27 Mei 2014

Anak Panah (Part 03)

Ada pemandangan aneh di ruang tamu rumah Theo. Eddy duduk disana seperti menunggu sesuatu, di depannya duduk juga Differ yang menunggu dia bicara. Eddy sudah ada disana sejak Differ sampai setelah ia mengirim surat. Dia tidak mungkin menunggu Theo karena pasti dia tau Theo sedang bekerja.

Dari sana Differ bisa melihat betapa anehnya Eddy. Dia benar-benar terlihat seperti orang kurang gizi. Matanya terlihat agak mengantuk juga acuh, dia juga punya tangan yang panjang yang membuatnya sedikit proporsional dengan tubuhnya yang tinggi tapi kurus itu.

"Maaf Mr. Brood" Differ mulai berbicara, muak dengan kesunyian tidak berarti ini. "Anda tidak akan membuat saya membuang waktu dengan diam menunggu apa maksud anda datang kemari-kan?"

"Saya tidak akan melakukannya" katanya, dengan suara berat yang aneh "saya sudah melakukannya" baiklah, sepertinya Eddy mencoba membuat lelucon. Tapi ya ampun, tidak dengan suara se-menyeramkan itu

"Jadi?" Jawab Differ

"Begini Miss Differ," Eddy mulai menegakkan duduknya "sebenarnya ini menyangkut kematian kakak saya.."

Differ menatapnya antusias, menyukai topik ini.

Percakapan panjang itu hampir dikuasai Eddy, Differ nyaris hanya diam mendengarkan. Ya, intinya Eddy mencoba membela diri bahwa dia tidak mungkin membunuh Archie karena ia sudah jauh di dalam hutan. Sebenarnya, semua orang mengaku sudah di dalam hutan, kecuali Emily yang ada di toilet. Dengan kata lain, JIKA Differ percaya semua pengakuan, tidak akan ada yang bersalah. Berarti pembunuhnya berbohong. Bahkan dengan pembelaan panjang Eddy, tidak mengeluarkannya dari daftar tersangka. Lagipula, untuk apa ia membela diri di hadapan Differ?

"Memangnya anda tidak mau tahu?" tanyanya.

"Memangnya saya harus tahu?"

Begitulah, perbincangan panjang itu menambah informasi Differ mengenai pembunuhan itu. Termasuk pengakuan meragukan yang menyatakan bahwa Eddy pingsan di hutan saat kejadian. Differ mempunyai suatu prinsip, "Orang yang rugi bukanlah orang yang tidak membaca buku, tapi orang yang tidak pernah menyelesaikannya". Ibarat sedang membaca buku, Differ sudah membaca setengahnya. Mau tak mau ia tak sabar menyelesaikannya. Ia ingat satu nama, musim semi, Spring, eh tidak. Sprig..

Maka, Differ pergi ke rumah Mrs. Beauchamp tempat dimana Sprig menginap. Ia disuruh duduk di ruang tamu. Mrs. Beauchamp sangat baik, ia begitu senang melihat Differ berkunjung. Suatu kejutan baginya melihat Differ lagi setelah 17 tahun berlalu.. Mrs. Beauchamp sama seperti orang tua di desa ini lainnya, mereka gemuk, baik hati, dan tua. Mereka tidak bekerja dan dinafkahi anak laki-laki nya. Bahkan bagi mereka yang tidak punya anak laki-laki akan dinafkahi menantunya.

Sprig datang dengan penampilan acak-acakan.. Dia bahkan masih memakai piyama, dasar tidak tahu malu. Differ melihat jamnya, Pukul 11.27. Hampir jam makan siang. Differ bertaruh dia begadang semalaman.

"Ada apa Maurice?" Tanyanya tanpa basa-basi. Salah satu sifat yang sangat dihargai Differ.

"Ini tentang kasus kematian Archie" jawabnya. Keduanya saling mempertahankah ekspresi masing-masing, berusaha agar pikirannya tidak terbaca

"Aku tidak mau menolongmu" jawab Sprig ketus

"Ayolah.. Kau pasti bercanda Sprig. Bukan kau yang menolongku, tapi aku yang menolongmu"

"Tidak. Maurice, ini tidak seperti asrama. Ini menyangkut karir-ku!"

"Aku tidak menuntut popularitas Sprig, aku hanya ingin menyelesaikan sebuah buku. Lagipula, kita bisa mengatakan kalau semuanya hasil kerjamu. Kau tentu sudah mewawancarai mereka bukan?"

"Tapi Maurice. Itu tidak jujur"

Differ tertawa kecil. "Kau bicara kejujuran? Tidak ingatkah kau? Dulu, kau menaruh buku catatanmu disembarang tempat dengan beberapa shilling, aku mengambilnya, membacanya, mengembalikannya di tempat semula dengan beberapa catatan tambahan. Dan kau mempresentasikannya dihadapan semua orang, mengaku-ngaku menyelesaikannya sendiri"

"Tapi kau tidak pernah menyelesaikan catatannya. Kau selalu mempermalukanku, menjelaskan bagian rumpang yang tidak pernah kusadari" terdengar nada kesal dalam suara Sprig

"Ya, aku akui itu.."

"Dan sekarang kau menyuruhku percaya padamu?"

"Tidak juga, bahkan kadang aku tidak percaya pada pikiranku sendiri"

"Bagus"

"Tapi, tentu kau bisa memberiku sedikit petunjuk bukan? Hanya sedikit, itu tak akan mengubah apapun"

Sprig menimbang-nimbang, diam sejenak mencoba berpikir. Baiklah, seperti katanya, hanya sedikit, tak akan mengubah apapun

"Baiklah, apa yang kau inginkan?" Jawabnya,

Differ tersenyum, gagal mempertahankan ekspresinya. Jangankan Sprig, semua orang mengerti arti senyum. Kini ia yang terdiam, menimbang-nimbang, memikirkan pertanyaan yang tepat.

"Siapa saksi di toilet?"

Sprig mengerutkan kening, pertanyaan bodoh macam apa itu? Ia kemuadian pergi ke kamarnya memeriksa berkas-berkasnya. Dan menulis pada sebuah kertas.

"Fanny Donovan.." Kata Differ puas. "Wah, kau baik sekali, bahkan ada alamatnya"

"Eh, memang kau tidak memintanya?"

Differ menggeleng pelan. "Kalau begitu, terimakasih. Semoga kau beruntung" ia berdiri lalu membungkuk. Pintu di tutup dari luar, Sprig memejamkan matanya di sofa itu, ia kemudian bergumam

"Tuhan, semoga dia tak menemukan apapun"

***

Differ kadang merasa dirinya mempunyai dua kepribadian. Kadang dia merasa dirinya seorang yang terlihat membosankan, pendiam, tapi juga pendengar yang baik. Disaat yang lain ia merasa dia terlalu bersemangat, berisik, tapi tetap merasa menjadi pendengar yang baik. Meski begitu ia tak pernah menyalahkan dirinya tentang hal itu, ia tau bahwa setiap orang mempunyai dua kepribadian. Biasanya salah satunya dominan dari yang lain, tapi bukan berarti yang lain hilang sama sekali. Kita menyebutnya Introvert dan Ekstrovert.

Differ yakin dirinya adalah Introvert, dan bangga akan hal itu. Meski orang kadang salah mengira tentang kaum minoritas ini. Para Introvert biasanya memiliki teman sedikit dengan kualitas pertemanan yang hebat, mereka lebih suka mengurus satu-dua pohon hingga besar daripada menebar bibit sana-sini namun kadang tidak terurus. Mereka lebih suka diam membaca buku sendirian di kamar daripada reuni dengan teman lama yang tidak terlalu dekat. Mereka kadang sulit berbincang kecil namun jika menemukan topik yang jelas mereka bisa bicara ber-jam-jam

Differ pulang dengan hati yang gembira. Sudah waktunya makan siang, tapi sepertinya Theo belum pulang. Ia tidak mengerti apa jenis pekerjaan Theo ini, walau bibi Jane sudah menjelaskan secara singkat, tapi rasanya aneh ia tak punya jadwal tetap dalam pekerjaannya. Padahal kemarin ia tidak bekerja, tapi tiba-tiba tadi pagi ia pergi bekerja, dan ini musim panas!

Begitu melihat keadaan rumah yang sepi. Differ memutuskan membaca tumpukan koran yang berdebu di ruang tamu, jelas sekali Theo ataupun bibi Jane tidak pernah membacanya. Tak ada yang menarik, koran lama itu hanya memuat berita lama. Beberapa malah bisa dibilang tidak terlalu berguna. Misalnya, mengenai pemainan online yang digemari anak-anak muda. Untuk apa mereka memberitakan ini? Anak-anak muda jaman sekarang tidak membaca koran!, sedang orang tua akan membacanya penuh kebencian karena anak-anak mereka kecanduan akan permainan itu.

Differ melihat beberapa cuplikan gambar permainan itu. Entah mengapa, ia merasa ada yang familiar mengenai penggambaran jalan setapak medan perangnya. Ah, mirip sekali dengan pemetaan jalan setapak hutan! jika markas musuh itu adalah sungai ujung hutan, dan markas kita adalah jalan masuk hutan satu-satunya di lapangan tembak. Ada jalan setapak di sisi kanan, tengah, dan kiri. Jalan setapak itu tidak terlalu kentara, orang asing tidak akan menyadarinya, hanya penduduk asli seperti Differ atau Theo-lah yang tau jalan-jalan itu. Sebenarnya agak berbahaya jika masuk hutan itu tanpa pemandu. Memang hutan itu tidak terlalu luas. Tapi meskipun mayoritas ditumbuhi pohon pinus yang kurus, ada juga pohon-pohon besar yang menghalangi cahaya untuk melihat sekitar. Untungnya hampir tidak ada hewan buas disana, paling hanya ular besar yang tidak berbisa.

Ia membuka beberapa halaman lain, ada berita mengenai orang-orang terkenal seperti Bill Cosby, Alyssa Wolff, Gladys Potter, Lilly Tafloff, dan lainnya

Bibi Jane datang dengan pakaian kotor, bajunya berlumuran tanah, dan membawa keranjang penuh sayuran.

"Bagus, aku bekerja keras di kebun dan kau di sini, membaca" katanya ketus. Bahkan, meski sudah tidak bertemu selama 17 tahun, bibi Jane sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sayang karena rindu. Tapi Differ menyukainya, itu membuatnya merasa sudah sangat akrab, seakan ia sudah tinggal disana bertahun-tahun. Kita tau kan orang yang saling kenal kadang suka kurang ajar. Differ menanggapinya dengan senyum lebar tanpa perasaan berdosa, lalu pergi ke dapur dan membersihkan sayur-sayur itu.

Sejenak ia kagum dengan banyaknya sayur itu. Lihatlah! Bibi Jane masih kuat untuk mengurus kebun itu sendirian, kenapa ia harus pergi ke panti jompo? Tapi, Differ tidak membahas hal itu padanya. Ia mengerti bagaimana orang yang keras kepala.

Theo pulang pukul 5, tepat saat jam minum teh. Differ berniat menggunakan teh dari Miss Hana, tapi begitu membukanya ia heran kenapa bau dan teksturnya berbeda dari teh hijau yang pernah ia lihat. Saat ia bertanya pada Theo, ia bilang bahwa mungkin itu sudah basi dan harus di buang. Differ tiba-tiba ingat teh yang diberikannya pada temannya si ahli kimia, dan menyatakan hal itu pada Theo. Wajah Theo tiba-tiba pucat pasi dan suaranya bergetar.

"Lalu apa katanya?" Tanyanya

"Entah, aku baru mengirimkannya pagi ini. Mungkin akan ada balasannya besok atau lusa. Apa menurutmu aku harus menulis surat tentang teh itu?"

"Tidak perlu, kalau dia memang ahli kimia. Dia akan tau jika itu teh basi"

"Ya, aku rasa kau benar" Differ menjawab dengan tenang "aneh sekali. Seharusnya aku yang panik Theo, tapi wajahmu pucat sekali"

Akhirnya mereka meminum teh biasa yang kental. Differ bertanya pada Theo mengenai pekerjaannya yang aneh, tapi ia malah menjawab

"Kau tidak akan mengerti, ini jenis pekerjaan yang aku ciptakan sendiri"

Bagus, itu jawaban yang sangat bagus. Ia juga mendiskusikan mengenai pengiriman bibi Jane ke panti jompo, tapi Theo bilang itu sudah keputusannya, tidak ada yang bisa mengubahnya.

"Ia mulai sakit-sakitan Maurice, rematik, osteoporosis dan lainnya"

"Itu bisa diobati oleh dokter secara berkala. Memang berapa sih usianya?"

"Aku tidak bisa membawanya ke dokter terus menerus, di sana akan ada suster sabar yang akan mengurusnya. Dia hampir 60 tahun kau tau?"

"Aku kenal beberapa orang usia lanjut yang masih bekerja"

"Kau sama keras kepalanya dengan bibi Jane" kata Theo

"Begitu juga denganmu" Differ meneguk tehnya.

***

Keesokkan harinya Differ bangun pagi sekali untuk mengunjungi Fanny Donovan yang berada di luar kota. Ia menelpon perusahaan taksi dan menyuruh mereka datang ke stasiun kereta terdekat. Begitu datang, supir taksi itu terlihat sebal karena jauhnya perjalannan dari kota itu. Differ tersenyum dan menyuruhnya ke alamat yang di maksud.

"Maaf Madam, saya tidak tau alamat ini" katanya

Kening Differ berkerut, heran dan kaget. Heran karena pernyataan supir taksi yang sangat aneh itu dan kaget karena.. Ya ampun dia tidak setua itu!. Differ memutuskan tidak menggubris perasaan kagetnya dan menyahut sang supir.

"Oh, jadi apa fungsi GPS itu?"

"Tapi, Madam tempat ini tidak mendapat sinyal satelit yang baik"

"Kalau begitu pergilah ke kota terdekat, dan simsalabim kau mendapat sinyal"

Differ mendengar gumaman kecil bernada umpatan dalam bahasa asing, dan kemudian ia juga mengumpat

"Pemalas!"

Alasan Differ menelpon perusahaan taksi adalah supaya ia tidak pusing memikirkan jalan menuju tempat itu. Pasalnya Differ bukan penghapal jalan yang baik, ia butuh empat-lima kali ke suatu tempat untuk hafal jalannya. Dan ia tidak akan melakukan hal itu kali ini. Perjalanan selama satu jam itu terasa singkat bagi Differ yang asik membaca koran. Dan menyebalkan bagi supir pemalas yang tidak berniat untuk bekerja itu. Differ menyuruh supir itu untuk menunggu di luar. Ia tak akan berlama-lama dengan Fanny, hanya satu pertanyaan dan langsung pulang.

Differ menekan bel beberapa kali namun tak seorang-pun keluar baru di bel ke lima, seseorang anak laki-laki usia 10 tahun dengan piyama bermotif kelinci. Baiklah, Differ mulai muak dengan piyama. Suasana rumah itu ribut sekali, musik diputar keras-keras. Pantas saja butuh bel berkali-kali untuk layanan pembukaan pintu

"Mencari siapa?"

Differ memang tidak suka basa-basi tapi entah mengapa pernyataan langsung itu terdengar tidak sopan "Fanny Donovan" katanya singkat

"FANNYYYYYYYY!!!" Anak itu berteriak mencoba mengalahkan suara musik nan keras itu. Sekarang Differ benar-benar tidak suka anak itu.

Seorang wanita muda keluar sambil menutup telinganya. Menatap Differ heran tapi cepat mengambil tindakan untuk pergi dari sana dan mencari tempat yang lebih sepi untuk bicara. Mereka menyebrang jalan yang padat menuju sebuah kafe yang sepi.

"Maaf atas kekacauannya ..." Kata Fanny

"Anda bisa memanggilku Miss Differ"

"Oh ya dan saya Miss Donovan" mereka berjabat tangan sebentar, dan sebelum Differ sempat menjelaskan apa maksud kedatangannya Fanny sudah lebih dulu berbicara

"Anak jaman sekarang benar-benar mengecewakan. Mereka berteriak dan tidak peduli dengan orang lain. Ini semua pasti karena acara-acara kekerasan itu. Televisi, seharusnya semua orang tua tidak memberikannya pada anak-anak. Itu memberi pengaruh buruk pada mereka"

"Jadi mereka anak-anakmu?"

"Oh, bukan, mereka adik-adikku. Tapi aku pernah merasakan masa ketika kesopanan dan kehormatan di junjung tinggi. Sekarang, lihatlah perempuan-perempuan itu sangat senang dipandangi kotor"

Differ diam saja, ia sebenarnya tidak suka pada orang yang mengeluh, tapi ia tidak bisa menghentikan orang yang sedang berbicara, itu tidak sopan. Maka ia menunggu sampai Fanny selesai empat puluh lima menit kemudian.

"Eh, maaf saya berbicara panjang lebar dan melupakan anda" kata Fanny akhirnya

"Tak apa, saya juga sering begitu" padahal Differ hampir tidak pernah begitu

"Jadi ada apa Miss Differ? Seperti saya tidak pernah melihat anda sebelumnya"

"Tidak, sebenarnya tidak. Saya rekan Inspektur Sprig jika anda ingat, Slagy Lac?"

"Ah ya! Kejadian mengerikan itu!" Katanya dengan nada sedih

"Saya hanya ingin bertanya mengenai kejadian itu"

"Oh, tentu silahkan. Saya akan sangat senang membantu"

"Apa benar anda melihat Miss Dye di toilet saat itu?" Katanya sambil menyerahkan foto Emily

"Ah ya! Saya melihatnya, dia memakai mantel coklat dengan pakaian dan celana hitam" Oh bagus, Differ tidak tau berpakaian seperti apa Miss Dye saat itu

"Dan kalian disana selama dua puluh menit?"

"Rasanya tidak mungkin. Dia memang sudah di sana lebih dulu, baru saya datang. Lalu kami mencuci tangan bersama-sama di wastafel.. Barulah kami mendengar sebuah jeritan dan berlari keluar karena ketakutan"

"Kalau begitu terimakasih"

"Eh begitu saja?"

"Ya, kita sudah bicara cukup lama" Differ mengangkat tangannya, mengecek jam. Otomatis juga mengangkat korannya.

"Oh ya, anda benar. Eh, bukankah itu Nelson Mandela? Saya sedang membuat skripsi tentang dia, segala informasi akan membantu. Bolehkah?"

"Eh, tentu" Differ menyerahkankan koran itu dengan ragu. Nelson Mandela?

Bersambung~

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^