" jawabku singkat

"Aku juga dari sana. Bagaimana kau tahu tentang William?" Tanyanya lagi

"Henry"

"Ah! Ia di tangkap kemarin malam, benar-benar ceroboh"

"Kau kenal Henry?"

"Tentu, salah satu yang terbaik dalam kelompok kami" Ternyata banyak yang tidak kuketahui tentang kakak. "Menurutmu, kenapa ia bisa ketahuan?"

"Mana aku tahu!"

"Eh, namamu siapa? Kita belum berkenalan" aku kini benar-benar heran

"Namaku Trek"

"Trek?" Ia tertawa terbahak-bahak "Trek, lamma ku sayang. Kau menemukan kembaranmu" Baiklah kini aku mengerti.

"Siapa namamu?"

"Ah maaf, kau pasti kaget ketika aku memanggil.. Ah ya ampun!" Ia tertawa lagi "Maaf, aku memang menyebalkan.. Namaku namaku.." Ia tertawa lagi, dan setiap kali ia mau menyebutkan namanya ia tertawa dan tertawa lagi, aku hampir mati bosan kalau mendengar ia terus menerus tertawa. Untungnya dia lelah dan menyebutkan namanya dengan lesu. Dan namanya adalah Marlene, aku terkejut karena ia ternyata perempuan

Kami sampai hampir beberapa jam, lebih lama daripada perjalananku ke Mars. Lalu tiba di pondok kecil yang dari kayu tua, Marlene mengikat lammanya. Kami mendekati pintu kayu yang hampir runtuh di gigiti rayap. Marlene masuk tanpa mengetuk pintu atau memasukan suatu kata sandi seperti yang aku kira. Di dalam, ada sebatang pohon setinggi satu meter dengan bau yang aneh. Kami melewatinya dan memasuki sebuah pintu yang menuju ruang bawah tanah. Kemudian di ruangan itu ada pintu kecil di lantai yang membawa kami ke bawah lagi, pintu itu hampir tidak terlihat, lantai kayu di sekitarnya membuatnya nampak samar.

Didalam beberapa ada beberapa renta yang sedang bercengkrama, aku yakin salah satu dari mereka pasti kakek Bill, tapi yang mana?

"Kau sudah pulang Marlene?" Tanya seorang kakek kurus

"Oh tidak, aku sedang terjebak dalam pasir hisap"

Aku mengerutkan dahi, tidak mengerti maksudnya hingga seorang lain berkata "kalau begitu kau butuh pertolongan"

"Siapa yang kau bawa Marlene?" Tanya seorang kakek yang agak pendek

"Oh dia Trek.." Katanya menahan tawa

"Trek?" Kakek pendek itu mendekatiku "Kau adik Henry? Daun Perak terakhir?" Katanya padaku. Semua orang dalam ruangan itu terlihat terkejut mendengar kata daun perak

"Eh, begitulah" kataku

Kakek pendek itu terlihat terharu dan memelukku erat. Aku tidak yakin, tapi sepertinya dia adalah kakek Bill.

"Ayo kita buktikan" katanya melepas setelah melpas pelukannya

"Apa?"

"Kita berbincang lewat pikiran"

"Eh, tapi itu tidak bisa" aku tidak berbohong. Aku memang tidak bisa.

"Kenapa?" Tanyanya heran "Kau bisa membaca pikiranku kan?"

"Tapi aku bisu, kakak tidak bisa mendengarku dalam pikirannya" kataku malu

"Pikiranmu tidak terbaca?" Tanyanya. Sampai saat itu, aku masih berpikir bahwa itu adalah kekurangan. Hingga akhirnya dia berkata : "Hebat! Orang lain tidak bisa membaca pikiranmu nak! Ini hebat! Hebat sekali!"

"Kek.." Kata Marlene "Siapa dia sebenarnya?" Tanyanya lagi

"Kau tidak dengar Marlene? Dia Trek, adik Henry, Daun Perak terakhir, keturunanku" aku terbelalak begitu pula Marlene.

***

"Nah, nak. Ini kamarmu. Dulunya tempat Henry menginap tapi kini milikmu" aku memasuki ruangan kecil itu, kecil sekali, hanya 1x3 meter. Hanya ada kasur kecil untuk satu orang dan sebuah laci di sampingnya. Di atas kasur itu ada jendela yang menghadap matahari terbenam. "Ada kamar mandi di atas, kau harus bergantian. Air masih sulit disini bahkan setelah beratus-ratus tahun"

"Kek.." Kataku

"Ya?"

"Apa kau benar-benar kakek moyangku?"

"Aku tampak awet muda ya?" Ia tertawa sebentar, "Tapi benar nak, aku kakek moyangmu. Aku salah satu pemilik kekuatan pertama. Seorang teknisi museum yang ditugaskan untuk mengangkut pohon ajaib dari andromeda. Aku menyentuh daunnya"

"Dan menjadi Bunga Putih" kataku

"Benar sekali-kakekmu bercerita banyak ya-, tapi para Bunga Putih sudah tua. Dan butuh seseorang yang muda dan kuat untuk menghancurkan Bunga Hitam"

Aku mengerutkan dahi. Semoga bukan seperti yang aku pikirkan

"Kau akan kulatih menjadi Bunga Putih"

***

Aku berlatih bertahun-tahun bersama pemilik kekuatan terakhir lainnya termasuk Marlene yang ternyata bisa mengendalikan cuaca. Menjadi Bunga Putih berarti menjadi pemilik seluruh kekuatan namun tidak kehilangan pikiran seperti Bunga Hitam karena Bunga Hitam sebenarnya adalah Bunga Putih yang gagal, pemilik kekuatan yang terlalu lemah untuk menyentuh Bunga Putih. Itulah kenapa kami dilatih untuk memperkuat diri baik fisik maupun mental, hey dan aku bahkan sudah bisa mengendalikan pikiran orang lain sekarang.

Dan akhirnya hari ini tiba. Hari dimana, kami akan menyentuh bunga putih. Kami semua berjanji, jika tidak kuat dan malah berubah menjadi bunga hitam. Kami akan bunuh diri. Satu persatu maju untuk menyentuh bunga putih di ruang utama itu. Mereka meringis, menjerit, bahkan ada yang tewas seketika. Aku tidak berani melihat.

Kini tiba giliranku, aku maju mendekati pohon itu. Dan mulai mengangkat tangan menyentuh bunga putih. Pohon itu bercahaya begitu pula jariku, pelan-pelan cahaya itu menjalar ke tangan hingga ke wajahku. Aku memejamkan mata, cahaya itu menjalar melalui kelopak mataku dan dengan sangat pelan membuat pola-pola di sudut kedua mataku. Perih, aku meringis, sakit sekali. Kini pola itu mulai jelas, sebuah kuncup bunga. Tapi rasa sakitnya pun semakin menjadi. Rasanya seperti seribu jarum menusuk seluruh tubuhku. Aku menggenggam lengan kananku. Mencegahnya untuk melepas sentuhan itu, aku tidak boleh menjadi Bunga Hitam. Kuncup itu kini mekar, warnanya hitam, aku harus menunggu agar ia menjadi putih. Dan rasanya, aku tidak bisa menjelaskannya. Kau tidak aku bisa membayangkan betapa sakitnya.

Aku pingsan. Untungnya tepat setelah bunga putih itu mekar. Aku satu-satunya yang berhasil. Marlene hanya sampai kuncup saja, itu lebih baik daripada bunga hitam. Besok, tanpa menunggu waktu lagi aku akan menantang bunga hitam.

Makan malam kali ini agak berbeda. Marlene menyiapkan sup. Makanan yang belum aku makan selama bertahun-tahun ini. Aku senang saja, toh makanan Marlene selalu enak.

***

Akhirnya aku tiba di depan makam kakek. Menaruh mawar pelangi kesukaannya. Dan benar saja segerombol bunga hitam muncul di bawah pohon. Aku menghampiri mereka.

"Bunga Putih" kata salah seorang dari mereka.

"Mana pimpinan kalian!" Aku menantang mereka langsung.

"Huh" katanya "Kami tidak punya pemimpin, anak muda"

Aku mengerutkan dahi. Kebiasaan yang tak pernah hilang. "Mana pimpinan kalian?" Aku bertanya lagi

"Apa kau tidak pernah bertanya-tanya siapa dan apa yang kami lakukan sebenarnya?"

Aku terdiam. Apa maksudnya? "Kalian, Makhluk hina yang diselimuti dengki untuk menjadi satu-satunya pemilik kekuatan!"

"Kau salah Trek" suara Marlene, ia maju dari gerombolan itu

"Marlene! Apa yang.." Aku melihat ada bunga hitam di ujung matanya, tapi kemarin hanya kuncup! "Apa maksud semua ini Marlene!" Aku bersiap mengangkat tangan.

"Akulah yang memberitahu bunga hitam tentang Henry, aku juga yang membunuh kakekmu"

"Marlene!"

"Tapi Trek! Semua ini demi dunia!"

"Bohong! Kau penghianat!" Aku melepaskan bunga putih raksasa yang sejak tapi ada ditanganku. Mereka terpental, lalu berjatuhan satu persatu. Tanpa ampun aku menyerang mereka lagi, lagi dan lagi, bunga hitam harus mati.

"Trek, percayalah padaku. Tidakkah kau herabn Kenapa Bunga Putih terisolasi, kenapa pemerintah berpihak pada Bunga Hitam" kata Marlene tertatih-tatih . Aku terdiam, bingung

"Dia benar Trek" kini suara Henry muncul dari belakangku.

"Henry!" Kataku, wajahnya babak belur. Terkena seranganku tadi

"Aku baru tahu setelah Marlene bercerita semuanya. Bunga Putih-lah yang ingin menguasai dunia"

Tiba-tiba dada-ku sakit, hidungku mimisan, dan aku memuntahkan sup Marlene. Henry tersenyum padaku

"Dengan begini semua pemilik kekuatan akan mati, dunia akan kembali seimbang" katanya "Setidaknya, Trek kita mati di pemakaman" -.

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^